Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
37


__ADS_3

...****************...


~Walau marah bagaimanapun, seorang anak akan tetap kembali kepada rumah dan keluarganya~


~*Arumni Prameswari*~


...****************...


Satu minggu setelah memutuskan pertunangan dengan Alea, Ata bersama kedua orang tuanya bertolak ke kediaman keluarga Runa untuk menyampaikan sekaligus menjelaskan permasalahan anak mereka.


“Apa kamu yakin, Nak, keluarga Runa akan menerima kamu kembali setelah apa yang dialami oleh anak mereka?” tanya Maya yang duduk di barisan belakang. Sementara Ata sedang mengemudikan mobil dan Hasan yang duduk di sampingnya.


“Tentu saja aku yakin, Ma,” sahut Ata sesekali menoleh ke arah kaca spion mobil memperhatikan pengendara lain.


“Syukurlah. Semoga saja Pak Lukman dan Bu Lina setuju juga. Apa pun keputusan mereka yang jelas Runa juga mau kembali kepadamu terlepas atas apa yang telah terjadi di masa lalu,” tambah Maya. Ia teringat dengan perkataan Alea saat mereka memutuskan pertunangan. Kalimat Alea yang mengatakan jika Runa tidak bersedia menikah dengan anaknya, sangat mengganggu pikiran Maya. Walau kalimat itu sudah dibantah oleh Ata, Maya sedikit menaruh rasa curiga.


Hasan yang duduk di depan sejenak menoleh pada sang istri. “Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka, Ma,” ucapnya.


Sejenak Hasan sadar diri, bahwa ia sedikit egois jika terus mempertahankan pertunangan Ata dan Alea menuju ke jenjang pernikahan, jika di sisi lain ada Runa dan Khan yang akan menjadi korban secara tidak langsung. Hal itu disebabkan karena Ata tidak ikut berperan dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Bagaimanapun, semenjak kehamilan Runa sampai Khan bertumbuh besar, Ata tidak menemani dan mendampingi Runa. Hasan berharap keluarga Runa setuju dengan rencana untuk menyatukan Runa dan Ata kembali demi cucu mereka—Khan.


Mobil yang dikemudikan Ata kini sudah berhenti tepat di depan rumah Runa, setelah satpam yang menjaga rumah itu mempersilakan Ata membawa masuk mobilnya melewati gerbang.


Dengan hati berdebar seolah keluar dari tempatnya, Ata dan kedua orang tuanya turun dari mobil.


Hasan dan Maya memberi usapan di pundak Ata sebagai penyemangat anaknya. Mereka berdua tahu, apa yang dirasakan Ata saat ini. Belum lagi tanggapan keluar besar Runa yang sewaktu-waktu bisa jadi ancaman bagi anak mereka untuk menghalangi mereka bersama.


“Tidak usah tegang gitu, Nak. Mama dan Ayah akan membantumu menjelaskan semuanya.” tambah Maya, merasa kasihan melihat raut wajah sang putra semata wayang yang sudah pucat, ditambah keringat yang tak henti berderai membasahi wajah tampan Ata.

__ADS_1


Sejenak Ata mengambil napas lalu mengeluarkannya, agar tidak grogi. Usai sedikit tenang, mereka bertiga berjalan masuk dan tak lupa mengucapkan salam.


“Assalamualaikum.”


Lina yang sedang bersantai di samping halaman rumah pun bergegas menuju depan pintu, saat mendengar salam itu. Tentu saja ingin melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya.


“Waalaikumusalam,” jawab Lina sembari membuka gagang pintu kayu.


Alangkah terkejutnya ia, saat mengetahui siapa yang datang. Seorang pemuda yang pernah datang tempo lalu, dan berani melamar Runa kini datang kembali. Bahkan mungkin mengajak kedua orang tuanya. Begituan prediksi Lina saat melihat dua orang yang datang bersama Ata.


“Siapa yang datang, Ma?” tanya Lukman menyusul sang istri. Sama seperti respon Lina, Lukman pun tak kalah terkejutnya dengan kedatangan Ata dan keluarganya.


Melihat keterdiaman Lina dan Lukman akan kedatangannya, Ata pun maju membuka suara.


“Siang, Om, Tante,” sapa Ata sopan seraya bersalaman.


“Silakan masuk!” ajak Lina mempersilakan tamunya. Kali ini sikap mereka sedikit lebih sopan, dikarenakan Ata tidak datang sendirian. Lina dan Lukman merasa sedikit segan. Mereka yakin, jika kedatangan Ata dan kedua orang tuanya pasti ingin membahas sesuatu yang penting.


Di ruang tamu berdekor minimalis tersebut, Ata pun mulai membuka maksud kedatangannya ke rumah itu, usai asisten rumah tangga Lina menyuguhkan minuman dan kue di atas meja kayu persegi panjang.


“Mungkin Om dan Tante bertanya-tanya maksud kedatangan saya ke mari lagi. Saya juga sudah tahu apa yang terjadi pada Runa setelah saya pergi.” Ata memulai pembicaraan sembari menautkan kedua jari tanganya ke atas paha untuk mengusir rasa gugupnya.


“Namun sebelum itu, saya secara pribadi ingin mengucapkan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya dan menyesal atas apa yang sudah saya perbuat, karena gara-gara saya Runa terusir dari sini. Saya tahu cerita ini dari Runi. Sayalah lelaki yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini, Om,Tante. Saya adalah ayah dari anak yang Runa kandung waktu itu.” Ata berkata sembari menatap Lukman dan Lina secara bergantian. Hasan dan Maya yang duduk di sebelah kanan dan kiri Ata mengusap bahu anak mereka, sebagai bentuk dukungan akan tindakan pertanggungjawabannya.


“Saya harap Om dan Tante mendengarkan penjelasan saya dulu,” lanjut Ata melihat reaksi yang tidak biasa dari perubahan raut wajah mereka. Ia pun mulai menceritakan semuanya setelah bertemu dengan Runa dan Khan. Tak lupa ia pun melakukan hal yang sama pada kedua orang tuanya, dengan menunjukkan foto Runa dan Khan.


Lukman dan Lina pun terkejut sekaligus kaget dengan kebenaran yang diceritakan oleh Ata. Mereka ingin marah kepada Ata, tetapi rasanya mereka sudah lelah memendam rasa itu terlalu lama. Dalam lubuk hati mereka berdua, ada rasa bersalah dan menyesal karena sudah mengusir Runa dari rumah.

__ADS_1


Apalagi saat melihat foto Runa bersama Khan, rasa sedih pun menyelimuti hati Lina. Kini wajahnya sudah basah karena buliran air mata yang keluar begitu deras. Tangisnya pun kian pecah apalagi Runi baru saja datang dan menghampiri kedua orang tuanya. Runi yang sudah mengenal Ata hanya diam saja. Memberikan kesempatan kepada orang tuanya untuk membuat keputusan yang terbaik untuk kakaknya.


Selama ini Lina mau pun Lukman memendam perasaan rindu kepada Runa. Semenjak Runa meninggalkan kediamannya, anak sulungnya itu pergi tanpa kabar. Diam-diam Lukman dan Lina sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari Runa, tetapi tidak membuahkan hasil. Runa pergi dari rumah karena kesalahan mereka yang mementingkan nama baik keluarga, tanpa memikirkan perasaan Runa yang tengah hamil saat itu.


Seharusnya sebagai ibu, Lina memberi dukungan dan kepercayaan kepada Runa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bukan malah mencemooh dan menjatuhkan mentalnya yang bisa menganggu psikisnya selama kehamilan.


Hasan dan Maya yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara, setelah Lukman dan Lina sedikit tenang.


“Tujuan kami datang ke mari ingin menyambung kembali silaturahmi yang telah putus beberapa tahun silam, karena sebuah kesalahpahaman. Maka dari itu, dengan kerendahan hati saya selaku Ayah Ata, ingin meminta Runa untuk menjadi menantu kami kepada Anda berdua sebagai orang tua Runa. Sebagai orang tua Ata, saya merasa sangat malu atas perbuatan anak saya terhadap Runa sampai hamil sehingga ia terusir dari rumahnya sendiri. Namun, di sisi lain kami bahagia karena mendapatkan cucu yang sangat tampan dan cerdas. Kami yakin Runa merawat dan mendidik Khan penuh cinta terlepas apa yang ia alami beberapa tahun belakangan ini,” tutur Hasan panjang lebar. Sejenak terjeda sebelum kembali melanjutkan.


“Oleh karena itu, sekali lagi saya meminta kepada Anda berdua untuk menerima lamaran kami ini. Mari kita lupakan kenangan yang pahit dan memulai lembaran baru demi anak dan cucu kita.”


Sejenak, Lukman menoleh kepada sang istri yang sejak tadi terus memandangi foto Runa dan Khan.


“Jadi bagaimana, Ma? Apa Mama mau menerima lamaran Ata?” tanya Lukman pada Lina.


“Mama setuju aja, Yah. Tapi yang berhak menentukan di sini adalah Runa. Apakah ia setuju kembali pada Ata atau tidak? Karena sejujurnya Mama sangat rindu pada putri sulung kita, Yah. Apalagi cucu kita sekarang sudah besar. Membayangkan Runa merawat Khan seorang diri di tempat asing, membuat Mama merasa jadi ibu yang kejam kepada anak kandungnya,” ujar Lina dengan sesenggukan. Ia kembali sedih saat mengingat Runa untuk memohon agar tidak diusir dari rumah.


Lukman masih ragu untuk menyetujui hal tersebut, padahal dia juga merasakan kerinduan yang sama untuk anak sulungnya.


Runi yang duduk di sebelah Lina pun angkat suara sambil menyentuh tangan Lukman. “Yah, aku yakin Ayah juga sangat merindukan Mbak Runa. Jadi, tolong maafkan dia! Kita harus menyusul Mbak Runa ke Wonosobo. Kita ajak Mbak Runa kembali. Aku yakin, Mbak Runa pun pasti kangen dengan kita semua.”


“Tapi, ayah sangat malu untuk bertemu dengan Runa. Pasti ia membenci ayah dan mamamu, mengingat betapa kejamnya kami memperlakukan ia dulu sampai terusir,” sesal Lukman.


Runi beranjak dari posisinya dan menggenggam tangan mama dan ayahnya dengan masing-masing tangannya, “Yah, Ma, Aku yakin Mbak Runa memaafkan kalian. Mbak Runa tidak memilki sifat pendendam. Aku sangat tahu sifat Mbak Runa yang penyayang. Apalagi orang terdekatnya. Bahkan, ia rela terusir jauh dari keluarganya demi menjaga kehormatan kalian. Aku berharap Ayah dan Mama mau menemui Mbak Runa, karena walau marah bagaimanapun seorang anak akan tetap kembali ke rumahnya dan berkumpul bersama keluarganya.”


...****************...

__ADS_1


...To be continued...


...Jangan lupa like dan komentar, ya ...


__ADS_2