Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
24


__ADS_3

...******...


..."Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai"...


...Byakta Kalinga...


...*******...


Besoknya, pagi-pagi sekali Ata sudah kembali bersiap untuk menemui Runa dan anaknya. Setelah mengetahui kebenaran tentang siapa Khan, membuat Ata lebih bersemangat untuk bertemu Runa. Bersyukur, kali ini tidak ada suara David yang menceramahinya. Jadi, ia lebih bebas untuk bertemu Runa.


Alea pun terpaksa ikut kembali bersama David, karena beberapa pekerjaan yang tidak bisa ia tunda. Namun, ia berjanji akan tetap menanyakan kepastian Ata. Alea yakin, pasti Ata akan tetap memilihnya.


Tanpa berpikir panjang, Ata langsung berangkat menuju resto. Ia menduga, Khan pasti berada di sana untuk menemani Runa di resto mengingat hari ini adalah hari Minggu .


Ata langsung keluar dari mobil begitu melihat Khan sedang bermain bersama Runa. Kali ini ia tak melihat lelaki yang bernama Sandy di sana, membuatnya lebih leluasa untuk mendekati Runa dan Khan. "Ini adalah kesempatanku untuk merebut hatimu kembali, Run," gumam Ata.


Tawa Khan mulai terdengar renyah saat langkah Ata mulai mendekat. Saat dirinya sudah lebih dekat, ia memandangi wajah Khan. Benar kata David, Khan adalah wujud kecil dari dirinya. Mengapa saat pertama kali bertemu ia tidak menyadari hal itu?


"Ayah?" Khan berteriak kegirangan begitu melihat seorang lelaki datang. "Bun, ayah sudah datang." Khan masih berteriak sambil menarik-narik baju Runa, sedangkan Runa terpaku melihat lelaki yang mendekat ke arah mereka.


Ata merasa berbahagia saat mendengar Khan memanggilnya ayah. Ia bahkan tersenyum lebar dan ingin segera membawa Khan ke dalam pelukannya.


"Hai, Khan!" sapa Sandy, terdengar tepat di belakang Ata.


Ata langsung berbalik dan betapa terkejutnya dia, saat melihat Sandy sudah berdiri di belakangnya. Entah sejak kapan lelaki itu datang, Ata tidak menyadarinya. Mungkin ia terlalu bahagia melihat keceriaan anaknya. Namun, bahagia yang ia rasakan sebelumnya sontak memudar seketika, saat mengetahui siapa yang dipanggil Khan dengan sebutan ayah. Sebutan itu bukan untuknya, melainkan untuk Sandy yang berada di belakangnya.

__ADS_1


Seketika Khan berlari melewati Ata dan menghambur ke dalam pelukan Sandy.


"Khan ...," panggil Ata lirih saat melihat betapa dekatnya Khan dengan Sandy. Khan yang mendengar namanya dipanggil beralih ke arah sumber suara. "Khan masih ingat wajah om nggak?" tanya Ata.


Mendengar pertanyaan Ata, Khan pun nampak berpikir. "Em, sepertinya Khan pernah lihat Om."


Panggilan 'om' untuk Ata, membuatnya ingin segera memberitahu Khan tentang siapa dirinya. Namun, untuk saat ini ia masih mampu menahannya. Ata yakin, Runa tidak akan menyembunyikan selamanya kebenaran tentang siapa ayah kandung Khan. Suatu saat, Khan pasti akan mengetahui siapa dirinya.


Apabila Runa tidak segera memberitahunya, ialah yang harus memberitahu Khan tentang siapa ayah kandungnya. Tidak peduli lagi dengan siapa pun, cepat atau lambat Khan harus mengetahuinya.


Ata pun berjalan mendekat ke arah Khan. "Mau main sama Om, nggak?"


"Stop!" tahan Khan. Ia menatap ke arah Runa. "Bun, om ini jahat, nggak? Apa boleh Khan bermain dengan om ini?" tanya khan pada Runa.


Ingin sekali Runa menjawab tidak. Bagaimana pun juga Ata adalah ayah kandung dari Khan. Ia tidak mungkin menjauhkan mereka. Inilah yang Runa takutkan. Kehadiran Ata di kehidupannya adalah di luar rencana. Ia sama sekali tidak pernah berpikir bahwa Ata akan kembali dan bertemu dengannya.


"A-aku ...," ragu Runa. "Khan Sayang," panggil Runa pada anaknya yang masih dalam pelukan Sandy. Terlihat Runa yang mengusap air matanya.


"Om, jangan buat Bunda menangis. Khan sayang sama Bunda. Om kenapa jahat sama Bunda, sampai buat Bunda menangis?" cecar Khan pada Ata.


"Panggil aku Ayah, Khan. Ini ayahmu, ayah kandungmu." Ingin sekali Ata berteriak dan memperjelas siapa dirinya. Namun, semua hanya menjadi suara hatinya. Rasa iri pada Sandy karena Khan memanggil 'ayah' sedangkan dirinya dipanggil 'om', membuatnya ingin berontak dan menjelaskan semuanya pada Khan. Hatinya begitu teriris setiap Khan memanggilnya 'om'.


Bagaimana mungkin anak kandungnya memanggil dirinya 'om' sedangkan memanggil orang lain dengan sebutan 'ayah'? Khan anak kandungnya, tetapi enggan untuk mengakui dirinya sebagai ayah. Apa ini karma untuk Ata? Apakah ini balasan atas semua yang ia lakukan pada Runa dahulu?


Jika memang Khan belum mampu menerima dirinya, ia harus mendekati orang tua Runa. Paling tidak orang tua Runa pasti akan setuju jika ia menikahi Runa. Bagaimanapun juga, Khan adalah anaknya dengan Runa. Tentu saja orang tua Runa tidak akan menolak kebenaran itu. Ia bisa menggunakan Khan sebagai alasan dirinya menikahi Runa.

__ADS_1


"Oke, Khan, maafkan om, ya. Maaf sudah membuat Bundamu menangis," ucap Ata menenangkn Khan. "Gini, sebagai permintaan maaf, om mau ngajak Khan liburan ke suatu tempat. Khan mau, nggak?"


Kata liburan yang Ata lontarkan membuat binar bahagia tergambar di mata Khan. Ia segera melepas pelukan Sandy dan berjalan mendekati Ata. "Liburan, Om? Ke mana? Khan mau, dong?"


"Tapi ada syaratnya."


"Syaratnya apa Om?"tanya Khan antusias.


"Yang pertama, Khan harus memanggil om dengan sebutan ayah. Yang kedua, Khan harus mengajak bunda ikut dengan kita," pinta Ata dengan melirik Runa dan Sandy.


"Em, Khan nggak mau manggil om dengan 'ayah'. Ayah Khan cuma satu, Ayah Sandy. Kalau syarat yang kedua, nanti Khan tinggal minta sama bunda, pasti bunda mau. Memang kita mau ke mana, Om?"


"Kita mau ke Surabaya, Khan. Nanti di sana kita ketemu sama nenek dan kakek Khan. Mereka pasti seneng ketemu Khan. Khan sudah pernah ke sana?" Ata kembali melirik Runa. Ada sedikit keterkejutan di wajah Runa yang membuat Ata sedikit diliputi rasa janggal.


"Surabaya?" Khan nampak berpikir saat mendengar kata Surabaya. "Bun, apa kita pernah ke sana? Memangnya, Khan ada kakek dan nenek di sana?"


Runa masih terdiam saat dicerca pertanyaan oleh Khan. Ia masih menimbang bagaimana cara menjelaskan semuanya pada anak seusia Khan. Apakah ia akan mengerti tentang rumitnya kisah orang tuanya? Apa ia mampu memahami keadaannya?


"Bukankah keluarga kita itu Ayah, Bunda, dan nenek Mira? Lalu, siapa kakek dan nenek Khan yang ada di Surabaya?"


Benar dugaan Ata. Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Khan membuat Ata berpikir tentang alasan keberadaan Runa di Wonosobo. Ia merasa janggal dengan kata-kata Khan yang seakan seperti tidak mengenal orang tua Runa. Bahkan, Khan pun tidak mengetahui jika ia masih memiliki kakek dan nenek.


Apakah selama ini Runa tidak memberitahu Khan tentang keluarganya di Surabaya? Bahkan Ata semakin dibuat bingung saat Sandy pun terlihat diam saja mendengar pertanyaan Khan.


...******...

__ADS_1


...to be continued...


__ADS_2