Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
23


__ADS_3

...*******...


...“Mungkin memang seperti ini garis takdir yang harus kamu lalui, tapi percayalah, Tuhan tidak pernah salah menuliskan takdir hamba-Nya.”...


...~David~...


...******...


Hari ini, Alea bermaksud untuk meminta Ata menemaninya jalan-jalan menikmati indahnya Kota Wonosobo. Lebih tepatnya Alea mulai bosan. Sejak kedatangannya di Wonosobo, Ata tak pernah mengajaknya menghabiskan waktu berdua. Bahkan untuk sekedar makan berdua saja, Ata tak pernah ada waktu untuknya.


Setiap kali Alea meminta Ata menemaninya, pasti selalu saja ada alasan Ata untuk menolak keinginannya. Dan ujung-ujungnya, pasti David yang selalu menjadi sasaran Ata untuk menemani Alea.


Pukul 05.00 WIB Alea sudah bangun, tak ingin membuang waktu ia lekas membersihkan diri dan bersiap untuk menemui Ata.


"Perfect. Tunggu aku, sayang. Kali ini, kamu harus turutin kemauanku, Ta. Masa iya, sih, kamu rela aku jalan sama David terus?" ucap Alea saat ia mematut dirinya di depan cermin. Tak lupa rambut ia kuncir kuda, menampilkan leher jenjangnya. Membuat Alea terlihat begitu cantik dan anggun.


***


"Tapi dia anakku. Darah dagingku. Yang paling berhak dipanggil ayah olehnya, ya cuma aku!”


Betapa terkejutnya Alea, saat ia mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Ata. Wajah ceria yang selalu berhias senyum sejak tadi, seketika berubah. Alea merasa begitu sesak, seolah tak ada asupan oksigen sedikit pun yang dapat ia hirup. Ingin rasanya ia tak percaya dengan semua yang ia dengar dari mulut tunangannya itu. Namun, pembicaraan Ata dan David terus berlanjut, mereka tak menyadari kehadiran Alea yang sejak tadi berada di depan pintu, dan kebenaran itu membuat Alea merasa sangat hancur. Alea tak tahu langkah apa yang yang seharusnya ia ambil sekarang. Hanya air mata yang bisa menggambarkan betapa kecewa dan hancur perasaannya.


"Ata, katakan semua ini tidak benar. Bagaimana mungkin kamu memiliki anak dari wanita lain. Apa salahku, Tuhan? Kenapa semua jadi begini?" batin Alea. Ia bingung harus bersikap seperti apa dengan kondisi sekarang.


Sungguh kenyataan yang baru saja ia dengar, begitu membuat sakit dan kecewa hatinya. Alea tak menyangka Ata bisa sampai sejauh itu. Selama ini Alea mengenal Ata sebagai laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Nyatanya selama bersama Alea, Ata masih memiliki pengendalian diri yang baik, meski Alea sendiri sudah pasrah jika sang calon suami meminta kegadisannya sebelum menikah.


Air mata Alea semakin deras membanjiri pipi mulusnya. Dengan isak tangis yang semakin tak tertahankan, akhirnya Alea memilih meninggalkan Ata dan David. Karena tergesa-gesa saat berbalik, Alea menabrak salah seorang pengunjung yang tinggal di sebelah kamar Ata.


Brug!


Terdengar suara berdebum hingga mengalihkan atensi Ata dan David. Mereka melebarkan kedua matanya saat tahu sosok yang tengah bersimpuh di lantai.


"Alea?" ucap David dan Ata bersamaan.

__ADS_1


"Kejar, Ta!” perintah David melihat Alea yang berlari sambil berurai air mata. Ia yakin, Alea mendengar semua yang David dan Ata obrolkan. “Kenapa kamu masih di sini? Kasihan Alea, Ta." David semakin geram kepada Ata, Ata seolah tak peduli sama sekali dengan Alea.


Ata bergeming, ia tak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya. David semakin emosi melihat sikap Ata.


Bug!


Tiba-tiba David melayangkan pukulan ke wajah Ata, membuat bibir Ata sedikit berdarah. Ata tetap bergeming, Ata tak membalas pukulan David. Entah apa yang dipikirkan Ata sekarang. David benar-benar sudah kehilangan kesabaran menghadapi sahabatnya itu.


David mencengkeram kerah baju Ata, "Brengsek! Kamu benar-benar udah nggak waras, Ta. Di mana hati nurani kamu, Ta? Alea itu tunangan kamu, dia juga punya hati. Jangan sampai karena keegoisan kamu, kamu kehilangan Alea sama seperti saat kamu kehilangan Runa dulu. Sadar, Ta! Sadar! Jangan sampai kamu menyesal nantinya,” ucap David penuh penekanan.


Ata melepaskan cengkraman tangan David dari kerah bajunya. Bukannya membalas perlakuan David, Ata malah kembali memakai jaket denim warna biru yang ia pakai semalam. David bernapas lega, akhirnya Ata mau mengalahkan egonya dan menemui Alea pikirnya.


"Tolong, temenin Alea dulu, Vid. Aku harus pergi. Aku harus meyakinkan Runa kalau aku pasti bisa membahagiakan Khan dan Runa." Ata memegang bahu David kemudian berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban David.


"Astaga .... Ata! Dasar kepala batu kamu, Ta. Hatimu benar-benar sudah gila karena Runa, sampai kamu mengabaikan tunanganmu sendiri," teriak David dari dalam kamar, berharap Ata mendengar ucapannya. Nyatanya setelah beberapa menit berlalu, Ata juga tak kunjung kembali.


***


David segera mencari keberadaan Alea, beberapa kali ia mencoba melakukan panggilan ke nomor Alea, tetapi tetap tak ada jawaban.


Hingga netranya menangkap sosok yang tengah ia cari. Gegas ia menghampiri gadis yang tengah dilanda pilu itu. "Al, kamu di sini? Syukurlah, akhirnya aku bisa menemukanmu. Udah makan, Al? Aku ada recommended tempat makan enak loh, di sini." David lega akhirnya bisa menemukan Alea. Ia ternyata tengah duduk di bangku taman hotel tempat mereka menginap.


"Jadi ini alasan Ata mengabaikan aku, Vid?" tanya Alea dengan mata sembab. Sesekali masih terlihat ia menyeka air matanya.


"Sejak kapan kalian menyembunyikan kenyataan ini dari aku? Kenapa Ata tidak mau jujur denganku? Seberharga itukah wanita itu untuk Ata, Vid? Dia hanya masa lalu, kan? Tapi, aku tunangannya, Vid? Kenapa dia setega ini padaku?" Air mata Alea kembali membasahi pipinya.


"Al, nanti kita bicarakan ini dengan Ata, ya. Semua akan baik-baik saja. Untuk saat ini, beri Ata waktu untuk menyelesaikan masa lalunya. Kamu tenang saja, Al." David mencoba menenangkan Alea. Meskipun ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan. Nyatanya Ata begitu terobsesi dengan Runa sejak dulu. Tapi setidaknya ia berharap dengan mengatakan itu tidak menambah beban pikiran Alea.


Sebisa mungkin David menghibur Alea. Ia bisa merasakan sakit yang Alea rasakan. David memberikan semangat juga dukungan untuk Alea. “Mungkin memang seperti ini garis takdir yang harus kamu lalui, tapi percayalah, Tuhan tidak pernah salah menuliskan takdir hamba-Nya,” kata David dengan bijak saat Alea menyesali apa yang tengah terjadi.


***


Ata kembali mengintai rumah Runa, tetapi kali ini ia tidak turun menemui Runa. Ata hanya memperhatikan rumah Runa dari kejauhan. Entah apa yang ingin dia buktikan sekarang.

__ADS_1


Setelah sekitar 30 menit menunggu, Ata melihat sebuah mobil Pajero warna putih berhenti di halaman rumah Runa. Ia kembali mengingat-ingat, semalam saat Ata di rumah Runa tidak ada mobil itu. "Apa mungkin mereka belum menikah? Atau semalam suaminya sedang ke luar? Aku harus cari tahu tentang ini, semoga kebenaran berpihak padaku,” batin Ata.


Ata turun dari mobil, ia akan mencari informasi tentang Sandy. Ata menoleh ke samping kanan dan kiri hingga menemukan segerombolan ibu-ibu yang tengah asyik bercengkrama di halaman rumah. "Kebetulan sekali, mungkin aku bisa bertanya pada ibu-ibu itu," gumam Ata.


Ata melihat ada seorang wanita yang sedang berjalan menggandeng anaknya.


"Permisi, Bu, boleh numpang tanya?" sapa Ata sopan kepada ibu-ibu itu.


"Oh ... iya, Mas, mau tanya apa?" jawab wanita itu.


"Saya teman kuliahnya Pak Sandy, Bu. Tapi sudah lama kami tidak bertemu. Tadi saya telepon beliau tapi belum diangkat, mau memastikan apa benar rumah itu rumahnya Pak Sandy, Bu?" ucap Ata sambil menunjuk ke arah rumah Runa.


"Oh ... temannya Pak Sandy, toh? Itu rumahnya Bu Runa, Mas. Kalau rumahnya Pak Sandy sebelah sana, Mas, dekat dengan resto Madang. Eh, itu kelihatannya Pak Sandy di rumah Bu Runa. Mas bisa temui saja di sana. Mereka itu pasangan serasi sekali. Saya senang melihatnya, semoga saja mereka berjodoh dan segera menikah," ucap wanita itu antusias.


Sebuah kenyataan yang kini berpihak pada Ata. "Terima kasih, Bu, saya permisi." Ata segera pamit masuk ke dalam mobil. Dengan wajah yang begitu semringah Ata mengemudikan mobilnya kembali ke hotel.


Dalam perjalanan, senyum Ata tak pernah pudar. Ia membayangkan betapa senang dan bahagianya jika ia bisa berkumpul dengan Runa dan Khan menjadi keluarga yang utuh.


"Runa, benar dugaanku kamu masih sendiri. Terima kasih Runa, kamu benar-benar wanita luar biasa. Aku pastikan aku akan menebus semua kesalahanku dulu. Aku akan bertanggung jawab padamu dan Khan. Kita akan hidup bersama selamanya. Aku pasti mendapatkanmu kembali, Runa,” lirih Ata, tak terasa bulir bening membasahi pipinya.


Sampai di hotel Ata segera berlari menuju ke kamarnya, ia tak sabar untuk segera menyampaikan berita bahagia itu pada David.


"Vid, Runa belum menikah. Runa masih sendiri, Runa pasti masih nungguin aku, Vid. Makanya Runa belum menikah,” ucap Ata antusias, saat masuk ke kamarnya ia begitu bahagia. Sampai tidak menyadari ada Alea di sana yang menatapnya dengan pilu.


"Gila kamu, Ta. Bagaimana bisa kamu beranggapan seperti itu? Kamu hanya masa lalu bagi Runa. Sudah cukup, jangan ganggu kehidupan Runa lagi! Biarkan dia bahagia bersama keluarga barunya. Ingat, Ta, ada Alea. Alea yang butuh kamu, bukan Runa. Sudahlah, kita akhiri semuanya hari ini. Kita balik ke Surabaya nanti malam, aku sudah pesan tiket untuk kita bertiga." David tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Ata. Ia dibuat kelimpungan hanya karena keegoisan Ata. Belum lagi Alea yang pasti semakin sakit hati melihat sikap Ata, yang seolah tak peduli lagi padanya.


"Aku nggak mau, Vid. Kamu balik aja sama Alea. Aku akan tetap di sini, sampai aku berhasil meyakinkan Runa dan Khan. Aku hanya akan ke Surabaya jika Runa dan Khan mau ikut denganku." Ata tetap pada pendiriannya.


"Ata, kamu anggap aku apa? Bisa-bisanya kamu lebih memilih wanita itu daripada aku? Aku tunangan kamu, Ta? Apa kamu lupa?" Alea tak tahan lagi, ia luapkan amarahnya pada Ata.


"Al, sorry. Aku nggak bisa melepaskan Runa dan Khan begitu saja. Mereka tanggung jawabku.” Ata berusah meminta pengertian Alea, “pulanglah bersama David. Biarkan aku tetap di sini menyelesaikan urusanku. Aku harus menebus kesalahanku pada Runa." Ata memegang kedua bahu Alea dengan tatapan penuh harap.


...****...

__ADS_1


...to be continued...


__ADS_2