
...******...
... ~ Jika malam adalah kamu, aku ingin sepanjang hari hanyalah malam. Agar kamu tak pergi menjauh, agar aku tak pernah rindu. Bukan rindu yang kunanti. Tapi hadirmu yang kuinginkan~...
... Byakta Kalingga ...
...*******...
Dengan hati yang entah marah atau kecewa, akhirnya Ata kembali ke hotel di mana ia dan David menginap. Hatinya begitu sakit, jiwanya terasa hampa melihat Runanya begitu bahagia di samping laki-laki lain yang bukan dirinya. Ata sadar akan kesalahannya di masa lalu, yang membuat dirinya terlalu malu untuk bisa menggapai Runanya kembali.
Hati Ata begitu kacau ketika melihat lelaki bertubuh tinggi tegap dan berkulit bersih tersebut begitu menyayangi Runa. Pun begitu terpancar jelas dari sorot mata lelaki tersebut betapa lelaki itu begitu mencintai Runanya. Gadis pujaan hatinya semasa kuliah dulu, hingga kini. Ata menyadari jika dirinya sudah terlambat untuk meraih rasa itu. Rasa yang tak pernah hilang walau ke mana pun tubuhnya pergi.
Sesampainya di lobby hotel, Ata bertemu dengan David yang hendak mencari oleh-oleh khas Wonosobo. Melihat sahabatnya tidak baik-baik saja, David pun menyapa dan perlahan mulai memberi saran pada Ata.
"Sudahlah, Ta. Berhenti memata-matai Runa. Kita harus kembali ke Surabaya dan melanjutkan kegiatan kita seperti biasanya!" seru David yang terlihat kesal dengan kelakuan sahabatnya itu. Belum lagi Alea yang selalu menganggunya dengan terus menelepon dan mengiriminya pesan. Alea selalu menanyakan keberadaan Ata pada David, karena selama di Wonosobo, Ata tidak pernah memberi kabar pada Alea, walau sekalipun.
Ata hanya membisu, dia tidak merespon perkataan David sedikit pun.
"Ta, biarkan Runa bahagia. Bukannya dulu kamu yang ninggalin dia demi ambisi mengejar S2-mu itu. Apa waktu itu kamu mikirin bagaimana perasaan Runa?” Kalimat yang David ucapkan bagaikan panah yang menusuk hati Ata. Tepat. Ata pun tidak bisa mengelak.
"Dengan siapa pun akhirnya Runa bersanding, cobalah untuk mengikhlaskannya. Runa juga berhak untuk bahagia dengan jalan hidup yang ia pilih. Jangan sampai kamu merusak kebahagiaan yang sudah Runa jalani, dan ingat di tempat yang jauh di sana, ada perasaan Alea yang harus kamu jaga. Bagaimanapun juga Alea adalah tunangan dan masa depan kamu saat ini, Ta. Hargai itu!” Dengan suara agak meninggi David menegaskan kepada lelaki berkepala batu itu.
"Jangan sampai kamu membuat dua hati wanita tersakiti dalam waktu yang bersamaan Ta, pikirkan baik-baik!" tambah David lagi.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Runa, hanya ingin menjalin persahabatan, Vid. Hanya itu! Tidak lain,” sarkas Ata sambil menatap tajam ke arah laki-laki tampan tersebut. “Jadi untuk saat ini biarkan aku menjalani ini. Ini hanya sementara.”
"Oke, terserah kamu aja, Ta. Aku nggak mau ikut campur. Itu semua masalahmu, jadi terserah! Cobalah kamu berdamai dengan masa lalumu, Ta. Mungkin Runa pun sama, dia telah berdamai dengan kenangan yang menyakitkan bersamamu. Aku hanya mengingatkan sebagai sahabatmu dan semoga kamu tidak pernah menyesali semuanya." David pun berlalu menjauh dari sahabatnya itu. Dengan langkah kesal dan marah ia keluar hotel untuk melanjutkan tujuan awalnya mencari oleh-oleh.
Ata hanya membuang napas kasar, ia harus tahu. Siapa laki-laki dan anak kecil itu, jiwa keingintahuannya sangat tinggi.
__ADS_1
“Arunika Pramesti, maafkan aku,” monolog Ata sambil menatap kosong pintu masuk lobby hotel. Ia bingung ada apa dengan hatinya.
“Alea, maafkan aku. Tak seharusnya di hatiku masih ada wanita lain, bahkan di saat kita sudah melangkah lebih jauh."
...***...
Matahari bersiap menenggelamkan dirinya ketika Runa dan Khan duduk di teras rumah. Udara sejuk dan pemandangan yang asri menghiasi sekeliling mereka. Keduanya asyik bercanda hingga mereka tidak menyadari deru mobil yang masuk ke pekarangan rumah mereka. Dari dalam mobil tersebut keluarlah sosok lelaki tampan bertubuh tegap, berjalan perlahan menyusuri taman kecil menuju ke teras rumah tersebut. Dengan langkah pasti ia melihat keceriaan wanita yang ia cinta dan anak kecil tampan yang sangat menggemaskan.
"Asalamualaikum," seru lelaki itu ketika tiba di depan teras.
"Waalaikumsalam, Ayah!" teriak Khan sambil berlari ke arah pria berbaju marun tersebut.
Pria itu menyambut sapaan Khan dengan merentangkan kedua tangannya. "Kangen ayah, ya, Khan?" pertanyaan itu ia lontarkan seketika sambil mengendong dan memeluk hangat bocah berusia enam tahun tersebut. Betapa lelaki itu sangat menyayanginya.
"Iya, Yah. Khan kangen banget," seru bocah berkaos putih bergambar mobil itu terkekeh malu.
“Ayah, sih, sibuk terus. Khan kan jadi kangen.” Khan pun menggembungkan pipinya dan memanyunkan bibirnya seperti anak yang sedang ngambek. Membuat Sandy merasa gemas dan mulai menciumi pipi mungil anak kesayangannya itu. Pun hal itu mampu membuat Khan tertawa terbahak.
"Bunda, nggak diajak, Yah? Kasian, dong, sendirian di rumah, nanti kalau Bunda diculik gimana?" Bocah itu berbicara tanpa henti dan membuat lawannya terdiam sejenak.
"Iya juga, ya. Kalau di tinggal sendiri nanti diculik, gimana? Tapi, kan, ayah kangennya sama Khan, bukan sama Bunda, terus gimana, dong?" kekeh Sandy balik bertanya kepada bocah itu.
"Oke, deh. Kita berdua aja jalan-jalannya. Maafkan Khan, ya, Bunda. Khan mau pergi berdua sama Ayah dulu.” Khan pun berlari menghampiri wanita cantik nan lembut itu dan membelai pipi mulusnya, terpancar betapa Khan sangat mencinta dan menyayangi wanita di hadapannya. Perempuan itu hanya mengulas senyuman saja melihat tingkah kedua laki-laki beda usia di hadapannya.
"Iya, nak bunda tersayang. Pergilah bersama Ayah. Tapi ingat! Khan tidak boleh nakal dan jangan merepotkan Ayah.” Runa mulai memberi wejangan pada Khan agar saat pergi nanti putranya tidak membuat ulah macam-macam di sana.
"Siap, Bunda sayang,” ucap Khan sambil mencium pipi bundanya.
"Kamu terlalu memanjakannya, Mas. Khan jadi tak mau jauh darimu.” Runa berjalan ke dalam sambil berbicara pelan ke arah lawannya. Yang diajak bicara hanya tersenyum saja tanpa menjawab apa pun.
__ADS_1
...****...
Selepas Magrib, mereka bersiap untuk berjalan-jalan. Hanya berdua saja. Pria tampan itu berjalan ke arah mobilnya. Di samping kemudi, bocah menggemaskan itu sudah duduk dengan manisnya.
"Khan sudah siap? Mari kita bersenang-senang malam ini!” ajak Sandy sambil mengacak rambut bocah kecil itu.
"Let's go, Ayah. Kita berangkat.” Tunjuk Khan ke arah jalanan saat mobil Sandy keluar dari pekarangan rumah.
Mobil Sandy berjalan dengan kecepatan sedang, keduanya menikmati perjalan malam ini. Sandy mengajak Khan ke rumah makan yang pernah mereka kunjungi beberapa waktu lalu bersama Runa. Di sepanjang jalan memasuki perkotaan, gemerlap lampu menghiasi sepanjang toko-toko yang berjejer di pinggir jalan. Warung kecil pun tak kalah menarik. Dengan lampu tradisional membuat warung itu terlihat lebih menonjolkan ciri khas yang mereka jajakan. Khan sangat senang dan begitu antusias menyaksikan pemandangan tersebut. Kepalanya takhenti menoleh ke kiri dan ke kanan, pemandangan seperti ini jarang sekali Khan temui di sekitar rumahnya.
Tak lama mereka pun tiba di sebuah kedai makan. Mereka memilih duduk di dekat jendela agar lebih bebas menikmati suasana luar. Cuaca malam ini begitu cerah, secerah hati mereka dalam porsi yang berbeda.
Mereka berdua hanya memesan minuman dan makanan ringan, kentang goreng, sosis, dan milkshake coklat untuk bocah tampan itu. Sedangkan Sandy hanya minum coffe latte. Dipandangnya bocah yang duduk di depannya. Perlahan, lelaki itu menarik napas sedalam mungkin. Ia ingin mengungkapkan sesuatu. Namun, selama ini ia bingung bagaimana menyampaikan kepada anak sekecil Khan.
"Khan," panggilnya perlahan.
"Iya, Ayah sayang. Ada apa?" jawab Khan tak lepas dari hidangan yang memenuhi meja mereka.
"Boleh nggak ayah minta sesuatu sama Khan?" tanya Sandy perlahan.
Khan berhenti dari kesibukannya mengunyah kentang goreng. Bocah itu menatap Sandy dengan sorot mata tidak mengerti.
"Ayah mau minta goreng apa sosis? Lagian kenapa Ayah nggak pesan saja?" Khan memicingkan mata, bocah itu sedikit tidak rela jika makanan kesukaannya itu harus dibagi.
"Bukan itu, Sayang." Sandy berhenti sejenak. Lelaki itu bingung, kalimat macam apa yang bisa membuat Khan mengerti maksudnya "Ayah mau minta izin sama Khan, untuk menikahi Bunda. Apa Khan setuju?"
Khan bergeming. Matanya menatap tajam ke arah lelaki dewasa yang duduk di hadapannya.
"Menikah?" hanya kata itu yang keluar dari bibir mungilnya. Bocah itu bingung. Ia teringat cerita teman-teman sepermainannya. Mereka sering cerita jika malam hari sebelum tidur, bundanya membacakan buku cerita di sisi kanannya. Sedangkan ayah mereka menepuk lembut punggungnya di sisi kiri hingga mereka lelap. Namun, selama ini Khan tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu.
__ADS_1
...*****...
...to be continued...