Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
25


__ADS_3

...*******...


...~ Setelah menjauh, rasa ini semakin yakin bahwa kamu adalah sosok terbaik dalam menghancurkan hidupku ~...


...__Arunika Pramesti__...


...*******...


Hanya ada keheningan, sesaat setelah Khan dengan begitu polosnya menanyakan tentang kakek dan nenek yang dimaksudkan oleh orang yang baru ditemui Khan beberapa kali itu. Runa menatap Ata tajam, sedangkan Sandy menghela napas dalam. Ata pun terdiam. Tidak berani lagi mengeluarkan sepatah kata melihat tatapan penuh amarah yang Runa layangkan untuknya.


“Mas, boleh bawa Khan masuk dulu ke dalam rumah?” pinta Runa setelah ia bisa menguasai emosi yang melingkup jiwanya akibat ulah Ata.


Runa merasa Ata keterlaluan. Ata terlalu ikut campur dengan hidupnya setelah sekian lama pergi, hari ini ia merusak semua hal yang Runa simpan dengan rapatnya.


“Aku ke dalam dulu. Kalau ada apa-apa, panggil aku!” Sandy menepuk pundak Runa perlahan. Ia percaya, Runa mampu menghadapi Ata.


Khan sendiri terlihat bingung melihat ketiga orang dewasa yang tengah bersitegang. Melihat bundanya menahan amarah, Khan tak lagi menanyakan perihal tadi, meski Khan sangat penasaran. Ia tertunduk patuh, sesekali ia melirik Runa yang masih menatap tajam pada Ata.


“Apa ada yang aku nggak tahu, Run?” tanya Ata setelah kepergian Sandy dan Khan.


“Memangnya kamu tahu apa tentang hidupku?” sarkas Runa.


Melihat Runa yang seakan mau mengulitinya hidup-hidup, Ata mencoba mendekat untuk menenangkan Runa. Baru selangkah Ata maju mendekat, Runa sudah menyuruhnya berhenti. Ata pun menurut.


“Kita perlu bicara, Run,” bujuk Ata.


“Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Semuanya sudah selesai saat kamu memutuskan hubungan kita. Jadi aku harap kamu pergi dari rumah ini serta dari hidupku dan Khan.”

__ADS_1


“Khan anakku, Run. Bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk pergi dari sisi anakku?” Ata mengeram marah, “cukup selama ini kamu sembunyikan Khan dariku. Mulai sekarang, aku akan tetap berada di sisi Khan. Bagaimanapun, Khan anakku, darah dagingku. Jangan kamu lupakan itu, Run!”


“Cukup! Aku sudah muak dengan bicaramu, Ata! Seolah kamu adalah ayah yang terbaik sedunia. Padahal sebenarnya tidak. Sekarang aku mohon, pergilah! Kamu tidak tahu apa pun tentang aku dan Khan, jadi jangan ganggu hidup kami lagi.”


“Maka dari itu kasih aku kesempatan untuk mengenal Khan dan juga bertanggung jawab atas semuanya. Aku masih mencintaimu, Run. Maafkan atas salahku yang dulu. Ayo kita mulai lagi semuanya dari awal. Aku, kamu, dan Khan. Aku yakin kita bertiga pasti bisa hidup bahagia. Aku juga ingin dipanggil ayah oleh anakku sendiri,” pinta Ata memelas.


“Nggak semudah itu, Ta. Rasa sakitku nggak akan terbayar dengan begitu mudahnya.”


“I know. Tapi setidaknya izinkan aku untuk menanggung sedikit rasa sakit yang telah aku goreskan padamu. Aku janji, mulai sekarang aku akan selalu berusaha buat kamu dan Khan bahagia.”


Hening, tak ada jawaban dari Runa. Runa hanya tertunduk pilu. Semua bayang masa lalunya kembali berputar dalam ingatan. Semua rasa sakit yang hampir saja tak mampu ia tahan di masa lalu kembali menggerogoti hatinya.


“Run, aku mohon kasih aku kesempatan. Aku pun ingin merasakan menjadi ayah Khan. Bukan hanya Sandy. Aku yang lebih berhak atas diri Khan dibanding Sandy. Jadi aku mohon, beritahu Khan bahwa aku adalah ayah kandungnya. Orang yang paling berhak dipanggilnya ayah.”


Mendengar kata 'hak' terucap dari mulut Ata membuat Runa tersenyum remeh. “Hak, katamu?” tanya Runa sembari menatap tajam pada Ata, “kamu hanya ayah biologis Khan. Selain itu kamu tidak ada artinya bagi Khan. Sedari Khan dalam kandungan, Mas Sandy-lah yang memberinya perhatian, memenuhi semua kebutuhan Khan. Mas Sandy yang merawat Khan saat aku tidak berdaya pasca melahirkan. Dia yang kamu bilang bukan siapa-siapa tidak merasa jijik saat mengganti popok Khan juga membersihkan kotoran Khan. Mengajari Khan bicara dan berjalan. Menulis, membaca, juga berhitung. Bukan kamu. Semua yang Khan makan adalah dari hasil keringat Mas Sandy, bukan kamu!” tegas Runa, “lalu, hak apa yang kamu pertanyakan, Byakta Kalingga?”


“Itu semua karena aku tidak tahu dan kamu tidak memberitahuku. Jadi jangan limpahkan semua kesalahan padaku. Kamu juga turut andil dalam kesalahan ini!” Ata ikut tersulut emosi atas ucapan Runa.


“Oleh karena itu, sebaiknya kamu pergi. Ini salahku bukan? Jadi biarkan aku menanggungnya sendiri. Aku tidak butuh simpatimu. Aku dan Khan tidak membutuhkanmu!” ujar Runa dingin. Sekali lagi ia menatap Ata penuh kebencian sebelum ia meninggalkan Ata di halaman rumah. Tidak lupa ia mengunci pintu.


“Are you okey?” Sandy menghampiri Runa yang bersandar di daun pintu. Runa hanya mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan di luar Ata mengumpati dirinya sendiri.


“Shittt!” Tangannya mengepal memukul udara. “Sial. Aku nggak seharusnya menyalahkan Runa.” Kini ia menyadari jika ia telah salah dalam bicara karena termakan emosi. “Bagaimanapun caranya, Khan harus tahu jika aku ayah kandungnya,” imbuhnya lirih.


***


Dua hari setelah kejadian itu, Ata terus merayu Runa, agar wanita cantik itu mau memberitahukan pada Khan kalau ia adalah ayah kandung bocah tampan itu melalui pesan WhatsApp.

__ADS_1


Akan tetapi, Runa merasa enggan dengan sikap Ata yang memaksakan kehendaknya. Runa memilih untuk mengabaikan pesan dari Ata. Lelaki itu pun tak kehilangan kesabaran, dia bahkan muncul di hadapan Runa secara tiba-tiba saat menjemput Khan di sekolah.


"Runa, ayolah, katakan pada Khan kalau aku adalah ayah kandungnya,” pinta Ata kepada Runa, tetapi yang diajak bicara hanya diam saja tak menghiraukan apa yang lawan bicaranya katakan.


Runa menatap Ata dengan tajam dan penuh kemarahan.


"Apa itu saja yang bisa kamu lakukan, dengan datang dan menghancurkan semua yang telah kutata dengan rapi dan baik? Aku berjuang agar Khan tumbuh dengan semestinya. Selayaknya anak seumurannya. Tapi lihatlah, kamu merusak semuanya. Apa itu yang kamu inginkan, Ata?" dengan penuh kemarahan Runa membalas permintaan Ata.


Walau dengan suara pelan, tapi terdengar begitu tajam di pendengaran lelaki egois itu. Runa harus bisa menekan intonasi suaranya, karena mereka berada di tempat umum.


Ata yang diam tak lagi menjawab apa yang wanita tercintanya katakan. Jika memang di pikiran Runa ia adalah sosok yang egois, maka ia akan benar-benar menjadi sosok yang egois. Ata gelap mata. Sudah bosan ia membujuk Runa. Ia akan lakukan apa yang menurutnya baik.


Selangkah Ata maju ke arah Runa dan berbisik pelan, "Aku akan tetap memberitahukan siapa aku sebenarnya pada Khan dan kamu hanya akan mengikuti saja semua yang aku rencanakan.”


Runa menganga tak percaya. Ia melihat Ata menghampiri Khan yang baru saja ke luar dari gerbang sekolah.


"Hai, Khan,” sapanya setelah berada di samping Khan. “Om mau bicara sama kamu sebentar, boleh?” tanya Ata sembari mengajak Khan duduk di kursi tunggu.


"Om, mau bicara apa sama aku?" Khan balik tanya.


Runa yang melihat Ata dan Khan duduk segera menghampiri mereka dengan wajah pucat. Ata melirik Runa yang menggelengkan kepala tanda tidak setuju, tetapi Ata tidak peduli. Lalu mengalihkan pandangannya pada Khan lagi.


"Sebenarnya, om adalah ayah kandung Khan. Ayah Khan yang sesungguhnya, bukan ayah Sandy." Ata langsung memperkenalkan dirinya pada Khan tanpa basa-basi dan penuh percaya diri. Ata berharap mendapatkan respons yang baik dan sesuai dengan impiannya. Khan akan memeluk dan memanggil ayah padanya, tetapi reaksi Khan di luar dugaannya. Anak itu hanya memicingkan mata dan terbengong dengan apa yang baru saja ia dengar.


Runa menatap dua lelaki beda usia di hadapannya dengan tatapan nanar. Kedua matanya sudah berkaca-kaca. Hatinya terasa hancur saat mendengar pengakuan Ata. Ia takut Khan akan membenci dirinya, karena sudah merahasiakan hal tersebut. Runa dilema, lelaki egois itu telah menghancurkan semuanya tanpa tersisa.


“Tuhan, kenapa semua ini terjadi? Aku harus apa setelah ini?” rintih Runa dalam hati. Ia tak mampu lagi berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Hanya air mata yang mewakili perasaannya saat ini. Ia menangis bukan sebab lemah, tapi kala semuanya sudah tidak lagi dapat dibendung dengan menyimpan perih. Dengan keadaan ini ia belajar menjadi dewasa, selalu menerima keadaan tanpa menyalahkan kenyataan.

__ADS_1


...*****...


...To be continued...


__ADS_2