Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
18


__ADS_3

...*******...


..."Di antara banyaknya orang yang berada di sini. Hanya sosokmulah yang telah menawanku hingga aku terjerembab dalam kegilaan ini."...


...Byakta Kalingga...


...******...


^^^Alea: Ata sayang, angkat dong telponnya!^^^


Ata: Aku sibuk, Al


^^^Alea: Sesibuk apa, sih, Ta? ^^^


^^^Sampai nggak ada waktu luang buat aku!^^^


^^^Alea: Ta?^^^


^^^Alea: Sayang?^^^


^^^Alea: Aku nyusul, nih!^^^


Satu menit.


Dua menit.


Hingga jadi berjam-jam, chat terakhir Alea hanya sampai pada penerima saja. Centang dua, berwarna abu-abu. Menandakan bahwa tak ada tanda-tanda chat terbaca oleh si penerima.


Alea yang kesal mendapat respon setengah-setengah dari Ata menjadi kesal. Ia tengah berada di atas kasur king size berwarna putih tulang itu sampai meremass bantal saking kesalnya pada Ata.


"Oke. Kamu pikir aku bercanda! Aku akan nyusul kamu beneran Ata!" geram Alea.


Setelah puas melampiaskan kesalnya pada bantal-bantal tak berdosa itu, Alea melemparkan hingga teronggok di lantai begitu saja.


...*****...


"Surprise!"


Alea berteriak saat pintu kamar hotel yang Ata tempati terbuka lebar. Jangan lupakan penghuninya yang terlihat acak-acakan dengan kaos oblong dan celana training membungkus kaki jenjangnya. Seraut wajah tampan itu tak luntur meskipun terlihat baru bangun tidur.


Mata yang tadinya menyipit karena dipaksa terjaga itu, kini melebar sempurna. Bahkan kesadarannya terkumpul mendadak karena ketukan dan bunyi bel pintu hotel yang berbunyi.


"Al?"


"Peluk!" Alea merentangkan kedua tangannya, lalu secepat kilat ia berhambur pada sosok menawan di hadapannya.


Ata yang berada dalam penjara tangan mulus itu hanya bisa pasrah. Ia melebarkan matanya pada sosok lelaki yang sedang berdiri melipat kedua tangan yang berada di belakang tunangannya.

__ADS_1


Dalam sekejap, Ata memahami situasi yang ada. Apalagi melihat wajah lelah David yang begitu pasrah.


Tanpa disangka oleh Ata. Semalam, David menjadi sasaran teror Alea mengenai keberadaannya. David tak bisa mengelak untuk tidak memberi tahu keberadaan Ata. Ia semakin tak tega melihat Alea hampir menangis karena merasa terabaikan oleh sahabatnya.


Hingga malam itu juga, David bersama Alea bertolak dari Surabaya menuju Wonosobo.


Tak ada kesempatan bagi David untuk memberi kabar pada Ata mengenai kedatangan Alea dan dirinya.


Setelah melewati drama Alea di depan pintu, Ata beralasan untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia sempatkan untuk berbalas pesan pada David agar membawa jalan-jalan Alea lebih dulu. Ata berdalih untuk menyusulnya nanti. Namun, semua itu hanya alasannya saja. Nyatanya, sibuk yang Ata lakukan adalah menjalankan misinya mendekati Runa kembali.


Butuh waktu lama Ata mendapatkan persetujuan David. Hingga akhirnya David menyerah dan menyetujui permintaan Ata.


"Ata sialan! Ini, sih, aku jadi guide tour dadakan namanya!" Itu yang ada di benak David sekarang.


David terpaksa membujuk Alea. Memanfaatkan destinasi wisata yang ada, David memberikan iming-iming luar biasa mengenai wisata di sekitar.


Sementara Ata, lelaki itu berencana untuk kembali menemui Runa. Pembicaraan kemarin urung mereka lakukan, Ata memilih pergi tanpa pamit sebelum Sandy dan Khan menyadari kehadirannya. Apalagi setelah melihat kebahagiaan Runa bersama keluarga kecilnya. Ata tak mampu bertahan lebih lama di sana. Ata tak ingin terus bergelung dengan perihnya kenyataan di depan mata. Runanya telah berbahagia dengan keluarganya yang baru.


"Aku nggak peduli. Aku akan coba, untuk terus menembus dan meruntuhkan dinding pemisah di antara kita. Aku tak mau bertindak bodoh untuk yang kedua kali. Aku tak mau kehilanganmu lagi," monolog Ata saat ia menikmati sarapan pagi di resto Madang.


Biarlah Ata dikatakan gila. Nyatanya, ia benar-benar gila. Bahkan di dalam pikirannya, terbesit niatan untuk merebut Runa dari keluarga kecilnya. Lalu bagaimana dengan Alea?


"Shittt!" umpat Ata pelan. Bagaimana bisa ia melupakan keberadaan Alea sekarang? Terserah. Itu biarkan menjadi urusan David.


Di saat ia berperang dengan pemikirannya, saat itu juga Ata melihat Runa yang hendak keluar dari resto.


Ata tergesa menyesap minumnya dan meletakkan selembar uang di meja. Ia lalu bergegas mengikuti langkah Runa.


Melihat Runa yang kesusahan membawa barang belanjaan, membuat Ata tak tega. Ingin rasanya, Ata berlari dan ikut membantu pada apa yang sedang di butuhkan oleh cintanya di masa lalu itu. Bahkan, Ata tak yakin. Aruna bukanlah hanya sekedar masa lalunya. Apalagi saat menyadari hatinya kembali bergetar untuk wanita berambut hampir sepinggang itu.


"Rasanya, aku telah jatuh cinta lagi dan lagi padamu, Runa."


Dalam persembunyian Ata, ia begitu mengagumi sosok cantik nan anggun yang bergerak kesana-kemari. Dari kios yang satu ke kios yang lain.


Mata Runa yang menyipit saat tertawa menanggapi candaan penjual, menjadi pemandangan yang meneduhkan hati Ata yang tengah menyimpan banyak sesal itu.


Segala gerak-gerik Runa seolah menjadi tarian indah yang sayang sekali untuk dilewatkan Ata. Ia yang tak pernah menginjakkan kaki di pasar selama ini, seolah tak merasa terganggu oleh lalu lalang kesibukan orang-orang yang sedang berlomba mengais rezeki untuk keluarga. Ia bahkan tidak merasa terganggu kala pekerja kasar melintas dengan bau keringat yang mengalir membasahi tubuh.


Kini Runa telah keluar dari pasar. Ia membawa kendaraan roda empat itu seorang diri membuat Ata berdenyut nyeri.


“Bagaimana caranya aku bisa berada di sampingnya? Bagaimana caranya agar aku bisa merasakan berbagi lelah bersamanya. Aku harus bagaimana?” monolognya dalam hati.


Belum sampai kembali ke resto, mobil yang dikendarai Runa berhenti di pusat oleh-oleh.


Ata turun dari ojek yang ia tumpangi dan segera mengikuti ke mana Runa melangkah. Sampai kakinya terasa di pasung di tempat kala melihat kejadian kemarin kembali hadir di depan mata.


Di tempat yang tak jauh dari tempatnya berdiri, Ata melihat kembali potret keluarga kecil bahagia yang tengah bersenda-gurau.

__ADS_1


"Bunda, kenapa nggak minta tolong aja, sih, sama Ayah? Kenapa Bunda berbelanja sendiri? Khan jadi sedih lihat Bunda bawa barang-barang banyak. Khan nggak mau Bunda kecapean," ujar Khan tulus dari dalam hati. Khan yang melihat sang bunda berdiri menenteng dua plastik kresek berukuran besar jadi iba.


Sandy yang mendengarnya segera duduk dan memberi pelukan untuk Khan. "Janji sama Ayah! Khan akan jadi sosok yang kuat agar dapat menemani Bunda setiap saat!" Mata anak kecil itu sudah memupuk cairan yang sekali kedip pasti akan terjatuh. Merasa tak tega melihat sang bunda bekerja keras.


Khan menatap Sandy dan mengangguk yakin.


"Jadi?" pancing Sandy memberi kesempatan pada Khan mengungkapkan apa yang akan ia lakukan.


"Khan harus jadi anak pintar. Khan harus rajin belajar, biar bisa jadi presiden. Biar Bunda nggak capek-capek kerja. Khan juga nggak boleh nangis. Karena, jika Khan nangis, Bunda jadi sedih." Hal itu membuat Runa meletakkan jinjingan dan ikut duduk menyamai tinggi Khan.


"Terimakasih, ya, Sayang. Terimakasih."


Ata seperti tak sadar hingga ia sudah bergerak mendekat tepat di mana Runa berada.


"Ru-runa."


Panggilan Ata membuat Sandy dan Runa yang sedang duduk pun berdiri dengan memutar kepala mencari sumber suara.


"Ha-hai." Ata menyapa canggung.


"Runa, kamu tidak ada niatan untuk memperkenalkan keluargamu padaku?"


Runa dan Sandy saling bertatapan, sedangkan Khan hanya berdiri ikut memindai satu persatu dari tiga orang dewasa yang mengelilinginya.


"Run?" Sandy memaku saat menyadari kehadiran Ata. Ada perasaan tidak nyaman menusuk hatinya. Ada ketakutan yang seketika membekap jiwanya. Meski dilanda kekalutan, Sandy berusaha untuk setenang mungkin menghadapi situasi ini.


"Kamu?” Sandy bertanya pada Ata, sedangkan Runa mulai meremas tali tas selempang yang menggantung di pundak. Tidak pernah terpikir di benak Runa akan berada dalam situasi seperti ini.


"Saya teman lama, Runa." Selanjutnya dengan hati yang Ata paksakan untuk kuat, ia mengulurkan tangan pada Sandy dan keduanya saling menyebutkan nama masing-masing.


Ata dan Sandy mulai berbasa-basi tanpa mereka tahu Runa sudah ingin berlari saja dari sana. Raut wajah cantik yang sedari tadi banyak tersenyum dengan cerahnya, kini berubah menjadi datar.


Tak lama, teriakan nama Ata baru saja melengking tak jauh dari empat orang yang sedang berdiri di depan pusat oleh-oleh.


Ada Alea dan David yang secepat kilat sudah bergabung di sana.


"Alea?" batin Ata mulai tak nyaman.


"Hai, semua." Alea menyapa pada dua orang di hadapan kekasihnya. Alea pikir Sandy dan Runa itu adalah teman atau rekan kerja Ata yang membuat tunangannya itu sibuk hampir seharian ini.


"Oh, kamu imut sekali. Siapa namamu?" tanya Alea pada Khan tanpa rasa canggung. Khas dirinya yang merupakan type mudah akrab dan ceria.


Untuk berlaku sopan, Runa ikut menyahut pertanyaan wanita cantik di hadapannya. Ia kesampingkan rasa penasarannya akan hubungan Ata pada wanita di hadapannya itu.


Jangan lupakan David dan Ata yang sedang mengendalikan rasa tegangnya. Karena di antara enam jiwa yang ada di sana, tiga orang diantaranya mengetahui Ata dengan masa lalunya. Sampai mata David begitu intens mengunci wajah imut nan menggemaskan yang sedang di gandeng erat oleh Runa.


"Wajah itu," gumam David sambil bergantian melihat Ata dan anak yang mengaku bernama Khan.

__ADS_1


...******...


...to be continued...


__ADS_2