
...*********...
...Jika dia menganggap masa lalumu bukan alasan untuk meninggalkanmu, maka pertahankan dia. Itu tandanya dia mencintaimu bersama segala kekuranganmu. ...
...~Arunika Pramesti~...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Dalam kamar bernuansa pastel, seorang gadis cantik duduk termenung di atas kasur. Pikirannya dipenuhi berbagai alasan untuk mempertahankan hubungannya dengan lelaki yang sudah memenjarakan cintanya. Gadis itu berusaha untuk memejamkan matanya. Ia sengaja memadamkan lampu di ruangan itu. Dengan begitu, ia berharap untuk segera terbang ke alam mimpi. Namun, setiap kali matanya terpejam, justru bayangan sang kekasih yang selalu hadir dalam benaknya. Alea benar-benar terpuruk dengan keputusan sepihak tunangannya. Semua kalimat Ata ketika meminta mengakhiri hubungan mereka terngiang begitu saja.
“Diam!”
Gadis itu bangkit. Kedua tangannya bergetar menutup telinga. Perlahan butiran hangat itu meluncur di pipi disertai isakan lirih. “Kamu kejam, Ta. Kamu benar-benar egois. Pantas saja Runa menghilang dari hidupmu!” erang perempuan itu.
Udara dingin berembus melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Menggoyangkan tirai tipis yang menghalangi cahaya bulan untuk menyapa Alea. Gadis itu bangkit menuju balkon kamarnya. Alea menatap bulan yang membulat sempurna. Dalam hitungan menit, tiba-tiba senyumnya mengembang. Senyuman yang sedikit dipaksa. Alea seperti mendapatkan petunjuk, bagaimana caranya agar bisa mempertahankan hubungannya dengan Ata.
“Aku harus menemui Runa,” gumam Alea.
...****...
Sebelum matahari menampakkan cahaya kehidupan, Alea sudah keluar dari rumahnya. Bergegas ke suatu tempat untuk meraih sebuah harapan. Saat ini, Alea duduk manis di dalam gerbong kereta yang akan membawanya ke Yogyakarta. Semalam pikiran untuk menemui Runa muncul begitu saja. Alea tidak mau membuang waktu. Gadis itu berpikir bahwa dirinya harus segera bertindak. Ia berusaha untuk selangkah di depan Ata. Keberuntungan seolah berpihak padanya. Di hari Minggu seperti ini, dia bisa mendapatkan tiket kereta api dengan mudah. Entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk menemui Runa. Yang ada dalam benaknya hanyalah ia tidak ingin berpisah dengan Ata. Alea mencintai Ata sepaket dengan masa lalunya. Alea menyadari jika masa sekarang tidak akan pernah ada tanpa adanya masa lalu. Dan Alea menerima semua itu.
Alea masih ingat harus menggunakan transportasi apa untuk sampai di Wonosobo. Sesampainya di stasiun Yogyakarta, Alea menggunakan jasa travel agar lebih cepat sampai ke Wonosobo. Tujuannya tentu saja rumahnya Runa. Sekali pernah berkunjung ke sana, Alea masih hafal jalannya.
...*****...
Tok! Tok! Tok!
Mendengar suara ketukan pintu yang diiringi kalimat salam membuat penghuni rumah bergegas ke depan. Waktu sudah mendekati waktu Ashar ketika Runa pulang dulu ke rumahnya setelah dari resto. Baru beberapa menit Runa berada di dalam rumah, ia harus kembali ke depan karena mendengar ada seseorang yang datang.
__ADS_1
"Alea?" Kening Runa mengernyit heran, saat ia membuka pintu dan menemukan Alea berdiri sebagai tamunya.
Alea menyunggingkan senyuman ramah. "Hai," sapanya.
"Kamu datang sama siapa ke sini?" Runa bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia takut jika Ata juga ikut bersama perempuan tersebut. Karena yang Runa tahu, Alea adalah tunangan lelaki itu.
"Tenang aja! Aku datang sendiri, kok. Ata udah pulang ke Surabaya. Aku ke sini karena ingin berbicara dengan kamu," terang Alea.
Runa bisa menghela napas lega. Setidaknya ia bisa bebas dari tuntutan Ata untuk merebut anaknya. "Silakan masuk!" ajak Runa sambil melebarkan pintu rumah. Alea pun masuk tanpa sungkan. Mengikuti Runa yang berjalan menuju ruang tamu rumah itu.
"Mau minum apa?" tanya Runa sebelum dirinya duduk untuk menemani Alea berbicara.
"Apa saja. Yang penting bukan kopi. Aku nggak suka," jawab Alea.
Runa pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Sebentar, ya!" ucapnya, lalu bergegas menuju dapur.
Selang beberapa saat, Runa kembali sambil membawa nampan yang berisi dua cangkir teh panas dan sepiring makanan ringan untuk melengkapi obrolan mereka. Lantas ia sajikan di atas meja.
Alea sedikit menyecap air teh tersebut, lalu duduk tegak dan menghadap ke arah Runa. Raut wajahnya terlihat serius saat ingin mengutarakan maksudnya.
"Ehm ... aku nggak tahu harus mulai dari mana, Run. Sebenarnya, aku udah tahu tentang hubungan masa lalu kamu sama Ata. Dan kamu tahu, kan, kalau sekarang kami sudah bertunangan ...."
Sejenak terjeda, Runa hanya bergeming dan masih enggan membuka suara. Ia hanya menunggu Alea melanjutkan kata-katanya.
"Dulu hubungan kami baik-baik saja, tapi setelah dia bertemu kamu dan anaknya ... Ata tega memutuskan hubungan pertunangan kami begitu saja. Katanya, dia ingin kembali sama kamu, Run."
Runa menggigit bibir bawahnya, tentunya dia sudah tahu jika Ata ingin kembali bersamanya. Namun, ia tidak menyangka Ata akan secepat itu memutuskan pertunangannya dengan Alea. Jika sudah seperti ini, Runa tidak boleh lengah lagi. Ata benar-benar sudah terobsesi.
"Kalau kamu ke sini hanya untuk membujuk aku agar meninggalkan dia, kamu hanya membuang-buang waktumu saja, Al. Karena aku sudah melakukannya sejak lama. Nama Ata sudah aku coret dalam hati dan hidup aku. Jadi, kamu tenang aja. Aku nggak akan mau kembali dengan dia."
__ADS_1
"Tapi aku ke sini bukan untuk itu, Run," tukas Alea.
"Lalu?" Runa mengernyitkan kening.
"Ata bersikeras untuk mendapatkan anaknya. Aku sangat tahu bagaimana Ata. Dia tidak akan mundur jika belum mendapatkan apa yang dia inginkan. Untuk itu aku minta sama kamu, Run. Tolong berikan Khan pada Ata! Aku bersedia menjadi ibu sambung buat Khan. Aku akan menyayangi dia seperti anakku sendiri."
"Omong kosong apa yang kamu katakan itu, Al!" bentak Runa dengan penuh tekanan. Emosinya meluap diiringi tatapan penuh kebencian. Runa tidak menyangka jika Alea mampu mengatakan itu hanya karena cintanya pada Ata.
"Run, dengerin aku dulu! Aku benar-benar mencintai Ata. Aku rela melakukan apa saja demi kebahagiaan dia. Jika memang kamu sudah tidak mencintainya. Biarkan aku bahagia bersamanya," lirih Alea. Air matanya sudah menganak sungai mengaliri pipinya.
"Kalau kamu mau dia, ambil saja! Jangan bawa-bawa Khan!" sergah Runa masih dengan nada marah.
"Tapi kebahagiaan Ata ada pada Khan. Jika anak itu bersama kami, Ata pasti menerima aku lagi."
Runa melemparkan senyuman pelik di sudut bibirnya. Semudah itu Alea berkata demi kebahagiaan Ata. Lalu bagaimana dengan kebahagiaannya yang selama ini sudah direnggut oleh seorang Ata? Runa sudah berjuang keras untuk melupakan semua kepedihan hanya demi anaknya, lalu sekarang Ata akan merebutnya juga dengan bantuan Alea?
"Kamu sama saja seperti Ata, ya. Egois! Kalian hanya memikirkan kebahagiaan kalian sendiri. Kamu tidak pernah tahu, betapa menderitanya aku saat itu. Saat Ata meninggalkan aku dengan anak tanpa aku mau sudah tumbuh di rahimku. Aku berjuang sendirian dengan segala penghinaan dan kesulitan. Apa kamu tahu bagaimana rasanya, Al? Sakit, Al. Sakit!" Runa menepuk-nepuk dadanya sendiri. Air matanya juga deras mengalir di pipi.
"Selama ini aku berusaha kuat hanya demi Khan, dan sekarang kamu minta aku untuk memberikan Khan pada ayahnya yang brengsek itu? Nggak mungkin. Aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi. Khan anakku, hanya anakku!"
Alea tertunduk malu mendengarkan cibiran yang keluar dari mulut Runa. Mendengar itu semua membuat dirinya malu sebagai seorang wanita. Ata memang lelaki yang jahat menurut versi Runa, tetapi rasa cinta membuat mata hati Alea seolah buta.
"Aku kasihan sama kamu, Al. Kamu begitu mencintai Ata, padahal dia tidak menghargai cinta kamu sama sekali," batin Runa melihat Alea yang tertunduk seperti itu. Dia tahu jika Alea adalah perempuan yang bijak. Ia hanya terjebak oleh rasa cinta yang sepihak.
Jika dia menganggap masa lalumu bukan alasan untuk meninggalkanmu, maka pertahankan dia. Itu tandanya dia mencintaimu bersama segala kekuranganmu.
Seperti itulah sosok Alea di mata Runa. Sangat disayangkan jika Ata menyakiti perempuan itu.
...******...
__ADS_1
...to be continued...