Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
29


__ADS_3

...*******...


..."Andai saja hati bisa diajak kompromi ketika Dewa Amor hendak melepaskan anak panah, mungkin cinta itu tidak akan berlabuh pada orang yang salah."...


...~Alea Putri~...


...********...


"Jaga bicaramu, Al! Apa maksudmu mengatakan pelacur pada Runa. Asal kamu tahu, dia adalah perempuan baik-baik yang sudah menjadi ibu dari anakku!" murka Ata setelah panggilan teleponnya terhubung dengan Alea.


"Heh, hanya dengan satu kata, akhirnya kamu bisa terusik dan mau menghubungi aku, Ata. Sepenting itukah perempuan itu buat kamu, hah?" Alea mencibir di seberang sana. Membuat Ata semakin geram saja.


"Apa maumu sekarang?" tanya Ata dengan nada dingin.


"Apa mauku? Kamu tanya apa mauku, Ta?" Alea pun tersulut emosi. Perubahan drastis dari sikap Ata membuatnya geleng-geleng kepala, "kamu benar-benar lupa diri dan nggak punya perasaan sama sekali, ya? Aku ini tunangan kamu, Ta. Apa kamu lupa? Cepat sekali kamu berubah sikap setelah menemukan masa lalumu itu."


"Cukup, Al! Aku sudah lelah dengan semua ini. Sekarang kamu sudah tahu sikap asliku, kan? Bertahun-tahun aku sudah menyembunyikan rasa penyesalan karena telah meningggalkan Runa. Maaf, aku harus jujur sekarang. Dari dulu sampai sekarang nggak ada cinta buat kamu di hati aku. Semuanya hanya milik Runa. Hanya Runa! Jadi, mulai sekarang lebih baik kita akhiri saja hubungan kita, agar kamu bisa bebas menentukan pilihanmu. Carilah laki-laki yang mencintai kamu dengan tulus, Al. Yang pasti itu bukan aku."


Penuturan panjang serta keputusan sepihak yang Ata utarakan tersebut, tentu membuat Alea tersentak. Hingga panggilan tersebut hening beberapa saat.


"Kamu bercanda, kan, Ta? Kamu nggak serius, kan, sama keputusan kamu barusan?" Suara Alea sudah terdengar bergetar. Diringi isak tangis yang kian memilukan. Hati Alea hancur, sehancur-hancurnya. Tiba-tiba dibenturkan oleh kenyataan pahit yang tidak pernah dia sangka. Dengan kejamnya Ata memutuskan hubungan pertunangan mereka hanya lewat sambungan telepon saja.


"Aku serius, Al. Aku akan menikahi Runa. Dia sudah menjadi ibu dari anakku, jadi aku harus menikahinya."


Dada Alea semakin merasakan sesak yang teramat. Napasnya pun kian berat. Selama ini Alea mencintai Ata dengan sangat tulus. Apa tidak ada sedikit pun belas kasihan Ata kepadanya? Andai saja hati bisa diajak kompromi ketika Dewa Amor hendak melepaskan anak panah, mungkin cinta itu tidak akan berlabuh pada orang yang salah.

__ADS_1


Ata yang tidak mau mendengar rengekan Alea, akhirnya memutuskan panggilan tersebut secara sepihak. Ia benar-benar sudah tidak peduli dengan perempuan itu. Yang ada di hati dan pikirannya hanyalah Runa. Bagaimana caranya ia bisa mendapatkan perempuan itu kembali?


Ata pun memutar otaknya. Apa pun akan dia lakukan, yang penting Runa bisa didapatkan, walau harus dengan cara paksaan.


"Aku harus kembali ke Surabaya dan bertemu dengan keluarga Runa," gumam Ata bermonolog pada dirinya.


Ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya. Sesuatu yang menurutnya sangat janggal. Ia masih penasaran dengan keberadaan Runa yang tiba-tiba tinggal bersama Sandy di Wonosobo. Banyak pertanyaan di benak Ata. Bagaimana bisa Runa sampai ke Wonosobo, juga tentang Khan yang tidak mengetahui tentang keberadaan keluarga Runa di Surabaya.


*****


Ata pun memutuskan untuk kembali ke Surabaya hari itu juga. Ia akan menggunakan transportasi kereta api agar perjalanannya lebih cepat sampai ke sana. Sebenarnya Ata ingin menggunakan transportasi udara, tetapi Ata mengurungkannya, karena jadwal penerbangan di bandara terdekat menuju Surabaya sangatlah terbatas. Ata harus menunggu esok hari untuk menunggu jadwal penerbangan selanjutnya.


Ata memesan tiket kereta melalui aplikasi online di ponselnya agar lebih efisien. Dikarenakan Kabupaten Wonosobo tidak bisa ditempuh oleh akses langsung kereta api, Ata pun memesan tiket di stasiun Purwokerto. Di sana ada jadwal keberangkatan siang yang melalui stasiun Yogyakarta terlebih dahulu. Ata tidak mau membuang waktu, ia mencari jalur alternatif yang paling cepat menuju Surabaya. Ia ingin segera menuntaskan semua masalahnya.


*****


Ata yang duduk di samping kemudi hanya melirik sinis pada David, kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke arah samping jendela. Menatap lampu taman yang berkelipan yang mereka lewati sekarang. Langit sudah gelap ketika Ata sampai di kota Surabaya. Membuat ia merasa begitu kelelahan. Energinya sudah lemah jika harus dipakai berdebat dengan David. Maka dari itu, ia memilih untuk tidak menggubris perkataan sahabatnya tersebut.


"Ta, aku nanya sama kamu, loh. Kenapa nggak dijawab?"


Ata mendengkus. Inilah yang ia tidak suka dari David. Lelaki itu terkadang terlalu cerewet dan terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya, bahkan terkesan memaksa.


"Kata siapa aku menyerah? Aku tidak akan pernah nyerah buat mengejar Runa. Justru tujuan aku pulang sekarang adalah untuk bertemu dengan orang tuanya. Aku akan meminta bantuan mereka untuk membujuk Runa, agar mau menerima lamaranku. Dengan adanya Khan, aku yakin mereka pasti setuju. Mereka pasti ingin Khan berkumpul dengan papa kandungnya sendiri, daripada dengan orang lain."


"Kamu gila, Ta! Lalu gimana dengan Alea? Kalian sudah bertunangan," sungut David. Sejenak menghunuskan tatapan tajam kepada sahabatnya, lalu fokus lagi ke jalan raya.

__ADS_1


"Hubunganku dengan Alea sudah berakhir. Aku sudah memutuskan dia lewat telepon tadi pagi."


"Hah? Putus lewat telepon? Kamu bener-bener nggak punya hati, Ata. Kalian tunangan secara baik-baik antara dua keluarga. Kenapa kamu tega mutusin Alea dengan cara seperti itu?"


"Nanti aku akan bicara pada keluarga Alea juga. Kamu tenang aja."


David menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar keras kepala! Hati kamu terbuat dari apa, sih?" sembur David penuh penekanan.


"Terserah apa kata kamu, Vid. Pokoknya, apa pun akan aku lakukan agar Runa dan Khan bisa kembali padaku lagi," pungkas Ata dengan santai. Sama sekali tidak terpengaruh dengan kekesalan David.


David meraup wajahnya dengan kasar, rasanya ingin sekali mengacak-acak wajah Ata sekarang. Ia seperti baru mengenal sahabatnya tersebut. Ata yang dulu tidak seperti itu, walaupun lelaki itu terkenal egois dan keras kepala. Ata dulu tidak suka menyakiti hati seseorang. Sekarang, hanya demi cinta masa lalunya, Ata tidak peduli dengan apa pun juga.


"Tapi sebenarnya aku heran dengan hubungan Runa dan keluarganya. Kenapa Khan sampai nggak tahu kalau dia masih punya nenek dan kakek? Apa mungkin hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja?" cetus Ata setelah keheningan tercipta cukup lama. David sudah kehabisan kata-kata untuk memberikan nasihat kepada Ata. Akhirnya Ata sendiri yang membuka perbincangan mereka.


"Maksud kamu apa?" tanya David tidak mengerti. Keningnya mengernyit tanpa melihat ke arah Ata. Ia tetap fokus pada jalan raya.


"Kemarin aku bahas orang tua Runa di depan Khan. Tapi Khan tidak mengenal nenek dan kakeknya. Seolah Khan nggak pernah bertemu dengan mereka."


"Apa mungkin selama ini Runa kabur dari rumahnya?" David berasumsi.


"Aku nggak tahu. Tapi setahuku, Runa adalah anak yang penurut dan berbakti kepada keluarganya. Runa tidak mungkin melakukan hal nekat seperti itu."


Kedua lelaki itu pun sejenak diam. Berpikir keras tentang kejanggalan yang terjadi pada Runa dan keluarganya. Jarak yang terlampau jauh membuat mereka tidak pernah tahu, bagaimana kehidupan Runa setelah mereka pergi.


...*****...

__ADS_1


...to be continued...


Jangan lupa like, ya 👍


__ADS_2