
...*******...
...“Tidak ada seorang pun yang tahu akan masa depan. Bahkan sebaik-baiknya rencana yang dibuat oleh manusia, semua itu tidak akan berguna jika Tuhan tidak berkehendak.”...
...~Arunika Pramesti~...
...*****...
Suara ketukan pintu membuat tidur Alea terganggu. Perlahan matanya mengerjap menyesuaikan cahaya lampu yang menembus retina.
“Al, bangun, Sayang. Ayo makan malam dulu.” Suara sang ayah terdengar menyapa indera pendengarannya.
“Bentar, Yah. Al cuci muka dulu.”
Usai mencuci muka dan menggosok gigi, Alea bergegas menghampiri sang ayah yang tengah menunggu di meja makan.
“Makan yang banyak, Sayang. Ayah perhatikan kamu semakin kurus. Ada masalah?”
Alea tersenyum canggung. Ia tidak akan memberitahu ayahnya tentang masalahnya dengan Ata sebelum semuanya jelas.
“Al sengaja diet, Yah.”
“Badanmu sudah sangat kurus, kenapa harus diet segala? Oh, ya, sudah lama Ata tidak main ke rumah. Apa dia sibuk sekali?” tanya sang ayah sembari mengisi piringnya dengan nasi dan beberapa lauk.
“Ata masih di Wonosobo. Ada proyek di sana.”
“Kalau ada masalah, segera selesaikan biar kamu nggak harus kepikiran seperti ini. Setelah makan, kompres matamu dengan air dingin biar bengkaknya hilang.
Seketika Alea berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulut. Sebisa mungkin ia sembunyikan masalahnya dengan Ata, ternyata ia tak cukup pandai untuk membohongi sang ayah.
“Ayah tenang saja. I am fine. Semua baik-baik saja.”
Entah siapa yang coba Alea yakinkan. Ayahnya atau dirinya sendiri.
***
David terpaku pada sosok yang tengah menyanyi di atas panggung. Ini kali pertama ia mengunjungi kafe milik Hasbi.
“Aku seperti tidak asing dengan penyanyi itu, Bi?” tanya David memecah kekaguman Hasbi pada sosok yang tengah menyanyi di atas panggung. Suara yang merdu juga wajah yang ayu membuat Hasbi bisa melupakan sosok Widya yang pernah mencuri hatinya.
__ADS_1
“Dia pernah viral karena pernah menyanyi dengan Delfin.” Hasbi menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya pada Ziya.
Ya. Wanita itu adalah Ziya. Tidak sedikit yang mengenali Ziya karena pernah satu panggung bersama artis kenamaan ibu kota.
“Ternyata aslinya sangat cantik, ya, Bi.” David memandang Ziya penuh kekaguman, “pantas kamu betah di Surabaya dan nggak berniat balik ke Jakarta.”
“Begitulah. Setidaknya aku tidak terus-menerus kepikiran istrinya orang. Widya sudah bahagia bersama Harsa. Aku tidak ingin mengganggu rumah tangga mereka. Menjadi pebinor bukan cita-citaku, Vid.”
David tertawa renyah menanggapi ocehan Hasbi. “Jadi, kamu mau menjadikan Ziya sebagai pelarian?” tanya David.
“Enak aja. Aku nggak seperti itu. Kalau memang Ziya mampu menggantikan nama Widya di hatiku, aku baru akan maju. Aku nggak mau memulai hubungan yang baru jika hatiku masih belum selesai dengan masa lalunya. Biarkan semua mengalir seperti air. Ke mana pun ia bermuara kelak, aku percaya Tuhan akan memberikanku yang terbaik,” ucap Hasbi dengan bijak.
“Salut sama kamu. Jangan seperti Ata, bikin orang bingung aja.”
“Kenapa si Ata?”
“Dia kembali mengejar masa lalunya dan mengabaikan Alea,” terang David.
“Kalau begitu, kamu aja yang sama Alea, daripada jomblo terus-menerus,” ledek Hasbi.
“Bacot!”
“Ternyata aslinya jauh lebih cantik, ya,” sanjung David.
“Mas David bisa saja.” Ziya tersipu. Meski sudah sering mendengar pujian akan kecantikannya, nyatanya ia tetap tersipu malu saat lawan jenisnya memberikan pujian yang sama.
“Jangan panggil Mas, berasa tua aku. Panggil nama saja,” pinta David.
Obrolan ringan mengalir begitu saja di antara ketiga orang itu. Sama sekali tak menyangka jika mereka akan nyambung dalam membicarakan sesuatu. Senyum manis milik Ziya menggelitik hati David.
“Oh, Tuhan, aku benar-benar terpesona dengan makhluk ciptaan-Mu ini,” gumam David dalam hati.
***
Seminggu sudah berlalu sejak hari itu, di mana Ata diusir dari rumah Runa. Akan tetapi, laki-laki itu tak patah arang untuk mendapatkan Runa kembali. Setiap hari Ata menyambangi kediaman Runa membuat Runa bosan. Seperti hari ini. Pagi sekali Ata sudah berada di halaman rumah Runa.
“Hai, Jagoannya ayah,” sapa Ata saat Runa dan Khan ke luar dari rumah.
Khan bergegas sembunyi di balik tubuh Runa. Matanya memicing tak suka.
__ADS_1
“Kenapa kamu bebal sekali, Ta? Aku mohon jangan seperti ini,” pinta Runa.
“Aku nggak akan berhenti sebelum mendapatkan kamu juga Khan.”
“Egois!”
“Ya. Aku memang egois. Tapi percayalah, keegoisanku ini akan membuat kamu dan Khan kelak bahagia,” tandas Ata dengan percaya diri.
“Kamu mendahului takdir, Ta. Tidak ada seorang pun yang tahu akan masa depan. Bahkan sebaik-baiknya rencana yang dibuat oleh manusia, semua itu tidak akan berguna jika Tuhan tidak berkehendak. Jadi, hentikan omong kosongmu itu, Ta! Karena aku pernah kecewa dengan harapan yang kamu buat, maka jangan harap aku akan percaya padamu lagi,” tegas Runa dengan wajah datarnya.
“Aku akan melamarmu pada orang tuamu.”
Sebuah kalimat yang mampu menghantam ulu hati Runa detik itu juga.
“Aku yakin, orang tuamu akan berpihak padaku karena ada Khan di antara kita,” lanjut Ata. Senyum penuh kemenangan tercetak jelas di sudut bibirnya.
“Kamu nggak bisa melakukan itu, Ata!” ujar Runa menahan gemuruh di dalam dada.
“Kenapa? Setiap orang berhak menentukan pilihan, bukan? Dan aku memilihmu untuk menjadi istriku. Kamu tidak berhak melarangku.”
Perdebatan alot kembali terjadi di antara Runa dan Ata membuat Khan semakin geram. Meski ia hanya seorang anak kecil, tetapi ia bisa melihat jika sang bunda tersakiti. Sedikit demi sedikit kebencian tumbuh di hati Khan pada orang yang mengaku sebagai ayah kandungnya. Setiap bundanya menangis, api kebencian itu semakin tersulut.
“Kamu keterlaluan, Ata! Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. Setelah semua kesakitan yang aku lalui sejak kamu membuangku, jangan harap kamu bisa memungutku kembali. Aku bukan barang yang bisa kamu buang saat kamu bosan dan kamu pungut kembali saat kamu butuh. Kamu tidak tahu kehidupanku setelah kepergianmu. Kamu tidak tahu sehancur apa aku saat itu. Jadi, berhentilah bermimpi, Ata!”
Runa bergegas pergi meninggalkan Ata. Sorot kebencian ditangkap Ata di netra putranya. Hal itu tentu saja melukainya. Ata tidak menginginkan ini, yang ia inginkan hanya hidup bahagia bersama orang yang ia cintai, yaitu Runa dan Khan.
“Aku tahu aku sudah menyakitimu, maka dari itu, izinkan aku untuk membahagiakan kamu dan Khan ke depannya. Ini sudah tekadku, Run. Aku akan tetap menemui orang tuamu bersama keluargaku,” gumam Ata melihat punggung Runa yang kian menjauh darinya.
Ata bergegas pergi meninggalkan rumah Runa, saat Runa dan Khan menghilang dari pandangan. Suara dering telepon mengusik saat ia baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kemudi. Nama Alea tertera di layar ponselnya, membuat Ata membuang napas dengan kasar. Berkali-kali teleponnya berbunyi tetapi tidak menggugah Ata untuk mengangkatnya, hingga pesan dari Alea mampu memecut emosinya.
“Sampai kapan kamu akan menghindariku? Apakah pelacurmu itu lebih berarti dibanding aku?”
Dua kalimat itu membuat Ata segera menghubungi Alea.
...*******...
...to be continued...
Jangan lupa like, ya 🥰
__ADS_1