
...********...
...“Sesalku mungkin tak akan mengembalikan keadaan seperti semula, tapi percayalah tekadku untuk membuatmu bahagia adalah fakta yang akan kuusahakan.”...
...~Byakta Kalingga~...
...********...
Hening. Runa dan Alea saling diam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Alea menyadari, apa yang Runa katakan memang benar. Cintanya kepada Ata, membuat ia lupa dengan kebahagiaan orang lain. Ia begitu menginginkan Ata. Egois memang, sehingga ia nekat ingin mengambil Khan dari Runa. Jalan pintas yang ia tempuh, nyatanya justru menambah luka Runa kian menganga.
"Pulanglah, Al! Jangan ganggu hidupku dan Khan lagi. Jangan membuat beban pikiranku semakin bertambah dengan niat bodohmu itu. Pergilah, Alea! Maaf, aku terpaksa mengusirmu. Aku tidak ingin Khan melihat perdebatan kita!” tegas Runa penuh penekanan.
Penuturan Runa berhasil membuyarkan lamunan Alea. “Maafkan aku, Run!” katanya dengan gurat penuh penyesalan. Tidak ingin berbasa-basi lagi, Alea pun segera beranjak pergi meninggalkan rumah Runa.
***
David kembali dibuat kesal oleh Ata. Pasalnya, sudah tiga hari ini Ata meminta David untuk menemaninya mencari alamat rumah orang tua Runa yang baru. Rumah Runa yang dulu pernah Ata datangi, ternyata sekarang sudah ditempati oleh orang lain. Ata pun mencoba bertanya kepada orang tersebut tentang keberadaan orang tua Runa. Akan tetapi, mereka sepertinya enggan untuk memberitahu.
"Maaf, Pak. Apakah Bapak tahu di mana keluarga Pak Lukman tinggal sekarang?" Ata mencoba mencari informasi kepada seorang tukang ojek pangkalan. Orang yang biasanya mangkal di depan gang rumah Runa, dan selalu mengantar jemput Runa dulu semasa kuliah.
“Mohon maaf, memangnya Mas ini siapa? Kenapa mencari keberadaan Pak Lukman?” tanya si tukang ojek dengan penasaran.
“Saya teman kuliah Runa dulu. Kebetulan kami hilang komunikasi karena saya lanjut kuliah ke luar negeri,” terang Ata dengan santun. Membuat si tukang ojek manggut-manggut. Percaya akan penuturannya.
"Maaf, Mas. Tapi saya tidak tahu. Dulu seingat saya, Pak Lukman pindahannya juga mendadak, Mas. Jadi nggak sempat pamitan sama warga sini.”
Ata mendengkus. Wajahnya tampak pias dengan jawaban si tukang ojek. “Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas waktunya, ya, Pak.”
Si tukang ojek kembali mengangguk dan melihat Ata melangkah menuju mobilnya. Ata menyugar rambutnya kasar saat masuk kembali ke dalam mobil. Ia membuang napas berat meluapkan kekesalannya.
"Vid, gimana? Udah ada info belum dari temen-temen yang lain. Aku harus secepatnya bertemu dengan orang tua Runa, Vid. Jangan sampai laki-laki itu benar-benar merebut Runa dan Khan dariku." Ata frustasi. Bayang-bayang kehilangan Runa dan Khan menari di pelupuk mata. Itu membuatnya jengkel setengah mati.
__ADS_1
"Runa, kamu harus kembali padaku. Kali ini aku pasti akan memperjuangkan kamu. Aku nggak akan menyia-nyiakan kamu dan Khan lagi. Hanya kalian tujuan hidupku sekarang," batin Ata.
David hanya bisa menghela napas pasrah melihat tingkah sahabatnya itu. Ada rasa kecewa yang menggulung hati untuk sahabatnya tersebut. David tidak pernah menyangka jika sahabatnya bisa sebrengsek ini. Meninggalkan Alea demi mengejar masa lalunya, tetapi David pun tak bisa berkomentar lebih, karena ia tidak merasakan berada di posisi Ata.
"Ta, kamu yakin dengan keputusanmu ini? Apa kamu benar-benar melupakan Alea? Kasihan dia, coba pikirkan lagi! Runa sudah bahagia, Ta. Sedangkan Alea, kamu tahu sendiri gimana bucinnya dia sama kamu. Buka matamu, Ta!" ucap David sambil kembali mengemudikan mobilnya. Ia mencoba kembali menyadarkan sahabatnya yang kembali buta akan cintanya pada Runa.
"Jangan banyak omong kamu, Vid. Kamu nggak tahu gimana rasanya jadi aku. Jadi jangan mengguruiku," sarkas Ata, “kalau kamu keberatan membantuku, aku bisa sendiri.”
Tak ingin berdebat lagi, David memilih diam dan fokus mengemudikan mobilnya. Tidak mungkin ia meninggalkan sahabatnya dan membiarkan Ata sendirian menghadapi semua masalah hidup yang kini tengah menderanya.
***
Setelah beberapa hari mencari informasi tentang keberadaan orang tua Runa, sepertinya kali ini Ata bisa bernapas lega. Ia sudah mendapatkan alamat rumah orang tua Runa, dari salah satu teman guru yang dulu pernah mengajar di sekolah yang sama dengan Lina–ibu kandung Runa.
"Yakin, mau pergi sendiri?" tanya David memastikan saat mereka berdua sedang sarapan di apartemen David.
"Tentu saja, ini urusanku, Vid. Kamu tenang saja. Cukup doakan saja, semoga setelah ini jalanku untuk mendapatkan Runa dan Khan jadi lebih mudah," jawab Ata dengan senyumnya penuh semangat.
"Baiklah," sahut David.
"Meskipun aku sama sekali tidak setuju dengan keputusanmu, aku hanya berharap yang terbaik untuk kalian," batin David. Ia masih tak bisa membayangkan bagaimana nasib Alea, jika Ata benar-benar kembali bersama Runa.
Bukan berarti David tidak peduli dengan Runa, hanya saja menurut David, keputusan Ata mengusik kehidupan Runa tidaklah benar. Pada kenyataannya, Ata dan Runa kini sudah sama-sama memiliki kehidupan baru. Tetapi, inilah hidup, mungkin ini memang ujian cinta untuk Alea.
***
Ata sudah tiba di depan rumah orang tua Runa. Setelah kurang lebih tiga puluh menit, ia mengemudikan mobilnya. Tak ingin membuang waktu, Ata segera turun dari mobil. Rumah itu didominasi dengan warna cat hijau, membuatnya terlihat begitu segar. Ada sedikit senyum kelegaan dari bibir Ata. Ia berharap setelah pertemuannya dengan orang tua Runa, hubungannya dengan Khan dan Runa akan memiliki titik terang.
"Assalamualaikum. Permisi.” Ata mengetuk pintu dengan sopan.
"Waalaikumsalam." Terlihat seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik berada di balik pintu. Wanita itu sedikit mengernyitkan dahi, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.
__ADS_1
"Selamat pagi, Bu. Maaf saya pagi-pagi sudah datang mengganggu. Perkenalkan saya Ata, teman kuliah dari putri Ibu." Ata mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Siapa, Bu?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah ayah Runa. Mendengar ada seseorang yang bertamu, Lukman yang tadinya berada di ruang tengah bergegas melangkah menuju ruang tamu.
"Ini ada teman kuliahnya, Runi, Yah,” sahut Lina dengan senyum ramah.
"Maaf, Bu, saya temannya Runa bukan Runi." Ata mencoba menjelaskan.
Seketika wajah Lina dan Lukman terlihat begitu dingin. Lukman mengepalkan tangan guna menahan gejolak emosi yang bergemuruh di dada. Setelah sekian lama mereka menghapus nama Runa dalam rumah barunya, baru kali ini nama itu kembali disebut. Sesungguhnya, ada gurat rindu yang menjalar di hati keduanya.
Namun, setiap mengingat kesalahan fatal yang pernah Runa lakukan, hal itu kembali membekukan hati mereka.
"Maaf, anak muda. Putri kami hanya satu yaitu Runi. Sepertinya kamu salah alamat. Lebih baik kamu pergi dari sini. Kami tidak kenal dengan orang yang baru saja kamu sebut tadi."
Ata bergeming. Tidak mungkin dia salah orang. Jelas masih terekam jelas dalam ingatannya, bahwa sosok yang berdiri di hadapannya adalah orang tua Runa.
“Tapi saya ingat betul bahwa kalian adalah orang tua Runa. Saya mohon, ada yang ingin saya bicarakan terkait Runa. Kemarin saya bertemu Runa di Wonosobo dan saya berniat melamar Runa pada kalian,” terang Ata.
Bagai api yang disiram dengan bensin. Amarah Lukman kian tersulut, meski ia tak menampik sejuta kerinduan yang bercokol di sudut hatinya untuk putri sulungnya tersebut.
“Saya bilang pergi!” tegas Lukman dengan suaranya yang menggelegar. Ia dorong Ata agar menjauh dari daun pintu, lalu menutup pintu rumahnya dengan keras.
Ata tersungkur di teras rumah. Matanya menatap nanar pintu yang telah tertutup rapat.
“Apa ini yang kamu maksud bahwa aku tidak tahu apa-apa selama ini, Run? Apakah kamu terusir dari rumahmu sendiri karena perbuatanku? Bahkan orang tuamu sendiri tak mau mengakui kamu lagi.”
Seketika sesak menghantam dadanya. Sungguh ironis nasib Runa kala itu. Ia harus melewati masa kehamilannya seorang diri. Tanpa dirinya juga keluarganya. Entah bagaimana caranya Runa bertahan saat itu. Sesak. Dada Ata semakin sesak memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi. Ata berharap apa yang ia pikirkan tadi tidaklah nyata.
“Sesalku mungkin tak akan mengembalikan keadaan seperti semula, tapi percayalah tekadku untuk membuatmu bahagia adalah fakta yang akan kuusahakan,” gumam Ata. Butiran bening itu berhasil menerobos pertahanannya hingga merembas ke luar dari sarangnya. Ata sangat menyesali perbuatannya.
...********...
__ADS_1
...To be continued...
...Jangan lupa like dan komentarnya, ya 🤗...