
...****************...
...~Terkadang hati seorang ibu merasa tidak rela jika kasih sayang anaknya terbagi. Apalagi saat sang anak sudah dewasa nanti.~...
...Arunika Pramesti...
...****************...
Senja yang menampilkan cahaya jingga di ufuk barat begitu memanjakan mata. Khan yang masih bermain di halaman rumahnya menoleh pada sang bunda, yang memanggilnya dari arah teras rumah.
"Iya, Bun. Ada apa?" tanya Khan setelah berlari untuk menghampiri bundanya. Seulas senyuman cerah selalu terpancar dari wajah polosnya.
"Udah sore, Sayang. Kamu nggak mau mandi?" tanya Runa sambil mengacak rambut Khan dengan gemas.
"Bentar lagi, deh, Bun. Khan masih pengin main," ucap Khan manja.
Runa memberenggut, pura-pura memasang wajah marah kepada Khan. "Khan udah mulai ngenyel, ya, sekarang?"
Khan malah tersenyum melihat bundanya yang cemberut, lalu melambaikan tangannya seolah menyuruh Runa untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Khan yang lebih pendek dari Runa.
Runa pun melakukan keinginan Khan, lalu tersenyum saat Khan memberi sebuah kecupan hangat di pipinya. "Maafkan, Khan, ya. Khan mau mandi, tapi Khan punya satu pertanyaan dulu buat Bunda. Apa Bunda mau jawab pertanyaan Khan?"
Runa mengernyit dahi mendengar ucapan Khan. "Kamu mau nanya apa, Sayang?" tanyanya kemudian.
Khan berpikir sejenak. Kedua matanya mengerjap polos sambil mendongak menatap sang bunda.
"Ehm ... sebenarnya Khan masih penasaran sama om-om yang pernah datang waktu itu. Kenapa dia tiba-tiba datang lalu mengaku jadi ayah kandungnya Khan, padahal dulu Bunda pernah bilang kalau ayah kandung Khan udah meninggal? Terus kalau memang benar dia ayah kandung Khan, kenapa selama ini Bunda bohongin Khan?"
__ADS_1
Runa tercekat mendengar rentetan pertanyaan itu. Ia memang sudah mengakui pada Khan, jika Ata adalah ayah kandungnya. Namun, ia lupa jika dirinya pernah berbohong dan mengatakan ayah kandung Khan sudah meninggal. Runa melakukan itu, agar suatu saat Khan tidak mempunyai keinginan untuk bertemu dengan ayahnya tersebut.
Terkadang hati seorang ibu merasa tidak rela jika kasih sayang anaknya terbagi. Apalagi saat sang anak sudah dewasa nanti.
"Maafkan Bunda, Sayang! Bunda terpaksa mengatakan hal itu, Nak." Runa pun merengkuh tubuh Khan masuk ke dalam dekapannya. Air matanya pun sudah tergenang dan bersiap meluncur saat kelompok tak mampu untuk menampung lagi.
Kepala Khan mendongak dalam pelukan Runa. Menatap wajah mamanya yang sudah berurai air mata. "Bunda jangan nangis! Kalau Bunda nggak mau jawab, nggak apa-apa, kok. Khan nggak mau lihat Bunda nangis lagi," ujar Khan. Membuat Runa mengurai pelukannya, lantas menekuk kedua lututnya untuk mensejajarkan tubuh mereka.
"Bunda akan jelasin, Khan. Kamu denger baik-baik, ya." Runa menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, sebelum ia memulai menjelaskan, "dulu Bunda nggak tahu di mana ayah kamu, Sayang. Ayah kamu pergi jauh sebelum kamu dilahirkan. Jadi, Bunda sengaja bilang kalau ayah sudah meninggal, karena Bunda merasa takut jika suatu saat nanti Khan udah besar, Khan akan mencari ayah dan meninggalkan Bunda. Bunda nggak mau berpisah dari Khan. Hanya Khan satu-satunya keluarga Bunda sekarang," terang Runa masih diiringi tangisan.
Khan menghapus jejak air mata di pipi Runa dengan jari mungilnya. "Khan nggak akan lakuin itu, Bunda. Khan juga sayang Bunda. Khan cuma mau tahu aja. Kenapa baru sekarang laki-laki itu datang, setelah lama menelantarkan kita?"
"Bunda juga nggak tahu, Khan. Mungkin sekarang dia menyesal. Apa Khan mau kami kembali bersama?"
Khan hanya terdiam tidak menanggapi pertanyaan Runa, tetapi Runa kembali menambahkan kalimatnya. "Bunda harap kamu nggak berpikir seperti itu, ya. Karena bunda dan ayah kandung kamu sudah tidak mungkin bersatu. Khan masih kecil, belum waktunya Khan ngerti tentang semuanya. Paham, kan?" jelas Runa pelan-pelan.
"Apa Khan marah karena Bunda udah bohong selama ini? Maafin Bunda, ya. Bunda benar-benar takut Khan pergi dari Bunda," tambah Runa lagi, sembari mengusap pipi anaknya dengan lembut dan menatapnya dengan sendu.
Khan memegang tangan Runa, lalu dicium dengan sayang. Senyuman manis terulas di bibirnya yang mungil. "Khan nggak marah, kok, Bunda. Khan juga nggak akan tinggalin Bunda. Lagipula Khan nggak kenal dengan om-om yang udah ngaku jadi ayah kandung Khan itu. Khan cuma punya Bunda, dan udah ada Ayah Sandy juga. Ayah Sandy udah Khan anggap seperti ayah sendiri," tutur Khan dengan bijak.
Runa terharu mendengar itu. Ia pun kembali membawa tubuh anaknya ke dalam pelukan. Air mata bahagia bercampur rasa bangga mengalir dengan sendirinya. Runa merasa menjadi ibu yang paling beruntung di dunia, karena memiliki anak seperti Khan.
"Ekhem ... kayaknya ada ngelupain ayah, nih." Suara Sandy yang baru datang mengalihkan perhatian Runa dan Khan. Keduanya pun langsung mengurai pelukan.
"Ayah ...." Khan tersenyum lebar dan langsung menghambur ke dalam pelukan ayah angkatnya tersebut. Sandy mengangkat tubuh Khan untuk dia gendong.
"Halo, Sayang. Anak ayah udah mandi belum, nih?" tanya Sandy sambil mencubit hidung Khan pelan.
__ADS_1
Khan menggeleng malu. "Belum, Yah," jawabnya.
"Eh, pantesan kecium sampai sana baunya," ledek Sandy hanya bercanda.
"Ih, Khan nggak bau, Ayah!" Khan memberenggut. Pipi tembemnya semakin menggembung karena cemberut.
Sandy tergelak melihat kemarahan Khan. Terlihat lucu dan menggemaskan.
"Ya, udah. Kamu mandi dulu, Khan. Tadi Bunda juga udah nyuruh kamu mandi," timpal Runa sambil membantu Khan turun dari gendongan Sandy.
"Iya, Bunda. Khan mau mandi," ucap Khan. Lalu beralih pada Sandy lagi, "Ayah tungguin Khan, ya. Jangan pergi dulu!" pintanya pada lelaki itu.
"Iya," sahut Sandy sambil mengacak rambut Khan dengan gemas. Khan pun pergi dengan wajah riang.
"Ada apa, Run? Sepertinya kamu habis menangis?" Sandy bertanya ketika Khan sudah masuk ke dalam rumah. Runa pun mengajak Sandy untuk duduk di kursi teras.
"Khan sudah besar, Mas. Aku harus selalu menyiapkan diri untuk menjawab setiap pertanyaan yang dia lontarkan. Terutama pertanyaan tentang ayah kandungnya," tutur Runa, menatap Sandy dengan tatapan sayu.
"Khan tanya tentang apa? Apa dia mau bertemu dengan Ata lagi? Atau ... dia mau kamu bersatu dengan ayah kandungnya itu?" Rasa khawatir yang teramat langsung mengusik hati Sandy. Ia takut jika Khan menginginkan keluarga yang utuh setelah mendengar ayah kandungnya sudah kembali.
Runa menggelengkan kepalanya, "Nggak, Mas. Khan tidak pernah berharap seperti itu. Dia hanya bertanya, kenapa dulu aku berbohong kalau ayah kandungnya sudah meninggal. Tapi aku udah jelasin, kok. Alhamdulillah, Khan ngerti dan nggak marah sama aku."
Embusan napas lega terlontar dari saluran pernapasan Sandy. Setidaknya lelaki itu masih mempunyai kesempatan untuk mengisi posisi ayahnya Khan. Sandy jadi tidak sabar untuk segera melamar Runa secara resmi kepada orang tuanya. Sandy tidak ingin keduluan oleh Ata.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1