Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
08


__ADS_3

...*****...


..."Teruslah melangkah, karena kita tidak akan pernah tahu keindahan apa yang akan kita temukan jika kita berada di puncak sana.”...


...Byakta Kalingga...


...*****...


Surabaya


Matahari siang di pusat kota Surabaya terasa cukup terik, tetapi hal itu tidak menyurutkan langkah kaki para pekerja kantor, buruh pabrik, bahkan mahasiswa yang sedang dilanda lapar, guna mencari makan untuk mengisi perut mereka yang sedari tadi terus berbunyi minta diisi oleh makanan.


Seperti saat ini, dua orang pria dewasa sedang duduk berhadapan menunggu makanan yang mereka pesan, makanan yang begitu mereka rindukan ketika berada di luar negeri. Makanan yang berisikan daging yang di potong seukuran dadu, irisan daun bawang, kecambah mentah, serta taburan bawang goreng yang jika di siram dengan kuah berwarna coklat kehitaman akan mengeluarkan aroma yang menggoda dengan rasa yang sangat pedas. Makanan tersebut adalah rawon setan. Makanan khas warga kota Surabaya. Meski rumah makan ini hanya memiliki ukuran 5x6, tetapi tempat ini selalu dipenuhi oleh pengunjung. Karena rumah makan ini tidak hanya menyediakan rawon setan saja, tetapi juga soto ayam dan juga soto daging yang rasanya tidak kalah sedap.


“Ini, tu, rumah makan rawon terenak yang pernah aku temui. Makanya setiap aku pulang ke Surabaya aku akan menyempatkan diri untuk kembali makan di sini,” ujar David salah satu dari dua pria tampan yang menjadi pelanggan tetap rumah makan rawon setan tersebut.


“Aku pun sama sepertimu, Vid. Aku juga sangat menyukai masakan di sini terutama menu rawon setannya. Membuat siapa saja yang memakannya pasti ingin kembali lagi. Apalagi rumah makan ini adalah rumah makan legend sejak zaman kita kuliah,” ujar pria berbadan tinggi di hadapan David tersebut.


“By the way, selamat, ya, Vid. Akhirnya kamu bisa menyelesaikan proyek besar impianmu itu dengan lancar,” lanjut pria berbadan tinggi tegap dengan wajah oriental seperti member boy band EXO. Ya, pria itu adalah Ata–Byakta Kalingga. Pria cerdas dan tampan nyaris sempurna dengan gelar lulusan Oxford University.

__ADS_1


“Terimakasih, Ta, dan selamat juga atas pertunanganmu dengan Alea. Maaf waktu itu aku nggak bisa hadir, karena saat itu aku masih ada pekerjaan di Singapura,” ucap David dengan penuh sesal karena tidak bisa hadir di acara penting sahabat baiknya itu.


“Santai saja, Vid. Yang penting, kan, saat ini segala urusanmu tentang proyek itu sudah selesai dan memberikanmu keuntungan yang cukup besar. Bahkan sekarang kamu bisa disebut sebagai pengusaha muda yang sukses,” ujar Ata dengan santai karena saat itu ia paham bagaimana sibuknya David mengurus proyek pembangunan hotel yang ada di Singapura.


“Baiklah, Ta. Sebagai permohonan maafku karena aku tidak bisa hadir di acara pertunanganmu dengan Alea waktu itu, bagaimana kalau minggu depan kita pergi berlibur dan merayakannya dengan pergi ke gunung Dieng yang ada di Wonosobo, Jawa Tengah,” ujar David dengan semangat.


“Kenapa harus ke Dieng? Kenapa tidak ke Bali saja?” tanya Ata. Kedua alisnya seakan menyatu tanda tidak paham akan pilihan destinasi David.


“Karena kalau di Bali terlalu banyak wanita seksi. Aku takut kalau nanti kita pergi ke Bali, kamu akan berpaling dari Alea,” ucap David kemudian mengedipkan sebelah matanya kepada Ata, seolah-olah dirinya sedang menggoda Ata.


“Sialan kamu,” ucap Ata pada David kemudian disusul gelak tawa mereka berdua.


“Baiklah, aku setuju. Aku akan mengatur jadwal pekerjaanku dulu, agar minggu depan kita bisa trip to Dieng,” ujar Ata tidak kalah semangatnya.


...*****...


Seminggu telah berlalu. Segala kebutuhan untuk mendaki ke puncak gunung Dieng pun telah dipersiapkan oleh Ata dan David. Seperti jaket tebal, baju hangat, penutup kepala, masker, serta syal untuk menghangatkan tubuh mereka, karena udara di puncak tertinggi gunung dieng, suhunya bisa mencapai sepuluh sampai delapan belas derajat Celsius. Maka dari itu, mereka berdua harus menyiapkan segala sesuatunya dengan matang.


“Gimana, perlengkapanmu sudah siap?” tanya David pada Ata.

__ADS_1


“Sudah,” jawab Ata sambil menepuk tas ransel berukuran besar yang biasa digunakan oleh para pendaki saat ingin menaklukan sebuah gunung.


“Oke. Kalau gitu, saatnya kita berangkat. Dieng tunggu kami,” teriak David dengan penuh semangat dan hanya dibalas dengan gelengan kepala serta kekehan Ata yang sedari tadi berada di sampingnya.


David dan Ata memutuskan, kepergiannya kali ini ke Wonosobo Jawa Tengah hanya menggunakan bus malam, karena dinilai lebih mencerminkan bahwa mereka ialah seorang backpacker. Di terminal Bus Purabaya mereka menaiki Bus Eka (Bus Malam) dengan trayek tujuan Surabaya-Purwokerto.


Perjalanan dari Surabaya ke Wonosobo menempuh jarak sekitar 403KM dan memakan waktu sekitar lima belas jam perjalanan. Oleh karena itu, Bus Eka memberikan tarif sebesar 125.000,-per penumpang dengan fasilitas yang diberikan seperti, kursi recliner, toilet, AC, selimut, hiburan central, stop kontak, bagasi, air minum, serta tempat istirahat. Di perjalanan menuju Wonosobo, Ata dan David menghabiskan waktu mereka dengan tertidur karena mereka harus mengisi tenaga untuk menyusuri Gunung Dieng serta mendatangi kawah Sikidang, yang merupakan destinasi wisata incaran para pelancong. Pun Kawah Sikidang dan Gunung Dieng merupakan dua di antara beberapa destinasi wisata yang terkenal di Wonosobo, Jawa Tengah.


Setelah lima belas jam perjalanan, akhirnya Ata dan David pun telah sampai di terminal Bus Mendolo, Wonosobo, Jawa Tengah.


“Akhirnya kita sampai juga di Wonosobo,” gumam Ata sambil merentangkan kedua tangannya yang juga diikuti oleh David. Mereka berdua merasa kelelahan, karena duduk terlalu lama.


Dari terminal Mendolo-Wonosobo mereka menuju gunung Dieng. Ata dan David meneruskannya menggunakan angkutan kota. Memang perjalanan mereka kali ini cukup melelahkan, tetapi juga sangat menyenangkan. Kapan lagi Ata dan David dapat pergi berdua seperti ini. Karena sejatinya Ata dan David adalah dua pengusaha muda yang sukses dalam karirnya, tetapi jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


Perjalanan dari terminal Mendolo menuju Dieng memakan waktu kurang lebih sekitar satu jam lebih tiga menit. Perjalanan Ata dan David kali ini terhitung sebagai perjalanan terpanjang mereka, karena biasanya mereka berdua akan pergi menggunakan pesawat atau kereta yang memakan waktu lebih singkat dari pada naik bus.


Namun, selama apa pun perjalanan mereka akan terbayar lunas oleh pemandangan yang tersaji di hadapan mereka kali ini. Pemandangan sebuah gunung yang menjulang tinggi serta udara sejuk yang tidak pernai ia dapatkan di Surabaya.


“Welcome to Wonosobo. Welcome to Dieng,” teriak Ata dengan suara yang sangat lantang. Mencerminkan betapa bahagianya ia bisa menginjakan kakinya di pegunungan ini.

__ADS_1


...****...


...To be continued...


__ADS_2