
...“Cinta akan menemukan jalannya sendiri dengan cara yang indah selama masih ada kesempatan untuk menggapainya.” ...
... ~Arunika Pramesti~...
...*****...
Usai menyantap makan malam di restoran ‘Madang’, Ata memanggil pelayan yang berdiri di dekat meja kasir. Pelayan laki-laki bernama Anto itu pun segera mendekat seraya membawa bil pesanan dan mesin EDC di tangannya.
“Mas, totalnya berapa semua?” tanya Ata seraya mengeluarkan kartu debitnya dari dalam dompet.
Tidak mau kalah, David pun langsung mengeluarkan kartu kreditnya dan langsung menyerahkan kepada Anto.
“Bro, aku aja yang bayar. Thank’s udah ngajak aku makan di tempat yang super enak,” ujar David.
“Ck! Santai aja.” Ata pun menyerahkan kartunya pada Anto.
Anto yang sejak tadi berdiri di samping meja Ata dan David pun merasa bingung, karena dua orang laki-laki itu tidak ada yang mau mengalah soal pembayaran.
“Maaf, Mas, apa kartunya mau dipakai untuk bayar sendiri-sendiri?” tanya Anto yang sejak tadi bingung disodorkan dua kartu yang berbeda.
“Ta, kalau kamu nggak simpan kartumu, aku nggak akan bantuin cari Runa!” ancam David.
Ata pun terpaksa mengalah dan membiarkan David membayar makanan mereka. Setelah melakukan transaksi, keduanya berlalu meninggalkan restoran tersebut.
“Jadi, ke mana kita mencari Runa?” tanya David saat keduanya sudah berada di dalam mobil yang telah mereka sewa. Ya, baru saja ide Ata muncul untuk menyewa mobil beberapa hari guna mencari keberadaan Runa. Karena menurutnya, mencari keberadaan Runa tentu akan sulit dan tidak mudah tanpa memiliki kendaraan, apalagi daerah Dieng yang sangat luas, sehingga sangat membutuhkan jasa transportasi pribadi.
Untung saja di dekat restoran tadi ada jasa rental mobil, sehingga tanpa pikir panjang Ata langsung menyetujui untuk menyewa mobil. Walaupun dengan harga tinggi yang ditawarkan sang pemilik, tidak menjadi masalah buat Ata. Yang penting baginya, ia bisa menemukan Runa-nya.
“Entahlah. Aku juga bingung. Harus mulai cari di mana. Apalagi tidak ada alamat yang kita pegang,” ujar Ata yang fokus mengemudi.
David yang duduk di samping Ata cukup simpati dengan kondisi sahabatnya. Ia sangat tahu kalau Ata sangat mencintai Runa. Buktinya, selama mereka sama-sama menjalani pendidikan di luar negeri, Ata tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Walau ada banyak perempuan yang tergila-gila pada Ata. Bahkan sampai ada perempuan bule asal Italia yang nekat mengajaknya untuk ONS (One Night Stand). Namun, Ata sama sekali tidak peduli dan menolak semua ajakan perempuan itu. Semua yang dia lakukan semata-mata demi cintanya kepada Runa. Ya, walaupun dirinya yang meminta putus duluan, lelaki itu masih mengabadikan cintanya untuk Runa. Bahkan, seluruh foto-foto yang ada di galeri ponsel maupun di laptopnya, hanya ada foto kebersamaannya dengan Runa. Pertunangannya dengan Alea semata hanya mengikuti paksaan orang tuanya saja.
“Gimana, kalau kita mencoba mencari ke kota. Siapa tau saja kita bisa mendapatkan informasi di sana. Karena menurut penjelasan pelayan di resto tadi, kalau Runa sering berkunjung ke sana. Berarti bisa dikatakan kalau Runa ke sana setiap weekend seperti ini,” saran David.
Ata mengangguk menyetujui saran David. Dia pun melajukan mobil Honda BRV berwarna merah itu menuju pusat kota. Selama perjalanan Ata selalu terngiang dengan pembicaraan Runa di telepon dengan seorang yang sepertinya sangat dia sayang. Hal itu membuat Ata berpikir, kalau Runa menghabiskan akhir pekannya dengan pacar atau suami tercintanya.
...****...
Sementara itu di restoran, Runa baru kembali dari suatu tempat karena ada keperluan. Ia pun kembali melakukan aktivitasnya untuk memeriksa laporan bulanan restoran. Bahkan ibu muda satu anak itu pun melewatkan jam makan malam. Ia harus segera pulang setelah pekerjaannya selesai, karena Khan terus merengek memintanya pulang cepat saat di telepon tadi.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan pintu dari luar.
__ADS_1
“Masuk!” seru Runa.
Dini pun muncul dari balik pintu kayu jati hitam dengan membawa sebuah nampan berisikan nasi campur dan segelas air putih.
“Mbak Runa makan dulu. Nanti saya bisa dimarahi sama Tuan Sandy kalau Mbak tidak makan teratur,” ucap Dini seraya meletakkan nampan tersebut ke meja minimalis. Ada empat buah sofa berwarna grey yang mengelilingi meja tersebut.
Runa pun mengalihkan perhatiannya dari laporan pada wajah salah satu pegawainya tersebut.
“Memangnya ini sudah jam berapa, Din?” tanya Runa seraya beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa di mana Dini berdiri.
“Sudah jam delapan lewat sepuluh menit, Mbak,” jawab Dini setelah melihat jam di pergelangan tangannya, "benar kata Tuan Sandy, kalau Mbak Runa sudah serius di depan laporan, Mbak sudah tidak peduli dengan perut Mbak Runa walau kelaparan,” lanjut Dini.
“Nggak juga, kok. Saya mau makan sekarang." Runa duduk di sofa tepat di hadapan makanannya. "Dini, ayo, sini duduk! Ngapain kamu berdiri di situ, bantu saya ngabisin makanan ini,” tawar Runa sejenak beralih pada Dini sebelum memulai ritual makannya.
“Terima kasih Mbak atas tawarannya, tapi saya sudah makan. Mbak Runa makan aja. Kalau gitu saya permisi, Mbak," tolak Dini sekaligus berpamitan untuk pergi.
“Oh, baiklah." Runa mengizinkan sambil mengulas senyuman.
Dini pun berbalik badan, dan segera keluar. Namun, saat sampai di daun pintu, ia pun berbalik dan kembali mendekati Runa yang sedang menyantap makan malam.
“Mbak, tadi ada pelanggan yang nanya soal Mbak Runa.”
Runa yang tengah menyantap makanan langsung menghentikan sendok yang akan masuk ke dalam mulutnya. Keningnya berkerut penasaran. “Siapa?” tanyanya kemudian.
“Saya belum sempat nanya namanya. Yang jelas dua orang laki-laki sepantaran Tuan Sandy, Mbak. Dari penampilannya, sih, sepertinya mereka berdua sedang berwisata di sini,” papar Dini.
...******...
Malam semakin larut dan kegelapan semakin pekat. Setelah berjam-jam berputar-putar di pusat Kota Wonosobo mencari keberadaan Runa, Ata dan David memutuskan kembali ke hotel. Mereka merasa letih karena tak kunjung menemukan Runa.
“Besok bisa dilanjutkan lagi mencari Runa, Bro. Sekarang istirahat dulu, ya,” ujar David seraya menepuk bahu Ata memberi semangat. Kini keduanya tengah berjalan menuju kamar hotel yang mereka pesan. Ata mengangguk. Keduanya berpisah setelah masuk ke dalam kamar masing-masing.
Setelah membersihkan diri, Ata merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk seraya menatap langit-langit. Laki-laki yang berpakaian kaos putih dengan celana Chinos selutut itu kembali mengingat masa-masa indahnya bersama Runa, saat menjalani pendidikan S-1 di kampus mereka. Banyak kenangan manis yang mereka ciptakan selama menjalin hubungan. Kenangan yang tidak bisa ia lupakan selama hidupnya. Namun, rasa letih yang menderanya membuat matanya terasa berat. Tidak memakan waktu lama Atau pun terlelap ke dalam dunia mimpinya.
...****...
Di tempat lain, Sandy pergi ke resto sekalian untuk menjemput pujaan hatinya. Bersama Khan, Sandy mengajak Runa menghabiskan waktu di sebuah kafe yang sudah ia booking dari beberapa hari yang lalu. Ia berniat untuk mengutarakan isi hatinya, sekaligus melamar Runa. Sebelumnya dia sangat senang saat Khan menyetujui dirinya menjadi pendamping Runa. Karena, bagi anak kecil seperti Khan, ia hanya memikirkan kebahagiaan mamanya dan bisa memiliki seorang ayah yang bisa mengantar jemputnya ke sekolah.
“Ayo, ganteng, kita masuk ke ruangan bunda!” ajak Sandy, setelah menurunkan Khan dari dalam mobil.
“Let’s go, Yah.”
Keduanya langsung berjalan menuju ruangan Runa. Para karyawan yang melihat mereka langsung mempersilakan masuk ke ruangan atasan, karena mereka sudah tahu siapa Sandy dan Khan.
__ADS_1
“Bunda ...,” seru Khan dari balik pintu. Bocah tersebut sangat senang bertemu bundanya.
“Sayang, kamu ke sini bareng siapa?” tanya Runa segera bangkit dari kursi menuju Khan, lalu mencium pipi gembul anaknya seraya membawanya ke sofa.
“Sama, Ayah,” jawab Khan. Sandy pun muncul di balik pintu.
Pria berkaos navy dipadukan celana jeans hitam itu langsung mendaratkan tubuhnya di seberang sofa.
“Aku kira Khan datang sendiri. Ternyata diantar sama, Mas,” ucap Runa pada Sandy.
“Sengaja jemput. Aku mau ngajak kalian jalan,” sahut Sandy sambil mengulas senyuman.
“Ayo, Bun! Khan mau jalan-jalan,” kata Khan seraya menggandeng tangan Runa.
Runa tersenyum melihat anaknya begitu senang. “Ya, sudah. Bunda ambil tas dulu, ya,” ucapnya.
...***...
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, mereka sampai di kafe yang sudah di booking oleh Sandy.
“Kok, suasananya sepi?” tanya Runa saat berjalan masuk ke dalam kafe.
Sandy hanya mengedikkan bahu, pura-pura tidak tahu. Ia tengah menggendong Khan, dan sesekali menimpali Khan yang sedang bernyanyi.
Mereka bertiga sampai di dalam kafe yang bernuansa vintage. Beberapa lukisan menghiasi dinding kafe tersebut. Alunan musik klasik terdengar begitu merdu dimainkan oleh seorang pianis yang ada di depan panggung.
Pelayan datang ke meja mereka dan mulai menghidangkan makanan pembuka. Sebuah hidangan sup krim dengan roti sebagai menu dessert, lalu dilanjutkan ke menu utama. Pelayan juga membawa makanan steak yang menjadi favorit Khan. Meski sudah kenyang, Runa tetap menghargai usaha Sandy dengan memakan sedikit makanan yang telah terhidang.
“Gimana dagingnya? Enak, Khan?” tanya Sandy setelah meletakkan piring Khan di depannya. Sebelumnya ia membantu memotong kecil daging tersebut agar memudahkan Khan makan.
“Enak banget, Yah. Apalagi dagingnya empuk,” jawab Khan.
“Makanlah dengan santai, Boy,” ucap Sandy seraya mengelus rambut Khan. Runa yang sejak tadi diam memperhatikan sikap Sandy pada anaknya merasa terharu.
Setelah pelayan membawa menu penutup, yakni sebuah cake kesukaan Runa, Sandy mengeluarkan sebuah kotak merah dari saku celananya.
Alunan musik kembali terdengar romantis saat sang pianis memainkan nada ‘Just The Way You Are’ milik Bruno Mars. Saat moment itu, tiba-tiba Sandy berlutut di depan Runa dengan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah.
Runa menutup mulutnya tidak percaya, sekaligus terharu dengan apa yang dilakukan Sandy. Dari awal dia sempat curiga dengan suasana kafe yang begitu sepi. Runa yakin jika Sandy sudah merencanakan ini. Namun, ia tidak pernah berpikir jika Sandy akan melamarnya di sini.
“Runa, aku sadar, aku bukan lelaki sempurna untuk kamu, tapi izinkan aku menjadi pendamping hidupmu untuk menyempurnakan kebahagiaanmu bersama Khan ...." Terjadi sejenak. Sandy membuka kotaknya, menampilkan cincin bermata berlian kecil di tengahnya,
“Will yo marry me?” tanya Sandy masih di posisi yang sama.
__ADS_1
...*****...
...To be continued...