
...“Dia memang sangat baik kepadaku. Semua orang menganggap bahwa aku akan sangat beruntung jika bersama dengannya. Namun, itulah yang aku khawatirkan. Aku tak ingin diriku ini berharap kepadanya. Karena aku tahu sakitnya berharap kepada selain-Nya.”...
...“Allah sudah menuliskan jodoh bagi masing-masing hamba-Nya. Tak akan pernah salah tempat dan waktu bagi tulang rusuk untuk bertemu dengan pemiliknya. Jadi,untuk apa aku berharap dia akan menjadi jodohku jika Allah telah menjodohkanku dengan seseorang yang sudah pasti terbaik untukku karena itu adalah jodoh pilihan Tuhanku.”...
..._Selina Mufida_...
Hiruk-pikuk para santri yang baru saja menempati kelas barunya masing-masing menjadi pemandangan yang sudah tidak asing bagiku. Aku sudah meraskan ini sejak dua tahun yang lalu, saat aku kelas sepuluh dan kini aku telah memasuki tahun ajaran baru di kelas dua belas ini. Ya, aku adalah anak baru karena aku masuk pesantren ini saat Madrasah Aliyah.
Satu tahun ke depan Insyaallah akan menjadi tahun terakhirku merasakan menjadi seorang santri. Setelah itu tidak ada lagi tertidur di kelas saat jam pelajaran ataupun jam rehat, tidak ada lagi mengantri untuk mandi, mengambil makan, tidak ada lagi berburu makanan dari kantin umum, dan hal-hal lainnya yang tidak mungkin aku dapatkan selain di sini.
Aku duduk di kursiku sambil menikmati suasana yang mungkin akan segera sirna dari hidupku dan tidak akan bisa diulang. Alunan lagu klasik yang selalu dilantunkan di speaker sekolahku setiap pagi membuatku merindukan suasana seperti ini.
“Sel, kamu dicari tuh. Di koridor tengah.” Aidha menghampiriku dari arah pintu kelas seraya duduk di sebelahku. Dia adalah teman semejaku sekaligus teman sekamarku dari kelas sebelas.
“Dicari siapa?” tanyaku.
“Pagi-pagi gini biasanya siapa yang cari kamu? Pasti tau dong.” Aidha tersenyum menggodaku.
“Andra?”
“Hmmm.”
Aku berjalan keluar kelas menuju koridor tengah, koridor dekat tangga yang menghubungkan blok untuk santri nisa dan santri rijal. Aku mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Andra di antara teman-teman lain karena koridor ini cukup luas dan ramai. Koridor tengah ini memang kerap digunakan oleh para santri rijal dan nisa untuk bertemu di sekolah, seperti untuk rapat-rapat organisasi ataupun keperluan lainnya.
Sekolahku ini memang pesantren. Lebih tepatnya pesantren modern dan juga internasional, sehingga santri-santri di sini banyak juga yang berasal dari luar negara.
Setelah melihat sosok yang aku duga adalah Andra, aku berjalan menghampirinya. Namun, langkahku terhenti saat kulihat Andra sedang mengobrol dengan teman cewek yang seangkatan denganku.
“Aduh Aidha, kayaknya kamu salah deh. Ternyata Andra bukan nyari aku,” gerutuku sambil berjalan berbalik menuju kelas.
“Eh, Seli. Mau kemana? Kok balik?” kata Andra seraya mengejarku dan aku pun refleks menoleh ke aranya.
“Kenapa, Ndra?” tanyaku setelah kami berhadapan.
Andra menyerahkan satu batang coklat kepadaku seperti biasanya. Andra memang hampir setiap dua minggu sekali memberikanku coklat sejak kami kelas sebelas karena dia tahu bahwa aku menyukai coklat sejak kecil. Aku selalu ingin menolaknya karena menurutku ini berlebihan, namun jika aku menolak pun dia akan tetap menaruh coklat itu di laci mejaku saat santri nisa belum datang ke sekolah. Ini memang agak mendingan, sebelumnya dia selalu memberikanku coklat seminggu sekali.
Aku meraih coklat itu dari tangan Andra sambil tersenyum. “Ini buat yang terakhir ya, Ndra. Kamu kalo mau ngasih aku coklat, kalo aku ultah aja itu udah cukup, kok.”
Andra memutar bola matanya, sepertinya dia bosan dengan ucapanku. “Kenapa sih, Sel? Ini bisa kamu makan kalo kamu sedih atau kesel atau ngantuk pas jam pelajaran. Asal kamu jangan lupa gosok gigi yang rajin.”
Aku menghela napas. Aku bingung harus mengatakan apalagi kepadanya. “Oke. Makasih, Ndra. Aku balik ke kelas ya.”
...***
...
“Ayok, guys. Cepetan, tar keburu ngantri lho,” kataku mengingatkan tiga temanku yang kini sedang mengikat tali sepatunya di lantai dasar sekolah.
Di sekolahku yang terdapat lima lantai dan sebuah basement ini, alas kaki wajib dilepas bagi santri, sehingga kami melepas dan memakai sepatu di lantai dasar. Beruntungnya ruang kelas bagi santri kelas dua belas terdapat di lantai dua dan tiga sehinga aku dan ketiga sahabatku tidak memerlukan waktu lama untuk sampai di lantai dasar gedung ini.
__ADS_1
“Iya nih aku udah,” sahut Iffah seraya berdiri dan menghampiriku yang sedang berdiri dekat trotoar di depan gedung sekolahku.
Setelah kami bertiga jalan tergesa-gesa, akhirnya kami pun tiba di kantin umum. Ya, ini lah tujuan kami terburu-buru yaitu untuk segera tiba di kantin umum sebelum mengantri panjang dan berdesak-desakkan. Mengantri memang hal wajar di pesantren mana pun, tetapi di pesantrenku ini jumlah santri di setiap angkatannya melebihi lima ratus santri dan seluruh santri Madrasah Aliyah memiliki jadwal pulang sekolah di waktu yang sama sehingga bukan tidak mungkin jika ada ribuan santri di kantin saat ini.
“Hari ini jadwal kamu yang ngantri kan, Sel?” tanya Zahra ketika kami tiba diantrian.
“Iya, aku. Mana sini uang kalian?”
“Kayak biasa lho Sel makanannya. Oh iya, ati-ati ya, Sel. Kayaknya hari ini lebih banyak cowok yang ke sini deh.” Iffah memperhatikan sekitar setelah menyerahkan uang kepadaku dan aku ikut melihat sekitar, ternyata benar antrian hari ini di dominasi oleh kaum Adam.
“Ngga papa kok, Sel. Santuy aja, kamu cantik kok,” kata Najwa sambil tersenyum dan mengedipkan salah satu matanya kemudian pergi meninggalkanku yang diikuti oleh yang lain.
“Ih kalian jahat banget sumpah ....” Baru saja aku ingin meneriaki mereka yang sudah menjauh, tetapi aku urungkan karena aku baru menyadari bahwa kini aku berada di antara santri rijal.
Di kantin umum memang tidak di pisah antara santri rijal dan nisa, sehingga wajar saja jika mengantri bersama santri rijal seperti ini.
Aku celingukkan. Ternyata benar aku benar-benar perempuan sendiri di sini, walaupun ada perempuan dia berada di barisan depan dan belakang yang sangat jauh dari posisiku berdiri saat ini. Mungkin beberapa santri nisa yang tadi berada di dekatku keluar antrian dan tidak jadi membeli makanan di kantin karena melihat antrian yang di dominasi kaum Adam ini.
Ya Rabb, bagaimana ini? Tolong Ya Allah.
Jika aku keluar dari antrian dan tidak jadi membeli makanan di kantin, lalu ketiga temanku akan makan apa siang ini? Seluruh santri memang dapat jatah makan sehari tiga kali di rumah makan santri. Tetapi tahu sendiri bagaimana rasa makanan di sana, seperti tidak diberi bumbu. Itu lah alasan para santri rela mengantri di kantin umum. Seandainya sekarang aku dan sahabatku ke rumah makan pun sepertinya di sana sudah mengantri juga dan ini jelas sudah kepalangtanggung.
Astagfirullah, kenapa cowok-cowok di sini nggak ada yang aku kenal sih? Kalo ada kan aku mau nitip gitu. Asli, mana aku kebelet pipis lagi. Makin urgent aja nih. Mau nggak mau aku harus nitip ke siapa pun itu.
Aku memang kelas dua belas, seharusnya aku sudah mengenal dengan santri-santri rijal angkatanku ini. Tetapi mau bagaimana lagi, aku memang tidak terlalu peduli dengan santri rijal sehingga kenalanku tidak banyak. Sebenarnya memang banyak yang mengajakku kenalan dan mengobrol saat kami satu organisasi tetapi sungguh aku tidak terlalu ingat dengan nama dan wajah mereka yang menurutku agak miri-mirip.
Seseorang itu menoleh. “Kenapa? Mau nitip?” tanya dia sambil menunjukkan wajah malas melihatku.
Aku mengangguk ragu. “Boleh, kan?”
“Nggak.” Dia pun kembali menghadap depan.
Astagfirullah, nih cowok bener-bener ya tega banget.
“Please banget, lagi urgent ini. Saya lagi kebelet soalnya.” Terpaksa aku mengatakan hal kurang sopan seperti itu.
Dia menatapku datar tanpa berkata apa pun.
Sungguh dia begitu menyebalkan, tidak ada rasa ingin membantu sama sekali.
“Oke, apa aja yang harus saya beli?”
Ya Allah, aku udah su’udzan. Aku kira dia nggak akan bantu.
Mungkin tadi dia menolak karena memang selama ini banyak yang ingin menitip saat mengantri hanya karena malas menunggu sambil berdiri siang bolong seperti ini.
Tanpa berpikir panjang aku segera menyerahkan selembar uang yang aku kira adalah uang lima puluh ribuan kepadanya. “Beliin nasi, kentang, sayur, kerupuk dan gorengan masing-masing empat bungkus ya. Makasih banyak lho ini.” Aku pun bergegas keluar antrian menuju toilet sambil berlari kecil.
“Eh, Sel. Mau kemana?” panggil Iffah ketika melihatku menjauh dari antrian.
__ADS_1
“Iya, Sel. Itu antriannya kamu titip ke orang apa gimana?”
Tak peduli dengan panggilan sahabat-sahabatku. Aku tetap terbirit-birit menuju toilet.
...***...
“Alhamdulillah, lega. Nggak baik kan nahan pipis itu.” Aku berjalan keluar dari toilet. “Eh, tapi aku harus kemana sekarang? Nggak mungkin kan balik ke antrian. Tapi cowok tadi inget muka aku nggak ya. Takutnya nanti dia susah nyari akunya gimana?”
“Sel, jadi makan di kantin atau nggak?” Zahra menghampiriku yang sedang berjalan menuju mereka.
“Insyaallah.”
“Tadi kamu kebelet ya, Sel? Kenapa nggak minta salah satu dari kita buat gantiin?” tanya Najwa tanpa rasa bersalah.
Aku memutar bola mata jengah. “Gimana manggil kaliannya? Tadi kan kalian nggak keliatan dari arah aku.”
“Hehe. Maaf, Sel,” kata mereka kompak.
“Eh, terus tadi kamu nitip apa gimana, Sel?”
“Iya. Tapi masalahnya aku nggak kenal sama cowok itu.”
“Cowok angkatan?”
Aku mengangguk. “Iya. Bentar ya. Aku mau nungguin dia di depan sana takutnya dia susah nyari akunya.” Aku pun berjalan menuju kursi yang tak jauh dari kasir kantin dan mendudukinya.
Brukk!
Aku terperanjat saat tiba-tiba sebuah kantong kresek berisi makanan penuh mendarat kasar di pangkuanku.
Tanpa mengatakan apa pun, dia langsung balik badan dan berjalan membelah kerumunan para santri. Meninggalkan aku yang masih duduk mematung. Belum juga aku mengatakan terimakasih padanya, tetapi punggungnya sudah menghilang dari pandanganku.
Sebelum bangun dari kursi, aku merogoh saku seragamku karena berniat memasukkan uangku ke dalam tas. Kulihat uang lima puluh ribuan milikku masih berada disini. Lantas, berapa uang yang aku berikan pada santri rijal tadi?
“Astagfirullah, jangan-jangan aku ngasih uang dua ribuan lagi? Ih, Seli. Kamu kok cerobohnya keterlaluan gini sih? Mana aku nggak tau nama cowok tadi, gimana aku bayar ke dianya coba kalo gini?”
Aku berlari menuju teman-temanku dan mengadukan permasalahan ini. Mencoba meminta solusi dari mereka sambil menyantap makan siang dengan hasil perjuanganku ini yang bahkan masih menjadi hutangku pada santr rijal tadi.
“Emang ciri-ciri cowok itu gimana? Masa nggak pernah denger namanya gitu?” tanya Najwa kepadaku setelah menyantap beberapa suap nasi.
Aku menggeleng.
Iffah menghela napas. “Makanya kamu jangan cuek-cuek banget ke santri rijal dong, Sel.”
Memang benar kata Iffah, aku terlalu cuek terhadap santri rijal yang menyebabkan aku kesulitan dalam berbagai hal, salah satunya hal seperti ini. Selama ini aku hanya mengenal Andra beserta teman-temannya dan beberapa santri rijal yang satu organisasi denganku, selebihnya aku tak kenal.
Aku tak sama sekali berminat untuk mengenal banyak laki-laki di pesantren ini walaupun sejak kecil aku lebih banyak bermain dengan laki-laki. Bahkan di pesantrenku ini memang dianjurkan untuk bersosialiasi dengan semua orang tak terkecuali dengan lawan jenis. Karena kita pun harus berpandangan ke depan, kita dengan lawan jenis memang saling membutuhkan satu sama lain dalam berbagai hal. Kalau Andra, memang ada sebab mengapa aku sangat dekat dengannya.
...***...
__ADS_1