
2 tahun lalu
Wahid
Itsnani
Tsalatsah
Arba’ah
Khamsah
"Hitungan terakhir nggak sampe sini kena, ya."
Terdengar teriakan kakak kelas yang berdiri di perempatan jalan menuju masjid. Sedangkan seluruh santri nisa berlari di garis pinggir jalan berdua-dua. Santri bagian belakang langsung sprint mengetahui ini adalah hitungan terakhir, termasuk aku dan Rina.
Mukena, sajadah dan Al-Qur'an sudah dipegang kuat-kuat agar tidak jatuh. Namun, tetap saja tidak mudah berlari dengan rok seperti ini. Seragam ke masjid hari ini adalah baju melayu. Tau sendiri bagaimana model rok melayu. Belum lagi sandal jepit yang terkadang licin bahkan hampir putus.
Tis’ ah
Asyarah
Hampir saja aku dan Rina terlambat sampai ke halaman masjid. Santri yang berlari di belakang aku dan Rina terkena cegat kelas dua belas bagian kedisiplinan sehingga sudah pasti mendapat hukuman. Hukuman di sini berbeda-beda meskipun jenis pelanggaran yang dilakukan sama.
Setiap hukuman yang diberikan tergantung dari kakak kelas yang menghukum. Adapun hukuman yang sering diberikan seperti, hukuman bersih-bersih selama beberapa hari, berdiri di dekat shaf santri rijal, menulis atau menghafal surah-surah panjang lalu disetorkan, memakai pakaian dengan warna mencolok seperti warna kuning dan merah, menghafal asmaul husna dan asmaun nabi, membuat surat pernyataan dan memakai nametag, menghafal kosa kata bahasa arab dan inggris maupun meminta tanda tangan ketua santri.
"Kita duduk di situ aja, Sel," ucap Rina seraya menunjuk shaf nisa yang masih kosong.
"Yok." Aku dan Rina menggelar sajadah. "Tapi, tadi di asrama aku belum sempet wudu tau, Rin."
Rina menghela napas. "Mana bentar lagi disur'ah di toiletnya. Ya udah ayok cepetan." Rina menarik tanganku sambil berlari menuju toilet.
Selesai wudu aku dan Rina bergegas kembali ke shaf karena pasti sebentar lagi akan disur'ah dan yang terlambat keluar dari toilet akan dapat hukuman. Kegiatan selanjutnya setelah pelaksanaan salat magrib adalah membentuk kelompok tahfidz perkelas. Untuk kelas sepuluh terletak di lantai dua.
Kakak mustami kelas sebelas sudah duduk di kelas masing-masing bagiannya. Siap untuk mengajar atau menerima setoran. Setiap kelas membentuk tiga kolom ke belakang. Aku dan Rina mendapat kakak mustami cowok yang ganteng dan ramah. Tidak diragukan lagi, hampir seluruh kelas sepuluh naksir padanya, termasuk aku dan Rina.
"Sel, tadi Kak Rezky baik banget." Rina datang usai menyetorkan hafalan kepada Kakak mustami. "Tadi kan aku agak lupa-lupa gitu, eh sama dia dibantuin terus dia ngasih nilainya juga nggak pelit."
__ADS_1
"Beruntung banget, ya kita dapet mustami kayak dia."
Aku kembali menghafal sambil menunggu giliran setoran, tiba-tiba aku tidak sengaja melihat ke arah santri rijal. Kudapati Andra duduk paling belakang di kelas yang paling dekat dengan barisan nisa. Padahal kelas Andra setauku bukan di situ. Biasanya santri saling berebut untuk mendapat barisan yang tidak dekat lawan jenis, tetapi Andra sebaliknya. Ia malah sepertinya sering sekali berada di barisan ujung.
"Dasar cowok ganjen, mentang-mentang cakep sukanya tebar pesona sana-sini," caciku pelan dan kembali melihat Al-Qur'an yang berada di pangkuanku. "Astagfirullah, Seli. Nggak boleh ngomong begitu."
Tak lama kemudian, aku ke depan untuk setoran kepada Kak Rezky. "Hallo, Kak. Aku mau setor surat Al-Imran ayat 1 sampai 12," ucapku seraya duduk di hadapan Kak Rezky.
"Oke. Silahkan. Kertas format hafalannya mana?"
Aku mencari di dalam Al-Qur'an rupanya tidak ada. Sepertinya tertinggal di belakang. Aku menoleh untuk memanggil Rina. Tiba-tiba saat melihat ke belakang, nampak Andra sedang berdiri di balik jendela masjid seraya mengangkat tangan dan berteriak, "semangat hafalannya Selina Mufida."
Seketika semuanya menoleh.
***
"Rin, mau duduk di mana?" tanyaku sembari melihat kursi yang kosong di kantin.
Malam ini selepas dari masjid, aku dan Rina makan di kantin karena bosan dengan menu makan malam di rumah makan. Seperti biasa, kantin cukup ramai. Terutama para santri yang baru. Mayoritas dari mereka lebih memilih makan di kantin yang makanannya lebih enak walaupun akan menguras uang jajan. Biasanya saat belum dapat kiriman dari orang tua, mau tidak mau makan makanan rumah makan. Makanan di sana juga tidak buruk, aku saja sangat suka dengan orek tempe di sana.
Rina menunjuk kursi di belakang dekat segerombolan santri rijal. "Di situ aja, yuk. Udah nggak ada tempat lagi."
"Nggak papa, deh."
"Oke. Tapi, kita jangan nengok ke mereka."
Rina duduk menghadap segerombolan santri rijal, sedangkan aku yang duduk membelakangi mereka. Aku buka sebungkus nasi dengan lauk ayam goreng dan kentang.
"Andra lucu juga tadi, Sel. Dia emang begitu, ya, orangnya? Kemungkinan nanti banyak yang naksir Andra tuh santri nisa."
Aku mengangkat alis. "Iya dia emang kayak gitu kayaknya. Aku tuh kenal dia belum lama, Rin. Orang tua aku sama orang tua Andra udah deket dari lama tapi aku baru kenal Andra waktu di sini."
Rina tertawa kecil. "Lucu banget tadi. Sampe pada nengok semua. Haha. Dia suka sama kamu kali, ya, Sel."
Aku mencubit tangan Rina. "Jangan macem-macem, deh."
Rina kesakitan. "Iya deh nggak. Ayok cepetan makannya, tar kemaleman." Rina langsung sibuk menyantap.
__ADS_1
"Kalo lu sama siapa, Dra?"
"Pasti Seli si Andra mah."
"Wah iya bener. Mana si Andra doyan banget ngasih Seli silverqueen."
Mendengar namaku disebut oleh beberapa orang dibelakang, aku berbisik pada Rina, "di belakang kita siapa, Rin?"
Rina yang masih sibuk mengunyah berusaha menjawab, "kenapa emang? Kan tadi kata kamu jangan nengok ke mereka. Atau kamu--."
"Suttttt!!" Aku menghentikan perkataan Rina karena berusaha mendengarkan percakapan mereka.
"Gua biasa aja sama dia mah. Cantik sih dia, imut gitu. Cuma gua ga tertarik sama dia. Dia bukan tipe gua banget hahah. Gua mah ngasih dia silverqueen karena sesuatu. Yang lu pada nggak perlu tau alesannya. Hahah."
"Asal jangan mainin anak orang aja lu, Dra. Seli baik banget lho orangnya."
"Emang baik dia. Kalo dia baik bukan berarti gua harus naksir, kan? Lagian gua deket sama dia juga karena ibu gua yang nyuruh gua jagain dia."
Aku mematung mendengar ucapan itu. Suapan makanan yang akan masuk ke mulutku, kembali aku turunkan. Walaupun aku tidak tahu siapa santri rijal yang berada di belakangku, tapi tidak salah lagi, di belakangku adalah Andra.
Napas kuembuskan berkali-kali mendengar perkataan Andra. Aku tidak sakit hati karena dia tidak menyukaiku karena aku juga tidak menyukainya. Yang membuatku sakit adalah dia berteman denganku hanya karena permintaan Umi Devi. Dugaanku selama ini tentang dirinya salah, tidak seharusnya aku terlalu dekat dengan Andra karena pertemanan kami bukanlah keinginannya.
"Sel, kamu kenapa? Ko makanannya nggak diabisin?" Rina memandangku heran.
Es teh yang berada di atas meja kuraih kemudian meneguknya. "Aku udah kenyang, Rin."
"Oke. Kalo gitu pulang, yuk. Aku juga udah selesai, nih."
Aku mengangguk kemudian meraih bungkusan nasi dan gelas es teh. Membuangnya di tempat sampah dan segera pergi. Begitu juga Rina di belakangku.
"Sel, yang duduk di belakang kita tadi gerombolannya Andra, ya?"
"Bukan."
"Masa, sih? Tadi kayaknya aku liat Andra di antara mereka."
***
__ADS_1
Note: Sur'ah (perintah agar cepat)