
Aku mencari sumber suara yang memanggil namaku. Kulihat Andra melihat ke arahku sambil memberi kode untuk membuka ponselku. Aku berpura-pura saja tidak melihatnya. Lantas aku langsung melihat ke arah televisi yang menampilkan tim dance santri rijal dengan lagu 'Dynamite' dari BTS.
Acara tahun baru islam ini diperkirakan akan selesai sebelum dzuhur, berarti sekitar 1 jam lagi. Pidato dari Syekh telah usai setengah jam yang lalu, kini penampilan dari para santri seperti dance, tari tradisional dan lain sebagainya. Andra terus mengodeku untuk membuka ponsel, aku pun akhirnya menurutinya. Muncul pesan dari Andra.
Andra
Seli, ngobrol bentar, yuk. Mau minta saran dari kamu nih.
^^^Yaudah cerita aja.
^^^
Ngobrol langsung aja sekarang. Susah kalo diketik soalnya panjang ceritanya.
^^^Penting ga? Klo ga penting males.
^^^
Jahat banget.
^^^👍👍
^^^
Aku minta izin ke orang tua kamu dulu, ya.
Belum sempat aku membalas pesan Andra yang terakhir untuk menolaknya, ternyata Andra sudah menghampiri orang tuaku. "Assalamuallaikum, Umi, Abi." Andra salim kepada Abi dan Umi.
"Wa'allaikumsalam," jawab Abi dan Umi.
Haduh, harus banget Andra ngajak ngobrol sekarang? gerutuku dalam hati.
Entah Andra berbicara apa kepada orang tuaku karena ramai sehingga tidak terlalu terdengar, tiba-tiba Umi menyuruhku ikut bersama Andra. Tidak ada pilihan, aku mengikuti Andra ke arah halaman masjid.
Andra duduk di salah satu kursi taman masjid. "Sini, Sel."
Aku menyusul duduk di kursi yang lumayan panjang itu sehingga aku dan Andra tidak terlalu dekat. "Mau minta saran tentang apa, Ndra?"
"Tentang Vira."
__ADS_1
Aku menoleh ke arahnya dengan alis terangkat satu. "Jauh-jauh gini cuma soal Vira?" Aku berdiri dari kursi. "Aku nggak jago tentang perbucinan, Andra."
"Bentar dulu, Seli. Dengerin aku dulu, aku butuh sudut pandang kamu sebagai cewek."
Aku menghela napas dan akhirnya kembali duduk karena aku perlu mendengarkan penjelasan Andra. Tidak baik juga menolak seseorang yang meminta pendapat.
"Pasti kamu udah tau tentang aku dan Vira. Aku tau betul kalau pacaran itu haram, aku terpaksa terima permintaan Vira karena rasa bersalah aku, Seli."
Aku dan Andra memang menggunakan bahasa aku-kamu karena sudah terbiasa sejak kelas 10 setelah disuruh oleh Umi Devi.
Aku tak menjawab perkataan Andra. Aku menunggu kalimat Andra berikutnya.
"Vira itu adik dari David, kakak kelas di SMP aku dulu. Aku sama David temen deket karena saat itu emang aku lebih banyak bergaul sama kakak kelas. Pergaulan aku saat itu bisa dikatakan buruk, mereka perokok bahkan konsumsi pil ekstasi."
"Kamu juga dong?"
"Cuma aku sama David yang nggak. Hari itu ada acara muncak bareng temen-temen, tapi David nggak bisa ikut karena sakit, aku tetap maksa dia ikut karena aku pikir itu acara terakhir sebelum mereka lulus dan aku pengen semuanya bisa ikut. Demi menghargai ajakan aku, David ikut setelah aku susul ke rumahnya. Sewaktu di perjalanan pake motor menuju tempat kumpul, tiba-tiba entah kenapa aku hilang kendali dan kebetulan di depan ada truk lagi ngebut parah. Alhasil, kami kecelakaan."
"Innalilahi wainna ilaihi raaji'un. Terus apa yang terjadi sama kalian setelah itu?"
Andra menunduk kemudian menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. "David meninggal, Sel."
"Aku ngerasa bersalah banget soal itu, Sel. Kami baru tau kalo ternyata David punya penyakit jantung makanya saat itu dia langsung meninggal di tempat. Kalo aja aku nggak ngajak dia mungkin kejadiannya nggak gini."
Walaupun aku nggak pernah merasakan apa yang Andra rasakan, tapi aku tau betul bagaimana rasanya kehilangan seseorang apalagi ada campur tangan kita dalam kejadian itu. Rasa bersalah pasti ada di hati dan pikiran kita sebagai manusia, makhluk berperasaan ini. Dari wajah Andra sangat terlihat rasa penyesalannya terhadap kejadian ini.
"Nggak perlu salahin diri sendiri, Ndra. Ini takdir Allah, udah jalannya kayak gini. Yang perlu kamu lakuin sekarang cuma do'ain David selalu, Ndra."
"Iya, Sel." Andra memejamkan mata sipitnya, berusaha mengikhlaskan.
"Emm..tadi kamu bilang yang nggak ngerokok cuma kamu sama David. Berarti kamu mulai ngerokok setelah kejadian ini?" Dengan ragu-ragu aku memberanikan diri bertanya karena aku pun penasaran.
"Iyah. David nggak pernah ngerokok ternyata karena dia punya penyakit jantung, kalau aku emang nggak minat untuk ngerokok saat itu. Tapi, setelah meninggalnya David temen-temen berhenti ngerokok dan bodohnya justru aku lah yang jadi perokok saat itu karena rasa bersalaku sama David dengan nyakitin diri sendiri. Alhamdulillah aku bisa berhenti setelah masuk pesantren ini. Tanpa sengaja aku kenal Vira di ekskul Basket dan aku baru tau kalau ternyata dia adiknya David. Vira minta aku jadi pacarnya setelah aku cerita bahwa aku yang ngajak kakaknya pergi hari itu. Vira pengen punya sosok laki-laki yang bisa lindungin dan perhatiin dia kayak David dulu."
Ini di luar dugaanku, aku benar-benar tidak tahu kalau mereka pacaran atas permintaan Vira dan dengan alasan itu. Tapi, mau apa pun alasannya, yang namanya pacaran tetap lah haram dan jika diterusakan akan merugikan mereka juga kalau ternyata Andra tidak punya rasa kepada Vira, tentu itu akan menyakiti Vira.
"Tadi kamu bilang kamu terima permintaan Vira karena rasa bersalah kamu, terus kamu sendiri suka sama Vira atau nggak, Ndra?"
"Belum, Sel. Makanya aku mau minta saran dari kamu sebagai cewek, apa dia nggak bakal sakit hati kalau dia tau ternyata aku nggak ada rasa apa pun. Belum lagi, aku juga nggak mau pacaran lagi, Sel. Pacaran itu hubungan yang nggak ada ujungnya, cuma ngabisin waktu dan tenaga. Aku pengen langsung nikah aja kalau udah siap lahir batin dan siap juga finansialnya."
__ADS_1
Aku tidak menjawab, bingung aku harus menanggapi apa. Aku juga belum berpengalaman apa pun mengenai ini.
"Sel, gimana baiknya kira-kira hubungan aku sama Vira ini?"
Ponselku bergering, panggilan masuk dari Kak Wardah.
"Assalamuallaikum, Seli."
"Wa'allaikumsalam. Kenapa, Kak?"
"Ini acara udah mau selesai. Kamu ke sini biar ke asramanya langsung bareng, nggak perlu cari-carian lagi."
"Oke Kak. Aku otw."
Aku menutup panggilan setelah menjawab salam Kak Wardah.
"Kenapa, Sel?" tanya Andra.
Aku berdiri. "Acaranya udah mau selesai. Balik, yuk. Nanti kapan-kapan kita lanjutin."
Andra mengangguk dan menyusulku berdiri.
"Andra, Seli. Kalian ngapain berduaan di sini?"
Hal yang paling aku khawatirkan ternyata terjadi juga. Vira datang saat aku bersama Andra, setelah aku mengetahui Vira berpacaran dengan Andra aku tidak ingin masuk permasalahan mereka. Aku tidak ingin merusak apa pun juga tidak ingin menyakiti siapa pun.
Andra langsung menjawab. "Aku abis ngobrol sama Seli, Vir."
"Cuma berdua?"
Andra mengangguk.
Vira tersenyum kepadaku dan Andra. "Oh ya udah. Kalau gitu aku duluan, ya." Ia pun berlalu menuju toilet.
Walaupun Vira tidak terlihat marah atau kesal, tapi aku tahu betul dia merasa cemburu kalau aku bersama Andra. Aku tidak pernah menyangka bahwa Vira akan seperti ini kepada Andra karena dulu dia bisa menutupi rapat-rapat rasa sukanya terhadap Andra.
"Ayok, Sel."
"Jalan duluan aja, Ndra."
__ADS_1
Aku berusaha sebisa mungkin tidak terlalu dekat dengan Andra, tapi tidak mungkin aku bisa benar-benar menjauh darinya karena orang tua kami pun sangat akrab.