BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Berhenti Berharap


__ADS_3

“Seriusan?”


Syilla mengangguk dengan sangat yakin. “Serius! Aku sama Dilla denger jelas banget, kok. Ya nggak, Dill?”


Dilla mengiyakan.


“Tapi iya sih emang dari dulu udah keliatan, cuma aku nggak nyangka bakal secepat ini,” tuturku.


“Ya udah, sekarang mereka di mana? Masih di tempat tadi?” tanya Aidha penasaran.


“Masih. Ayok kita ke sana,” ajak Dilla. Lalu, kami menuju kebun binatang mini yang berada di dalam pesantren.


Kebun binatang mini ini dihuni oleh beberapa hewan seperti burung Kasuari (Casuarius), Landak Malaya (Hystrix brachyura), Biawak (Varanus), Ular Sanca (Pythonidae), Rusa (Cervidae), Buldog (Canis lupus familiaris), monyet dan berbagai hewan lainnya. Letak kebun binatang jauh dari kawasan asrama dan gedung pembelajaran. Letaknya yang jauh dari kawasan asrama, tidak membuat para santri malas berkunjung. Justru setiap hari minggu biasanya para santri lari pagi melewati kebun binatang.


“Nah, itu Zahra. Ayok kita ke sana samperin dia.” Syilla menunjuk Zahra yang sedang duduk seorang diri di kursi taman kebun binatang.


“Ayok!” Aku, Aidha dan Dilla mengikuti Syilla.


Pagi tadi, kami berlima lari pagi bersama, berniat berolahraga dengan mengelilingi pesantren. Sebenarnya tidak akan bisa benar-benar mengelilingi pesantren jika dengan berjalan kaki atau lari saja, paling tidak, menggunakan sepeda. Mengingat kawasan pesantren yang sangat luas ini.


“Zahra,” panggil Syilla seraya duduk di sebelah Zahra.


“Eh, tadi kalian kemana? Kok malah pergi?”  tanya Zahra kepada Syilla dan Dilla.


Dilla menyengir. “Tadi Seli sama Aidha nelpon kita, jadi aku sama Syilla ke arah sana dulu. Lagi pula, tadi kamu lagi ngobrol hal penting kan sama Ustadz Zidan?” Dilla mengangkat alisnya untuk menggoda Zahra.


Gadis berjilbab biru itu tersenyum kecil. “Hal penting apa? Ustadz Zidan cuma nanya-nanya biasa doang, kok. Eh, ngomong-ngomong, Seli sama Aidha kok udah ke sini? Katanya kita kumpul laginya di lapangan utama?”


“Tadi waktu denger kamu dilamar sama Ustadz Zidan, aku sama Seli langsung buru-buru ke sini,” jawab Aidha cepat, sontak membuat semuanya saling tatap.


Syilla dan Dilla sepertinya merasa bersalah karena sudah menguping pembicaraan Zahra dan Ustadz Zidan sekaligus membocorkannya padaku dan Aidha. Aidha juga sepertinya keceplosan ke inti, Zahra terkadang tidak suka jika ada yang terlalu ingin tahu urusan pribadinya.


Ternyata Zahra justru tersenyum. “Oh, Syilla sama Dilla ternyata denger obrolan aku, terus ngasih tau Seli sama Aidha lewat telepon? Dan mereka langsung ke sini?” tanya Zahra dengan sedikit tertawa.


“Iya, Ra. Coba dong ceritain detailnya gimana? Kok bisa sih?” tanyaku tidak sabar mendengar penjelasan Zahra.


Zahra menarik napas dan mengembuskan perlahan. “Aku juga kaget waktu Ustadz Zidan tiba-tiba bilang begitu. Kan dulu waktu Ustadznya ngajar di kelas kita, pernah ada yang nanya kenapa Ustadz Zidan belum menikah dan pilih lanjut S2. Inget nggak Ustadznya jawab kalau dia pernah ditinggal nikah sama perempuan yang dia suka?”


“Inget-inget. Kayaknya Ustadznya belum bisa pindah hati tuh.”


“Iya bener tuh. Hahaha ... .”


Zahra melanjutkan, “Nah, bapaknya nyuruh Ustadz Zidan buat segera nikah. Tadi Ustadz Zidan bilang kalau dia belum suka sama perempuan mana pun sampai saat ini, tapi dia merasa aku bisa jadi istri yang baik buat dia.”


Seketika kami heboh mendengar perkataan Zahra barusan. Kami berteriak kegirangan hingga monyet-monyet yang berada di belakang kami ikut menyahut karena kaget.


“Ekhem, Zahra so sweet banget sih Ustadz Zidannya. Ah, jadi pengen dilamar juga,” balas Aidha dengan wajah tersipu malu.


“Masyaallah, Ra. Beruntung banget sih, terus gimana jawaban kamu, Ra?” tanya Dilla.


“Tar dulu, Ra. Tadi gimana kata-kata Ustadz Zidan waktu ngelamar kamunya? Ustadznya bilang, ‘Zahra, apa kamu mau menjadi istri saya?’ begitu, Ra?” tanyaku penuh rasa penasaran dan didukung oleh yang lain.


Pipi Zahra nampak merah, wajahnya tersipu malu. Iyalah siapa pula yang tidak senang dilamar oleh seseorang yang tampan dan mapan seperti Ustadz Zidan.


“Ustadz Zidan bilang gini, ‘Zahra, kamu mau jadi pendamping hidup saya?’ syok beratlah aku.”

__ADS_1


“AAAAAA."


“Ya Allah, Masyaallah.”


“Terus gimana kamu jawabnya, Ra?”


Zahra tampak berpikir. “Aku belum jawab.”


“Kenapa belum?”


Aku memukul pelan tangan Aidha. “Hush ah. Ya, mungkin Zahra bingung. Kamu emang bisa langsung jawab kalau dilamar gitu, Dha? Yang ada kamu pingsan dulu.”


“Iya abis pingsan aku langsung jawab, ‘Mau banget, Ustadz’ dilamar Ustadz ganteng jangan disia-siakan woi.”


Zahra menghela napas. “Aku bingung mau terima Ustadz Zidan atau nggak. Kita aja belum kuliah, aku takut kuliah aku terganggu kalau menikah sebelum kuliah. Tau sendiri kan menikah bukan hal main-main, itu harus dipikirin matang-matang. Ini hal yang dilakukan sekali untuk seumur hidup.”


Semua setuju dan memahami perasaan Zahra sekarang. Pasti dia sangat bimbang, di usianya yang bahkan belum memasuki 20 tahun harus mengabdi seumur hidup pada suami. Itu jelas bukanlah hal yang mudah. Perlu pertimbangan yang sangat matang.


“Kita semua cuma bisa bantu doa, Ra. Semoga kamu bisa memilih keputusan yang tepat dan diridhoi Allah. Kalau gitu, kamu shalat Istikharah kali, Ra,” usulku.


“Iyah, nanti aku shalat Istikharah dulu. Ngomong-ngomong, kita ngobrolnya sambil jalan pulang ke asrama yuk.” Zahra beranjak dari kursinya.


Diikuti oleh semunya. “Ayok!”


Sepanjang jalan kami masih membahas Zahra dan Ustadz Zidan. “Pesantren bakalan rame banget nih kalau sampe Zahra sama Ustadz Zidan beneran nikah. Siap-siap aja, Ra, kamu bakal jadi bahan perbincangan hangat, nih.” Dilla kegirangan membayangkannya.


“Ra, kamu nanti kalau ada tugas kuliah bisa dibantuin tuh sama Ustadz Zidan. Ustadz Zidan kan guru Biologi dan sebentar lagi lulus S2 Biologi, kan? Mirip-miriplah sama jurusan kamu, Ra. Enak banget, deh.”


“Sebenernya aku bingung bukan karena mikirin kuliah doang, tapi laki-laki yang aku suka bukan Ustadz Zidan. Aku suka sama Harsa.”


Kami mendadak menghentikan langkah dan menatap Zahra dengan tatapan terkejut. Sejak tadi kami sama sekali tidak menyadari bahwa Zahra menyukai Harsa sehingga pasti dirinya bimbang ketika dilamar oleh pria lain.


Suasana seketika menjadi tegang, tak ada lagi canda tawa seperti tadi. Zahra mulai serius dengan situasi yang ada di hadapannya. Ia harus mengambil keputusan yang sangat berat. Kami paham Zahra pasti belum bisa ikhlas sepenuhnya bahwa laki-laki yang ia sukai bertahun-tahun justru menyukai teman dekatnya sendiri yaitu aku. Ya Allah pedih sekali rasanya mengingat fakta bahwa akulah penyebab rasa sedih Zahra.


“Ra, maaf,” ucapku pelan.


Zahra tersenyum getir. “Udah, Sel. Nggak usah minta maaf. Aku tahu ini bukan salah kamu. Mungkin emang begitu takdir-Nya. Mungkin aku emang bukan jodoh Harsa, tapi sampai sekarang aku belum bisa lupain dia. Aku benci Harsa.” Zahra menutup wajah dengan jilbabnya. Ia tergugu, terlihat dari bahunya yang sedikit terguncang.


Aku tak bisa lagi menahan air mata. Aku memeluk Zahra, berusaha menenangkan dan memberinya sandaran. Aku merasa sangat bersalah meski aku tahu ini bukan salahku. Tetap saja aku terlibat dalam patah hati Zahra. Teman-teman yang lain hanya menatap penuh iba, tak tahu harus bagaimana.


“Ra, maaf,” ucapku sekali lagi.


...***...


Sambil menunggu waktu Zuhur, aku keluar kamar dan duduk lesehan di koridor yang menghadap ke taman. Menatap birunya langit dan hijaunya pepohonan. Aku membawa Al-Qur’an saku, berniat membacanya meski sedikit. Aku membuka lembarannya dan tertuju pada Surat An-Nisa ayat 59. Selepas kubaca arabnya, aku biasakan untuk membaca terjemahannya pula, agar bisa memahami maksud dari ayat yang aku baca.


“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnah-Nya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S An-Nisa: 59).


Ponsel dalam pounch yang sengaja kubawa bergetar. Aku membukanya sesudah menyelesaikan ayat yang sedang kubaca. Terlihat pada layar, ada panggilan masuk dari Andra. Aku menggeser panel hijau untuk menerima panggilannya.


“Assalamualaikum, Sel. Aku ganggu, nggak?”


“Wa’allaikumsam. Ganggu, Dra. Ada perlu apa?”


Terdengar ketawa Andra dari seberang sana. “Ya udah kalo ganggu nanti aja ngomongnya, deh.”

__ADS_1


“Kalo udah tau ganggu ya cepetan ngomong bukan malah nanti. Nanti juga sama aja menyita waktu gue.”


“Ampun dah galak bener. Lagi dapet, ya.”


Aku mengembuskan napas kasar. “Gue itung sampe tiga, kagak ngomong gue tutup!”


“Eh iya, ampun. Ini mau ngomong, kok. Btw, kamu kok pake ‘lo-gue’lagi sih? Kan kata Ibu nggak boleh, Sel. Tapi, ya udah deh. Gini, Sel, aku mau minta tolong ambilin obat aku yang ketinggalan di gedung kesehatan dong. Bukan ketinggalan, sih. Lebih tepatnya kemarin setelah berobat aku titip di situ dulu karena mau ke lapangan buat ngelatih anak-anak.”


“Ngapain berobat? Lagi sakit?”


Andra tertawa kecil. “Nggak sakit, kok. Cuma kemarin temen-temen nyuruh buat berobat karena aku sempet keliyengan beberapa hari ini. Padahal mah paling karena kurang tidur aja.”


“Kalau udah tau sakit, kenapa malah ngelatih basket? Saking nggak mau kalau nggak ketemu adek kelas yang cantik-cantik?” cecarku.


“Jangan su’udzan napa, Sel. Aku kan udah nggak playboy kayak dulu,” sanggahnya sambil tertawa. “Lapangan basket kan di depan gedung kesehatan, Sel. Dari pada aku jauh-jauh ke situ cuma buat berobat doang ya mending sekalian ngelatih dong.”


“Kalau masih bisa ngelatih basket, kenapa sekarang minta diambilin? Ambil aja sendiri,” jawabku ketus karena aku memang malas untuk pergi ke sana.


“Itu kan kemarin, sekarang aku malah makin pening kepalanya. Lagi lemes banget. Eh, tapi, nasi udah dibawain sama anak kamar yang abis dari rumah makan. Nggak diambilin juga nggak papa, Sel. Nanti sore anak kamar ada yang mau ngelatih basket jadi nanti sekalian minta dibawain aja obatnya.”


Kalau aku simak baik-baik, suara Andra memang terdengar parau. Suaranya benar-benar seperti orang yang sedang sakit. Aku jadi merasa kasihan, mau tidak mau aku harus mengambilkan obatnya.


“Ya udah nanti abis makan siang aku anterin ke asrama kamu. Nanti kalo aku udah mau sampe, aku kabarin dan pokoknya kamu harus udah ada di parkiran asrama kamu. Jangan sampe aku udah ke asrama cowok sendirian dan kamu masih belum turun.”


“Baik, Nyonya. Terimakasih banyak kalau begitu.”


Aku menutup panggilan setelah mengucapkan salam.


...***...


Sepulang makan siang di rumah makan, aku melipir ke parkiran asrama untuk mengambil sepedaku dan bergegas ke gedung kesehatan untuk mengambil obat Andra. Untung saja di sepanjang jalan di dalam pesantren ini dipenuhi oleh pepohonan sehingga keluyuran di siang hari begini tidak terlalu membuatku kepanasan.


Terkadang, aku sendiri bertanya-tanya apakah yang aku lakukan ini baik untukku? Apakah berteman dengan Andra akan membuatku sakit berkali-kali lipat? Entah mengapa aku selalu merasa gelisah, aku gelisah jika suatu saat Andra akan membuatku kecewa lagi. Aku khawatir pertemanan kami hanya akan menyakiti aku. Memang benar perintah-Nya untuk berharap hanya kepada Allah SWT. Sangat tidak dibenarkan untuk berharap kepada manusia. Jangan pernah berharap kepada manusia jika tidak ingin terluka.


Aku sudah menghubungi Andra melalui ponsel saat aku hampir sampai parkiran asramanya. Kini ia sedang berjalan menghampiriku. Ia memakai kaos hitam polos dengan bawahan sarung. Lalu, aku menyerahkan bingkisan obat miliknya.


“Makasih, Sel. Oh iya, kamu waktu itu nanyain ulang tahun Ibu, kan? Ibu ulang tahun seminggu lagi.”


“Berarti tanggal 13 bulan ini?”


Andra mengangguk.


“Ya udah nanti tolong kirimin alamat rumah kamu ya."


“Siap.” Andra diam dan terlihat murung.  Tak lama, ia berkata, “Sel, kamu inget temen aku yang pernah bawa kamu ke ruangan gelap waktu di pantai?”


Aku terkejut Andra membahas hal itu lagi. Hal yang tidak pernah ingin kuingat. “Cowok yang pernah nampar aku?” tanyaku sinis sambil menurunkan standar sepeda.


“Iya, tapi aku nggak bermaksud bahas itu, Sel. Aku cuma mau kasih kabar kalau dia meninggal kemarin. Dia kecelakaan motor.”


Aku membelalakan mata. “Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun,” ucapku terkejut mendengar berita ini. “Semoga almarhum diterima semua amal ibadahnya.”


“Aamiin. Atas nama dia, aku minta maaf ya, Sel. Maaf atas kesalahan dia ke kamu waktu itu. Maaf juga dulu aku deketin kamu karena permintaan balas dendam dia. Ma—.”


“Cukup.” Aku memotong kalimatnya. “Udah, nggak perlu bahas hal yang udah terjadi. Aku mau balik. Jangan lupa diminum obatnya.” Aku melajukan sepeda untuk kembali ke asramaku, meninggalkan Andra yang masih menatapku dengan wajah merasa bersalah.

__ADS_1


Sedih memang mengingat niat awal pertemanan Andra padaku sekotor itu. Aku sendiri tidak pernah menyangka akan berteman dengan orang sejahat Andra. Ya, Andra jahat. Sayangnya, aku tidak bisa melepas pertemanan ini begitu saja.


...***...


__ADS_2