
Cuaca siang ini tidak terlalu panas. Anak kamar kami berencana untuk makan-makan bersama di kantin. Kumpul bersama teman sebelum hari perpulangan memang selalu menjadi pilihan bagi beberapa santri. Alhamdulillah, aku bersyukur berkali-kali lipat karena aku dan Zahra bisa kembali seperti sebelumnya. Jika aku dan Zahra saling diam seperti musuhan, mungkin teman sekamar yang lain pun menjadi serba salah. Keharmonisan di kamar ini pun menjadi menghilang.
Kami berangkat menuju kantin beberapa menit lagi sambil menunggu Zahra, Nisa dan Iffah. Zahra sedang berbicara dengan Harsa agak jauh dari koridor tengah, Nisa masih menemani santri kelas satu yang menangis karena berkelahi, sedangkan Iffah ada keperluan dengan adiknya. Aku agak cemas dengan Zahra, kira-kira apa yang Harsa ingin bicarakan kepada Zahra. Dia meminta berbicara dengan Zahra tepat setelah dia yang sepertinya mendengar obrolan kami saat di tangga tadi.
“Assalamualaikum.” Iffah masuk kamar sambil mengucap salam. Lalu, kami menjawabnya serempak.
“Fah, Nisa sama Zahra masih belum kelar?” tanya Aninda dengan pandangan yang masih di depan buku novelnya.
“Kayaknya belum.” Iffah menengok ke jendela. “Eh, itu mereka udah jalan ke sini.”
Najwa yang juga sedari tadi asik membaca novelnya langsung bangkit. “Ya udah. Yuk siap-siap. Nanti takut keburu Zuhur."
“Yuk!”
“Naila, jangan lupa bawa kameranya, ya,” ucap Aidha mengingatkan sambil memakai jilbab bergo dan cardigannya.
Selesai bersiap, kami bersepuluh jalan beriringan menuju kantin melalui jalanan terdekat. Kami bercanda ria sepanjang jalan hingga menimbulkan kebisingan, sehingga cepat-cepat mengecilkan suara ketika salah satu sudah menyadarinya. Sekitar lima menit, kami tiba di kantin.
“Ayok duduk di situ aja.” Zahra menunjuk salah satu meja yang kosong di bagian belakang.
“Oke. Ini yang pesen makanan siapa?” tanya Aidha.
“Ayok. Kita aja, Dha,” usulku. “Sama siapa lagi yang mau ikut?”
Dilla dan Syilla mengajukan diri. Lalu, kami berempat menghampiri stand bapak-bapak penjual bakso, empat orang lainnya membeli minuman dan makanan-makanan kecil, sedangkan dua orang lainnya menunggu di meja yang akan kami tempati.
“Kantinnya rame sama kelas dua belas ini mah,” kataku kepada Aidha di sela-sela menunggu bakso siap dihidangkan.
“Iya namanya juga besok pulang, Sel.” Aidha yang tadinya sibuk melihat orang berlalu lalang, tiba-tiba menghadap ke arahku. “Ngomong-ngomong, Sel. Aku bersyukur deh kamu sama Zahra udah baikan lagi. Anak kamar nggak sanggup deh kalau liat kalian kayak semalem. Kaget banget kita semua, kalian kan temen deket banget. Bisa dibilang Zahra tuh paling deket sama kamu kalau di kamar.”
Kalau dipikir-pikir, Zahra dan aku memang sering sekali bersama. Lebih tepatnya, Zahra yang selalu mengajariku materi pelajaran yang tidak kupahami. Dia juga selalu mengingatkan dan mengajakku belajar jika aku terlalu lama membaca novel atau menonton drama. Mengobrol dengan Zahra memang sangat seru karena pengetahuan yang dimilikinya luas, membuatku tahu lebih banyak hal yang sebelumnya tidak kuketahui. Sepertinya aku akan sangat sedih jika kehilangan teman seperti dia.
__ADS_1
“Bener banget, Dha. Nggak kebayang, deh. Apalagi udah mau lulus gini. Masa kesan terakhirnya begitu. Eh, itu baksonya udah jadi.” Aku menunjuk gerobak bakso.
Setelah semua makanan dan anak kamar sudah lengkap, kami mulai menyantapnya. Pedas dan panasnya kuah bakso membuat mata menjadi melek dan wajah menjadi memerah.
“GUYS, KITA NYANYI BARENG-BARENG, YA.” Seorang santri rijal yang sedang nongkrong di kantin bersama teman-temannya berteriak sambil berdiri.
Lagu ‘Cinta Terbaik’ versi DJ Danank disetel kencang oleh salah satu dari mereka. Suasana kantin menjadi heboh oleh nyanyian dan sorakan dari kelas dua belas yang kebetulan sedang berkumpul di kantin, beberapa orang merekam momen ini.
“AKU CINTA PADAMUUUU.”
“Tu! Wa! Ga! Pat!”
“MESKI ... KU BUKAN YANG PERTAMAAA. DI HATIMU TAPI ... CINTAKU TERBAIK UNTUKMMUU. MESKI ... .”
“KU BUKAN BINTANG DI LANGIT. TAPI CINTAKU YANG TERBAIKK.”
...***...
Pukul 11.00 WIB. Santri di kantin mulai bubar dan kembali ke asrama masing-masing karena sebentar lagi waktu zuhur akan tiba. Tidak lupa membereskan meja dan membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Ketua angkatan beserta jajarannya berada di kantin yang ikut mengawasi angkatan kelas dua belas ini.
“Kenapa, Sel?"
Dengan tanganku yang masih menggandeng tangannya. “Ceritain. Tadi pagi Harsa beneran denger omongan kita waktu di tangga?”
Zahra memasang wajah pura-pura berpikir. Jari telunjuknya mengetuk-etuk dagunya. “Ya gitu, deh. Aku malu banget, Sel kalo dibahas lagi. Tapi, ada senengnya juga, sih.”
“Apa? Ceritainlah. Kita sambil jalan pelan-pelan aja.”
“Hmmm. Tapi, Harsa juga bilang sesuatu tentang Andra. Kamu mau denger?”
“Tentang Andra?”
__ADS_1
“Iya, tapi kamu jangan kecewa atau sedih, ya. Jadi begini ... .”
Flashback
“Maaf,” ucap Harsa ketika ia sudah berdiri berhadapan dengan Zahra.
“Langsung ke intinya aja.”
“Oh, oke. Ane tahu kalau ane nggak sopan dan bersalah karena sedikit denger obrolan kalian barusan. Tapi, ane nggak bisa buat pura-pura nggak tahu karena nantinya ane bakal merasa jadi pengecut yang pura-pura bodoh.”
Zahra memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap Harsa. Badannya gemetar dan berkeringat dingin. Ingin rasanya kabur dari sini, tapi keinginan itu ia tahan karena dirinya juga ingin tahu apa yang akan Harsa sampaikan. Semua harus tuntas sekarang, begitu pikirnya.
“Makasih udah suka sama ane dan maaf nggak bisa bales perasaan ente. Ane cuma bisa kasih pesen sedikit buat ente ya, Ra.” Harsa menatap Zahra sekilas kemudian melanjutkan, “Ente itu punya kemampuan dan kecerdasan yang luar biasa. Ane khawatir kalau perasaan suka ente ke ane bisa bikin ente lalai dalam belajar atau hal lain. Jadi, tolong jangan sia-siakan apa yang udah ente bangun dari dulu.”
“Terus gimana sama ente yang naksir sama temen ane? Ente suka sama Seli, kan? Berarti ente juga bisa lalai, kan?”timpal Zahra dengan sedikit membentak. Seperti ada sesuatu di dadanya yang sejak lama ia tahan akhirnya keluar.
“Betul. Makanya di sini ane mau ngingetin itu. Jangan sampai ente ngerasain patah hati kayak ane. Kita sebentar lagi kuliah, ente udah berjuang dan berhasil mempertahankan prestasi di sekolah internasional kayak gini, nggak gampang. Jadi, jangan sampe itu mengganggu karir ente untuk ke depannya. Suka boleh tapi jangan berlebihan apalagi sampai membawa keburukan. Kita udah keterima di kampus dan fakultas yang sama, semoga sampai nanti kita masih bisa berteman baik, ya. Ane nggak mau kehilangan temen kayak ente.”
Zahra menelan ludahnya yang terasa pahit karena mendengar perkataan Harsa. Dirinya seperti tidak ada harapan untuk dibalas perasaannya. Harsa tetap tidak bisa membuka hatinya.“Tar dulu. Tadi ente bilang, ente patah hati? Karena Seli?”
Harsa mengangguk. “Dia nggak sama sekali suka sama ane. Dia suka sama Andra.”
Zahra tersenyum miring kemudian tertawa kecil. Ia sudah tidak seemosi tadi. Ia mulai memahami apa maksud perkataan Harsa padanya. “Dan, ente masih suka sama Seli walaupun dia suka sama cowok lain, ya. Nasib kita sama.”
“Maka dari itu, Ra. Ane nggak mau ente ngerasain apa yang ane rasain. Di luaran sana banyak yang mengagumi ente. Ente mau kan kita tetep berteman baik?”
Zahra mendengus. “Udahlah. Jangan bahas itu. Sekarang ane mau nanya, ente udah tau Seli suka sama Andra, apa Andra suka sama Seli juga?”
“Setau ane Andra juga begitu, tapi ada perempuan di masa lalu Andra yang bikin dia nggak bisa suka sama Seli sepenuhnya.”
“Maksudnya?”
__ADS_1
“Andra belum bisa lupain perempuan itu sepenuhnya.”
...***...