
..."Menyangkalnya bukan perihal menyembunyikan kebenaran.
...
...Namun, aku lebih untuk menghindari pertengkaran."
...
..._Selina Mufida_
...
...***...
Seluruh santri bersiap untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan salat jum'at berjama'ah. Di pesantrenku ini kaum wanita juga diperintahkan untuk melaksanakan salat jum'at agar para wanita pun dapat mendengarkan khutbah jum'at yang disampaikan oleh syekh di masjid. Selain itu, memang tidak ada dalil khusus yang melarang muslimah untuk menjalankannya.
Nabi Muhammad SAW dalam Hadits Riwayat Muslim bersabda, "Shalat Jumat wajib bagi setiap muslim kecuali empat golongan; hamba sahaya, perempuan, anak kecil, dan orang sakit."
Masyarakat di beberapa negara yang mayoritas muslim seperti Timur Tengah, beberapa masjidnya memang menyediakan fasilitas ruangan khusus untuk wanita yang ingin menunaikan shalat Jumat. Contohnya; Masjid Nabawi, Masjid Al-Azhar dan Masjidil Haram.
Imam al-Nawasi dalam al-Majmu' Syahr al-Muhadzdzab menyebut muslimah yang difasilitasi dalam menunaikan shalat Jumat dan menjalankannya, maka shalatnya dipandang sah sebagaimana shalat kaum lelaki. Mereka tidak perlu mengulang shalat Dhuhur.
"Toilet rame banget, ya, Dha?" Aku berpapasan dengan Aidha di koridor dari arah toilet.
"Buanget, Sel. Udah sana cepetan."
"Tapi tungguin aku lho ke masjidnya, Dha."
"Iya, bawel." Aidha masih sibuk merapihkan jilbabnya sambil berjalan menuju kelas.
Bagaimana toilet tidak mengantri panjang, hampir setiap santri nisa yang berwudu pasti sambil mencuci muka dengan sabun pencuci muka masing-masing. Karena bagi kami ini akan membuat kami segar saat ke masjid nanti, berbeda dengan santri rijal yang baginya berwudu saja sudah cukup, tetapi tetap saja masih banyak santri rijal atau pun nisa yang tertidur saat khutbah jum'at.
__ADS_1
Akhirnya aku selesai berwudu dan segara kembali ke kelas. Saat di koridor, aku tidak sengaja melihat Vira yang keluar dari kelasnya. Aku menjadi teringat dengan perkataan Andra beberapa hari lalu.
Aku berbohong padanya hari itu. Aku berbohong kalau aku tidak menyukainya. Bagaimana mungkin aku jujur padanya bahwa aku menyukainya, walau rasa sukaku untuk saat ini hanya sebatas rasa suka dan bukan rasa cinta, itu tetap saja memalukan untuk diketahui oleh orangnya. Apalagi mengingat bahwa dia sekarang berpacaran dengan Vira, mana mungkin aku bilang kalau aku menyukai Andra. Bisa-bisa terjadi perang antara aku dan Vira.
Namun, yang aku bingungkan, apa maksud kalimat Andra sebelum dia pergi. Perkataan Itu yang masih terus berkeliling di otakku sampai saat ini.
"Yah, kamu nggak suka sama aku, ya? Padahal aku seneng banget kalau kamu suka sama aku. Awalnya besok aku mau bilang ke Ibu soal ini."
Perkataan Andra masih terus membuatku penasaran. Kenapa dia mau bilang ke Umi Devi soal ini?
"Hai, Vir." Aku menyapa Vira ketika dia lewat di depanku.
Vira menoleh sambil tersenyum ramah dan menepuk bahuku. Sepertinya sifat Vira kepadaku sudah kembali seperti dulu.
...***
...
Andra menyusuri koridor untuk mencari keberadaan ibunya di lantai 1 asrama MTs rijal dengan Vira yang berada di sampingnya.
"Oke." Vira langsung mengikuti Andra dengan sedikit gugup.
"Assalamuallaikum, Bu," sapanya sambil mencium tangan Ibu Devi diikuti Vira.
"Wa'allaikumsalam. Ini siapa, Ndra? Cantik banget."
"Saya Vira, Bu." Vira tersenyum canggung.
"Iya, Bu. Ini Vira, temen Andra. Dia adiknya David, Bu."
Di depan ibu kamu, aku temen kamu doang, ya, Dra, batin Vira.
__ADS_1
Ibu terlihat terkejut. "Adik David?"
Andra mengangguk meng-iya-kan.
Andra menyadari Ibunya yang melihat-lihat ke sekitar setelah itu.
Ibu celingukan gitu, kayaknya Ibu kira Seli bakal ikut. Tapi, aku juga nggak mungkin bahas Seli sekarang. Aku nggak mau Vira sakit hati lagi, pikir Andra.
"Ibu sampe sini jam berapa, Bu?" tanya Andra.
"Tadi sebelum salat jum'at. Ayok langsung dimakan, Ibu sebelum ke sini udah makan." Ibu Devi menyiapkan makanan untuk Andra dan Vira.
"Fatih kenapa belum dateng, Bu? Biasanya paling cepet kalau Ibu dateng."
Andra sebenarnya tidak mau orang tuanya sering menjenguk, bahkan sekarang ia telah kelas 12. Tidak mungkin orang tua masih sering menjenguk. Alasan Ibu Devi sering ke sini karena Fatih-adik Andra yang masuk pesantren tahun ini di kelas 7, ia belum terbiasa dengan makanan pesantren sehingga masih sering ingin ibunya datang untuk membawakan makanan.
"Assalamuallaikum, Bu." Fatih datang dengan tas ransel dipunggungnya dan sepatu yang ia cangking di tangan kirinya.
"Tumben lama, Tih."
"Biasalah, Bang. Keluar masjidnya ngantri banget kalau abis jum'atan gini."
"Siapa, Bang?" Fatih menunjuk Vira dengan dagunya.
"Ini temen Abang. Kamu panggil dia Kak Vira, ya."
Ibu Devi menyadari sedari tadi Vira belum menyentuh makanannya. "Eh, kok belum dimakan, neng Vira? Ayok cobain masakan Ibu bikin ketagihan lho."
Vira hanya bisa tersenyum sejak tadi. Ia canggung dengan keluarga Andra. Padahal ia yang merengek meminta ikut dengan Andra. Sebenarnya saat Vira mendukung Seli untuk ikut juga hari itu hanya di depan Seli. Setelah Seli pergi, ia meminta Andra tidak perlu memaksa Seli.
Andra sendiri bingung dengan sikap Vira. Ia selalu mengeluh cemburu dengan Seli, tetapi Vira seperti mendukung Andra dengan Seli setiap di hadapan Seli. Andra belum bisa memahami sifat dan karakter dari Vira ini.
__ADS_1
...***
...