
Jalanan dengan pepohonan berbaris di tepinya ramai dilalui santri kelas dua belas. Kami jalan berbaris menuju gedung yang memiliki auditorium di lantai tertingginya. Gedung yang bersebelahan dengan gerbang utama pesantren. Suara ketukan yang berasal dari langkah kaki beralas sepatu mendominasi. Layaknya putri, para santri nisa menggunakan sepatu selop maupun wedges dengan warna-warna menarik. Ada yang mengenakan pakaian adat Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Sunda, Betawi dan berbagai pakaian dari daerah lainnya yang menjadi ciri khas. Berwarna-warni hingga seolah hewan dan tumbuhan ikut menyambut kami.
Awalnya acara anniversary ini akan diadakan pada malam hari supaya lebih dapat feel-nya. Namun, proposal pengajuan kegiatan ditolak oleh Dewan Guru dengan alasan dikhawatirkan akan mendatangkan mudharat. Maka, kami memilih untuk menyelenggarakan ini pada pagi hari. Ketua angkatan beserta rekan-rekannya mengatur barisan agar tetap kondusif hingga memasuki auditorium.
Pintu lift terbuka. Aku beserta beberapa temanku tiba di depan auditorium. Menatap betapa indahnya dekorasi yang dilakukan oleh tim sejak dua hari lalu. Dekorasi yang menampilkan keragaman adat-adat di Indonesia. Spanduk besar bertuliskan ‘Happy Anniversary’ terpampang di atas pintu utama dengan lampu kerlap-kerlip menghiasinya.
“Keren banget dekorasinya,” puji Syilla setelah duduk di kursinya.
“Iyalah. Tim dekornya totalitas banget, kan?” Dilla selaku tim dekor menjawab pujian Syilla.
Bungong jeumpa, bungong jeumpa
Meugah di Aceh
Bungong teuleube, teuleube
Indah lagoina ...
Lagu daerah Aceh yang berjudul ‘Bungong Jeumpa’ menggema di auditorium, memberikan suasana bahagia. Kami yang sudah menduduki kursi berwarna merah ini menoleh ke arah pintu, menyaksikan kaum Adam masuk melalui pintu utama. Banyak dari mereka menggunakan blangkon sebagai penutup kepala, baju batik atau safari dan macam-macam adat lainnya.
Pembawa acara formal berdiri, membuka acara. Dilanjut sambutan-sambutan oleh Dewan Guru beserta staf dan laporan ketua pelaksana. Tidak lupa menyanyikan lagu Indonesia Raya, seluruhnya berdiri.
“Atur acara selanjutnya, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan Sari Tilawah. Kepada Harsa Al-Hafidz dan Az-Zahra Maulida, disilahkan.” Zafran dan Maryam selaku pembawa acara mempersilahkan. Harsa dan Zahra yang duduk di belakang kursi pembawa acara, berdiri, membacakan beberapa ayat dari Surah Al-Baqarah.
“Keren banget mereka, bajunya janjian gitu,” ucap Nisa yang duduk paling pojok.
“Pada couple ih. Aku nggak couple sama siapa-siapa nih.” Syilla memjawab.
Iffah menarik tisu di atas meja ke arahnya. “Nggak usah mikirin pasangan baju, tunggu aja pasangan halal.” Ia menepuk-nepuk wajahnya yang mulai keringetan sambil bercermin.
__ADS_1
Aidha menepuk bahuku. Memintaku menoleh ke kursi barisan santri rijal. Nampak Andra duduk di pinggir dan sebaris denganku, ia menggunakan pakaian yang sepasang dengan yang aku gunakan. Dirinya terlihat sangat keren memakai pakaian itu.
Acara sudah diambil alih oleh pembawa acara non-formal. Layaknya komedian, mereka membuat kami tertawa terbahak-bahak oleh ocehan dan tingkah laku mereka. Tari tradisional berupa-rupa, tahun ini aku memilih tidak mengikuti penampilan apa pun, berniat menjadi penonton saja. Penampilan grup band mampu membuat seisi auditorium ikut bernyanyi sambil mengangkat balon tepuknya masing-masing. Tak lama dari itu, Aku dan Aidha melipir ke toilet di pertengahan acara. Kami memilih melewati tangga samping menuju toilet lantai 4, karena koridor menuju toilet terdekat sedang digunakan oleh teman-teman yang akan tampil.
“Sepi banget di sini.” Aidha menoleh ke sana kemari karena sepertinya hanya ada kami berdua. “Eh, Sel, itu Harsa, kan? Ngapain dia di situ? Harusnya kan di deket panggung.”
Aku mengikuti padangan Aidha yang mengarah ke ujung koridor di sebelah kiri sebelum toilet. “Nggak tau, deh. Udah yuk, aku kebelet, nih.” Aku menarik tangan Aidha untuk bergegas ke arah toilet.
Keluar dari toilet dan bersiap naik tangga, aku sempatkan menoleh ke tempat Harsa tadi berdiri. Aku juga penasaran sedang apa dia di sana seorang diri. Namun, ternyata dia sudah tidak ada di sana. “Dha, tadi beneran Harsa bukan, sih?”
Aidha tetap berjalan kemudian menoleh ke arahku dengan tatapan heran. “Harsalah. Maksud kamu bukan Harsa gimana?” Ia terdiam sejenak, seperti mengingat sesuatu. “Apa tadi itu makhluk halus, ya?”
Suasana tiba-tiba menjadi canggung, aku ikut merasakan Aidha yang mulai was-was, menoleh ke sana kemari sambil terus berjalan di koridor yang sepi dan lumayan gelap ini. Aku menelan ludah cepat-cepat. Berusaha bersikap santai. “Nggak kok, bisa aja Harsa emang udah pergi tadi.”
“Kamu nyariin saya?”
“Aidha, boleh saya minta tolong?”
Aidha mengiyakan.
“Tolong balik ke auditorium duluan, saya mau ngomong sama Seli. Afwan, ya.”
Aku melongo dengan apa yang baru saja aku dengar dari mulut Harsa. Bisa-bisanya Harsa berkata begitu, membuatku takut saja. “Mau ngapain ente? Jangan macem-macem, mau saya tinju?”
“Emang ente pikir saya mau ngapain? Mau--”
“Cukup, cukup. Kalian ngobrol aja, aku pergi duluan deh. Awas ya Harsa kalo ente berani macem-macem ke Seli, abis hidup ente.” Aidha menunjuk-nunjuk wajah Harsa dengan nada mengancam.
Baru saja aku ingin membuka mulut untuk melarang Aidha pergi, tiba-tiba Harsa menoleh ke arahku. Membuatku canggung. Karena sudah terlanjur begini, maka aku biarkan saja dan lagi pula aku ingin tahu apa yang akan dia katakan. “Mau ngomong apa?”
__ADS_1
“Maaf.” Jeda beberapa detik, Harsa melanjutkan kalimatnya. “Maaf saya tidak bisa menjadi Ali bin Abi Thalib yang mampu memendam perasaannya hingga setan pun tak tahu.”
Aku menatap ke arah Harsa sekilas kemudian terkekeh geli. “Maksudnya apa Harsa? Langsung aja, ente mau ngomong apa? Nggak usah pake prolog.” Aku masih sedikit terkekeh mengingat perkataan Harsa sebelumnya.
“Saya suka sama kamu. Udah itu aja.”
Aku terdiam. Berusaha mencerna ucapan Harsa. Apa aku salah dengar? Ada apa tiba-tiba Harsa begini kepadaku? Apa dia sedang bercanda? Aku tidak menjawab perkataannya, hanya menatap tembok. Membisu.
“Saya nggak pengen tau perasaan ente ke saya gimana, saya nggak perlu tau soal itu jadi ente nggak perlu jawab apa pun. Saya cuma pengen jujur ke ente karena kita nggak tau kapan waktu hidup kita akan berakhir. Selain itu, saya cape nyembuyiin semua ini, hehe. Semoga apa yang saya sampaikan hari ini tidak membawa mudharat untuk ente dan diri saya sendiri. Kalo ente mau dekat atau suka sama cowok lain, nggak perlu merasa nggak enak ke saya ya. Jodoh sudah diatur jadi saya nggak takut kehilangan jodoh. Lagi pula, saya nggak tau jodoh saya nanti siapa," tutur Harsa dengan tegas.
“Makasih udah suka sama saya.” Hanya itu yang mampu aku katakan kepadanya.
“Yuk balik ke sana. Bentar lagi penayangan video dan sesi pemotretan. Baju ente pasangan sama Andra, kata panitia harus foto bareng yang bajunya pasangan. Buat perwakilan tiap baju adat.” Harsa berjalan duluan lalu aku membuntutinya.
“Baju ente sama Zahra juga pasangan.”
“Seli, ayok kita foto. Biasalah, Ibu minta dikirimin foto kita.” Andra muncul di hadapan kami secara tiba-tiba.
Kenapa dia bisa tahu kalau aku lagi di sini? Pasti Aidha yang bilang. Tapi, Andra dengar ucapan Harsa tadi tidak, ya? Semoga dia belum datang saat Harsa berkata seperti itu.
“Seli ...,” panggil mereka bersamaan.
“Eeeh, i-iya. Ayok, foto di sana aja biar sekalian, bentar lagi sesi foto, kan?” Aku menoleh kepada mereka bergantian, lalu tanpa menunggu jawaban mereka, aku segera berjalan meninggalkan mereka.
***
Note:
Afwan: Maaf
__ADS_1