BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Berkunjung


__ADS_3

Teriknya matahari berhasil membuat keringatku mengucur hampir membasahi jilbab putihku. Beruntung aku segera tiba di kantin dan duduk di bagian belakang kantin. Menunggu Harsa yang mengantri untuk membelikanku makanan. Teringat bagaimana awal mula aku mengenal Harsa, yaitu saat mengantri di kantin. Dia dengan cuek bebeknya tidak mau menerima titipanku. Kini, justru dialah yang bersikeras untuk membelikanku makanan. Ya sudah, dengan senang hati kuterima setelah beberapa kali kutolak.


"Jangan lupa baca doa," perintahnya saat aku bangkit dari sandaran kursi. Bersiap untuk makan.


Sebelum ke sini, kami melewati masjid dan sudah masuk waktu zuhur sekitar satu setengah jam yang lalu sehingga kami bergegas belok ke masjid, mengambil air wudu dan melaksanakan salat.


Sepanjang perjalanan dari sekolah ke kantin tadi, tidak ada obrolan sama sekali antara aku dan Harsa. Kami lebih mirip seperti orang asing, Harsa berjalan beberapa langkah di depanku tanpa sekalipun menoleh. Cuek sekali dia. Jika tiba-tiba aku diculik orang, mungkin dia tidak akan menyadari dan terus berjalan. Seperti yang pernah kukatakan, aku belum memahami sifat Harsa kepadaku. Ya, satu detik cuek, detik berikutnya ramah dan baik hati.


"Sa, beneran mau ke sana?"


Lawan bicaraku hanya sibuk mengunyah makanan, entah dia mendengar ucapanku atau tidak. Dia tidak melihat ke arahku sama sekali.


Sebelum ke kantin tadi, Harsa mengajakku mengunjungi Andra. Bak sebuah keajaiban, malam itu Andra diberikan pilihan untuk keluar dari pesantren atau menjalani hukuman selama 40 hari. Pilihan ini tidak selalu diberikan kepada santri yang melanggar. Dari penjelasan Andra malam itu kepadaku, pihak pesantren memberikan pilihan seperti itu karena Andra sudah terbukti belum menjual, mengonsumsi, ataupun mempromosikan, sehingga belum terjadinya pelanggaran.


Biasanya, santri yang sudah berani memasukan rokok ke pesantren pasti sudah mencicipi walau cuma satu batang. Tetapi, tidak dengan Andra. Hasil tes medis yang dilakukan oleh dokter menunjukan ia terbukti tidak merokok dalam waktu dekat ini. Maka, saat sidang di  malam itu, Andra langsung memilih untuk menjalankan hukuman itu. Ia benar-benar tidak ingin keluar dari pesantren ini.


"Harsa, bukannya sekarang udah lewat 40 hari? Kenapa Andra belum selesai hukumannya?" tanyaku lagi, semoga mendapat jawaban.


Beberapa menit diam, akhirnya ia menjawab, "Yang saya tau, 40 hari itu nggak pasti. Itu cuma waktu minimal jadi bisa saja lebih dari itu. Karena banyak hal yang mempengaruhi durasi hukuman itu."


"Aku udah selesai makannya." Aku menyeruput es teh di hadapanku. Nikmatnya siang bolong begini minum yang dingin-dingin.


"Bawa tisu nggak?"


Tanganku merogoh saku baju untuk mengambil sebungkus tisu karena tidak membawa tas. "Bawa, nih." Aku menyerahkan pada Harsa.

__ADS_1


"Bukan buat saya. Itu kamu makan berlepotan. Jangan terlalu cepet kalo makan."


Aku tersenyum kaku dan segera menepuk-nepuk pelan sekitar mulutku dengan tisu. Malu sekali ditegur oleh Harsa tentang cara makanku yang agak urakan. Aku bukanlah wanita feminin yang makan dengan sangat hati-hati. Cara kerjaku cepat, jadi wajar jika cara makanku pun cepat. Begitulah kata orang dulu-dulu kalau tidak salah. Kecepatan kerja mempengaruhi kecepatan makan. Hehe.


Harsa sudah selesai makan sebelum aku, secepat-cepatnya cewek makan, biasanya akan tetap cowok yang selesai terlebih dahulu. Menurut salah satu artikel dari 'Kelas Cinta' yang pernah kubaca, penyebab pria makan lebih cepat dari wanita karena dua hal. Pertama, pria dapat melahap makanan lebih banyak dari pada wanita. Kedua, rahang pria lebih kuat dalam mengunyah makanan sehingga cepat melewati tenggorokan. Di situ juga dijelaskan bahwa makan dengan cepat, rentan dengan tersedak, dan beberapa kasus kematian terjadi karena tersedak makanan. Maka, sebaiknya kita hindari makan yang terlalu cepat.


...***...


Kami tiba di asrama  bagi santri Madrasah Aliyah rijal. Aku sebagai santri nisa boleh-boleh saja datang ke asrama rijal asal hanya di lantai satu. Begitu juga sebaliknya. Walaupun boleh, tetap jarang sekali santri ke asrama lawan jenis jika tidak ada hal penting, karena malu juga sebenarnya.


Harsa masuk ke ruang manajemen asrama untuk meminta izin bertemu Andra, sedangkan aku duduk di kursi panjang yang berada di depan ruangan tersebut. Aku sudah kelas dua belas, nyaliku sudah ada untuk duduk sendirian di sini. Dulu harus membawa kawan jika pergi ke asrama yang didominasi kaum Adam seperti ini.


"Eh, Seli. Ngapain?" sapa salah satu kenalanku yang turun dari tangga. Ia berasal dari singapura. Logat melayunya masih terasa walau sedikit. Ia menjadi santri di sini sejak kelas tujuh, lebih dulu dariku.


"Ini ada urusan. Lu sendiri mau ke lapangan?" tanyaku karena ia memakai pakaian olahraga dengan membawa stik hoki dan sepatu.


"Yoi. Duluan, ya."


Aku melambaikan tangan tanda mengiyakan pamitannya.


Kemudian, aku menoleh dan ternyata Harsa sudah berdiri di belakangku. "Dateng ke asrama cowok disapa banyak cowok, ya," ucapnya dengan nada menyindir.


"Iya dong. Cemburu?" Sekalian saja kujawab begitu.


"Iyalah. Udah, Ayok!" ajaknya.

__ADS_1


Aku berdiri dan berjalan membuntuti Harsa menuju kamar 109. Di situlah Andra tinggal selama sekitar 40 hari yang lalu. Aku kurang tahu secara spesifik bagaimana sistem hukuman bagi Andra ini. Yang kutahu dari Andra setelah sidang malam itu, hukuman baginya yaitu ia dihapus dari segala kegiatan di sini. Ia diberhentikan dari kegiatan ekstrakurikulernya, organisasinya, bahkan ujian pun ia melaksanakannya di kantor manajemen asrama ini. Istilahnya kasarnya, ia dianggap tidak ada di pesantren ini selama kurang lebih 40 hari.


Harsa mengetuk pintu kamar yang terletak di blok B itu sambil mengucap salam. Tidak lama setelahnya, Andra muncul dari balik pintu. Melihat aku yang berdiri di belakang Harsa, ia sedikit terkejut. Sekarang kami mengobrol di teras depan kamar dengan duduk melingkar.


Jika hanya didengar sekilas, mungkin hukuman Andra ini terlihat mudah dan tidak sebanding dengan pelanggarannya. Tetapi, setelah aku mendengar penjelasan dari Andra, tidak seringan itu. Hukuman Andra itu melaksanakan piket kebersihan lingkungan setiap sore, menghafal surah-surah Al-Qur'an yang lumayan banyak, tidak boleh mengikuti kegiatan apa pun, hanya boleh pergi ke sekolah, rumah makan dan laundry, itu juga dibatasi. Dianggap tidak ada itu tidak menyenangkan lho.


Andra sengaja diperintah untuk tinggal di kamar Ustadz Zidan ini, agar ada yang mengawasi kegiatan Andra. Andra sudah menitipkan ponselnya kepada teman sekamar karena tidak akan bisa bermain gadget jika sekamar dengan Ustadz. Biasanya, ustadz muda seperti Ustadz Zidan bisa diajak kompromi soal ponsel, tetapi resikonya besar karena Andra sedang menjalankan hukuman.


"Bukannya ini udah lewat 40 hari, Dra? Kenapa belum kelar?" tanyaku karena penasaran.


"Karena aku belum selesai hafalannya, Sel. Udah sering minta saran ke Harsa nih yang jago hafalan, tapi tetep aja emang dasarnya lemot." Andra dan Harsa tertawa.


"Kira-kira lu bisa keluar kapan, Bro?" Sekarang Harsa yang bertanya.


"Kemarin udah setor hafalan lagi, jadi tinggal nunggu keputusannya. Kira-kira dua hari lagi. Semoga aja lebih cepet."


"Berarti bisa ikut acara anniversary angkatan dong?" Aku dan Harsa menatap Andra bersamaan untuk menunggu jawabannya.


Tiga hari lagi akan diadakan acara anniversary angkatan di auditorium. Acara seperti ini sudah rutin diadakan setiap tahun pada tanggal yang sama. Momennya sangat langka. Agendanya berbeda-beda. Tahun ini, rencananya akan bertema adat dari berbagai daerah di seluruh indonesia. Aku berharap Andra bisa ikut bergabung dalam momen ini. Jika dia memang tidak bisa pun tidak apa-apa karena dia tidak dikeluarkan dari pesantren saja aku sudah bersyukur. Setidaknya jika Allah mengizinkan, dia bisa merasakan momen kelulusan nanti dan bisa mendapat ijazah dari pesantren ini.


Andra tampak berpikir sejenak. "Insyaallah. Doain, ya."


"Aamiin. Pasti."


...***...

__ADS_1


__ADS_2