
Aku berjalan menyusui koridor asrama. Memerintahkan seluruh santri kelas 4 untuk melaksanakan salat subuh berjama'ah di koridor tengah. Wajah yang masih tidak karuan karena aku hanya cuci muka, gosok gigi dan berwudu tanpa mandi. Subuh ini aku telat bangun sehingga aku tidak sempat mandi sebelum mengawal salat subuh ini. Aku akan mandi setelah sarapan nanti.
Aku melipat mukena saat para santri bersiap untuk melaksanakan belajar subuh.
"Vira," panggilku saat terkejut melihat kehadiran Vira di sebelahku.
"Hai, Sel."
Aku merapikan kerudung yang kukenakan. "Kenapa, Vir? Kok subuh-subuh gini kamu bisa ada di asrama aku?"
Wajah Vira berubah menjadi datar. Aku merasa Vira sedang kesal.
"Vir? Kenapa?" tanyaku lagi.
Vira menghela napas. "Sel, aku tau kamu lebih dulu kenal sama Andra. Aku tau kalian berdua emang deket. Tapi, tolong jangan buat aku jadi bahan gibahan temen-temen."
Aku mengernyitkan dahi. "Maksud kamu gimana, Vir?"
"Andra itu sekarang pacar aku, Sel. Apa salahnya kalo aku ngobrol atau pun ketemu sama Andra?" Vira mulai meninggikan nada bicaranya.
Aku semakin tidak mengerti apa yang Vira bicarakan. "Vir, kalo mau bahas pacaran tolong jangan di depan anak-anak, aku nggak mau mereka denger. Kita ngobrol di sana aja." Aku berdiri dan menunjuk tiang dekat tangga tengah.
Aku dan Vira berjalan menuju tiang itu. "Coba Vir, jelasin. Aku beneran nggak paham," kataku saat kami sudah saling berhadapan.
Vira tersenyum miring. "Semua angkatan nyindir aku yang pacaran sama Andra. Mereka anggep aku PHO di antara kalian. Semua orang anggep aku bawa pengaruh buruk buat Andra. Please, Sel. Kamu bilang apa sama angkatan sampe mereka gituin aku?" Suara Vira mulai bergetar, sepertinya ia menahan tangisnya.
__ADS_1
Aku terdiam berusaha mencerna perkataan Vira. Namun, tiba-tiba Vira mencengkeram bahuku.
"Sakit, Vira," kataku seraya menyingkirkan tangannya dari bahuku.
Vira benar-benar berubah. Vira seperti orang yang ingin menyerang musuhnya. Apa dia menganggap aku sebagai musuhnya?
Aku berusaha menjelaskan. "Vira, aku nggak pernah bilang apa pun ke temen-temen. Jadi, please, jangan nuduh aku." Aku langsung pergi meninggalkan Vira.
...***
...
Sejak Andra dan Vira yang katanya berpacaran, aku sudah jarang sekali mengobrol atau pun bertemu Andra. Aku hanya sesekali melihatnya. Aku juga rasanya sudah tidak peduli lagi dengannya. Memang aku menyukai Andra, tetapi aku tidak mencintainya. Ralat, aku sebenarnya memang tidak tahu mana cinta dan mana yang bisa dikatakan hanya rasa suka.
Aku keluar rumah makan setelah selesai mencuci kedua tanganku. Aku melihat Andra berdiri tak jauhh dari tempatku berdiri.
Dia pasti lagi nunggu Vira, pikirku.
Tanpa menyapa, langsung saja aku menyusul teman-temanku yang sudah berjalan agak menjauh. Tiba-tiba Andra memanggilku. Terpaksa aku berhenti dan menoleh kepadanya.
"Hai, Ndra. Cari Vira, ya?" tanyaku basa-basi.
Andra menggeleng. "Cari kamu, Sel."
"Sel, kita duluan ya," teriak Dilla kepadaku mewakili teman-teman yang lain.
__ADS_1
"Iya."
"Sel, besok Ibu mau dateng. Kamu ikut temuin Ibu ya," ucap Andra seraya tersenyum seperti biasa.
Baru saja aku ingin menolak. Tiba-tiba Vira datang menghampiri kami.
"Iya, Sel. Kamu besok temenin aku sama Andra, ya."
Ha? Mau ngapain aku temenin mereka. Please, udah males banget kebawa sama mereka.
"Sel, biasanya ibu selalu nanyain kamu kalo ke sini. Jadi, kamu ikut ya." Andra masih kekeh untuk mengajakku.
Emangnya Vira nggak cemburu apa kalau Andra ajak aku? Tapi justru aku yang risih karena pasti nanti bahas Andra dan Vira. Haduh. Nggak deh.
"Maaf, Dra, Vir. Aku nggak ikut deh. Besok aku mau ke toko sama Aidha, hehe." Terpaksa aku berbohong.
"Ayoklah, Sel."
"Seli, cepetan. Bantu saya jaga kantor dong. Saya jaga sendirian dari tadi." Entah dari mana asalnya, tiba-tiba Harsa menghampiriku dan berkata seperti itu.
"Ha? Sejak kapan saya jaga kantor sejadwal sama ente?"
"Sejak hari ini."
...***...
__ADS_1