
...Engkau tak akan mampu menyenangkan semua orang....
...Karena itu, cukup bagimu perbaiki hubunganmu dengan Allah,...
...dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia....
..._Imam Syafi'i_...
Cowok rapi itu bagus, tapi kalau terlalu rapi bahkan nyaris selalu ingin segalanya sempurna alias perfeksionis sepertinya itu tidak baik. Menurutku, dia patut dilabeli sebagai cowok perfeksionis, walaupun sepertinya karakter perfeksionis yang dia miliki hanya tingkat ringan sehingga tidak terlalu berlebihan. Hanya saja, karakter dia yang seperti itu sedikit menyulitkanku.
Bukan satu kali dia membuatku berdecak heran. Berhubung jadwal piketku di kantor asrama bersama dengannya, terpaksa aku harus berurusan dengan cowok macam dia. Siapa lagi kalau bukan Harsa, anak bungsu dari ustadz Yahya dan ustadzah Fathimah.
Pernah suatu hari kunci untuk lemari di ruangan tahfidz di lantai 5 hilang, lemari itu berisi segala peralatan tahfidz kelas 6 termasuk uang kas, sehingga memang perlu dikunci. Ketua santri kelas 6 langsung melaporkan kepada petugas kantor asrama dan kebetulan yang bertugas kantor hari itu adalah aku dan Harsa. Mereka bilang bahwa seluruh angkatan mereka sudah mencari tetapi tidak ketemu sehingga memang harus ganti kunci.
__ADS_1
Saat itu, abi satpam yang dimintai tolong oleh Harsa untuk membuka gembok tersebut dan aku menyusul mereka semua ke lantai 5 sambil membawa gembok dan kunci yang aku ambil dari laci di kantor setelah Harsa menyuruhku. Kantor pun sedang ada guru sehingga ada yang menjaga. Namun, setelah aku sampai di lantai 5, Harsa menyuruhku turun lagi untuk mengambilkan gembok yang pakai kode sandi karena gembok yang aku bawa adalah gembok konvensional yang sudah pernah dipakai sehingga ada sedikit karat. Harsa khawatir suatu saat kunci tersebut akan hilang lagi atau rusak karena makin berkarat, maka ia meminta gembok baru yang pakai kode supaya bisa dicatat jika lupa.
Saran Harsa memang benar, tetapi belum tentu juga kunci tersebut bakal hilang lagi. Selain itu, di kantor hanya tersisa gembok konvensional ini dan tidak mungkin harus ke toko karena saat itu sudah hampir maghrib dan aku sudah sampai di lantai 5, untuk turunnya saja sekitar 5 menit dan belum ke tokonya juga tenaga untuk ke sananya. Dia pikir aku sekuat apa naik turun tangga seperti ini saja lumayan melelahkan lho. Kami pun memiliki banyak pekerjaan di kantor menjelang maghrib tidak mungkin harus ke toko.
Usai berdebat denganku, Harsa memutuskan tetap pergi ke toko untuk membeli gembok pakai sandi. Ia bergegas turun menuju lantai 1 dengan setengah berlari, aku yang menyaksikannya hanya bisa geleng-geleng kepala. Memang cowok perfeksionis dia. Untung saja dia tidak terlambat sampai asrama karena aku yang akan kerepotan berjaga kantor sendiri.
"Pasti ngebut ya, tadi? Lagian sih ribet banget." Aku menyerocos saat dia sampai saat itu.
Sejak mengetahui sifatnya itu, aku tidak ingin berurusan dengan dia lagi jika tidak mendesak. Aku sangat malas meladeni sikapnya yang serba ingin sempurna. Sangat berbeda dengan kepribadianku yang serba ingin simple.
Aku baru tersadar dari lamunanku tentang sifat Harsa saat ia memanggilku. "Eh, iya bisa." Aku menyerahkan pulpen tersebut karena aku yang berada depan komputer.
"Makasih." Harsa menulis sesuatu di kertas yang sepertinya catatan hafalannya.
__ADS_1
Hari ini aku bertugas jaga lagi bersama Harsa di kantor. Terkadang ada beberapa guru atau pengurus yang di kantor juga sehingga aku dan Harsa tidak hanya berdua, ada juga anak dari guru yang masih balita sehingga kantor selalu ramai.
"Udah hafal sampai juz berapa, Sel?" tanyanya tiba-tiba.
Aku terkejut diberi pertanyaan seperti itu oleh seorang Harsa. Harsa adalah salah satu penghafal Qur'an di angkatanku, malu kan kalau aku ternyata baru hafal sedikit.
Aku nyengir kuda. "Baru dikit, Sa. Udah pasti kalah jauh sama ente."
Harsa tersenyum. "Nanti juga terus bertambah. Insyaallah."
Aku mengangguk.
Harsa memang termasuk kategori calon suami idaman karena dia memang ahli dalam banyak hal juga ramah dengan semua orang. Sehingga memang banyak santri nisa dari adik kelas, angkatan, bahkan kakak kelas yang naksir dengannya. Selain penghafal Qur'an dan juara angkatan, ia juga seorang atlet basket. Bagaimana kaum hawa tidak mengidamkannya. Fisik pun ia bisa terbilang mendekati sempurna dengan kulit putih, hidung mancung, hanya kurang tinggi sedikit tubuhnya.
__ADS_1
Jujur saja aku juga salut denganya. Dia juga menjadi teman yang baik, tetapi aku hampir tidak kuat dengan sifat perfeksionisnya yang menggangguku. Meski begitu, yang terpenting perbaiki hubungan kita dengan Allah, tidak masalah bagi Harsa jika aku tidak menyukai sifatnya, seperti perkataan Imam Syafi'i bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang.