
Belajar untuk persiapan menghadapi ujian membuatku lelah. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur lalu memejamkan mata sejenak.
"Seli, Seli." Nisa memasuki kamar sambil memanggil-manggil namaku.
"Kenapa, Nis?" Aku masih memejamkan mata.
"Adik kamu berantem sama anak kelas 6, Sel."
Aku duduk di tepi kasur. "Berantem lagi?"
"Iya. Udah cepetan ke kamar Faaz. Kasian aku liatnya." Nisa menarik tanganku agar aku segera berdiri.
Ini sudah kesekian kalinya Faaz berkelahi dengan kakak kelasnya atau pun teman seangkatannya. Ada saja masalah yang dibuat olehnya. Aku sebagai kakaknya sudah terbiasa berurusan dengan para guru karena Faaz yang terkenal suka berkelahi.
Untung saja aku memang bertugas di asrama Faaz sehingga aku tidak perlu jauh-jauh jika Faaz ada masalah atau membutuhkan sesuatu.
Sesampainya aku di kamar Faaz, aku melihat Harsa tengah mengobati sikut Faaz yang berdarah dan dikerubungi oleh teman-teman Faaz. Aku segera menghampirinya usai mengucap salam.
"Makasih, Harsa. Sini saya aja yang lanjutin obatin."
"Ini udah selesai, kok." Harsa merapikan kotak obat yang sejak tadi dipakainya.
Aku duduk di sebelah Faaz seraya mengelus rambutnya. "Adik Kakak satu-satunya ini ngapain lagi sampe berdarah gini sikutnya?"
Faaz tidak menjawab, hanya sesegukan yang masih terdengar usai menangis tadi.
"Faaz itu rebutan lapangan sama tim sepak bola kelas 6. Sebenernya ada jadwal untuk pemakaian lapangan dan hari ini memang jadwal kelas 4 untuk pakai lapangan," tutur Harsa.
"Terus?"
"Tim sepak bola kelas 6 pengen pakai lapangan hari ini karena sebentar lagi mereka tanding. Faaz dan teman-temannya juga lagi pengen main jadi Faaz sebagai kapten nggak ngasih izin, berantem deh mereka. Faaz dikeroyok gitu."
"Astagfirullah, Faaz. Terus ini berantemnya gimana sampe berdarah gini?"
"Itu karena Faaz sama anak kelas 6 itu dorong-dorongan dan Faaz jatoh sampe sikutnya kena aspal yang di pinggir lapangan."
Aku berusaha memberikan saran untuk Faaz agar kejadian ini tidak terjadi lagi. " Faaz, sebenernya kamu nggak salah karena emang hari ini jadwal tim kamu main, tapi kakak-kakak kelas 6 kan mau tanding, jadi kamu ngalah dulu ya. Usahain mulai sekarang hindarin berantem-beranteman, itu nggak baik buat kamu."
Faaz hanya mengangguk sambil meneguk air dari botol minumnya.
"Oh iya, makasih, Sa."
__ADS_1
"Santai. Tadi saya juga nggak sengaja lewat deket lapangan."
Faaz kini sudah tidur. Aku, Harsa dan teman-teman Faaz keluar dari kamar Faaz agar dia bisa beristirahat. Sebenarnya luka seperti ini sudah biasa untuk Faaz, tetapi yang membuat dia menangis sepertinya dia terkejut karena anak kelas 6 yang main keroyokan, mungkin dia merasa ter-bully.
"Sel, foto kamu yang di balkon itu udah saya kasih ke umi saya," kata Harsa saat kami sampai di tangga menuju lantai 1.
"Ustadzah Fathimah?"
Yang kutahu Harsa adalah anak dari salah satu ustadz dan ustadzah di sini. Ustadzah Fathimah mengajar pelajaran Aqidah Akhlak dan menjadi wali kelasku di kelas 12 ini dan aku saja baru tahu beberapa minggu lalu bahwa Harsa anak dari wali kelasku.
Harsa mengangguk.
Aku memelototinya. "Kenapa ente kasih, sih? Kan malu."
"Pengen kasih aja."
Aku berjalan mendahuluinya. "Ya nggak papa sih, toh cuma foto gituan doang. Nggak akan ngurangin nilai juga."
"Iya. Kan saya kasih ke Umi karena saya sambil nanya gimana sifat atau karakter kamu."
Aku langsung menoleh kepadanya dan dia tidak merespon, hanya berjalan menuju kamarnya di blok A.
...***
...
Selesai belajar malam ini, aku langsung mengambil ponsel dan membuka aplikasi whatsapp. Siapa tau ada pesan masuk walau sepertinya jarang ada.
Setelah kunyalakan data seluler, masuk pesan dari Harsa.
Harsa
Butuh kisi-kisi Aqidah ga?
^^^Butuh
^^^
Insyaallah bsk sya kasih.
Ga bsa difoto krna Umi cma nandain di buku sya
__ADS_1
Kbnyakan klo di foto
^^^Oke, gpp. Mo ngasih dmn?^^^
Kursi koridor tengah gmn?
^^^Oke. Sebelum brngkt skolah ya.
^^^
^^^ Nnti ente chat sya aja.
^^^
Sip
^^^Makasih^^^
Sama²
Aku langsung memberi tahu teman-temanku. "Guys, ada orang dalem mau ngasih kisi-kisi aqidah nih."
"Siapa?"
"Si Harsa ya anak Ustadzah Fathimah?" tebak Iffah.
"Yoi."
"Wess, mantab lah. Ustadzahnya nggak pernah kasih kisi-kisi kalau ujian, kecuali ada yang berani minta," sahut Syilla.
"Bener. Sedangkan kita nggak berani minta lagi karena pasti nanti di tes hafal materi atau nggak."
"Ya udah. Mana, Sel?"
"Baru besok mau dikasih buku catetan dia yang udah ditandain. Katanya ribet kalau difoto kan lumayan banyak."
"Oke, Sel. Nanti langsung kabarin kita ya."
Setiap menjelang ujian memang masanya untuk ke sana kemari mencari kisi-kisi, jelas karena tidak semua guru mau memberi kisi-kisi. Bagi kami kisi-kisi sangat penting karena materi dan mata pelajaran yang sangat banyak membuat kami kesulitan harus menghafal bagian mana. Itu lah santri, tidak hanya mempelajari pelajaran umum saja tetapi juga mendalami ilmu agama.
...***...
__ADS_1