BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Apakah Dia?


__ADS_3

5 tahun kemudian.


Tubuh lelah ini kusandarkan pada sandaran kursi. Memejamkan mata sejenak. Pekerjaan ini cukup membuatku lelah. Namun, aku sangat bersyukur atas segala pertolongan, kemudahan, dan kenikmatan yang telah Allah berikan kepadaku. Kebaikan dari-Nya tak pernah bisa terhitung.


Aku yang pernah gagal masuk perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN. Ternyata, setelah aku lebih giat belajar untuk UTBK yang tentunya diiringi do’a, Alhamdulillah atas izin Allah aku bisa keterima di program studi Psikologi melalui jalur SBMPTN.


Meskipun saat di pesantren aku dari jurusan IPA, tetapi aku bertekad untuk masuk Psikologi, program studi yang biasanya banyak diminati oleh jurusan IPS. Aku keterima di kampus di mana Zahra dan Harsa keterima kedokteran melalui jalur SNMPTN. Waktu terus berjalan, masa-masa kuliahku telah berakhir. Kini aku bekerja sebagai Human Resource Departement (HRD) di sebuah perusahaan.


Mataku menatap pemandangan di luar jendela ruang kerjaku. Melihat langit yang begitu cerah, memberi warna setiap langkah para pencari nafkah dan berkah. Ingatan membawaku ke hari di mana Andra menyatakan perasaannya padaku, yang berhasil membuatku senang campur sedih dalam satu waktu. Sebenarnya aku tidak menyangka Andra akan mengatakannya. Aku mengira dia tidak akan pernah bisa mengungkapkan itu karena di dalam hatinya masih memiliki perasaan dengan perempuan yang menjadi cinta pertamanya. Yang tidak lain adalah Adelia Putri.


Ponselku bergetar. Panggilan masuk dari seseorang yang keberadaannya sangat jauh di sana.  Dia adalah Zafar Candra Manaf. Laki-laki yang biasa dipanggil Andra itu masih berada di Ankara, Turki. Sejak dua bulan yang lalu, kabar darinya selalu kutunggu.


“Wa’allaikumsalam.” Aku menjawab salam Andra melalui sambungan telepon.


“Kamu nggak lagi sibuk kan?” Ini adalah pertanyaan yang selalu ia ajukan setiap awal percakapan.


Ada senyuman kecil di bibirku, lalu menjawab, “Nggak, kok.”


“Aku punya kabar baik buat kamu. Bukan buat kamu doang sih tapi buat kita berdua. Mau denger?”


“Boleh. Apa tuh?”


“Aku pulang ke indo pekan depan,” ucap Andra sedikit berbisik.


Mataku melebar. “Serius?”


“Iya dong serius. Masa sama calon istri, aku bohong.”


Diam-diam ada senyuman mengembang di bibirku. Lalu, aku mengucap syukur dalam hati. Mungkin ini akan menjadi pertemuan pertama sejak lima tahun tidak bertemu. Kami tidak pernah bertemu bukan karena Andra tidak pernah pulang, tetapi karena keinginan kami sendiri.

__ADS_1


Ungkapan perasaan Andra padaku saat hari perpulangan pesantren tidak membuat kami terikat status, tidak membuat kami saling menunggu satu sama lain, tidak membuat kami membatasi diri ketika dekat dengan yang lain. Saat itu kami berdua sepakat untuk berteman seperti biasa, selayaknya tidak pernah terjadi apa pun.


Kenapa begitu? Karena kami tahu bahwa Allah telah menuliskan jodoh bagi hamba-Nya. Sekuat apa pun kami mempertahankan hubungan, jika Allah berkata kami tidak berjodoh maka kami tidak akan pernah bersatu. Sebaliknya, sejauh apa pun jarak, jika berjodoh, maka akan tetap dipertemukan.


“Alhamdulillah, Dra. Seneng dengernya. Semoga kamu selamat sampai tujuan ya. Aku tunggu kamu di sini.”


“Aamiin. Kerjaan kamu gimana sekarang? Inget ya, walaupun sibuk, kamu nggak boleh telat makan.”


“Siap. Ini udah janjian sama temen mau makan siang di luar.”


“Oh? Ya udah, kalau gitu teleponnya tutup dulu. Biar kamu makan. Nanti kita lanjut ngobrolnya.”


“Oke. Assalamualaikum, Zafar Candra Manaf.”


Andra tertawa kecil lalu menjawab, “Wa’allaikumsalam, Selina Mufida.”


Saat kuliah dulu, aku pernah saling menyukai dengan laki-laki yang satu organisasi denganku tetapi kami tidak memiliki pemikiran yang sama. Kami sering kali berbeda pendapat dan tidak cocok. Setelah itu, aku pernah menyukai kating di fakultasku, ternyata dia juga menyukaiku, tetapi dia baru menyatakannya saat dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Dan kini kakak tingkat fakultasku itu sudah menikah. Jadi, aku terima saat Andra berniat untuk mengkhitbahku.


...*** ...


Sepulang kerja, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah Zahra sekaligus menginap di sana karena suami Zahra masih di pesantren. Maklum, suaminya adalah seorang Ustadz di pesantren kami dulu. Mereka membeli rumah dekat rumah orang tua Ustadz Zidan, kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumah sakit tempat Zahra sekarang melaksanakan koas atau Pendidikan Profesi Dokter. Kami masih sering bertemu karena kami tinggal di kota yang sama.


“Sel, kapan terakhir kamu komunikasi sama Harsa? tanya Zahra seraya duduk di sampingku dan menikmati camilan di tangannya.


Aku menatap Zahra dengan tatapan menyelidik. “Ada apa nih? Kok tiba-tiba bahas Harsa?” Aku mengambil remote dan mengganti siaran televisi. “Jangan bahas Harsa lagi, Ra. Kan aku nggak ada hubungan apa pun sama dia. Jangankan punya hubungan, aku ngobrol sama dia aja tuh udah nggak pernah dari lima tahun yang lalu.”


“Iya-iya.” Zahra berdeham. “Jadi gini, tadi tuh aku baca grup temen-temen aku waktu di kuliahan dulu. Mereka bahas Harsa yang katanya mau mengkhitbah cewek.”


Aku mengambil camilan di tangan Zahra. “Emangnya kenapa kalo Harsa mau khitbah cewek? Justru bagus dong. Kan sekarang kita udah masuk usia-usia untuk menikah. Dia bakal nyusul kamu berarti.”

__ADS_1


“Iya sih, Alhamdulillah. Cuma aku penasaran aja ceweknya itu siapa. Kan Harsa itu nggak pernah naksir cewek mana pun selama kuliah. Sampe sekarang udah masuk masa-masa koas aja dia masih jomblo loh.”


“Hemm. Terus?”


“Kamu tau sendirilah ya, Harsa itu terkenal banget di kampus karena dia ketua BEM FK, bahkan banyak cewek yang naksir dia dari jaman di pesantren sampe sekarang. Banyak yang bilang sih, alasan Harsa nolak cewek yang naksir dia karena Harsa belum bisa move on dari perempuan yang dia suka waktu di pesantren. Cewek yang dia suka waktu di pesantren kan kamu. Pertanyaannya, siapa perempuan yang bakal dia khitbah gitu loh. Apa itu kamu, Sel?”


“Jangan ngaco, Ra,” ucapku datar.


Mana mungkin peremupuan itu aku. Walaupun saat itu kami satu kampus, tetapi kami tidak sedekat dulu. Lima tahun yang lalu Harsa sudah memutuskan untuk menghilangkan perasaannya padaku. Apalagi dia menjabat sebagai ketua BEM Fakultas Kedokteran, untuk menyapanya saja aku minder. Aku yakin perempuan yang berhasil mengambil hati Harsa itu pasti cantik, baik, berprestasi dan yang pasti tulus. Hingga seseorang seperti Harsa berniat mengkhitbahnya.


Zahra masih tidak menyerah. “Aku yakin deh kalau Harsa itu masih suka sama kamu sampe sekarang, Sel.”


Aku menghela napas pelan, lalu menatap Zahra serius. “Jangan bahas Harsa lagi ya, Ra. Harsa suka sama aku itu udah lima tahun yang lalu. Nggak etis kalau sampe sekarang aku masih menganggap dia punya perasaan kayak dulu. Apalagi sekarang dia mau mengkhitbah seseorang. Aku juga udah berkomitmen sama Andra dua bulan lalu, Ra.”


Zahra memelukku erat. “Maaf, Sel. Aku cuma takut kamu kecewa lagi sama Andra. Aku pengen kamu dapet laki-laki yang tepat, yang bisa bikin kamu bahagia. Mulai sekarang, apa pun keputusan kamu, bakal aku dukung. Selagi itu nggak bikin kamu sedih.”


“Makasih, Zahra.”


Andra dan Adelia memang sama-sama menempuh pendidikan di Turki dan masuk di universitas yang sama. Bagi mahasiswa asing, tomer atau kursus bahasa Turki menjadi syarat wajib untuk mengikuti perkuliahan di sana. Program tomer ini dijalankan selama satu tahun. Selama satu tahun itu, Andra dan Adelia sering bersama jika aku lihat dari instastory Adelia.


Aku tidak tahu apa benar mereka hanya berteman seperti yang Andra katakan. Namun, tetap saja mereka pernah saling menyukai. Itulah yang Zahra khawatirkan, ia takut aku akan kecewa lagi kepada Andra.


Saat lima tahun yang lalu, aku dan Andra sudah sepakat untuk saling melupakan perasaan kami dan melanjutkan kehidupan masing-masing. Hingga dua bulan yang lalu, Andra menghubungiku dan memberitahu bahwa ia tidak pernah memiliki hubungan dengan Adelia selama di Turki. Mereka hanya berteman biasa.


Pembicaraan Andra dan Adelia melalui telepon yang kudengar di hari perpulangan pesantren memang benar kalau mereka janjian untuk bertemu. Mereka bertemu untuk mempersiapkan pendaftaran kuliah mereka saja. Itu yang Andra katakan kepadaku. Bahkan kini Adelia sudah memiliki tunangan. Akhirnya aku memutuskan untuk menerima niat baik Andra yang ingin mengkhitbahku sepulangnya dia dari Turki. Tetapi, apakah benar dia adalah jodoh yang Allah takdirkan kepadaku?


...*** ...


...Jangan lupa Vote yaa💜...

__ADS_1


__ADS_2