
Shalawat sudah bersenandung merdu dari speaker asrama. Pertanda sudah waktunya pergi ke rumah makan untuk melaksanakan sahur. Ramai suara anak-anak yang berbondong-bondong menuju rumah makan dengan mata sedikit terpejam karena mengantuk.
“Temen-temen, ayok sahur. Bangun! Bangun!” Aku meneriaki teman-teman setelah melihat ke jendela dan memeriksa jam.
Usai seluruh anak kamar bangun, aku dan Aidha keluar sambil membawa tempat makan masing-masing dan menuju rumah makan angkatan kami yang agak jauh dari asrama MI. Setibanya di sana, rupanya antrian cukup panjang karena kami bangun agak terlambat hingga di sini cukup ramai.
“Gimana, Dha? Mau ngambil makan di sini apa mau coba ke rumah makan MI?
“Kita coba ke rumah makan MI dulu kali, ya.”
“Oke.” Aku dan Aidha berbalik dan menuju rumah makan MI.
Sesampainya di sana, ternyata antrian di sini sama panjangnya dengan di rumah makan kami. Aku dan Aidha mencoba pergi ke bagian depan untuk membantu bapak-bapak yang bertugas membagikan nasi beserta lauk secara prasmanan ini.
Sistem rumah makan dulu, setiap meja sudah tersedia 6 ompreng yang berisi nasi beserta lauk agar tidak perlu mengantri, tetapi karena ditemukan banyaknya santri yang serakah dan pilih-pilih maka dibuatlah sistem baru dengan prasmanan seperti ini. Petugas rumah makan yang nanti akan membagikan makanannya.
Aidha yang melihat bahwa yang sedang membagikan nasi adalah Harsa, ia menghampirinya. “Harsa, sini kita bantuin.” Aidha bermaksud ikut menyidukan nasi ke ompreng anak-anak yang mengantri.
Melihat kami yang membawa tempat makan kosong, Harsa bertanya, “Kalian udah sahur?”
“Belum,” jawab Aidha.
“Ya udah, kalian ambil aja nasi sama lauk yang di belakang situ.” Harsa menunjuk ke belakang.
“Beneran?” tanyaku.
“Iya, ambil aja. Terserah mau makan di sini apa dibawa ke kamar,” jawab Harsa di tengah kesibukannya.
“Betul, tuh. Udah kalian makan aja,” sahut Zafran yang berada di antara Harsa dan Yusuf. Rupanya mereka bertiga yang sedang membantu membagikan makanan.
“Baik banget, deh. Ya udah, makasih, ya.” Aidha menarik tanganku lalu mengambil nasi dan lauk yang dimaksud Harsa tadi.
“Dha, kita aja belum bantuin mereka, masa main ikut ngambil nasinya.”
Aidha terkekeh sambil tetap mengambil lauk, begitu juga aku. “Tadi kan Harsa yang nyuruh sendiri. Ya udah, kalau gitu abis ini kita bantuin mereka.”
“Eh, Dha. Itu tiap pagi kayaknya Harsa, Yusuf sama Zafran emang sering bantuin bapak-bapak yang tugas di sini ya?”
“Kayaknya iya deh. Rajin banget ya mereka. Subhanallah.”
__ADS_1
Selesai aku dan Aidha mengambil makanan secukupnya, kami kembali ke depan.
“Perlu dibantuin apa nih?” tanya Aidha kepada mereka.
“Kalian berdua makan aja. Ini juga udah nggak terlalu rame,” sahut Zafran yang sedang menuangkan sayur ke ompreng santri yang berada di depannya.
“Emangnya kalian udah makan sahur semua?” tanyaku pada mereka.
Harsa langsung menjawab, “Udah, kok. Kalian makan aja yang kenyang, ini juga bentar lagi selesai."
Aku dan Aidha mengucapkan terimakasih pada mereka lalu mencari meja yang kosong. Sengaja kami tidak makan di kamar karena aku dan Aidha ingin membantu mereka mengatur anak-anak.
“Assalamualaikum,” ucap Ustadz Zidan yang tiba-tiba datang menghampiri kami yang sedang makan.
“Wa’allaikumsalam, Ustadz.”
“Maaf nih Seli dan Aidha, Ustadz ganggu kalian yang lagi makan.”
Aku dan Aidha kompak menjawab, “Nggak papa, Ustadz. Nggak ganggu, kok. Ada apa, Ustadz?”
“Ustadz mau nitip ini buat Zahra.” Ustadz Zidan menyerahkan bingkisan makanan. “Dan yang ini buat kalian berdua, ya.”
“Sama-sama. Makasih juga ya. Tadi Ustadz bingung mau nitip ke siapa. Alhamdulillah ketemu kalian di sini. Kalau gitu, Ustadz duluan ya. Assalamualaikum.”
“Wa’allaikumussalam.”
“Masyaallah, Sel. Beruntung banget deh Zahra kalau sampe beneran nikah sama Ustadz Zidan. Ustadz Zidan perhatian banget, kita aja sampe dikasih bingkisan juga karena dimintain tolong. Padahal aku juga ikhlas kok demi langgengnya Zahra dan Ustadz Zidan.”
Aku hanya terkekeh mendengarkan ocehan Aidha.
“Jadi pengen deh punya suami kayak Ustadz Zidan yang baik, ganteng, putih dan tinggi,” celoteh Aidha lagi.
“Zafran kan juga baik, putih dan ganteng, Dha. Walaupun nggak setinggi Ustadz Zidan.”
“Ih jangan bahas Zafran ah, Sel,” jawab Aidha sambil mengerucutkan bibir.
Aku tertawa puas melihat ekspresi wajah Aidha. Dari dulu Zafran memang digosipkan kalau ia suka kepada Aidha walaupun Aidha sendiri tidak pernah mendengar itu secara langsung dari Zafran. Yang ada mereka sering berdebat kalau bertemu.
***
__ADS_1
Teriknya matahari mampu menimbulkan rasa haus bagi yang tidak berpuasa apalagi yang berpuasa. Menahan rasa lapar dan haus memang sulit tetapi di situlah nilai ibadahnya. Di situlah bagaimana kita bisa menahan hawa nafsu kita. Sebab, hawa nafsu adalah musuh terbesar manusia.
Sudah hampir setengah perjalanan, tidak ada obrolan apa pun di antara aku dan Andra. Hanya ada keheningan walaupun kami berjalan beriringan. Kami baru saja pulang ijtima untuk mempersiapkan acara Khataman Qur’an santri MI yang akan diadakan satu pekan lagi di masjid. Ijtima atau rapat ini dihadiri oleh bagian takmir masjid dan pengurus asrama MI beserta mustami dari kelas 11. Namun, karena kebetulan alumni kelas dua belas masih di pesantren, maka perwakilan dari kami diminta untuk membina mereka.
Dari tahun-tahun sebelumnya, santri kelas dua belas selesai ujian dan dinyatakan lulus, langsung diadakan acara pelepasan dan boleh pulang selesai acara. Namun, di angkatanku kali ini berbeda. Meski begitu, sekarang kami tidak risau lagi karena Syekh baru saja mengeluarkan kebijakan bahwa alumni kelas dua belas ini boleh pulang sekitar lima hari lagi. Syekh juga berharap alumni kelas dua belas bisa datang lagi untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri di sini.
Pesantren ini selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin berlebaran di sini. Di salah satu masjid pesantren yang luasnya mampu menampung 150 ribu orang. Masjid ini dibangun di area seluas 15 hektare yang tingginya mencapai 73,125 meter hingga kubah. Luas masjidnya sendiri 6,25 hektare dan sisanya adalah halaman masjid.
Kembali ke aku dan Andra yang masih diam membisu. Seharusnya aku tidak menerima ajakan Andra untuk pulang bersama jika hanya ada kecanggungan seperti ini. Tadi pagi aku berangkat bersama Zahra karena kami perwakilan pengurus yang nisa, sedangkan Yusuf dan Zafran adalah perwakilan pengurus rijal. Tidak disangka Zahra mendadak dijemput oleh Ustadz Zidan karena ada urusan, mungkin tentang lamaran.
Aku tahu bahwa Andra seperti berat untuk memulai percakapan. Aku hafal gerak-geriknya ketika ia sedang bingung dan canggung. Menurutku sepertinya tidak ada hal yang perlu dicanggungkan karena memang tidak ada masalah apa pun di antara kami.
“Andra?” Akhirnya aku memberanikan diri membuka suara. Padahal seharusnya dia yang duluan bicara karena dia yang mengajakku pulang bareng.
Andra menoleh. “Iya, Sel. Kenapa?”
Aku tertawa mengejek. “Kok tanya kenapa? Harusnya aku dong yang nanya. Aku kira kamu ngajak pulang bareng karena ada hal yang mau dibicarain.”
Laki-laki di sampingku ini menggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Sebenernya aku emang pengen ngomong sih, Sel. Hehe.”
“Ya udah, apaan?”
“Adelia chat kamu?”
Aku menaikan kedua alis kemudian mengangguk.
Andra menghela napasnya. “Adelia ngomong ke kamu kalau dia mau balikan sama aku dan punya komitmen untuk nikah?”
Aku menggigit bibir dan mengangguk lagi.
“Terus kamu gimana?” tanya Andra.
“Ya aku suruh dia buat tanya langsung ke kamu aja.”
“Bukan. Maksud aku, gimana perasaan kamu setelah denger itu dari Adelia? Aku nggak mau kamu kecewa lagi. Kamu punya perasaan sama aku dari kita kelas sebelas, kan?”
Aku mematung dengan perkataan Andra kali ini. Benar-benar di luar dugaan.
“Kamu mau denger gimana perasaan aku sama kamu selama ini? Kalau kamu mau denger, aku bakal kasih tau sekarang,” ucap Andra pelan.
__ADS_1
***