BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Pulang


__ADS_3

Koper berisi beberapa pakaian dan segala kebutuhanku di rumah sudah berdiri rapih di depan kamar, siap untuk dibawa pulang. Aku sudah siap sejak tadi sedangkan Faaz entah kemana.


Tak lama kemudian, sosok yang sangat ingin kumarahi itu datang bersama Andra di sisi kirinya. Ia sibuk menjilati ice cream tanpa memikirkan aku yang sejak tadi menunggunya hingga hampir lumutan.


Aku berdiri. "Faaz, kemana aja? Kakak nunggu dari tadi lho. Kan buku izin kamu belum diambil di kantor."


Setiap masuk atau pun keluar pesantren, harus menggunakan buku izin sebagai catatan. Buku izin ini harus sudah diajukan ke ketua yayasan untuk ditandatangani sebelum kami pulang.


Faaz hanya nyengir kuda.


"Ya udah. Koper kamu mana, Faaz?"


"Ini baru mau diambil. Kalo gitu, Faaz ke atas dulu ya, Kak. Mau ambil koper di kamar." Faaz langsung berlari hingga tanganku yang ingin mencubitnya melayang di udara.


"Ngapain ketawa?" protesku pada Andra yang sejak tadi menertawaiku yang sedang memarahi Faaz.


"Harusnya kamu marahin aku, Sel. Soalnya tadi aku yang ngajak Faaz jajan dulu ke toko," ucap Andra yang kemudian diikuti ketawa renyahnya.


Aku tak menjawab. Tidak lama kemudian Faaz datang dengan menarik kopernya.


Usai mengambil buku izin Faaz di kantor menajemen asrama, kami bertiga berjalan menuju area parkir yang sangat jauh dari asrama dengan menarik koper masing-masing. Jaraknya jauh sekali, kami harus melewati gedung sekolah dan beberapa lapangan. Selama berjalan aku lebih banyak diam, hanya Faaz dan Andra yang terus mengobrol, aku pun tak menyimak apa yang mereka obrolkan.


"Assalamuallaikum," ucap Andra kepada orang tuanya kemudian aku dan Faaz mengikutinya salim kepada orang tua Andra.


"Wa'allaikumsalam, Seli kayaknya kamu capek banget, ya? Pucet gitu mukanya. Apa sakit?" Umi Devi menyentuh tangan dan dahiku, memeriksa apakah badanku panas.


Aku tersenyum kikuk. "Hehe... . Iya Umi tadi kayaknya kecapean." Aku jadi tidak enak, Umi Devi selalu baik kepadaku.


"Udah sarapan?"


"Udak kok, Umi."


"Ya udah. Andra, naikin kopernya ke bagasi, ya." Umi Devi dan ayah Andra langsung masuk ke dalam mobil.


"Iya, Bu. Seli, Faaz, naik gih."


Aku dan Faaz mengangguk.


***


Andra menaikan semua koper ke bagasi, tanpa sengaja ia melihat gantungan di resleting koper milik Seli. Gantungan yang benar-benar tidak asing baginya, gantungan berbentuk kepala hello kitty yang tidak lain adalah gantungan yang ia berikan pada Seli 2 tahun lalu.


"Ternyata masih kamu pake, Seli. Sebenernya mungkin lebih baik begini, lebih baik kamu nggak inget hari itu," gumamnya.


Andra terus mengajak ngobrol Faaz selama perjalanan, sebenarnya ia sangat ingin mengobrol dengan Seli seperti dulu tapi entah mengapa sikap Seli terlihat sangat berubah kepadanya. Tak seramah dulu, tak seceria dulu. Andra sendiri tidak tahu apa penyebab perubahan sikap Seli itu, apakah karena ia pernah berpacaran dengan Vira?


"Faaz, kakak kamu sekarang benci sama Kakak, ya?" bisik Andra kepada Faaz. Mumpung Seli sedang tidur.

__ADS_1


Faaz mengangkat bahu tanda tidak tahu. "Kenapa emang, Kak?"


"Nggak. Nggak papa, kok."


Seli terbangun. Ia menatap ke arah Andra yang tengah memperhatikannya, menyadari hal itu, Seli mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Hari ini Seli menggunakan hodie berwarna baby pink dengan jilbab yang berwarna sama, lalu dipadukan dengan rok berwarna coklat susu.


"Cantik banget pake warna itu, Sel."


Mendengar namanya disebut, Seli menoleh ke arah Andra, begitu juga Faaz yang berada di antara Seli dan Andra.


Andra yang tertangkap basah sedang memuji Seli langsung terlihat salah tingkah. "Kenapa? Kok pada nengok?" tanyanya ragu-ragu.


"Tadi Kak Andra bilang Kak Seli cantik, kan?" Faaz bertanya, sedangkan Seli langsung kembali menatap ke arah jalanan di luar mobil.


"Salah denger kamu."


Andra langsung beristigfar di dalam hatinya berkali-kali, menyesali dirinya yang menatap Seli dengan perasaan seperti itu. Andra mengingat bahwa ada ayat Al-Qur'an yang memerintahkan kaum laki-laki untuk menjaga pandangannya yaitu dalam Q. S An-nur ayat 30 yang artinya; "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara ***********, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."


***


Mobil berwarna putih yang dikendarai oleh ayah Andra akhirnya menepi di halaman rumahku setelah perjalanan beberapa jam.


Usai Andra dan orang tuanya mampir di rumahku, tidak lama kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang kira-kira dapat ditempuh dalam waktu setengah jam dari rumahku.


Di rumahku kini hanya ada aku, Faaz, Kak Wardah dan anaknya yang masih berusia 1 tahun. Orang tuaku akan pulang kalau kondisi nenekku sudah pulih. Mas Adam beserta istri dan anaknya tinggal agak jauh dari rumahku, sedangkan Kak Wardah, suami dan anaknya memang tinggal bersama kami sehingga rumahku tetap ramai biasanya.


Ddrrtttt!


Kuraih ponsel yang berada di nakas.


...Kamar kita💃


...


Syilla


Hey cwe² syantik, apakah udh pd sampe?


Aidha


Udah bund


Nisa


Blom


^^^Udah dongg

__ADS_1


^^^


Aninda


Belum, rumahku kan jauh sangad


Naila


Sama😌


Tiba-tiba telepon masuk dari Harsa. Ada apa, nih? Kenapa tiba-tiba nelpon? Dengan ragu-ragu kuangkat dan terdengar suaranya mengucapkan salam.


"Wa'allaikumsalam, kenapa, Sa?"


"Buku uji kompetensi ente, ada?"


"Ada. Kenapa emangnya?"


"Saya nemu buku uji kompetensi sampulnya warna angkatan kita, ada namanya Selina Mufida kelas 12-MIA-B-01."


Aku langsung membuka koper untuk memeriksa. Seingatku, aku sudah memasukan buku tersebut ke dalam koper. Ternyata nihil.


Aku menghela napas. "Iya, Sa. Buku saya nggak kebawa, di sini nggak ada. Dan sekarang saya udah di rumah. Ente nemu di mana?"


"Di kantor asrama. Kebetulan saya emang masih di pondok."


Kutepuk dahiku. "Astagfirullah. Baru inget saya emang ke kantor waktu nganter Faaz ngambil buku izin sambil bawa buku itu."


"Terus gimana ini? Selama liburan kan harus nulis banyak ayat yang bakal dihafal semester depan."


"Sebenernya bisa sih ditulis waktu udah balik ke sana. Tapi, takutnya kalo udah sibuk malah belum selesai waktu mau tes. Apa ganti buku, ya? Ah, tapi takut suruh nulis dari semester awal lagi."


"Rumah ente di mana? Insyaallah kalo bisa saya anter."


"Saya di Bogor. Bukannya ente di semarang?"


"Iya."


"Ih jauh banget kalo ke sini. Udah nggak usah repot-repot, Sa. Nanti aja saya tulis waktu udah balik pondok. Nitip di ente dulu, ya. Hehe, nanti saya ambil kalo udah balik. Btw, makasih."


"Sama-sama. Kalo gitu, udah dulu, ya. Assalamuallaikum."


"Wa'allaikumsalam."


Aku menutup telepon dan membayangkan buku milikku itu dibuka oleh Harsa. Ah, malu sekali. Tulisan arabku belum sebagus dia, hafalan dan bacaanku nilainya juga sedang-sedang saja. Belum lagi dibagian belakang bukuku sering ada curhatan-curhatan alay-ku. Oh tidak.


Astagfirullah. Seharusnya aku bersyukur ternyata buku itu masih ketemu. Lagi pula, kenapa aku harus malu sama Harsa kalau hafalanku belum bagus? Harusnya aku malu sama Allah karena aku lebih banyak menghafal lagu-lagu ketimbang ayat Al-Qur'an. Astagfirullah.

__ADS_1


***


__ADS_2