
2 tahun yang lalu
...“Kita tidak bisa menilai seseorang berdasarkan cover. Ya, cover memang menjadi aspek utama yang dilihat oleh orang lain. Tapi, tak ada yang tahu apa yang terdapat di dalamnya.”...
..._Selina Mufida_...
“Selina Mufida,” panggil seorang pria dengan name-tag panitia menggantung di lehernya.
Mendengar namaku dipanggil, aku beranjak dari kursiku dan mendekat ke arah panitia tadi. Dia adalah santri rijal kelas 12 karena dari yang aku tahu dari kakak-kakakku yang alumni dari pesantren ini bahwa setiap penerimaan santri baru, kelas dua belas lah yang menjadi panitianya.
“Ayok, Dek. Kamu sekarang ikut Kakak ke ruangan tahfidz ya,” katanya padaku dengan nada ramah.
“Bismillah, Sel,” ucap Abiku menyemangati yang diikuti anggukan oleh Umi sambil tersenyum.
Aku mengangguk pasrah. Aku benar-benar tidak ada persiapan sama sekali untuk masuk pesantren ini. Itu semua salahku karena aku sebenarnya tidak ingin melanjutkan pendidikanku di pesantren sehingga aku sengaja tidak pernah mengulang hafalan juz 30ku. Namun, mau bagaimana lagi ini semua permintaan kedua orang tuaku yang tidak mungkin aku bantah karena mereka tahu mana yang terbaik untuk anak-anaknya.
Aku berjalan menaiki tangga mengikuti kakak tadi menuju lantai 2 gedung ini untuk melaksanakan tes tahfidz.
“Kamu masuk ruangan ini dan duduk di meja tiga ya,” perintah Kakak itu.
“Baik, Kak. Makasih.”
***
Aku keluar dari ruangan tahfidz dengan langkah gusar menuju halaman depan gedung. Aku sengaja melewati tangga samping karena tidak ingin menemui kedua orang tuaku yang pasti akan kecewa jika melihat hasil tesku. Aku menangis tergugu dengan wajah yang kutenggelamkan di kedua tanganku dan duduk di trotoar depan gedung.
”Maaf, bisa geser dulu nggak? Saya lagi buru-buru banget nih.”
Aku menarik wajah dari tanganku dan kulihat seorang laki-laki dengan mata sipit dan hidung mancung dilengkapi kulit putihnya sedang berdiri di hadapanku.
Nih orang apaan sih. Gila ya? Gue lagi nangis malah di usir-usir. Lagian tempat lain juga masih lega kali, ini trotoar doang kali.
Jalanan menuju gedung-gedung lain di pesantren ini memang terdapat trotoar di pinggirnya sebagaimana jalanan kota. Kalau menurutku, tempat ini bagaikan kota di dalam hutan karena memang banyak sekali pohon di sini, bahkan kebun. Tak salah jika udara di sini benar-benar sejuk karena bahkan kendaraan bermotor hanya boleh berada di parkiran dekat gerbang depan pesantren sehingga lingkungan di sini bersih dari polusi.
Aku tak menghiraukan ucapan laki-laki tadi, aku melanjutkan tangisku yang belum selesai dengan menenggelamkan wajahku di kedua tanganku kembali.
Tiba-tiba aku merasakan rokku bergerak, seperti ada yang menyentuhnya.
“Arrrrghhhhh,” teriakku.
Aku langsung berdiri saat aku menyadari laki-laki tadi membungkuk sambil menyentuh rok bagian bawahku. Dengan sigap aku memukulnya kuat-kuat dengan sling bag milikku.
“Dasar cowok mesum. Lo gila ya? Tadi lo ngusir-ngusir gue terus sekarang pegang-pegang rok gue. Padahal gue lagi nangis lho, nggak kasian apa sama gue? Lagian ini pesantren tau, lo lupa?”
Laki-laki dengan pakaian hitam putih sebagaimana santri baru sepertiku itu hanya geleng-geleng kepala.
“Andra, ayok cepetan. Sebentar lagi giliran kamu tes lho,” ucap seorang wanita yang sedang berdiri tak jauh dari kami yang kuduga adalah ibu dari laki-laki bernama Andra ini.
Andra mengangguk padanya kemudian membungkuk ke arah sepatuku dan kulihat dia mengambil sebuah name-tag santri baru yang berada di dekat sepatuku itu. Ia pun langsung pergi menyusul ibunya masuk ke dalam gedung.
“Hah? Jadi, tadi dia ngusir dan pegang-pegang rok gue karena mau ngambil name-tag dia yang kayaknya jatuh di sini sebelum gue dateng ya?” tanyaku pada diri sendiri.
Aku menghentak-hentakkan kakiku, kesal. “Ihhhh. Bisa-bisanya tadi gue tuduh dia mesum dan lain-lain. Semoga nggak akan ketemu dia lagi deh. Ah. Malu bangetttttt.” Aku pun berlari masuk gedung untuk menemui kedua orang tuaku yang sudah pasti sedang menungguku sejak tadi.
***
Setelah aku memberitahukan hasil tesku kepada Abi dan Umi kemarin, aku merasa lebih lega. Hasil tesku memang buruk, bahkan sangat buruk. Aku memang sudah hafal juz 30 sejak SD, tetapi aku sangat jarang mengulangnya setelah kenaikan kelas 8 SMP. Bahkan, sebelum tes hafalan sebagai persyaratan masuk pesantren ini pun aku tak mengulangnya sama sekali sehingga saat tes aku benar-benar tidak hafal. Yang lebih menyedihkan adalah surat pendek pun aku menjadi tidak hafal karena pikiranku sudah dipenuhi rasa cemas dan kesal karena aku dimasukkan ke pesantren.
Awalnya aku takut dimarahi Abi karena buruknya hasilku. Namun, Abi justru menyemangatiku. Abi bilang bahwa itulah alasan mengapa aku harus masuk pesantren, agar aku kembali dekat dengan-Nya dan yang pasti aku akan kembali mendapatkan hafalanku jika aku masuk pesantren.
__ADS_1
Setelah kakakku yang pertama lahir, kedua orang tuaku memang menginginkan semua anaknya masuk pesantren. Kedua kakakku sudah lulus pesantren dan bahkan mereka sudah menikah, aku baru masuk pesantren tahun ini dan adik laki-lakiku akan masuk pesantren di kelas 3 MI tahun depan.
Alasan abiku memberiku nama ‘Selina Mufida’ yang memiliki arti ‘Bulan yang Bermanfaat’ karena Abi ingin aku menjadi orang yang bermanfaat dengan masuk pesantren. Kalau nama ‘Selina’ karena Abi memiliki seorang teman dengan nama itu memiliki akhlak dan paras yang cantik sehingga Abi memberiku nama ini, sungguh bagiku abiku tidak kreatif karena menyontek dari nama temannya.
Rangkaian tes terakhir dalam persyaratan masuk pesantren ini adalah tes tertulis yang akan dilaksanakan pagi ini. Aku sudah ikhlas untuk menjalani ini semua. Aku berjalan dengan senyuman di wajahku menuju ruangan tesku.
“Nah, ini dia ruangannya.” Aku pun masuk dan mengambil tempat duduk yang sudah tertempel nomor pendaftaranku.
“Eh, kamu perempuan yang nangis di trotoar kemarin, kan?”
Aku seketika menoleh ke seseorang yang duduk di sebelahku sejak tadi. “Hah? Kok lo bisa ada di sini?” tanyaku panik karena aku sangat malu mengingat kejadian kemarin.
Dia tertawa tanpa dosa. “Bisa lah. Saya kan santri baru juga dan tempat duduk saya memang di sini kalau sesuai nomor pendaftaran saya.”
Aish. Niatnya nggak mau ketemu dia, sekarang malah duduk bareng dia tesnya. Sabar Seli sabar.
“Nangis di trotoar? Nangis kenapa?” sahut teman Andra yang tadi memang sedang mengobrol dengannya.
“Nggak kenapa-napa, kok.” Aku segera menyahuti sebelum Andra mengatakan hal lain yang akan membuatku malu.
Teman Andra itu mengangguk-angguk. “Terus kalian kok bisa ketemu?”
“Iya. Kan name tag ane jatuh di deket trotoar itu sebelum dia duduk di situ. Terus ....”
“Emm. Ndra, bisa kita ngomong di depan sebentar?” Aku pun berdiri dari kursiku.
Setelah Andra mengangguk dan mengikutiku berdiri, aku pun langsung menuju luar ruangan.
“Ekhem, sebelumnya kenalan dulu. Nama gue Seli,” kataku setelah kami berhadapan di depan ruangan ini.
“Saya Andra.”
“Soal kemarin yang mana?”
“Aish, jangan pura-pura nggak tau lo. Udah pokoknya jangan bahas itu ke siapa pun ya. Please,” ucapku dengan nada penuh penekanan.
“Oke.”
Setelah mendengar dia menyetujui, aku pun segera melangkah ke dalam ruangan yang kemudian diikuti olehnya.
“Maaf banget nih, Sel. Kamu nangis gara-gara kamu dimasukin pesantren dan hasil tes kamu kurang memuaskan, ya?” tanya Andra setelah kami berada di tempat duduk kami yang bersebelahan.
Dia kok tau sih? Apa dia dukun?
“Jangan sok tau lo.” Aku langsung memalingkan wajahku ke arah lain. Kesal, baru saja dia berjanji untuk tidak membahas hal itu, tetapi malah menanyakannya lagi.
Andra menghela napas perlahan. “Kalo kamu nggak pake bahasa ‘Lo-Gue’ lagi, saya yakin kamu bakalan lebih keliatan cantik.”
Aku langsung menoleh ke arahnya dengan sinis. “Ngapain juga gue pake standar cantik menurut lo.”
“Saya bukan kasih kamu standar cantik. Saya juga nggak bilang bahwa pakai ‘Lo-Gue’ itu buruk, karena itu juga salah satu bahasa daerah di negara kita. Tapi, kalo kamu pakai bahasa Ane-Nte, Saya-Kamu, atau I-You kamu bakal lebih keliatan lembut dan sopan.”
“Oke-oke. Terus, itu kamu tau dari mana kalo saya nangis gara-gara itu?”
Kriiiingggg!.
Bel telah berbunyi, tanda bahwa tes tertulis akan segera dimulai. Beberapa menit kemudian, pengawas tes pun datang. Seluruh santri baru pun bersiap mengerjakan soal-soal yang diberikan pengawas.
***
__ADS_1
“Alhamdulillah, selesai juga,” gumamku seraya merapikan alat tulisku untuk bersiap keluar ruangan.
“Tadi saya belum sempat jawab pertanyaan kamu. Jadi, saya tau penyebab kamu nangis dari ibu saya. Saat kamu cerita ke orang tua kamu, di situ ada ibu-ibu yang ikut kasih kamu semangat, kan? Nah, itu ibu saya. Otomatis ibu saya cerita ke saya setelah saya selesai tes dan minta saya temenan sama kamu.”
Aku mencoba mengingat kejadian kemarin dan memang ada ibu-ibu yang duduk menunggu anaknya tes di sebelah orang tuaku. Ibu itu kasih aku semangat dengan menceritakan anaknya yang bandel bukan main tetapi dengan suka rela ingin masuk pesantren.
Jadi, Bu Devi itu ibunya Andra? Padahal waktu kejadian name tag jatoh itu aku sempet liat ibunya Andra, tapi nggak nyadar kalo ibunya Andra ternyata yang baik banget sama aku kemarin.
“Oh gitu. Salamin buat Umi Devi ya dari saya. Dan, iya saya nangis karena itu. Kenapa? Mau ledekin saya ya?”
Andra bangun dari kursinya dan menggedong tas ransel miliknya. “Sambil jalan ke bawah aja ngobrolnya, takut orang tua kita nungguin.”
Aku mengangguk dan mengikutinya.
“Saya cuma mau tanya, apa yang bikin kamu nggak mau masuk pesantren?” tanyanya saat kami berada di koridor lantai 3 menuju tangga untuk turun menuju lantai dasar.
Aku menarik napas panjang dan mengembuskan segera. “Saya masih pengen main, takut dikekang. Padahal kakak-kakak saya yang lulusan sini selalu bilang kalo di pesantren itu justru lebih banyak waktu mainnya karena selama 24 jam kita bakal terus sama temen. Jadi walaupun di pesantren lebih banyak waktu buat belajar tapi belajarnya bakal tetep seru karena bareng temen.”
“Bener kok kata kakakmu,” balas Andra sambil tetap berjalan beriringan denganku di tangga.
“Iya emang bener sih dan kalo liat album foto kakak saya kayaknya seru banget di pesantren. Tapi, kadang saya tuh gampang kebawa temen. Temen-temen saya mayoritas lanjut ke SMA, makanya saya juga pengen.”
Andra menatapku intens kemudian tertawa terbahak-bahak hingga mata sipitnya terlihat seperti garis lurus saja.
“Nggak lucu ih,” kataku kesal.
Andra tersenyum miring. “Saya juga belum jadi anak yang penurut, bukan juga anak yang baik.”
Aku tak menjawab, hanya sesekali melihat ekpresi wajahnya.
“Saya perokok, Sel.”
Langkahku langsung terhenti di ujung tangga lantai tiga dan menoleh kepada Andra yang juga ikut berhenti. “Kamu tau kan kalo di sini dilarang keras ngerokok? Kalo kamu ketauan bisa langsung dikeluarin, Ndra. Apa kamu bisa tahan buat nggak ngerokok selama lima bulan nanti?”
Andra hanya menelan saliva.
“Umi Devi kemarin bilang kalau anaknya bandel tapi anaknya sendiri yang pengen dimasukin ke pesantren. Maksud Umi Devi, itu kamu? Saya kira kakak atau adik kamu gitu.”
Di pesantren ini memang sudah menjadi budaya untuk memanggil wali santri dengan sebutan Umi dan Abi.
Andra mengangguk. “Iya. Saya termasuk murid yang paling sering keluar masuk ruang BK waktu SMP. Karena saya sering berantem, kabur saat jam pelajaran, ngumpet di kantin saat upacara, manjat gerbang kalo berangkat kesiangan dan tentunya karena saya ngerokok saat itu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. Apa dia sebandel itu? Kalo aku liat dari wajahnya yang agak baby face, dia nggak keliatan bandel ah. Eh tapi wait, jangan liat seseorang dari cover, Sel. Wajah dan penampilan nggak bisa dijadiin patokan untuk menilai seseorang, bantinku.
“Terus, apa yang bikin kamu mau masuk pesantren?”
Andra melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. “Waktu kelas sembilan, orang tua saya bingung karena kenakalan saya belum mereda, padahal sudah mendekati waktu untuk mempersiapkan ujian kelulusan. Akhirnya ayah saya kirim saya ke rumah guru terkiller di sekolah, jadi saya bener-bener nggak pulang ke rumah dan saya tinggal di rumah guru itu. Tapi, saya tetap pulang malam setiap harinya setelah saya nongkrong sama anak SMA. Ya, walaupun saya tahu saya akan kena pukul guru saya yang udah dikasih kepercayaan dari Ayah. Sampai suatu hari, saya disarankan oleh anak dari guru saya itu untuk masuk pesantren kayak dia, jelas saya langsung menolak. Tapi, setiap hari dia cerita tentang kehidupannya di pesantren dan juga benefit masuk pesantren. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk pesantren setelah lulus.”
“Emang benefitnya apa aja sampe bikin kamu langsung mau gitu?”
“Katanya kamu punya kakak yang udah lulus pesantren, masa nggak diceritain sih.”
Aku menatapnya dengan kesal. “Ya diceritain, tapi saya masih kurang tertarik. Mungkin kakak saya yang kurang lengkap ceritanya.”
“Yaudah, nanti juga kamu ngerasain sendiri. Semoga kita sama-sama keterima di pesantren ini ya. Saya duluan.” Andra langsung menghampiri ibunya karena kami sudah sampai di lantai satu.
Akhirnya kami pun keterima di pesantren ini. Sejak itu kami pun berteman hingga sekarang, hingga kami sudah menginjak di tahun ajaran terakhir kami di pesantren ini.
***
__ADS_1