
Aku baru mengetahui bahwa mulai hari ini berlaku jadwal baru untuk bertugas di kantor. Ya benar, aku bertugas bersama Harsa. Dia itu agak aneh menurutku, terkadang dia cuek seperti membenci perempuan, terkadang dia tiba-tiba baik dan so manis dan yang terakhir dia terkadang usil. Aku tidak tahu mana sifat Harsa yang sebenarnya dan apakah memang sikap dia yang suka berubah-ubah atau hanya ke aku saja.
Aku masuk kamar untuk mengganti pakaian dan langsung menuju kantor untuk mulai berjaga. Hari ini adalah awal pekan sehingga tidak ada wali santri yang berkunjung, alhasil kantor tidak terlalu sibuk dan yang bertugas jaga hanya 2 orang.
Aku duduk di depan komputer untuk membuka you tube karena memang belum ada pekerjaan yang harus aku lakukan.
Harsa duduk di sebelahku dan ikut menyaksikan tayangan yang sedang aku tonton. "Kemarin Andra ke kamar saya," ucapnya tiba-tiba.
Aku menoleh sambil mengangguk. "Terus kenapa? Kan urusan dia mau kemana."
"Dia nanya ke saya, ente di sini deket sama cowok atau nggak."
Aku fokus menonton dan tidak menoleh lagi. Aku malas mendengar bahasan Andra dan Andra lagi kemana pun aku pergi. Seakan-akan kabar bahwa Andra dekat denganku yang kemudian sekarang Andra berpacaran dengan Vira sudah tersebar luas. Padahal apa pentingnya sih mengenai ini. Tetapi, aku akui kabar mengenai hal percintaan memang mudah tersebar luas.
"Terus saya jawab aja kalo ente deket sama saya," lanjutnya.
"Ha? Apaan? Deket dari mana? saya aja jarang ngobrol sama ente."
"Nah, makanya ayok sekarang kita ngobrol."
Wendi, santri kelas 2 masuk ruangan kantor sambil menangis dengan teman-temannya yang berusaha mendiamkannya.
"Ini kenapa?" tanya Harsa pada mereka.
"Saa-kittt. Mama...." Wendi semakin mengencangkan tangisannya setelah memperlihatkan lututnya yang berdarah.
Aku mengambil kotak obat di rak. "Kamu jatoh atau kenapa, Wendi?" tanyaku sambil mengobati luka di lututnya.
__ADS_1
"Tadi jatuh didorong sama Kak Faaz, terus Kak Faaznya nggak mau minta maaf," jawab Wendi masih terisak.
"Faaz? Faaz kelas 4?" tanyaku.
"Iya kak." Mereka menjawab kompak.
"Astagfirullah bener-bener ya Faaz. Ya udah. Wendi, ini udah Kakak obatin kok, sebentar lagi pasti sembuh. Kamu istirahat di kamar aja ya, tapi jangan lupa mandi dulu ya biar seger karena sebentar lagi maghrib."
Aku langsung bergegas keluar kantor untuk mencari Faaz.
"Eh, mau kemana, Sel?" tanya Harsa.
"Mau cari ade saya, Faaz."
Ya, Faaz adalah adikku satu-satunya yang kini masih kelas 4 MI dan dia memang perlu diberi peringatan karena aku sebagai kakak ingin dia mengerti bahwa perbuatannya itu salah. Faaz memang sudah nakal sejak kecil sehingga Abi memasukkannya ke pesantren ini tahun lalu saat dia kelas 3 MI dan aku diamanahkan untuk selalu menjaga dan juga mendidiknya, padahal itu juga memang kewajibanku sebagai kakaknya.
Aku berjalan menuju lapangan depan asrama karena biasanya Faaz berada di sana untuk bermain sepak bola. Aku tidak akan memarahinya apalagi di lapangan pasti banyak teman-temannya dan khawatirnya itu akan membuatnya merasa terpojokan dan itu tidak baik untuknya.
...
Sesampainya di lapangan, aku menemukan sosok adikku sedang duduk di tepi lapangan bersama Andra. "Faaz, ikut Kakak sebentar," perintahku pada Faaz.
Faaz berdiri, lalu kemudian Andra menarik tangan Faaz. "Nanti aja, Sel. Aku lagi pengen ngobrol sama Faaz."
"Ngobrol apa, Ndra? Nanti aja, sini dulu Faaz." Aku menarik tangan Faaz dan kami langsung berjalan menuju koridor asrama, tidak lupa Faaz mencangking sepatu bolanya.
"Kenapa, Kak?" tanya Faaz ketika kami sudah duduk di kursi koridor.
__ADS_1
"Tadi Wendi anak kelas 2 lututnya berdarah, katanya didorong sama kamu. Bener nggak?" Setiap ada kegaduhan yang katanya disebabkan oleh adikku, aku selalu bertanya dulu kepadanya dan meminta penjelasan darinya tanpa langsung memarahi.
"Iya, Kak. Tadi itu aku lagi main bola terus Wendi itu tiba-tiba jalan ke tengah lapangan jadi aku nggak sengaja nabrak dia deh."
"Terus kenapa nggak minta maaf?"
"Aku kan nggak sengaja Kak, lagian salah Wendi dong masa dia tiba-tiba ke tengah lapangan dan aku juga lagi main jadi nggak sempet minta maaf."
"Udah, Sel. Namanya juga Faaz nggak sengaja jadi nggak perlu diperpanjang lah." Andra tiba-tiba datang menghampiri kami.
"Ndra, ade aku itu salah dan dia perlu minta maaf, supaya dia terbiasa untuk mengakui kesalahannya."
"Iya, Kak. Nanti Faaz ke kamar sekalian lewat lantai 2 dulu ke kamarnya Wendi buat minta maaf. Wendi kamar 207 kan, Kak?"
"Nah, gitu dong. Iya Wendi kamar itu." Aku mengusap-usap rambut Faaz sebelum ia pamitan untuk ke atas.
Kini hanya aku dan Andra yang masih berada di koridor. Aku berniat pamitan untuk kembali ke kantor, tetapi Andra langsung mengajakku mengobrol.
"Sel, sikap kamu ke aku beda gitu, Sel."
Aku menaikan satu alisku. "Beda gimana?"
"Beda aja. Tadi siang aja aku ajak kamu temuin ibu, kamu nolak. Biasanya kamu mau."
"Kan aku udah bilang besok aku nggak bisa itu karena udah janji mau ke toko sama Aidha."
"Kamu suka sama aku, Sel?"
__ADS_1
Deg!
***