
Aku mengaduh kesakitan setelah beberapa buku novel tebal yang sedang kubawa terjatuh mengenai kakiku. Semuanya tercecer di lantai. Dengan sedikit malas aku memungut novel-novel itu. Aku berniat meletakannya dalam koper yang sudah berada di ujung koridor, siap dibawa pulang.
Selesai memungut semuanya dan hendak berdiri, kulihat seorang laki-laki berjalan ke arahku. Aku mendongak dan melihat Andra berdiri di sana, melihat ke arahku dengan pandangan tak seperti biasanya. Ada sorot kesedihan di matanya yang sipit. Juga pandangan kecewa, marah, kesal, atau apa? Ekspresi wajahnya sulit ditebak.
“Andra? Kenapa?” tanyaku ramah, berusaha seperti biasanya.
Andra menatapku beberapa detik lalu tersenyum kecut. Entah apa yang ingin dia katakan kepadaku. Perasaanku menjadi tidak enak.
“Hari ini kita pulang, Seli. Ada yang perlu kamu denger dari aku.”
Kedua alisku bertaut, lalu melihat sekitar. “Nanti aja, ya. Aku mau bawa barang-barang aku ke gerbang utama, udah ditungguin temen-temen juga soalnya.” Tanpa menunggu jawaban Andra, aku segera menyingkir dari hadapannya.
Setibanya di ujung koridor, aku melihat beberapa koper dan tas sudah mulai dinaikan ke atas troli barang yang ukurannya cukup besar. Mampu menampung 10 koper dan tas-tas lainnya. Juga ada beberapa kasur. Syilla dan Dilla sengaja menyewa troli ini dari tempat laundry untuk membawa barang-barang kami ke gazebo yang letaknya tidak jauh dari gerbang utama pesantren.
“Ayok, Sel. Cepetan.” Aidha menyuruhku untuk bergegas. Karena seorang bapak yang akan membantu kami mendorong troli ini banyak pekerjaan di tempat laundry, sehingga kami tidak bisa berlama-lama. Gerbang utama juga lumayan jauh dari asrama.
Aku memasukan semua novel ke koper lalu menutupnya dengan terburu-buru hingga gantungan di resleting koper yang berbentuk Hello Kitty terpental jauh. Benda pemberian Andra itu hilang dalam rerumputan di taman asrama.
Aku mendengus kesal dan berusaha mencari di rerumputan itu sebelum teman-temanku meneriakiku. Ternyata aku tidak berhasil menemukannya. Aku juga tidak mau memperlambat urusan kesembilan temanku ini, akhirnya aku berangkat bersama mereka.
Kami mendorong troli besar ini beramai-ramai. Hingga adik-adik kelas melihat ke arah kami karena suara kami yang cukup gaduh. Ini hari minggu, wajar mereka bertebaran di seluruh penjuru. Ada yang sibuk menjemur kasur di balkon kamar, piket menyapu halaman asrama, duduk di trotoar sambil makan jajanan kantin bareng teman-teman, olahraga di lapangan, bersepeda santai dan berbagai kegiatan lainnya di hari minggu. Hari yang paling digemari santri. Mungkin siswa di sekolah lain juga sama.
“Aku sedih, Sel. Kita mau pulang ke rumah dan bukan santri lagi,” ucap Aidha lemas.
Aku menatapnya hangat sambil terus berjalan. “Semua ada masanya. Nggak bisa kan selamanya kita di sini?” Mataku melihat sekitar. “Tapi, emang sih suasana di sini nggak akan pernah kita temuin di tempat lain.”
“Semoga kita beneran bisa keterima di universitas yang sama, deh.”
“Aamiin.”
Syilla berjalan mendahului kami sedikit, lalu mengangkat ponselnya ke atas untuk mengajak foto selfie dan merekam perjalanan kami menuju gazebo di gerbang utama.
...***
...
Jalanan di sekitar gerbang utama sudah ramai oleh kelas dua belas yang akan pulang. Hilir-mudik mempersiapkan perpulangan. Aku dan teman-temanku menurunkan barang-barang kami di gazebo. Setelah itu, kami akan kembali ke asrama karena belum mengurus buku izin dan beberapa barang masih di sana. Maklum sudah perpulangan terakhir, maka tidak ada barang-barang yang ditinggal lagi, kecuali yang ingin dihibahkan atau yang sudah tak terpakai.
Tidak jauh dari gazebo, aku melihat Harsa datang dengan sepedanya. Ia berkemeja hitam dan celana berwarna coklat susu. Laki-laki itu sedang mengobrol dengan temannya sambil terus mengayuh sepeda menuju parkiran. Wajahnya yang teduh mampu membuat siapa pun yang berbicara dengannya menjadi nyaman. Tak jarang para santri nisa membicarakannya, laki-laki itu menjadi sosok idaman. Kalau aku pikir-pikir, ternyata Harsa memiliki kesamaan dengan Andra. Sama-sama dikagumi banyak wanita.
“SELI!”
__ADS_1
Aku terkesiap dan menoleh ke sumber suara. Semua teman-temanku sudah jauh dari posisiku sekarang. Mereka berada di jalanan untuk kembali ke asrama. Dengan kecepatan yang kubisa, aku mengejarnya.
Kami sempat mengabadikan momen sepanjang perjalanan menuju asrama. Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir kami bersama di pesantren ini sebagai santri. Berkali-kali ponselku bergetar, nama ‘Andra’ muncul di layar ponsel. Aku tak mengangkatnya karena pasti Andra ingin berbicara tentang hal itu lagi.
“Seli, angkat aja. Aku nggak tau masalah kamu sama Andra kayak gimana, tapi ini hari terakhir kita di sini. Aku takut nanti kamu nyesel,” ucap Aidha mengingatkan.
Aku menghela napas lalu menatap layar yang menampilkan nama itu. Aku mengangkat panggilan telepon dari Andra. Terdengar ucapan salam di seberang.
“Wa’allaikumsalam,” jawabku sambil menjauhkan diri dari teman-temanku. Kebetulan sebentar lagi kami tiba di asrama.
“Kamu buang gantungan itu dari koper kamu?”
Aku berpikir sejenak dan segera menjawab. “Oh, bukan. Tadi aku buru-buru jadi gantungannya lepas dan hilang. Kamu nemuin gantungan itu? Nanti aku ambil ya. Ini udah mau sampe asrama.”
“Iya tadi nggak sengaja nemu waktu lewat di taman. Tapi aku udah nggak di asrama kamu, Sel. Ibu sebentar lagi sampe jadi sekarang aku mau ke gerbang utama.”
Aku melebarkan mata. “Hah? Tapi nggak langsung pulang sekarang, kan?”
Ada kekehan kecil di seberang sana. “Kelas dua belas udah boleh pulang sekarang, kan?”
“Boleh sih, tapi ... .”
“Tapi kenapa? Ada yang mau kamu bicarain sama aku?” tanya Andra dengan nada meledek dan diakhiri tawa kecil.
“Iya, semoga kamu juga selalu diberi perlindungan. Sukses ya. Assalamualaikum.”
“Wa’allaikumsalam.” Telepon langsung ditutup dari seberang sana.
Aku melangkahkan kaki menyusuri asrama. Mencoba mencari sosok Andra, mungkin tadi ia berbohong. Mungkin ia masih ada di sini. Aku tidak bisa berbohong bahwa aku masih menyukainya tapi aku sudah terlalu takut dikecewakan untuk kesekian kalinya.
“Ternyata benar berharap pada manusia adalah tempatnya kecewa.”
***
Setelah kupastikan semua barang miliku tidak ada yang tertinggal, aku mengambil buku izin di kantor manajemen. Sebelumnya aku telah berpamitan kepada semua teman sekamarku. Berterimakasih kepada mereka yang sangat luar biasa baik kepadaku. Mereka sudah seperti keluarga. Sangat berharga.
Tiga orang teman sekamarku sudah ada yang pulang beberapa menit lalu dan aku menjadi yang keempat. Mungkin sekarang tersisa enam orang di kamar dan sebentar lagi kamar itu akan sepi. Tak ramai seperti biasanya. Biasanya setiap malam kami mengobrol dan tertawa bersama hingga larut malam. Pak Satpam mungkin akan rindu dengan suara bising dari kamar kami yang biasanya selalu ia marahi.
“Kak, nanti jangan lupa sering-sering ngirim aku makanan ya. Awas aja kalau sampe lupa.” Faaz menunjukan wajah cemberut.
Aku mengacak-acak rambutnya. “Iya. Nanti kakak kirim tepat waktu. Udah ah, Kakak mau pulang. Kamu nggak nangis kan ditinggal Kakak lulus?” tanyaku meledek.
__ADS_1
“Nggaklah. Ngapain nangis. Aku kan nggak cengeng kayak Kakak. Udah sana pulang.”
“Salim dulu dong.” Aku mengulurkan tangan. “Kamu jangan bandel, ya.”
“Iya! Cerewet banget sih punya Kakak cewek.”
Aku mencubit lengannya. “Assalamualaikum.”
“Ih, sakit. Udah sana pulang.”
“Salamnya nggak dijawab?”
“Wa’allaikumsalam!” jawab Faaz dengan wajah kesal.
Aku tiba di gerbang utama setelah berjalan sekitar dua puluh menit. Aku berjalan cukup santai sambil menikmati udara segar pesantren. Berkali-kali aku memeriksa ponsel, menunggu kabar Abi dan Umi tiba di pesantren. Aku duduk di kursi gazebo sambil membuka sosial media.
“Seli.”
Aku mengangkat kepala untuk melihat siapa yang berada di hadapanku. “Andra? Kamu masih di sini?”
Andra mengangguk sambil menyunggingkan senyuman dari bibirnya.
“Bukannya Ibu kamu udah sampe dari satu jam yang lalu? Aku kira kamu udah pulang.”
“Iya, kebetulan Ibu mau ketemu temennya dulu tuh.” Andra menunjuk beberapa ibu-ibu yang sedang mengobrol. “Aku mau bilang ke kamu kalau ... .”
Tiba-tiba ponsel di saku Andra berdering. Andra meminta izin untuk mengangkat telepon itu kepadaku. Setelah aku mengangguk, Andra berjalan menjauh dan menerima panggilan itu.
Saat Andra sedang berbicara dengan seseorang di telepon, aku melihat orang tuaku sudah tiba di parkiran. Aku memutuskan untuk menghampiri Andra, berniat memberitahunya kalau aku ingin menghampiri orang tuaku dulu.
“Iya, Adelia. Besok kita ketemu," kata Andra kepada seseorang di telepon.
Aku langsung menghentikan langkah dan memutar badan setelah tahu bahwa orang yang berbicara dengan Andra di telepon adalah Adelia. Seharusnya aku memberitahu Andra melalui chat saja bukan menghampirinya.
“Seli.” Suara Andra memanggilku dari arah belakang.
Aku menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan lalu menoleh kepadanya. “Iya, Dra. Emm, itu orang tua aku udah dateng, aku ke sana dulu, ya.” Aku langsung balik badan untuk pergi.
“Sebentar, Sel,” ucapnya dan langsung membuatku berhenti. “Barusan kamu denger kan kalau orang yang ngobrol sama aku di telepon itu Adelia? Tapi, Sel, perempuan yang aku kagumi selama dua tahun itu bukan Adelia, tapi kamu.”
...***
__ADS_1
...