BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Apa maksud perkataan Vira?


__ADS_3

“Assalamu’allaikum.” Aku dan Zahra masuk ke dalam kamar ketika anak kamar yang lain sedang sibuk menonton drama korea di laptop.


“Wa’allaikumsalam,” jawab mereka serempak tanpa menoleh ke arah kami. Mereka masih fokus untuk menonton drama korea The Penthouses season 2.


Setiap kamar santri di pesantren ini biasanya diisi oleh 10 orang, tetapi ada juga kamar yang hanya 9 orang karena ganjilnya jumlah murid di suatu kelas. Tahun ini aku sekamar dengan Zahra, Najwa, Aidha, Iffah, Nisa, Dilla, Syilla, Naila dan Aninda seperti tahun kemarin karena memang tahun ini tidak ada perubahan kamar. Selain sekamar, kami pun sekelas karena memang setiap kelas biasanya dibagi menjadi 4 kamar. Karena kamar kami mendapat tugas menjadi kepengurusan asrama santri madrasah ibtida’iyah, maka kami tidak tinggal di asrama santri nisa madrasah aliyah melainkan di asrama tempat kami bertugas, begitu pun dengan yang bertugas di asrama lain.


Usai melaksanakan shalat isya berjama’ah bersama Zahra, aku yang masih memakai mukena langsung menyambar duduk di antara teman-temanku yang masih dengan wajah serius menyaksikan tiap adegan dari drama yang membuat emosi meledak-meledak ini.


“Tuh kan jahat banget, aku ama Zahra udah ketinggalan jauh nih nontonnya,” gerutuku sambil mempause tayangan drama ini.


Zahra pun ikut memprotes anak kamar yang malah meninggalkan kami, padahal tadi kami ke toko untuk membeli alat kebersihan untuk kamar. Teganya mereka meninggalkan kami. Sebenarnya bisa saja aku dan Zahra menonton dengan laptop kami masing-masing, tetapi menonton akan lebih seru jika ramai-ramai dan itu sudah menjadi tradisi di sini.


“Maap deh, Sel. Tadi kita udah nungguin kalian tapi kalian lama banget jadi kita duluan deh. Tapi ini juga baru mulai kok, Sel,” kata Najwa menjelaskan.


“Iya bener tuh, Sel, Ra. Dan kalo nanti kalian ada yang nggak paham ama ceritanya langsung tanya kita deh,” sahut Syilla menambahkan.


“Hmmmm.” Dengan wajah sedikit kesal, aku menekan tombol space kembali.


Setelah kami menoton 3 episode malam ini, akhirnya kami memutuskan untuk tidur karena jam telah menunjukan pukul 22.00 WIB. Memang sih ini belum terlalu malam bagi para penonton drakor karena kalau memang sudah penasaran dengan isi cerita dalam film, santri bisa saja begadang sampai subuh hanya untuk menonton drakor. Namun, hal itu jelas bukanlah perbuatan baik sehingga sebisa mungkin untuk kita hindari.


Santri diwajibkan tidur pada pukul 21.00 dan paling lambat adalah pukul 22.00. Apabila sudah memasukin jam itu maka lampu kamar wajib dimatikan, jika tidak, maka ustadzah atau pun santri kelas 12 yang akan terus memperingati kamar tersebut. Jadi, biasanya para santri yang menonton drakor sampai begadang, mereka akan mematikan lampu dan ketika ustadzah atau pun kakak kelas 12 sudah tidak ada di depan kamar, mereka akan melanjutkan dengan kondisi lampu kamar padam. Hal itu termasuk hal yang buruk karena melanggar aturan dan menyakiti diri sendiri karena tubuh yang seharusnya sudah diistirahatkan justru masih kita paksakan.


Walaupun aku dan teman-temanku bisa saja tidur di atas jam ini, tetapi kami sudah kelas 12, waktunya kami untuk mempersiapkan diri setelah lulus dari sini. Tidak mungkin kami terus-terusan membuang waktu kami untuk hal yang kurang penting. Menonton memang termasuk hal yang penting bagiku karena dapat memberikanku ilmu dan juga hiburan. Tetapi aku harus sebisa mungkin memporsikan hiburan sesuai dengan kebutuhan.


***


Pukul 06.30 aku dan seluruh teman sekamarku sudah berjalan menuju sekolah dan kini kami tengah duduk di anak tangga lantai 1. Kami menyaksikan adik kelas yang sedang berlari menuju sekolah karena bagian kedisiplinan dari santri kelas 12 sudah menghitung dan apabila pada hitungan terakhir didapati santri yang belum sampai sekolah, maka ia akan mendapatkan hukuman.


“Ke kelas yuk!” ajak Aidha kepada kami yang masih duduk manis melihat adik kelas yang terlambat.


Terlambat sudah menjadi hal yang wajar di sini. Semua santri mayoritas sudah merasakan mendapat hukuman, entah itu karena terlambat atau hal lainnya. Walau begitu, setiap santri pun tetap berusaha sebisa mungkin agar tidak terlambat atau pun melanggar aturan.


“Iya, yuk ah ke kelas. Ngantuk nih.” Iffah berdiri menyusul Aidha yang diikutiku dan teman-teman yang lain.


Kami bersepuluh menaiki anak tangga dan menuju lantai 2-kelas kami.


Zahra mencubit lengan Ifffah. “Walaupun ngantuk, tapi jangan tidur lho, Fah. Kamu kan udah janji mau belajar pagi ini.”


Iffah kesakitan dan berusaha membalas cubitan Zahra. “Sakit tau, Ra. Jahat banget si, pasti sampe merah nih. Tar aja belajarnya kalo udah nggak ngantuk, Ra.”


Iffah memang paling malas jika kami ajak belajar, ia selalu beralasan mengantuk, capek, nggak mood, dan lain sebagainya. Meski begitu, kami tetap memaksanya untuk belajar karena bagaimana pun ia sebenarnya membutuhkan dorongan dari teman walaupun dengan sedikit paksaan karena tahun ini bukan waktnya untuk bersantai lagi, kami harus mempersiapkan ujian kelulusan dan masuk perguruan tinggi.

__ADS_1


“Btw, jangan lupa kalian ngafalin Aqidatul Awwam. Kan hari ini ada pelajarannya dan wajib setoran hafalan,” kata Syilla mengingatkan.


“Oiya, untung diingetin.”


“Iya, hampir aja pagi ini mau tidur padahal aku baru hafalin sedikit doang.”


“Assalamu’allaikum.” Kami masuk ke kelas dan meletakan sepatu kami di rak yang berada di bagian belakang kelas.


Tiba-tiba Vira menghampiriku setelah aku mendaratkan tubuhku di kursi. “Akhirnya dateng juga, Sel. Aku nungguin kamu dari tadi, soalnya aku pengen ngobrol sama kamu.”


“Ngobrol apa, Vir? Tumben ke kelas aku?”


Vira duduk di kursi Aidha karena memang Aidha langsung pergi untuk ijtima dengan organisasinya di koridor tengah sesampainya di kelas tadi.


“Kamu kan deket sama Andra dari awal masuk sini tuh. Aku mau tanya-tanya soal Andra boleh nggak?” kata Vira dengan mata berbinar-binar dan senyuman yang tidak lepas sedikit pun sejak tadi.


Aku menatapnya bingung. Pasalnya, aku dan Vira sudah lama tidak mengobrol lagi, hanya menyapa satu sama lain jika bertemu. Vira ini adalah teman sekelompok tahfidzku saat di kelas sepuluh dan setauku dia memang menyukai Andra sejak dulu walau setiap aku tanya dia selalu mengelak dengan tegas, padahal aku berniat untuk mengenalkannya jika dia menyukai Andra saat itu. Namun, ada angin apa hari ini ia mendatangiku hanya untuk menanyakan soal Andra dengan begitu antusiasnya. Apakah kini ia sudah menyukai Andra?


Aku mengangguk. “Nanya apa, Vir? Tapi, aku jawab sepengetahuan aku ya. Banyak yang nggak aku tau juga tentang Andra.”


“Oke, Sel. Em, Andra itu kan agak bandel ya. Ceritain dong bandelnya Andra gimana aja dan gimana sikap dia pas kamu tau kalo dia bandel waktu itu?”


Sebenarnya aku ingin sekali menolak untuk menceritakan mengenai Andra kepada Vira karena membahas kenakalan Andra juga, aku tidak ingin menceritakan kenakalan orang lain. Tapi, mungkin Vira punya maksud lain dan aku pun bingung cara menolaknya khawatir membuat Vira tersinggung. Bahkan, tadinya aku berniat untuk mengulang hafalan Aqidatul Awwam pagi ini dan untungnya aku sudah lumayan hafal sehingga Insyaallah aku bisa untuk setoran hafalan hari ini walaupun belum sempat mengulangnya.


***


Pagi ini aku berangkat sekolah agak kesiangan. Aku dan Rina berjalan dengan langkah kaki yang dipercepat karena khawatir akan terlambat. Saat melewati pertigaan jalan, aku sekilas melihat 3 orang santri rijal yang berjalan menuju kantin, padahal kini jam tanganku telah menunjukan pukul 06.40 yang berarti sebentar lagi pintu gerbang akan ditutup.


Jika santri yang kulihat itu adalah kakak kelas aku biasa saja karena kakak kelas tidak akan mendapat hukuman jika terlambat. Namun, kalau aku tidak salah lihat, salah satu dari 3 santri rijal tadi adalah Andra dan bahkan ia menggunakan celana berwarna abu-abu. Sudah jelas seragam hari ini adalah hitam putih dan bisa- bisanya dengan begitu percaya dirinya Andra ke kantin pada jam seperti ini dengan menggunakaan celana abu-abu.


Aku tidak ingin berpikiran buruk tentang Andra, bisa jadi aku salah lihat. Aku pun tidak bisa memastikan dia Andra atau bukan karena jalanan sudah tertutup oleh ramainya para santri.


Aku langsung merebahkan kepalaku di atas meja dan bersiap untuk tidur setibanya di kelas. Dua minggu pertama aku menjadi santri, aku tidak pernah sedikit pun mengantuk saat di kelas bahkan saat guru yang suaranya membuat seisi kelas tertidur pun aku tetap tidak mengantuk. Namun, saat memasuki minggu ketiga, aku benar-benar tidak dapat menahan kantukku saat sudah tiba di kelas. Ya, hari ini adalah minggu ketiga aku menjadi santri di kelas 10.


“Assallamu’allaikum.”


Terdengar sayup-sayup seseorang mengucapkan salam dan tampak wajah beberapa santri rijal di pintu kelasku. Mana mungkin ada santri rijal masuk kelas santri nisa, akhirnya aku tetap melanjutkan tidurku karena kupikir itu hanyalah sebuah mimpi. Namun, kelas langsung ramai yang membuatku terperanjat.


“Kok bisa ada cowok, Na?” tanyaku pada Rina-teman semejaku yang selama ini selalu bersama denganku kemana pun.


“Kayaknya mereka dihukum kakak kelas deh.”

__ADS_1


“Oh.” Aku pun langsung merebahkan kembali kepalaku di meja tanpa perduli dengan beberapa santri rijal tadi yang sekarang sedang diganggu oleh teman-teman sekelasku di pintu.


“Oke. Perkenalkan, kami dari kelas 10-IIS-A-05. Di sini kami ingin berjanji bahwa kami tidak akan terlambat berangkat ke sekolah lagi.”


Aku langsung mengangkat kepalaku dari atas meja setelah mendengar ucapan tadi dan ramainya seisi kelas oleh sorakan-sorakan untuk mereka. Walaupun aku anak baru di sini dan sepertinya santri rijal belum banyak yang mengenalku, aku tetap harus punya rasa malu kepada mereka. Aku tidak boleh tertidur di depan mereka dan mejaku berada di barisan terdepan yang tidak memungkinkanku untuk tertidur sekarang.


Aku terperangah bukan main saat kudapati salah satu dari santri rijal yang berada di hadapanku ini adalah Andra. Seseorang yang sedang kutatap saat ini sama terperangahnya denganku, sepertinya ia terkejut melihatku berada di kelas ini.


“Ternyata cowok yang pake celana abu-abu tadi pagi beneran Andra?” tanyaku pada diri sendiri setelah melihat Andra mengenakan celana abu-abu juga.


“Nah, kami bermaksud untuk meminta tanda tangan struktural di kelas ini sebagai bukti bahwa kami telah memohon maaf di kelas ini. Ini adalah perintah dari kedisiplinan kelas 12 kepada kami, terimakasih.”


“Kalo nggak mau gimana?” sahut ketua kelasku yang diikuti tawa dan sorakan dari seisi kelas.


Ketiga santri itu saling dorong-dorongan ingin segera keluar dari kandang macan ini baginya. Mereka berusaha tetap terlihat cool walau sepertinya mereka sedang menahan malu.


“Itu yang paling kanan, kenalan dong. Ganteng banget,” teriak Fathimah.


“Iya nih, siapa namanya hey?”


“Bagi nomor wa dong!"


Seisi kelas mulai ramai menggoda mereka. Dan santri sebelah kanan yang dimaksud teman-temanku adalah Andra. Ya, sudah tidak dapat terelakan lagi bahwa Andra memiki wajah yang tampan. Bahkan saat pertama kali aku melihatnya aku mengakui bahwa dia memang cakep dan pasti akan menjadi incaran santri nisa.


Strutural kelasku tetap tidak mau memberikan tanda tangan kepada mereka secara mudah karena agar mereka tidak mengulangi kesalahannya lagi sehingga kami ingin sulitkan hukuman mereka. Kami meminta mereka untuk menyanyikan beberapa lagu bahasa inggris di kelas kami.


Karena tidak ada pilihan lain, maka bersedia. Akhirnya mereka bernyanyi sehafalnya dan dengan wajah sedikit menunduk karena malu yang diiringin tawa riang dari seisi kelas ini. Aku memperhatikan Andra, sepertinya dia benar-benar sedang merasa malu. Aku tahu pasti bahwa Andra seharusnya sudah kebal dengan hal seperti ini karena ia sudah sering mendapatkan hukuman sejak SMP, tetapi entah kenapa ia terlihat sangat gugup.


Kringgg!!


Suara bel pertanda jam pelajaran akan segera dimulai telah berbunyi.


“Yah, kok udah masuk sih. Aku masih pengen tau ceritanya.”


“Kenapa kamu tiba-tiba pengen tau sampai segininya, Vir?” tanyaku pada Vira.


Dengan senyuman mengembang Vira menjawab pertanyaanku. “Karena sekarang aku berhak tau semua tentang Andra.” Vira langsung berjalan keluar kelas dengan wajah bahagianya.


“Apa maksud Vira? Kenapa dia berhak? Emangnya dia udah nikah sama Andra?”


Aku penasaran maksud dari perkataan dan sikap Vira tadi. “Apa mereka pacaran? Astagfirullah, jangan Su’udzan.”

__ADS_1


***


__ADS_2