BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Kecewa


__ADS_3

Salah satu rutinitas para santri nisa di malam minggu. Menyiapkan laptop dan para penghuni kamar mulai duduk lesehan siap menonton drama korea. Seluruh tugas di asrama telah kami selesaikan, sekarang waktunya bagi kami untuk menghibur diri. Tetapi, jangan lupakan membaca Al-Qur'an, muroja'ah hafalan-hafalan surat. Menonton hanya dikala senggang saja dan seluruh kewajiban telah dilaksanakan.


Saat di pertengahan film, ponselku berdering. Tertera nama Andra di layar ponselku. Aku segera meraih ponsel dan berjalan menuju balkon.


"Wa'alaikumsalam. Kenapa?"


"Aku mau ngomong sesuatu, Sel. Kamu bisa kapan?"


"Ngomong apa tu? Sekarang bisa, kok."


Diam beberapa detik. "Pengennya ngomong langsung biar nggak salah paham. Tapi kalo kamu sibuk nggak papa deh sekarang biar aku tenang."


Aku mengernyitkan kening. "Sepenting apa hal itu sampe-sampe bikin kamu nggak tenang? Ya udah aku dengerin."


Andra menghela napas setelah beberapa detik terdiam. "Maaf." Kutunggu agak lama ternyata hanya kata maaf yang terlontar dari suara cool di seberang sana.


"Maaf untuk?"


"Maaf untuk semuanya. Maaf karena niat awal aku temenan sama kamu buat bales rasa sakit hati temen aku. Kamu inget kejadian di pantai itu 3 tahun lalu? Aku yakin kamu inget."


Kejadian mana yang Andra maksud? Apa iya kejadian di ruangan gelap itu? Berarti cowok yang dipanggil 'Dra' itu adalah Andra?


"Jadi bener kamu cowok yang pake kaos putih di ruangan gelap itu?"


"Iya, Sel. Maaf."


"Kenapa harus minta maaf? Yang jahat itu kan temen kamu."


"Iya, Sel. Tapi, temen aku bisa bebasin kamu gitu aja di hari itu karena aku janji bakal deketin kamu dan bakal bikin kamu ngerasain apa yang Kak Nira rasain. Salah satu alasan awal aku masuk pesantren ini karena kamu masuk sini, supaya aku bisa deketin kamu dan tinggalin kamu saat kamu udah suka sama aku."


Aku mematung. Seluruh wajahku terasa memanas. Air mata siap mengalir dari mataku. Tidak pernah sedikit pun aku sadari kalau Andra tidak tulus berteman denganku selama ini. Pipiku seperti tertampar dengan dada seperti dihantam batu besar.


Apa semua hal yang Andra kasih ke aku 2 tahun lebih ini cuma karena rencana busuk itu? Karena ia ingin membalaskan dendam temannya itu? Kepadaku? Kepada perempuan yang tak bersalah sama sekali soal kasus Kak Nira dan Mas Adam.


"Aku kecewa, Ndra."


Hanya tiga kata itu yang dapat terlontar dari mulutku. Kini air mataku sudah mengalir deras. Mengasihani diriku yang menyukai laki-laki dengan niat busuk seperti itu. Membayangkan bagaimana aku yang sangat bersyukur memiliki teman sebaik Andra ternyata sikap baiknya kepadaku hanya tipuan belaka. Bukan sebuah kenyataan. Aku seperti terbangun dari mimpi panjangku.


Sambungan telepon telah kututup. Andra berkali-kali berusaha meneleponku hingga teman-temanku yang masih sibuk menonton menyadari.


"Seli? Kamu lagi ngapain? Hp kamu bunyi itu," suara Iffah dari ruang tidur.


Aku tak bisa menjawab. Suaraku akan terdengar sedang menangis. Kumatikan ponsel dan menangis sesegukan di balkon yang remang-remang ini sambil beristigfar di dalam hati.

__ADS_1


***


"Mau jogging sampe mana nanti?"


"Secapeknya, deh, Ra." Aku berjongkok setelah sampai di barisan untuk senam pagi di lapangan.


Lapangan yang sangat luas ini sudah ramai karena seluruh santri berdatangan. Siap untuk melaksanakan senam minggu pagi. Embun di rumput-rumput hijau membasahi sepatu kami, suasana pagi yang indah dan cerah. Lapangan menjadi semakin cerah dengan warna-warni pakaian para santri. Pagi ini aku mengenakan kaos berwana putih dan celana training hitam. Jilbab kupilih warna pink soft yang sewarna dengan sepatu dan kaos kakiku.


"Ngapain, sih jongkok begitu? Tumben nggak semangat." Zahra menarik pelan jilbabku iseng.


"Nggak papa."


Zahra menarik tanganku untuk berdiri. "Berdiri ah. Jangan jadi orang males. Kayak abis disakitin cowok aja lemes begitu."


Emang abis disakitin cowok, Ra. Tapi, ih jijik deh masa aku cuma digituin Andra sedih? Ogah, ah. Cowok ganteng di luaran sana kan masih banyak, batinku.


Aku langsung berdiri saat ada instruktur senam yang akan memulai pemanasan.


Selesi senam, kami beriringan jogging keliling pesantren. Aku dan Zahra lari bersama hingga aku berhenti karena entah kenapa aku merasa sangat lemas dan pusing. Setelah itu, semua terasa berputar dan menjadi gelap.


Brukkk!


***


Aku menatap sekeliling. Melihat Zahra, Iffah, Aidha dan Syilla yang duduk mengelilingiku. Rupanya aku ada di ruang sehat pesantren.


Aku mengangguk. "Ke asrama aja, yuk. Mau istirahat di sana."


"Yakin? Lumayan jauh lho asramanya. Jalannya kuat, nggak?" Zahra memijat tanganku. Baik sekali teman-temanku ini.


"Kuat ih, tenang aja. Eh, tadi kalian yang bawa aku ke sini? Malu dong tadi kan pas jogging lagi rame, pasti diliatin orang."


"Iyah, kita yang bawa. Kita panik kok kamu bisa pingsan."


"Nggak usah malu kali, Sel. Namanya juga orang pingsan. Eh, ini ada titipan dari Andra, tadi dia ke sini." Syilla mengambil plastik yang berisi banyak makanan.


Kami berjalan keluar ruangan, bersiap menuju asrama. "Kenapa dia bisa tau aku di sini?" tanyaku.


"Mungkin pas kamu pingsan ada temennya yang liat atau gimana."


Setelah berjalan beberapa menit, kami hampir tiba di asrama. Aku sudah benar-benar merasa sehat, lagi pula kenapa tadi aku bisa pingsan. Aku merasa sehat-sehat saja. Hanya perkataan Andra tadi malam yang menghantuiku, membuatku merasa aku telah dibohongi. Semua sikap baiknya ternyata hanya palsu, bodohnya kenapa aku bisa menyukainya. Kenapa aku tidak bisa membaca kebohongannya? Ya Allah, aku sangat kecewa padanya.


"Kamu lagi kenapa sama Andra, Sel?"

__ADS_1


"Iya, Sel. Ceritain dong."


Aku memasang wajah pura-pura tidak tahu. "Kenapa emangnya? Aku sama dia nggak kenapa-kenapa, kok. Kenapa kalian bisa mikir begitu?"


Aidha menepuk bahuku kencang hingga hampir jalanku menjadi oleng. "Jangan bohong, Sel. Tadi Andra bilang sendiri katanya tolong bantuin dia biar dimaafin sama kamu."


Syilla menyubit Aidha. "Kata Andra jangan bilang ke Selinya."


Semua tertawa.


"Karena kita udah terlanjur tau dan terlanjur penasaran, kasih tau dong, Sel." Zahra memasang wajah memohon dan diikuti yang lain.


Terpaksa aku harus berbohong kepada teman-teman karena masalah ini terlalu rumit untuk diceritakan. Biasanya aku cerita saja karena mereka sudah seperti keluargaku di sini.


Aku menarik napas dan mengembuskan kencang. "Andra nggak sengaja nuang air ke buku psikologi aku yang dari Ustadzah Fathimah, jadi aku marah." Semoga mereka percaya dengan kebohonganku.


"Yakin gara-gara itu doang? Tapi tadi Andra keliatan sedih banget gitu. Kayak abis diputusin pacar."


" Tumben kamu semarah itu cuma gara-gara itu?"


Teman-temanku ini sangat detail sekali ingin tahunya. Tapi aku tidak keberatan, mereka seperti itu karena rasa pedulinya kepada teman. Terkadang aku juga sepeduli itu kepada teman di sini.


Aidha menebak. "Mungkin karena buku itu dari ibunya Harsa makanya Seli marah karena saking sayangnya sama buku itu."


"Dah, yuk." Zahra berjalan mendahului kami.


"Kalo bahas Harsa, kenapa Zahra suka langsung berubah gitu ya sikapnya?" Iffah bertanya sambil berbisik.


"Apa Zahra cemburu?"


"Hush, ah." Aku berjalan mengikuti Zahra lalu berhenti karena ingat untuk membuka ponsel di pouch yang memang sengaja kubawa.


"Seli, ayok."


"Duluan aja, mau cek hp dulu. Hehe."


Ponsel yang aku silent itu ternyata menunjukan 23 panggilan tak terjawab, sudah kuduga, pasti dari Andra. Aku berniat mengabaikan dan terus berjalan, tetapi aku terkejut saat melihat Andra berjalan menghampiriku.


"Seli." Andra terus mengejar sambil memanggilku, sudah seperti di drama-drama yang kutonton.


Sebenarnya aku tidak membencinya tetapi untuk sekarang ini aku tidak ingin bertemu Andra. Aku ingin melupakan dan menghilangkan rasaku padanya. Andra yang terus memanggilku, bukannya aku menoleh justru aku mempercepat langkah menyusul teman-teman.


"Seli, please."

__ADS_1


Deg!


Andra berhasil mengejarku dan kini menarik tanganku.


__ADS_2