BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Situasi Sulit


__ADS_3

...Kematian seseorang bukanlah penyebab kesulitan yang kita hadapi,...


...Please, stop blaming me!"...


..._Zafar Candra Manaf_...


Andra menaiki anak tangga satu persatu dengan gontai menuju rooftop asrama santri rijal MA. Rambut berantakan seperti tidak disisir berhari-hari. Dasi yang ia gunakan sudah direnggangkan. Kemeja sekolah sudah tidak dimasukan ke celana. Kancing kemeja sudah dilepas beberapa. Sambil mencangking sepatu dan tas Andra tiba di rooftop.


Di bawah terik matahari siang bolong, Andra merebahkan tubuhnya seraya memejamkan mata menghadap langit biru. Ia berkali-kali menarik napas dan mengembuskan perlahan. Mencoba menenangkan pikiran dan mencari jalan keluar.


Sudah tiga hari selepas pulang sekolah ia tidak makan, hanya pergi ke sini dan kembali ke kamar menjelang magrib. Teman-temannya hanya bisa diam melihat Andra yang seperti itu. Percuma saja bertanya karena sudah pasti Andra tidak mengatakan apa-apa.


Ponsel dari dalam tasnya bergetar berkali-kali. Tidak ada respon dari pemiliknya hingga akhirnya berhenti bergetar. Mungkin si Penelepon sudah menghentikan panggilannya. Andra meraih sebungkus rokok dari dalam tasnya. Lalu, ponselnya kembali bergetar. Ia raih ponsel itu dan menggeser tombol hijau kemudian mendekatkan ke telinga.


"Dra. Gua butuh banget uang itu. Rokoknya udah lu jual, kan?"


Andra beristigfar berkali-kali. Ingin sekali rasanya meninju sesuatu. "Gua nggak bisa bantu lu kali ini. Tolong, bro. Lu maklumi juga keadaan gua sekarang."


"Brengsek lu! Lu penyebab dari masalah gua sekarang. Lu pembunuh David. Kalo David nggak mati, gua nggak akan kesusahan kayak gini. Dan lu--"


Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Andra. Mendengarkan ocehan teman lamanya itu hanya akan membuatnya menyalahkan diri sendiri. Merasa kepergian David bukan takdir Allah melainkan kesalahan dan kebodohan dirinya. Dan itu jelas salah, Allah telah menuliskan takdir pada masing-masing hamba-Nya.


Dalam surah al-Ankabut ayat 57 Allah berfirman, "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan."


Terdapat banyak cara untuk kita menemui ajal. Bisa melalui penyakit, kecelakaan atau cara lainnya. Bahkan bisa tanpa sebab sekalipun. Semua itu kehendak Allah yang tidak bisa kita hindari. Mau kita pergi sejauh apa pun, bersembunyi dimana pun, usia bukanlah patokan berapa lama waktu hidup seseorang. Jika sudah waktunya maka kematian akan menjemput.


Rokok yang tadi dipegang, Andra masukan kembali ke tas. Lalu ia meraih coklat silverqueen dari tasnya untuk mengurangi mood-nya yang sangat buruk.


"Dra," panggil seseorang dari dekat tangga.


Terlihat temannya datang menghampiri. "Panas cuy siang-siang di sini. Mentang-mentang putih," candanya setelah ikut duduk di sebelah Andra sambil bersandar tembok.


Yang diajak ngomong hanya tersenyum tipis. Ia sibuk dengan silverqueen di tangannya.


"Main basket, yuk! Lu udah lama banget nggak ke lapangan nih. Cewek-cewek pada nungguin lu main, tuh. Udah tau penggemar lu banyak. Sok menghilang segala lagi."


"Lagi sakit kaki gua. Nggak bisa main."


Tiap kali Andra berbicara menggunakan gua-lu, ia pasti tertawa dalam hati mengingat Seli. Bagaimana saat itu Andra menyarankan Seli agar tidak memakai bahasa gue-lo dengan alasan agar Seli terlihat lebih lembut dan sopan. Padahal itu hanya alasan Andra agar bisa pakai panggilan aku-kamu dengan Seli. Sungguh kekanak-kanakan, pikirnya.

__ADS_1


Ditendangnya kaki Andra oleh temannya itu. "Bohong lu, ah."


"Udah, gua mau turun." Andra meraih tas dan sepatunya. Lalu, berdiri dan berjalan menuju tangga.


"Eh, mau kemana tu? Ke lapangan?"


"Ke kamar. Males ada lu di sini," teriak Andra yang sudah mulai turun tangga.


"Aish. Gua yang ditinggal."


***


Andra mengganti baju seragamnya dan membersihkan seluruh tubuhnya. Setelah itu, ia rebahkan tubuhnya di kasur yang berjejer di lantai. Ini kebiasaan kamar santri rijal, di mana barang-barang tidak pada tempatnya. Baju-baju bergelantungan memenuhi seisi kamar sedangkan lemari kosong atau hanya berisi makanan dan alat-alat mandi.


Di kamar ini tinggal lima orang selain Andra. Tiga orang masih berijtima membahas program baru di sekolah, maklum salah satu teman sekamar Andra ini ketua santri. Sedangkan satu orang lagi sibuk merayakan ulang tahun pacarnya di kantin. Padahal sudah berkali-kali kena razia orang pacaran oleh guru ataupun satpam tapi tetap saja ia nge-date dengan pacarnya. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah-Nya.


"Asalamuallaikum. Andra...," temannya masuk dan langsung mencari keberadaan Andra.


Yang dicari tetap fokus memainkan ponsel setelah menjawab salamnya.


"Dra, ente kemana? Nggak pernah ke masjid udah hampir seminggu."


Teman Andra ini adalah ketua takmir masjid dan ia patut menanyai Andra sebagai anggotanya yang tak bertugas beberapa hari. "Lagi galau, ente?"


Andra mengangguk dan menampakan wajah yang disedih-sedihkan. "Lagi putus cinta." Beberapa detik kemudian, ponsel yang berada di tangan Andra bergetar, menampilkan barisan nomor tanpa nama. Meski begitu, Andra sudah tahu siapa yang menelepon.


Melihat Andra mendapat panggilan telepon, ketua takmir masjid tadi menepuk bahu Andra kemudian pergi setelah mengucapkan salam.


Lelaki dengan hidung mancung dan mata sipit itu menarik tanda hijau dan menempelkan ponselnya di dekat telinga seraya mengacak-acak rambutnya kasar.


"Gua ada di gerbang belakang. Lu ke sini bisa, Dra?"


Setelah menyanggupi permintaan teman lamanya itu, Andra segara turun dan berjalan menuju gerbang belakang. Sesampainya di sana, Andra bertemu temannya melalui sela-sela gerbang.


"Gua minta tolong kali ini aja, Dra. Jual rokok yang gua kasih itu. Gua tau lu ahli nyembunyiin barang haram dari jaman SMP."


Gigi Andra gemeletuk. Ia menahan amarah. "Kalo lu lagi kepepet butuh duit buat bayarin pengobatan ibu lu, gua bisa bantu dikit, Bro. Tapi untuk rokok-rokok itu gua nggak bisa."


"Kebutuhan gua nggak cuma itu, Dra. Gua harus biayain sekolah adik-adik gua. Makan sehari-hari. Lu coba pikir, dah. Lu sih iya orang kaya, butuh apa-apa tinggal minta. Boro-boro gua bisa sekolah di pesantren elit kayak pesantren lu ini. Gua nggak seberuntung lu."

__ADS_1


Andra menatap temannya dengan perasaan campur aduk. Lalu, Ia rogoh sakunya untuk mengeluarkan uang empat lembar seratus ribuan. Ini bukan kali pertama uang yang diberikan ibunya untuk keperluan di pesantren, Andra berikan kepada teman lamanya itu. "Gua cuma bisa bantu ini."


***


Magrib ini Andra berniat pergi ke masjid. Sambil menunggu antrian mandi karena di setiap kamar hanya tersedia tiga kamar mandi untuk sepuluh orang. Andra menggulir berbagai artikel dari ponselnya, mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai kuliah di Turki.


Sudah beberapa hari ini ia tidak membuka aplikasi whatsapp karena ia tak tahu harus menjawab apa pesan dari ibunya dan juga Vira. Menanyai dirinya yang menerima rokok dari seorang teman. Tiba-tiba, muncul notifikasi pesan masuk dari Seli. Melihat hal itu, Andra dengan gesit membukanya.


Seli Hello Kitty


Asalamuallaikum Andra


^^^Waalaikumsalam^^^


^^^Knpa sel?^^^


Tanpa sadar, Andra tersenyum ketika membalas pesan dari Seli. Lesung pipinya nampak jelas karena senyuman dari bibir tipisnya itu.


"Gua udah tuh, Dra. Mandi gih."


"Siap." Andra mengambil handuknya di balkon sambil bersenandung ria.


Beberapa menit kemudian, Andra sudah rapi dengan kemeja garis-garis berwarna biru muda, celana hitam dan sajadah yang ia lampirkan di bahunya. Tidak lupa menyisir rambut dan mengoleskan sedikit minyak rambut. Lalu, ia gunakan parfum andalannya. Mengambil sandal jepitnya dan berniat turun ke lantai satu.


"Wei, tadi ane baru ijtima sama departemen guru. Mereka lagi bahas santri yang bawa rokok ke pesantren," tutur teman sekamar Andra yang memiliki jabatan ketua santri yang baru tiba di kamar.


"Serius lu? Angkatan berapa yang katanya lagi dicurigai?"


"Angkatan kita. Ane aja kaget."


Mendengar hal itu, Andra menelan ludah. Ia ketar-ketir karena dirinya yang membawa rokok ke pesantren, parahnya rokok itu masih di dalam tasnya. Belum ia singkirkan kemana pun. Andra tidak memberitahu teman-temannya bahwa dia yang membawa, meski tidak ia gunakan satu batang pun. Sebab, resikonya sama saja jika sampai ketahuan pihak pesantren. Cukup dirinya saja yang tahu.


"Kemaren gua nyium bau rokok di kamar ini," ucap salah satu dari mereka hingga seluruh kamar menatapnya.


"Di kamar ini? Serius, lu?"


"Iya. Serius gua. Ngga terlalu kecium, sih. Gua nyiumnya deket lemari Andra."


***

__ADS_1


__ADS_2