BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Andra


__ADS_3

Zafar Candra Manaf, itulah nama lengkap Andra. Zafar yang memiliki arti kemenangan, Candra dalam bahasa jawa adalah rembulan dan Manaf yang berarti tinggi. Itulah yang diceritakan Andra kepadaku bahwa kakeknya memberikannya nama yang memiliki arti kemenangan rembulan yang tinggi. Hm, aku dan Andra sama-sama memiliki arti nama yang terdapat kata 'Bulan'.


Andra adalah temanku dari awal aku masuk pesantren ini. Aku suka dengan cara berpikir Andra dan cara ia menanggapi suatu permasalahan. Walaupun ada satu hal yang sangat tidak aku sukai darinya, yang tidak lain adalah sikap playboy-nya. Sudah jelas aku tidak menyukai sikap dia yang seperti itu karena perempuan mana sih yang suka dengan cowok macam buaya darat? Selama ini belum pernah aku bertemu dengan perempuan yang menyukai sikap cowok yang seperti itu, atau mungkin memang 95% perempuan di dunia ini tidak menyukai itu. Entahlah.


Setelah kejadian Andra kelas 10 dihukum oleh kakak kelas untuk meminta tanda tangan struktural 3 kelas nisa, kami tidak sengaja bertemu di kantin sepulang sekolah.


Kulihat Andra sedang menyantap makan siang bersama lima temannya, aku langsung menghampirinya tanpa berpikir panjang setelah aku berpamitan pada Rina.


"Eh, Andra." Aku langsung duduk di kursi depan Andra yang membuat mereka terkejut.


Teman-teman Andra langsung menatap Andra secara bersamaan, sepertinya aku membuat Andra malu. Ah, sudahlah aku sudah terlanjur di sini. Masa aku tiba-tiba pergi? Lagi pula ada yang mau aku tanya sama Andra.


"Siapa, Ndra?" tanya salah satu dari mereka.


"Temen," jawabnya singkat sambil melanjutkan suapannya.


"Oh. Siapa namanya?"


Aku langsung menjawab. "Seli."


Usai menelan makanan di dalam mulutnya, Andra bertanya padaku, "Udah makan, Sel?"


"Lagi makan. Noh." Aku menunjuk ke arah Rina yang sedang duduk sendirian sambil memakan makanannya. Rina terlihat santai karena ia memang sudah terbiasa kemana-mana sendiri di sini. Berbeda denganku yang harus mengajak teman jika ingin pergi ke kantin, toko atau manapun.


"Parah lu, temen lu jadi makan sendirian tuh," ucap salah satu dari mereka yang terlihat paling ganteng setelah Andra.


"Iya, makanya mau cepet-cepet nih. Andra, kok bisa tadi dihukum?"


Andra tertawa. "Iya, tadi pagi saya ke kantin karena keabisan makanan di rumah makan. Saya tau udah kesiangan, tapi dari pada di sekolah laper, ya mending terobos aja ke kantin. Dan sialnya, saya lagi pake celana abu-abu di situ karena celana item saya lupa di cuci. Dapet hukuman paling banyak deh dibanding Hafidz sama Ghani."


Teman-temannya langsung tertawa begitu juga aku.


"Emang nggak ada celana item lagi gitu atau minjem temen?" tanyaku lagi.


Andra menggeleng. "Celana item saya kotor semua dan males mau cari pinjeman."


"Selesai minta tanda tangan, si Andra jam istirahat suruh nyapu sepanjang koridor blok rijal lantai 3 dia."


"Untung ada guru baik, jadi nasinya bisa langsung di makan saat jam pelajaran. Kalo nggak makan dulu, nggak bisa tuh saya nyapu sendirian sebanyak itu, Sel."


Selama kelas sepuluh, Andra masih sering mendapat hukuman. Namun, Alhamdulillah ia telah berhasil sepenuhnya untuk menghilangkan kebiasaan buruknya yaitu merokok. Teman sekelas dan sekamar Andra mayoritas adalah anak lama sehingga mereka memang tidak merokok dan membawa efek positif pada Andra, walau mungkin bisa saja saat liburan mereka merokok. Namun intinya mereka membawa Andra menjadi lebih baik.


Andra yang diberikan saran dari teman-temannya untuk memperbanyak olahraga karena dapat memperbaiki mood dan membantu mengalihkan pikiran dari rokok. Olahraga rutin juga membuat tubuh lebih berenergi sehingga tidak memunculkan kebutuhan akan merokok kembali. Andra pun langsung mengikuti banyak kegiatan olahraga di pesantren hingga hampir setiap sore ia berada di lapangan.


Sebenarnya Andra mengalami kesulitan di 2 sampai 3 minggu pertama. Ia mengalami perubahan mood drastis seperti cepat marah, mudah tersinggung, tidak sabaran hingga ia pernah berkelahi dengan teman sekamarnya karena hal kecil.


Lalu, ada salah satu teman sekamarnya yang mengetahui bahwa seseorang yang mulai berhenti untuk tidak merokok memang mengalami hal itu. Sejak saat itu teman-temannya memaklumi sikap Andra. Namun, tidak dengan kakak kelas yang terus memberikan hukuman kepada Andra.


Suatu hari aku datang ke sekolah dan melihat secarik kertas di laci mejaku. Kubuka kertas itu dan terdapat tulisan dengan nama Andra di bagian bawah kertas.


...Sel, kasih tau saya apa yang bikin mood membaik?

__ADS_1


...


Tanpa pikir panjang aku langsung menbalas surat Andra karena aku sudah lama mengetahui apa yang membuat mood-ku membaik.


...Coklat.


...


Kulipat kertas tadi dan meletakkannya kembali di laci mejaku karena mungkin besok pagi atau lusa Andra akan mengambilnya saat santri nisa belum ada yang datang ke sekolah. Karena santri rijal yang mayoritas makan dan berjalannya cepat, maka mereka lebih cepat sampai sekolah, berbeda dengan santri nisa.


...***


...


Usai guru fisika keluar, aku langsung merebahkan kepalaku di atas meja. Pelajaran fisika adalah salah satu pelajaran yang tidak aku sukai, maka saat berakhirnya jam pelajaran adalah hal sangat kutunggu. Biasanya aku melaksanakan salat sunnah Dhuha saat jam istirahat, tetapi karena hari ini aku sedang berhalangan maka aku berniat untuk tidur.


Baru saja kupejamkan kedua mataku, tiba-tiba hadir sosok Vira di hadapanku. "Ada apa, Vir?"


Vira tersenyum cengengesan. "Ayok. Cerita-cerita yuk." Ia menggoyang-goyangkan tanganku.


Ya Tuhan. Aku benar-benar tidak nyaman dengan sikap Vira belakangan ini. Bukan, bukan aku tidak ingin berbagi pengetahuanku tentang Andra kepadanya, melainkan Vira seperti tidak mengerti keadaanku. Ia tidak memahami kalau aku baru saja ingin tidur, batinku.


"Tentang Andra?"


Vira tersenyum.


Dengan berat hati, aku bangun dan Vira menduduki kursi di depanku.


"Andra kan sering ngasih kamu coklat. Mulai kapan itu?"


"Pasti abis ini kamu mau tanya kenapa Andra bisa ngasih aku coklat, kan?" lanjutku.


"Tau aja, Sel."


"Jadi, waktu kelas 10 Andra nanya ke aku apa yang bisa bikin mood membaik. Ya aku jawab coklat karena dari kecil aku emang selalu makan coklat kalo kesel atau sedih. Karena mood Andra mulai membaik setelah mengikuti saranku untuk makan coklat, akhirnya dia kasih aku coklat seminggu sekali sebagai tanda terimakasih."


Aku tidak memberitau Vira bahwa salah satu alasan Andra bertanya padaku karena ia ingin menormalkan kembali emosinya karena berhenti merokok. Setiap ada keinginan untuk merokok, Andra selalu mengomsumsi coklat dan Alhamdulillah saat liburan pun dia tidak merokok sama sekali hingga kini saat kami kelas dua belas.


Aku sekarang benar-benar merasakan bahwa Vira menyukai Andra dari raut wajah Vira di setiap yang aku ceritakan apa pun tentang Andra. Bahkan saat kuberi tahu bahwa Andra memberiku coklat sebanyak itu Vira terlihat sedih. Namun, yang aku tidak suka adalah apabila Vira dan Andra berpacaran karena sudah jelas bahwa itu adalah dosa.


"Tapi, waktu kelas 11 sampe sekarang Andra ngasihnya cuma 2 minggu sekali atau sebulan sekali. Alhamdulillah kan, coba kalo masih seminggu sekali. Boros banget Andra," kataku menambahkan agar Vira tidak berpikiran buruk.


"Oke. Makasih, Sel ceritanya. Aku balik ke kelas dulu ya. Dadah." Vira pun langsung beranjak menuju kelasnya dengan wajah yang sedikit murung walau masih ada senyuman yang selalu ia lontarkan.


"Ada yang salah sama omonganku tadi nggak, ya? Takut nyakitin Vira, tapi aku cerita fakta dan Andra juga ngasih aku coklat karena dia tau aku suka coklat dari kecil. Bukan karena hal lain," gumamku.


Aku langsung merebahkan kepalaku kembali sebelum jam istirahat berakhir.


...***


...

__ADS_1


Usai bel berbunyi pertanda jam pelajaran telah usai membuat seluruh santri penghuni gedung sekolah madrasah aliyah melipir ke rumah makan, termasuk aku dan lima teman sekamarku.


Kami mengantri untuk mengambil nasi beserta lauk di bagian depan rumah makan santri. Antrian yang cukup panjang ditambah suasana siang hari yang begitu panas membuatku tidak tahan, ingin rasanya pulang ke asrama dan tidak jadi makan. Tetapi tidak mungkin karena perutku sudah berteriak sejak di sekolah karena benar-benar sudah lapar.


Setelah beberapa menit mengantri, aku dan teman-temanku menempati meja dengan 10 kursi di sekelilingnya.


"Aku nggak mau sayurnya tau," ucap Syilla saat sudah menempati salah satu kursi.


"Terus ngapain tadi ngambil, Syill?" tanya Iffah sambil mengunyah nasi beserta tempe orek kering yang dilengkapi sayur.


Syilla memindakan sayur dari omprengnya ke omprengku karena dia tahu bahwa aku sangat menyukai sayur. "Tadi lupa malah ngambil. Buat kamu ya, Sel. Aku tau kamu suka banget sayur."


Aku hanya mengangguk pelan dan terus melahap makan siang di hadapanku.


"Dah yuk balik," ajak Aidha saat aku, Syilla, Iffah, Dilla dan Nisa telah menghabiskan makanan kami.


Kami meletakan ompreng di tempatnya dan tidak lupa mencuci tangan sebelum keluar dari rumah makan.


Saat di perjalanan menuju asrama, aku melihat Andra sedang berjalan di depanku dan teman-temanku bersama seorang bapak-bapak yang kuduga adalah ayah Andra. Selama ini aku hanya mengenal ibu dan kakak perempuan Andra karena sepertinya ayah Andra jarang sekali datang ke sini untuk menjenguk Andra atau mungkin setiap aku diajak bertemu dengan keluarga Andra memang di saat ayah Andra tidak ikut ke sini.


Dengan isengnya teman-temanku justru memanggil-manggil ayah Andra.


"Abi maaf, abi ayahnya Andra ya, Bi?" tanya Iffah yang seketika membuat Andra dan ayahnya menoleh ke arah kami.


Ayah Andra tersenyum ramah. "Iya. Kalian teman-teman Andra, ya?"


Kelima temanku kompak mengiyakan.


"Ini Sel ayahnya Andra."


"Iya, Sel. Salim dong."


"Apa udah kenal ya, Sel?"


Sumpah ini temen-temen malah bikin aku malu. Please-lah jangan bawa-bawa aku, batinku kesal.


"Calon menantu saya ada di sini, ya?" tanya ayah Andra yang sontak membuat teman-temanku semakin heboh. Sedangkan Andra hanya diam saja sambil sedikit tersenyum karena sepertinya dia tengah menahan malu.


"Iya ada, Bi. Yang ini, Bi. Namanya Seli." Iffah menarik lenganku.


Astagfirullah, awas aja, Fah. Tangan kamu nggak akan lepas dari cubitanku nanti, gerutuku dalam hati.


"Oh cantik banget ya."


Tidak kusangka ayah Andra suka bercanda juga padahal jika dilihat dari wajahnya lumayan terlihat galak dan serius.


Kami berpisah di pertigaan jalan karena aku dan teman-temanku ke arah asrama kami sedangkan Andra dan ayahnya menuju asrama santri rijal madrasah aliyah. Tidak lupa kami mengucapkan salam kepada ayah Andra.


Aku dan Andra memang sering digosipkan oleh teman-teman bahwa kami saling menyukai tetapi aku sendiri pun tidak tahu apakah dia menyukaiku. Yang kutahu dengan jelas adalah bahwa aku menyukainya. Kuakui dengan berat hati bahwa aku menyukainya, menyukai cowok playboy macam Andra.


Aku mulai menyukainya saat kami kelas sebelas. Saat itu kami sering bertemu karena setiap ibu dan kakak Andra ke sini, aku pasti diajak mengobrol bersama mereka. Aku hanya sebatas menyukainya bukan mencintainya. Aku kagum dengan dirinya yang selalu berusaha menjadi lebih baik dan satu lagi, karena dia juga ganteng. HAHA.

__ADS_1


Aku mengatakan Andra playboy adalah ketika Andra belum masuk ke pesantren ini. Andra sering bercerita bahwa ia memiliki banyak mantan pacar, aku tidak tahu pasti berapa banyaknya. Selain itu, saat aku iseng buka foto-foto di media sosial Andra memang banyak foto bersama perempuan semasa ia SMP. Maka dari itu aku mengecapnya seperti itu. Astagfirullah.


...***...


__ADS_2