
"Ada yang ketinggalan lagi nggak?" Aku menaikan koper ke bagasi mobil.
"Nggak, Kak."
Aku dan Faaz masuk ke mobil setelah salim kepada Umi dan Abi. Kak Faris-kakak iparku yang akan mengantar aku dan Faaz kembali ke pesantren.
"Sel, jadinya kamu lanjut kemana?" tanya Kak Faris seraya melihatku yang berada di kursi belakang sekilas.
Aku hanya menelan ludah. "Bagusnya kemana, Kak? Kira-kira nilaiku memadai nggak, ya?"
"Semua kampus dan jurusan itu bagus, tergantung kitanya sebenernya. Percuma kampus bergengsi kalau kitanya nggak niat untuk berkembang. Nilai-nilai kamu bagus, Sel. Kamu pinter, cuma suka males aja." Kak Faris dan Faaz menertawakanku.
"Makannya sekarang nih semester terakhir kamu di sana, pergunakan baik-baik. Jangan terlalu fokus sama hasil, nanti kamu kecewa. Fokus untuk terus berusaha yang diiringi do'a," lanjutnya.
"Siap, Kak. Emm... Sebenernya aku pengen masuk psikologi, Kak. Do'ain ya, Kak."
"Pasti."
Tiba lah kami di gerbang ketibaan setelah perjalanan beberapa jam. Aku dan Faaz lansung menuju loket untuk menyerahkan buku izin kemudian mengikuti tes narkoba. Ketibaan ramai pada jam-jam seperti ini jadi antrian lumayan panjang. Aku dan Faaz duduk di kursi panjang untuk menunggu hasil dari tes narkoba.
"Faaz, Seli." Andra duduk di sebelah Faaz. "Udah sampe dari jam berapa?"
"Jam 4-an." Itu Faaz yang menjawab.
"Dra, temen kakak gua ada yang kuliah di turki juga nih." Seseorang duduk di sebelah Andra sambil menunjukan sesuatu dari ponselnya. Masih di gerbang ketibaan sehingga bebas menggunakan ponsel.
__ADS_1
Aku yang mendengar mereka membahas kuliah di turki, langsung berusaha mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan. Apa iya Andra seyakin itu mau ke mesir? Jauh sekali. Aku merasa seperti akan kehilangan Andra padahal ini sudah waktunya untuk menempuh jalan masing-masing, tidak mungkin akan selalu bersama. Entah kenapa aku gelisah sekali mendengar Andra ingin kuliah di turki. Aku tahu aku salah tapi rasa gelisah ini belum bisa dihilangkan.
"Kak, nama kakak dipanggil tuh." Faaz menyadarkanku dari lamunan.
Aku menoleh ke sekitar. Ternyata Andra dan temannya juga sedang melihatku, sepertinya namaku dipanggil sejak tadi untuk mengambil hasil tes tetapi aku tidak menyadarinya. Ketahuan deh bahwa aku tadi melamun.
Aku bergegas pergi untuk mengambilnya. Tak lama kemudian Faaz dipanggil dan aku kembali untuk mengambil koper.
"Udah, Sel?" tanya Andra basa-basi.
Aku mengangguk. "Duluan, ya." Aku tersenyum kepada Andra dan temannya yang tidak kuketahui namanya.
Usai pemeriksaan barang bawaan, aku dan Faaz pamitan kepada Kak Faris untuk naik bus menuju asrama yang telah disediakan. Selain itu, aku juga mengambil ponselku yang tadi kutitipkan kepada Kak Faris sebelum pemeriksaan barang bawaan.
Plakkk!
Tanganku langsung menyentuh pipi yang terasa panas akibat tangan kotor yang barusan mendarat kencang. Tak dapat ditahan, air mataku mengalir deras. Aku takut bukan main, seluruh tubuhku sudah bergetar hebat sambil menahan tangisan.
Laki-laki bertubuh tinggi besar tengah berdiri di hadapanku sambil mengisap sebatang rokok yang ia pegang sejak tadi. Aku bersusah payah mengatur napas, aku merasa sesak akibat asap rokok yang sudah memenuhi ruangan gelap dan menyeramkan ini. Aku beristighfar tanpa henti, berharap perlindungan dari-Nya.
"Gua tau lu cewek. Gua emang cemen karena yang gua lawan adik perempuannya. Lu harus terima balasan akibat perbuatan kakak lu!" Lelaki itu berbicara penuh penekanan.
Aku tak menjawab perkataannya. Aku memang tak mengerti apa tujuan dia membawaku ke sini dan maksud perkataannya mengenai kakakku. Tapi, aku hanya bisa menenggelamkan wajah di antara kedua lututku yang dilipat. Aku duduk terkulai di pojok ruangan sambil terus sesegukan.
Ia melangkah dan menyisakan jarak di antara kami hanya beberapa senti. "Kakak lu udah buat kakak gua menderita. Gua pengen kakak lu menderita liat adik perempuannya gua apa-apain."
__ADS_1
Brakkk!!
Seseorang pakai kaos putih masuk ruangan kemudian menarik paksa lelaki tadi keluar. Ruangan ini gelap sehingga aku tidak dapat melihat dengan jelas wajah seseorang yang barusan masuk. Yang dapat kupastikan seseorang itu adalah laki-laki bertubuh lebih pendek sedikit dari lelaki jahat tadi.
Dengan mengumpulkan keberanian, aku berusaha berdiri dan mendekat ke jendela untuk melihat dan mendengarkan pembicaraan dua laki-laki tadi. Pintu dan jendela sudah dikunci dari luar sehingga aku tidak bisa kabur.
"Adam itu udah hancurin hidup kakak gua, Dra. Kakak gua sekarang udah kehilangan akalnya gara-gara Adam!"
"Gua tau! Tapi, cara lu itu salah! Lu nggak bisa lampiasin ini semua ke dia, walaupun dia adik dari laki-laki itu. Lu bisa masuk penjara dan nggak bisa lindungin kakak lu lagi. Sadar, Bro."
"Anjing Adam!" Lelaki tadi meninju tembok sangat keras.
Lelaki berkaos putih tadi menepuk pundaknya. "Sebenernya apa yang udah Adam lakuin ke kakak lu?"
Laki-laki yang penuh amarah tadi duduk. "Bertahun-tahun kakak gua suka sama Adam, akhirnya mereka berdua deket. Kakak gua bahagia banget sejak hari itu, dia merasa Adam juga punya perasaan yang sama. Tapi, ternyata Adam lamar cewek lain. Kakak gua syok, merasa hancur. Nggak pernah mau makan, hidupnya mulai nggak normal, cuma melamun setiap hari sampe nyakitin dirinya sendiri."
Aku terkejut mendengar penjelasan lelaki tadi. Apa benar Mas Adam seperti itu? Bagaimana pun aku harus mendengar penjelasan dari Mas Adam langsung.
"Kakak gua hampir gila, Dra. Dia hampir bunuh diri!" Ia berjalan ke arah ruangan ini kemudian ditarik oleh temannya itu. "Nggak bisa. Gua harus bikin adiknya juga trauma."
Lelaki berkaos putih yang tadi dipanggil dengan sebutan 'Dra' berbisik kepada lelaki jahat tadi. Aku tidak dapat mendengar apa pun yang dikatakan lelaki berkaos putih itu. Sepertinya mereka sedang menyusun rencara.
Tak lama kemudian, lelaki berkaos putih tadi masuk dan menyuruhku segera keluar. Tanpa basa-basi, aku langsung berlari sekuat tenaga menjauh dari situ. Tempat itu terletak agak jauh dari pantai tempat aku dan keluargaku berlibur.
"Seli, jangan ngelamun. Emang udah setor hafalannya?" Aidha menepuk bahuku.
__ADS_1