BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Tak Menyadari


__ADS_3

Ungkapan perasaan Harsa satu bulan yang lalu tidak membawa banyak perubahan untuk pertemanan kami. Tidak membuat kami semakin dekat selayaknya dua insan yang sedang jatuh cinta, tidak membuat kami menjauh satu sama lain karena rasa canggung setelah dia mengungkapkan itu. Bisa dibilang, kami biasa-biasa saja, seperti tidak ada hal yang terjadi. Ya, memang bukan hal yang harus dipermasalahkan, Harsa hanya berkata jujur mengenai perasaannya padaku. Itu saja.


Seluruh rangkaian ujian sudah kami tuntaskan. Tak kusangka yang awalnya terasa berat, menjadi mudah ketika kita fokus menjalaninya. Tidak perlu banyak memikirkan bagaimana hasilnya, cukup jalani dengan niat ibadah. Barengi dengan usaha dan doa. Terkadang sesuatu terasa berat karena pikiran kita sendiri, pikiran kita yang terlalu takut, terlalu cemas akan apa yang ada di hadapan kita. Mungkin aku sudah sering mendengar kata-kata motivasi seperti ini dan rasanya memang sulit untuk memerangi pikiran kita sendiri, tapi saat aku terpuruk, aku membutuhkan kata-kata motivasi itu untuk kembali bangkit.


Teman-teman mulai mempersiapkan UTBK maupun seleksi mandiri di hari senggang ini, intinya mempersipkan diri masuk dunia perkuliahan dengan belajar. Kami sudah tidak ada kegiatan apa pun di sekolah, hanya berkegiatan di asrama setiap harinya sambil menunggu kelulusan. Pengumuman hasil SNMPTN akan keluar hari ini pada pukul 13.00, semua yang mengambil jalur SN ini tegang akan hasil yang akan mereka terima.


“Jadi ngambil psikologi di SN?”


“Iya. Ente sendiri ngambil apa di pilihan pertama?” tanyaku balik.


“Insyaallah kedokteran.”


Sudah kuduga orang sepinter Harsa akan memilih mengambil kedokteran. Semua guru juga menyarankan seperti itu. Begitu pula Zahra, ia sangat bertekad untuk masuk kedokteran. Setahuku mereka mengambil perguruan tinggi yang sama.


“Sebenernya minat saya bukan di kedokteran. Saya pengennya masuk fakultas Ilmu Budaya, jurusan Sejarah.”


“Sejarah? Ente kan jurusan IPA, bukan Ilmu Sosial. Kenapa bisa minat di sejarah? Lagi pula nilai ente bagus semua, mau masuk universitas terbaik juga Insyaallah keterima. Terus jurusan yang sulit kayak kedokteran pun Insyaallah ente langsung keterima juga.”


Harsa terkekeh, barisan giginya nampak. “Berlebihan banget, Sel. Nilai bagus itu nggak menjamin, kalo nilai bagus tapi Allah nggak ridho gimana?” Jeda beberapa detik, Harsa kembali terkekeh. “Respon ente sama kayak yang lain. Aneh ya kalo anak IPA mau masuk sejarah?”

__ADS_1


Aku menyeringai. “Ya nggak, sih. Terus, kenapa ente ngambilnya kedokteran?”


“Disuruh orang tua, dikasih masukan dari guru-guru juga. Ya udah ikutin aja, mereka tau mana yang terbaik untuk anaknya. Bismillah, semoga lancar semuanya. Oh iya, Andra jadi ke Turki, kan? Hebat banget dia, keren.”


Aku tersenyum tipis lalu bangkit dari kursi yang berada di depan meja announcer dan menuju lemari kaca yang berisi sekitar dua ratus lebih kunci kamar, kunci-kunci itu menggantung rapi sesuai tempatnya. Aku meraih kunci dengan gantungan bertuliskan ‘110’untuk membuka ruang perpustakaan.


Santri Madrasah Ibtidaiyah mulai berdatangan setelah perpustakaan kubuka. Hari ini adalah hari minggu sehingga asrama ramai. Sebagian dari mereka memilih mengambil alat-alat permainan dan memainkannya di depan perpustakaan. Tak lama kemudian, pengurus asrama yang hari ini bertugas di perpustakaan sudah datang, aku pun berniat kembali ke kantor manajemen asrama. Namun, aku melihat Andra datang bersama Faaz, adikku. Mereka sepertinya baru saja dari lapangan, biasanya Faaz selalu minta diajarkan basket oleh Andra atau pun Harsa.


“Kak, ini minuman sama coklat dari Kak Andra.” Faaz menyerahkan kantung plastik kepadaku. “Kalo Kak Andra udah berangkat ke Turki pasti Kak Seli kangen, Kak Seli kan suka sama Kak Andra.” Mulut adikku itu bagai tanpa rem, ia berkali-kali memberi tahu Andra hal yang membuatku malu.


Aku menggigit bibir bagian bawah, menarik napas dan mengembuskan cepat. “Makasih minumannya.” Aku kembali menuju kantor manajemen. Namun, tiba-tiba terdengar suara Andra memanggilku. Aku menoleh. “Kenapa?”


“Tangkep!” Andra tiba-tiba melempar satu batang coklat kepadaku.


“Jangan pura-pura lugu. Buat siapa lagi kalo bukan buat kamu.” Sesudahnya Andra mengembangkan senyuman kepadaku sambil merangkul Faaz, lalu mereka berlalu pergi.


...***...


Beberapa menit lagi pengumuman hasil SNMPTN keluar. Tugas di kantor manajemen yang lumayan banyak, membuat waktu terasa berlalu begitu cepat. Rasa kantuk mulai menyerang kami berdua yang sudah bertugas sejak pagi, pengurus sesi berikutnya belum datang sehingga kami harus tetap di sini. Harsa menyandarkan tubuhnya di kursi dan menutup wajahnya dengan buku. Mungkin dia tidur.

__ADS_1


Waktunya tiba, menatap layar komputer di hadapanku. Melihat hasil pengumuman itu. Aku menghela napas pelan. Hasilnya belum sesuai keinginanku. Ya, aku belum diterima di universitas yang menjadi incaranku melalui jalur ini. Mungkin, Allah ingin aku belajar lebih giat lagi, aku menyadari belajarku memang belum rajin.


“Gimana, Sel?” Harsa terbangun dan melihat layarku yang menunjukan bahwa aku tidak diterima. “Semangat, Sel. Eh, itu coklat ente?” Harsa menunjuk coklat yang berada di atas meja. “Dari Andra, ya?”


Aku mengangguk. “Ente gimana hasilnya? Cek dong.”


Kami menatap laman LTMPT itu kemudian mengucapkan syukur bersamaan. “Alhamdulillah.”


“Selamat ya Harsa Jadi mahasiswa baru Kedokteran UNPAD,” ucapku padanya penuh semangat.


...***...


Andra menatap pepohonan yang rindang dari rooftop asramanya. Merasakan kesegaran angin di sore hari ini. Ia sudah lama kembali ke aktivitas normalnya, kembali melatih basket, mengawal kegiatan di masjid maupun kegiatan sebagai santri kelas dua belas lainnya.


Remaja laki-laki dengan mata sipit dan kulitnya yang putih menghela napasnya berkali-kali. Mengingat kembali apa yang ia lihat dan dengar pada hari itu. Bak tersambar petir di siang hari, hatinya terasa sakit mendengar kalimat itu keluar dari mulut teman sekelasnya pada acara anniversary satu bulan lalu. Padahal Andra sendiri sudah tahu mengenai perasaan Harsa pada Seli karena sebenarnya Harsa sudah pernah mengatakannya kepada Andra. Alasan Harsa memberitahu Andra terlebih dahulu karena ia tidak ingin menjadi pendusta, apalagi terhadap Andra yang memang teman dekatnya. Sedihnya, Andra sendirilah yang meminta Harsa memberitahu Seli mengenai perasaannya. Andra terlalu menyepelekan ini hingga ia tidak menyadari bahwa ia juga sakit mendengarnya. Ia juga merasa dadanya sesak saat melihat wanita yang ia kagumi selama dua tahun bersama orang lain dan itu teman dekatnya sendiri. Andra akui dirinya terlambat menyadari perasaannya pada Seli, selama ini ia kira perasaannya hanya sebatas kepada adik karena dari awal mengenal Seli, ia diperintahkan ibunya untuk menjaga Seli, maka Andra tak pernah mengira dirinya akan menyukai Seli seperti ini.


“Lagi pula setelah lulus kemungkinan aku nggak ketemu Seli lagi, Insyaallah aku bakal lama di Turki. Jadi, mungkin lebih baik Seli berjodoh sama Harsa,” ucap Andra kepada dirinya sendiri.


“Dra, ayok ke lapangan.” Teman Andra yang berdomisili Papua menghampirinya sambil membawa bola basket.

__ADS_1


Andra mengangguk kepada temannya itu, kemudian dengan sengaja menjatuhkan gelang dengan nuansa Hello Kitty yang sejak tadi ia pegang. Gelang itu mendarat di taman asrama.


...***...


__ADS_2