
Matahari terbit dan terbenam setiap hari, waktu terus berputar tak henti. Meninggalkan kenangan dan memulai cerita yang baru setiap pagi. Kewajiban manusia adalah bersyukur dengan segala apa yang dimiliki saat ini. Bukan, bukan harta saja sebagai kebahagiaan yang patut disyukuri. Nikmat Allah jauh lebih luas dari apa yang kita sadari.
Aku benar-benar bersyukur diberi kesempatan untuk mencium aroma dunia. Kini aku sadar bahwa Allah sangat baik kepadaku, setelah hamba-Nya yang banyak dosa ini terus melakukan kesalahan tetapi engkau selalu memaafkan. Lantas, mengapa masih banyak manusia yang belum mau meminta ampunan-Nya padahal Allah maha pengampun.
Ujian akhir semester telah berakhir. Tanpa terasa beberapa hari lagi kami akan kembali ke rumah masing-masing, ke tempat yang sangat dirindukan ketika kami di sini dan tempat yang paling membosankan ketika kita merindukan di sini. Kami pulang ke rumah selama satu bulan di setiap semester. Mungkin liburan kali ini akan menjadi liburan yang terakhir, karena liburan semester depan kami tidak akan kembali ke sini, kami telah lulus dan akan sibuk dengan perkuliahan, pekerjaan atau pun kegiatan lain.
"Ayok berangkat!" Iffah bangun dari duduknya setelah mengikat tali sepatu di teras asrama.
Aku dan yang lain menyusul berdiri dan berjalan menuju sekolah. Hari ini pembagian rapot dan pengambilan buku uji kompetensi-catatan hafalan surat-surat yang diperintahkan karena besok kami sudah mulai meninggalkan pesantren ini. Persyaratan sebelum pulang yaitu telah menyelesaikan hafalan surat-surat yang diperintahkan dan tugas piket kebersihan asrama.
"Kalian udah packing semua, ya? tanya Syilla sambil terus berjalan.
"Aku belum kok," jawab Naila.
Di antara kami bersepuluh, Syilla memang paling santai. Semua hal tidak terlalu ia pikirkan, seperti perpulangan ini. Ia akan mengemas barang kalau waktu sudah mepet dan pasti selesai baginya.
"Oke, Nai."
Kami bersepuluh akhirnya sampai di sekolah. Melepas sepatu dan mulai naik tangga menuju lantai 2. Ketika sampai di selasar tengah lantai 2, aku melihat Andra berdiri dekat tiang.
"Seli," panggil Andra.
"Hai, Andra," sapaku. Aku sebenarnya berniat untuk pura-pura tidak melihat agar tidak perlu menyapanya. Aku dan dia bukan lagi teman dekat seperti 2 tahun lalu. Aku sudah canggung dan takut menyakiti Vira.
"Tumben nggak nyamperin, Sel?" goda Aidha yang disambut sahutan dari teman-teman yang lain.
Aku mengerutkan kening. "No. Ngapain nyamperin? Minta permen?"
"Ciaa.. biasanya juga dikasih silverqueen."
"Dah, yuk masuk kelas." Aku berjalan duluan menuju kelas.
Setelah aku duduk dan merebahkan kepalaku di meja, aku mengambil ponsel dan menjelajah sosial media.
"Seli, tadi dipanggilin sama Andra di tengah. Kok malah ke kelas?" Aidha duduk di tempatnya.
Aku mendongak. "Dipanggilin Andra? Nggak denger aku. Emang mau ngapain dia?"
"Entah. Coba kamu ke tengah aja gih."
__ADS_1
"Ih ngapain ah. Nanti aja palingan nggak terlalu penting." Aku melanjutkan menggulir instagram.
Ustadzah Fathimah-wali kelasku sudah berada di depan kelas saat bel berbunyi. Untung saja aku sudah menyimpan ponselku.
Rapot dibagikan setelah pengumuman juara satu hingga sepuluh. Sudah pasti Zahra menduduki juara satunya dan Alhamdulillah semester ini aku mendapat juara 3 walaupun belajarku tidak serajin Zahra.
Usai Ustadzah Fathimah memberikan arahan sebelum kami kembali ke masyarakat, setelah itu kami mengobrol bebas dengan wali kelas kami ini. Ada yang menanyakan Harsa juara ke berapa di kelasnya. Ternyata Harsa Al-Hafidz alias cowok perfeksionis itu mendapat juara pertama di kelasnya. Sungguh, banyak sekali skill dari cowok satu ini. Aku kalah jauh. Sebenarnya tidak masalah karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
***
Seragam berwarna-warni memenuhi aula. Panggung sudah penuh dengan kursi-kursi untuk Syekh dan jajarannya. Puluhan lampu sudah dinyalakan di dalam dan luar aula. Karpet merah sudah terbentang dari pintu depan aula sampai panggung. Para santri mengenakan seragam angkatannya masing-masing lengkap dengan jas dan bawahan hitam.
Spanduk besar bertuliskan, 'Tausyiah Syekh Pengantar Kepulangan Santri' sudah terpampang jelas. Paduan suara, tim hadroh dan berbagai kesenian lain yang akan tampil malam hari ini sudah siap di belakang panggung. Speaker salon besar-besar berada di setiap pojok aula sudah mengeluarkan alunan musik sholawat.
Aku duduk bersama teman sekamarku di kursi dekat karpet merah. Semuanya sudah siap mendengarkan arahan dari Syekh sebelum kami kembali ke masyarakat.
"Seli."
Aku menoleh ke sumber suara. "Vira?" Aku baru menyadari yang duduk di sebelahku adalah Vira.
Dia tersenyum dan menyentuh tanganku.
"Maafin aku ya, Sel."
"Eh? Maaf kenapa?"
Ia tak menjawab hanya menatapku dengan senyumannya.
Ponselku bergetar, tanda pesan masuk. Ternyata dari Andra.
Andra
Selina, aku udah selesai sma Vira. Aku ga mau bikin dia berharap sma aku, apalagi pacaran haram.
Jadi, Vira sama Andra udah nggak pacaran? Terus kenapa Vira minta maaf sama aku? Membingungkan. Mungkin dia merasa bersalah karena pernah menuduhku yang tidak-tidak.
Drrrttttt!!
Kulihat pesan dari Andra kembali masuk beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Andra
Seli, tadi pagi di sklah aku panggil knpa malah msuk kls?
Padahal aku mau ngasih tau klo bsk km plng bareng aku.
Malas menanggapi bercandaan Andra, kututup ponsel dan kembali mengobrol dengan teman-temanku. Di antara teman sekamarku ini terdapat 3 orang yang berasal dari luar pulau jawa. Nisa yang berasal dari Sulawesi, Naila berasal dari Aceh dan Aninda berasal dari Papua. Sangat beruntung aku mendapat banyak teman yang berasal dari daerah yang berbeda karena kita bisa saling berbagi pengalaman di daerah masing-masing juga memiliki pengetahuan tentang daerah yang belum pernah dikunjungi.
Drrrttttt!
Drrrtttt!
Kak Wardah💜
Seli.
Dek, kalo km pulang bareng keluarga Andra, mau ga?
^^^Bercandanya nggak lucu ah.
^^^
Benar-benar menyebalkan. Kenapa Kak Wardah sama Andra bercandanya bisa sama begitu. Janjian kah? Nyebelin banget. Acara sudah dimulai, aku mendengarkan arahan Syekh sambil terkadang mengobrol juga, sulit rasanya jika harus fokus mendengarkan orang berbicara di tempat yang sangat ramai seperti ini.
"Seli, kamu beruntung."
Aku menoleh kepada Vira yang sedang menatapku. "Maksudnya?"
"Aku iri sama kamu yang punya keluarga utuh dan punya temen yang baik banget kayak Andra. Sebenernya aku emang suka sama Andra dari kelas 10, tapi aku selalu minder sama Andra makanya aku nggak berani bilang iya waktu kamu tanya dulu. Karena hawa *****, aku... ."
Aku mengelus tangannya. Hatiku mencelos karena setauku keluarga Vira memang tidak utuh sejak dulu, bahkan orang tua Vira hampir tidak pernah datang ke sini, Muharram bulan kemarin pun tidak. Apalagi setelah kepergian David, kakak laki-laki yang sangat sayang kepadanya. Aku sangat memaklumi perasaan Vira saat ini.
"Intinya sekarang aku sadar, nggak semua hal yang dimiliki orang lain harus kita miliki juga. Semua orang punya ujian dan kebahagiaan yang berbeda."
Selesai acara ini, aku mendapat telepon dari Kak Wardah bahwa keluargaku tidak ada yang bisa menjemputku besok. Abi dan Umi sedang merawat nenek yang sedang sakit di kampung. Kak Wardah mengurus anaknya yang masih balita sedangkan suaminya masih ada keperluan di Kalimantan. Mas Adam, yang selalu bisa luangin waktu buat aku justru besok harus menghadiri acara wisuda mahasiswanya dan ada beberapa urusan yang memang tidak bisa ditinggal.
Aku dengan sangat terpaksa menerima ajakan Umi Devi yang menelepon untuk mengajakku pulang besok setelah Umiku meminta bantuan kepada ibunya Andra ini. Aku tidak enak dan tidak ingin merepotkan keluarga Andra apalagi Andra dan Umi Devi sangat baik kepadaku selama ini.
Sebenarnya aku memang ingin pulang bersama Faaz saja dengan naik kendaraan umum, karena rumahku dan pesantren ini sama-sama berada di Jawa Barat, hanya beda kota saja, tetapi Abi melarang. Jika menunggu Mas Adam, Faaz tidak mungkin mau, dia sudah sangat ingin pulang. Apalagi setelah mengetahui bahwa Umi menyuruh kami pulang bersama Andra, Faaz langsung bersemangat karena ia juga sangat dekat dengan Andra sejak masuk sini.
__ADS_1
***