BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Lamunan


__ADS_3

Cuaca yang lumayan mendung di pagi ini berhasil membuat aku dan beberapa temanku masih nyaman berada di atas kasur. Tadi Subuh kami sudah melaksanakan tugas seperti biasanya, kami juga masih mendapat jatah makan di rumah makan meskipun kami sudah bukan santri. Aku menarik guling lalu memeluknya sambil menghadap ke tembok. Terasa sangat nyaman, lalu tiba-tiba aku merasakan seseorang naik ke kasurku dan ikut berbaring di sampingku.


“Zahra?”


“Ih, kok kamu tau sih ini aku?”


Aku masih di posisi yang sama. “Taulah, siapa lagi yang suka ngusel-ngusel terus waktu naiknya grasak-grusuk?”


“Iya, bener tuh. Tempat tidur aku aja sampe goyang-goyang, saking Zahra nggak bisa santai. Heboh banget,” balas Aidha dari tempat tidurnya yang berada di atasku.


Zahra sontak mencubit tanganku hingga aku mengaduh kesakitan dan balas mencubitnya. “Eh, Aidha. Enak nggak sih tidur di atas? Dari dulu aku selalu milih kasur yang di bawah,” ucap Zahra sambil memainkan boneka Hello Kitty besar milikku, pemberian Umi Devi saat liburan semester lalu.


“Dari kelas tujuh tempat tidur kamu selalu di bawah, Ra?”


“Iya aku selalu di bawah, takut jatoh kalau di atas. Tapi, pengen sih nyobain di atas.”


Aku menarik boneka yang sedang dipegang Zahra. “Hayo loh nggak bisa nyobain, nanti kan kuliah kalau ngekos belum tentu tempat tidurnya tingkat begini.”


“Ya, nggak masalah. Nanti aku di rumah aja pake tempat tidur tingkatnya.”


“Nggak bisalah. Vibes-nya bakal beda. Terus ... .”


Tok! Tok! Tok!


“Assalamualaikum.”


Kami langsung dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang diikuti dengan salam yang berasal dari seorang laki-laki.


“Waalaikumsalam. Cari siapa?” teriak Aidha.


“Ada Selina nggak?”


“Banyak. Mau berapa?”


Terdengar kekehan pelan dari luar. “Satu aja cukup. Suruh cepetan keluar, ya.”


“Siap, Tuan. Kami laksanakan.”


Usai percakapan singkat Aidha dan Andra selesai, aku menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Aku sedang malas melakukan apa pun dan bisa-bisanya Andra mendatangi kamarku sepagi ini. Bukan apa-apa, masalahnya adalah aku belum mandi bahkan dari tadi pagi aku di atas kasur. Tidak terbayang wajahku seperti apa saat ini.


Zahra menarik selimutku . “Seli, jangan pura-pura tidur. Kamu kan nggak bisa akting.”


“Tolong bilangin dong, aku lagi nggak enak badan gitu,” pintaku dengan wajah memohon.


Zahra beranjak dari kasurku, berjalan ke arah pintu. “Oke. Aku bilangin ke Andra ya kalau Seli nggak mau keluar karena belum mandi.”


Dengan langkah seribu, aku bergegas ke kamar mandi. Lalu, mengambil sabun cuci muka usai menggosok gigi. Dilanjut dengan memakai baju seadanya, hanya rok plisket abu-abu yang dipadukan dengan cardigan. Tidak lupa dengan bergo yang berwarna sama.


Beginilah jika kelas dua belas yang mendapat bagian pengurus asrama  dan mendapat kamar di lantai satu. Jika ada yang ingin bertemu, bisa langsung ketuk pintu kamar tanpa perlu announcer dari kantor manajemen. Aku menghampiri Andra yang duduk di salah satu kursi.


“Selina, duduk, Sel.” Ia menyerahkan sebuah kardus yang berukuran lumayan besar ke arahku.


“Ini apa, Dra?”


“Biasa, itu titipan Ibu buat kamu.”

__ADS_1


Aku terperangah. “Ih banyak banget. Umi Devi ke sini? Terus sekarang Umi Devinya di mana?”


“Udah pulang. Kemaren sore ke sini buat jemput aku karena kirain kita pulang, jadi Ibu pengen kasih kamu oleh-oleh. Taunya kita pulangnya diundur, jadi tadi Subuh Ibu sama Ayah langsung pulang lagi. Kalau orang tua kamu gimana? Udah sempet otw ke sini?”


“Belum. Abi tadinya mau jemput pagi ini, terus tadi malem langsung aku kabarin kalau kita nggak jadi pulang. Eh, semalem kamu ngasih bingkisan ke Faaz dari Umi Devi juga?”


Andra mengangguk. “Kamu semalem liat waktu aku ketemu Faaz? Atau jangan-jangan kamu emang sering ngeliatin aku dari jauh?” godanya sambil mengangkat kedua alis tebalnya.


“Enak aja. Semalem itu aku dikasih tau Nisa. Oh iya, makasih banyak ya. Umi Devi baik banget sih, sampe repot-repot begini.”


Lelaki berkulit putih yang duduk di hadapanku ini mendengus. “Aku juga ikut repot kali, Sel. Liat tuh pagi-pagi begini aku udah ke asrama kamu buat nganterin ini. Untung aja kamu tinggal di asrama anak MI jadi santri cowok atau cewek bisa bebas dateng.”


“Oh, jadi nggak ikhlas nih nganterinnya?”


“Ikhlaslah.” Andra menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Sebenernya gue bingung, perasaan yang anaknya kan gue, kenapa Ibu kalau mau ke sini yang ditanyain, ‘Seli mau dibawain apa, Dra? Seli sehat kan, Dra? Seli suka ayam geprek kan, Dra?’ Kayaknya Ibu pengennya anaknya perempuan semua, deh.”


Aku langsung tertawa renyah. Umi Devi memang hanya memiliki satu anak perempuan dan kini sudah menikah, mungkin itu salah satu penyebab Umi Devi sepertinya menginginkan anak perempuan lagi. Beruntung sekali aku mengenal Umi Devi yang super baik hati dan perhatian.


Andra duduk tegak seperti baru menyadari sesuatu. “Barusan aku pake bahasa ‘gue-lo’ sama kamu, Sel. Biasanya kita pake ‘aku-kamu’ terus ya gara-gara disuruh Ibu. Hahaha ... bisa-bisanya kita nurut aja disuruh sama Ibu kayak gitu.”


“Iya, padahal nggak nyaman banget waktu itu. Em, tapi kan kamu emang nyuruh aku nggak boleh pake ‘gue-lo’ waktu kita ketemu di tes tertulis. Inget, nggak?”


“Yang mana?” Andra tampak mengingat sesuatu. “Oh, yang kita dapet tempat duduk bareng itu, ya? Itu kan aku cuma isengin kamu aja, Sel. Pengen aja waktu itu aku denger kamu nyebut aku pake bahasa ‘aku-kamu’. Dengernya bikin hati gimana gitu. Oh iya, nanti sore Fatih tanding futsal lagi di sini. Tolong kasih ini ke dia, ya.” Andra menyerahkan kepadaku Al-Qur’an dan sajadah yang sepertinya milik Fatih.


“Ini ketinggalan lagi apa gimana?”


“Iya, kemarin waktu ketemu Ibu langsung pergi aja dia ama temennya. Heran aku, punya adek kenapa sering banget lupa. Sekarang kan dia masih sekolah, kalau sore kayaknya aku mau ngelatih basket di lapangan, jadi kayaknya susah ketemu Fatih.”


“Santai, nanti aku yang kasih ke dia. Oh iya, ngomongin ngelatih basket, jadi inget adek-adek kelas yang sering ngirim surat ke kamu. Sekarang gimana? Masih banyak yang begitu?” ejekku mengingat Andra yang dulu sering bercerita tentang dirinya yang mendapat banyak surat cinta dari adik kelas.


Aku mengacungkan jempol tanda mengiyakan. “Mau langsung balik? Tar dulu, Umi Devi ulang tahunnya kapan? Aku pengen hadiahin sesuatu.” Melihat Andra yang tampak berpikir, sepertinya dia lupa dengan tanggal lahir ibunya. “Jangan bilang kamu lupa ya, Dra?”


Andra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menyunggingkan senyum tipis. “Nanti deh, aku kabarin. Aku catet kok di kalender hp.”


“Ya udah sana balik.”


“Iya ini mau balik. Aku ada satu pesen buat kamu,” imbuhnya sambil menahan tawa.


“Apaan?"


“Jangan lupa mandi, ya,” ucapnya pelan. Lalu ia sedikit menjauh setelah mengatakan itu. Dia takut aku akan memukulnya dengan sajadah Fatih yang aku pegang. Karena aku memang sering memukulnya.


“Kok tau kalau belum? Emangnya bau?” tanyaku.


“Bau sih nggak, tapi mukanya muka bantal. Jelek banget.”


Aku mengambil sajadah Fatih dan siap memukulnya tapi dengan gesit Andra kabur keluar asrama. Setelah Andra hilang dari pandangan mata, aku duduk kembali. Aku merasa bersalah karena memiliki perasaan seperti ini kepadanya. Jika memang benar dia masih belum bisa melupakan perempuan di masa lalunya, itu bukan salahnya karena akulah yang selama ini menyalah-artikan kasih sayangnya padaku.


Seperti yang aku dengar dari mulut Andra sendiri saat di kantin dua tahun lalu bahwa dia dekat denganku hanya untuk memenuhi permintaan ibunya. Permintaan untuk dekat dan menjagaku. Aku tidak mau jika suatu saat akulah yang menjadi penyebab hancurnya persahabatan kami. Mulai sekarang, aku mencoba melupakannya. Aku harus menganggapnya hanya sebagai sahabat. Tiba-tiba kenangan bermain bersamanya muncul di kepalaku.


Kala itu Andra pulang dari pesantren bersama aku dan abiku saat liburan kelas sepuluh semester dua, itu liburan kedua kami setelah masuk pesantren. Orang tua Andra masih berada di luar kota sehingga belum bisa menjemputnya pulang. Andra memang sudah berniat pulang dengan kendaraan umum, tetapi abiku memaksanya ikut bersama kami. Sekaligus bersilaturahmi bersama keluargaku. Ia menginap sekitar tiga hari, barulah ibu dan kakak laki-lakinya datang menjemput ke rumahku.


Pada hari kedua Andra di rumahku, kami menikmati camilan sambil duduk santai di teras samping rumah. Lalu, tukang bakso langgananku lewat depan rumah, aku dan Andra bergegas membelinya. Aku membeli satu porsi, sedangkan Andra dua porsi dan super pedas.


“Sel, lo nggak bosen apa dari tadi nonton drama korea mulu? Bukan dari tadi deng tapi dari kemarin, dari kita baru pulang dari pesantren. Sana gih masuk, istirahat,” perintahnya sambil mengunyah bakso porsi kedua, sedangkan baksoku sudah habis.

__ADS_1


“Udah, lo fokus makan aja. Nggak usah rusuhin gue! Kalau lo mau masuk, masuk duluan aja,” ucapku dengan pandangan yang masih fokus ke ponsel yang kupegang. “Gue lagi sibuk nih. Sibuk menyaksikan ketampanan aktornya.”


Andra tertawa mengejek. “Pantes aja lo nggak demen ama temen-temen gue. Padahal mereke cakep-cakep. Ternyata selera lo setinggi itu. Tapi, kalau selera lo kayak aktor korea gitu ketinggian, Sel. Pantes aja lo dari lahir sampe sekarang jomblo.” Andra tertawa terpingkal-pingkal.


Tayangan drama aku pause. Lalu, kuambil bantal yang ada di dekat kursiku. bersiap memukulnya agar mulutnya bisa diam.


“Eh, ampun, Nyonya.” Andra menyatukan kedua telapak tangannya tanda memohon ampun. “Jangan mukul ah, Sel. Sakit. Sekarang gue pengen tanya sesuatu ke lo, gue lagi butuh saran, nih.”


Aku mematikan tayangan drama di ponselku. Menonton drama saat ada Andra hanya membuatku kesal dan berujung tidak mood untuk menonton. “Apaan?” tanyaku bernada kesal.


“Gue bingung, mantan gue minta balikan padahal gue baru aja pacaran ama cewek baru.”


“APA? Gilak lo! Baru aja putus beberapa hari, udah punya cewek baru lo?” Aku menggeleng-gelengkan kepala.


Andra menghabiskan bakso suapan terakhirnya. “Mau gimana lagi, Sel. Waktu dia tahu kalau gue udah putus, dia yang langsung ngutarain perasaannya sendiri ke gue.”


“Terus langsung lo terima gitu?” tanyaku sambil terkekeh geli mengingat Andra yang banyak dikejar wanita.


“Iyalah, langsung gue terima. Kenapa? Gue keliatan jadi cowok gampangan atau bahkan murahan, ya?” Andra terdiam sejenak. “Sebenernya sih gue nggak mau pacaran lagi, Sel. Tapi, ya gue belum bisa begitu. Nanti deh gue pikirin caranya biar stay jomblo until akad.”


“Lo kan selama ini pacarin banyak cewek, pernah ada niatan nikahin mereka suatu saat? Atau cuma buat main-main aja?”


Andra sedikit menahan tawanya. “Mereka itu cuma cocok buat dijadiin pacar, tapi nggak cocok dijadiin istri. Gue juga kalau mau cari istri pilih-pilih kali. Gue pengen punya istri yang bisa jaga aurat dan pergaulannya. Tapi, perempuan yang baik kan bakal dapet jodoh yang baik, ya gue sadar diri sih kalau gue belum jadi hamba yang baik. Makanya gue juga nggak berani buat naksir sama cewek sholehah sebelum gue berubah jadi lebih baik.”


Aku berdecak kagum mendengar opini Andra. Tidak kusangka Andra memiliki pemikiran seperti itu, kukira yang ia pikirkan hanya bersenang-senang. “Nah, sebenernya lo udah paham kritera cewek yang lo cari kan. Terus kenapa masih pacarin mereka? Kan kasian mereka udah berharap sama lo, sedangkan lo aja sebenernya nggak suka sama mereka.”


“Iya, Sel. Makasih kririk dan sarannya. Tar deh, gue pikirin lagi,” jawabnya seraya membuka toples berisi camilan. Terus, gimana tuh? Katanya lo suka sama salah satu suara Imam Masjid? Gimana? Udah tau siapa namanya atau gimana mukanya belum?” tanya Andra kemudian.


“Ah, itu. Sampe sekarang gue belum tau gimana mukanya. Jangankan mukanya, namanya aja gue nggak tau woi. Gue sih yakin kalau dia kelas dua belas dan pasti ganteng.”


Andra menelan makanan di mulutnya dengan cepat. Seperti ingin segera bicara. “Dia biasanya jadi imam di hari jum’at atau sabtu, kan? Dia angkatan kita dodol! Bukan kelas dua belas! Gue bilangin kagak percaya banget, sih.” Andra berbicara penuh penekanan seakan-akan sangat yakin.


“Iyalah, gue nggak percaya. Kan yang bertugas jadi Imam Masjid biasanya kelas dua belas, sedangkan angkatan kita aja masih kelas sepuluh. Apalagi informasinya dari lo, gue makin nggak percaya karena lo tukang bohong.” Aku menjulurkan lidah, bermaksud meledeknya.


“Ya ampun, Sel. Kali ini mah beneran. Gue nggak bohong, suer. Gue pernah denger kalau anak angkatan ada yang dipilih jadi imam karena suaranya bagus dan tajwidnya juga bener. Waktu itu gue bodo amatan siapa dia, lagi pula angkatan kita ratusan, jadi gue belum kenal semua. Kalau lo pengen tau, nanti gue tanya temen-temen gue, tapi kalau udah ketemu orangnya gue bakal bilang ke dia kalau sahabat gue naksir.”


Sontak aku menginjak kakinya dengan sekuat tenaga hingga ia berteriak kesakitan. Kakakku yang mendengar keributan kami sejak tadi, datang menghampiri.


“Seli, jangan kasar-kasar sama temen.” Kak Wardah berdiri di pintu yang menghubungkan teras dengan ruang keluarga.


Aku mendengus kesal kepada Kak Wardah seraya melepaskan kakiku yang menginjak kaki Adnra. Sandalku cukup keras, mungkin injakanku tadi cukup untuk membuat Andra kesakitan. Namun, Andra tertawa puas melihatku kesal.


“Sel! Sel! Seli!”


Aku tersentak dari lamunanku saat Harsa memanggil-manggil namaku. Ia berdiri di hadapanku sambil membawa kain pel. Aku beranjak dari kursi saat menyadari keberadaanku menghalangi bagian yang sepertinya akan Harsa pel.


“Eh, kok ente yang ngepel?” tanyaku karena biasanya yang membersihkan lantai satu adalah ibu-ibu yang bertugas di asrama ini. Seharusnya yang membersihkan asrama adalah santri, tetapi tahu sendiri yang menguni asrama ini adalah usia Sekolah Dasar. Mereka membersihkan kamarnya sendiri saja sudah Alhamdulillah.


“Ya, nggak masalah kan kalau saya bantu tugas ibu-ibu?” balasnya sambil menggerakkan kain pel.


Aku mengangguk, lantas mengambil kardusku dari atas kursi dan berpamitan pada Harsa. “Ya udah, duluan ya.”


Baru saja aku melamun mengenai Andra yang berdebat denganku perkara siapa laki-laki yang menjadi Imam Masjid pada hari jumat dan sabtu saat kami kelas sepuluh. Imam Masjid yang suaranya sangat aku kagumi saat itu. Aku jadi sedikit malu pada Andra karena aku sudah bersikeras kalau imam itu bukanlah angkatan kami. Nyatanya benar, dia adalah angkatan kami. Dia adalah Harsa. Seseorang yang sedang mengepel lantai di hadapanku.


...***...

__ADS_1


*Thanks yang udah baca. Curi² waktu banget buat update karena pekan ini super padet :)


__ADS_2