
Tahun baru islam akan jatuh pada hari esok. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pesantren akan mengadakan acara peringatan 1 Muharram di masjid besar milik umat yang dibangun di pesantrenku ini. Masjid ini memiliki 6 lantai dan 1 menara yang masuk kategori menara masjid tertinggi ketiga di dunia dengan ketinggian 201 meter dan tinggi bangunan masjid 73. 125 meter.
Pesantren dengan basis modern atau boarding school ini memang memiliki banyak perbedaan dengan pesantren-pesantren pada umumnya. Santri rijal saat shalat tidak menggunakan sarung melainkan celana panjang dan kemeja atau jas, kami tidak memanggil pendiri pesantren dengan sebutan kiyai melainkan syekh, tidak menyebut anak kiyai dengan sebutan gus, tidak ada pengabdian di pesantren bagi santri yang sudah lulus serta perbedaan-perbedaan lainnya. Meski begitu, ini semua tidak berpengaruh apa pun karena yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya selagi kita masih bernapas.
..."Dia yang pergi untuk mencari ilmu pengetahuan, dianggap sedang berjuang di jalan Allah sampai dia kembali."...
..._Hadits Riwayat Tirmidzi_...
Kembali ke pembahasan acara Muharram, sore ini kelas 12 mendapat tugas mempersiapkan segala yang dibutuhkan di tempat acara. Kelas 11 menyiapkan makanan karena tamu besok akan sangat banyak, mengingat tamu bukan hanya wali santri, melainkan siapa pun yang ingin merayakan tahun baru di sini, gerbang pesantren akan selalu terbuka lebar.
Sambil menunggu Iffah mengambil kemoceng, aku duduk di salah satu kursi tamu. Sebetulnya masjid ini sudah dibersihkan oleh kelas 10 kemarin sehingga kami hanya memastikan dan memaksimalkan pekerjaan mereka.
Masjid sudah terdekorasi sebagaimana perayaan Muharram, setiap sudut teras sudah dipersiapkan tempat untuk para santri yang akan tampil, teras sebelah kanan dekat tempat imam untuk penampilan tari tradisional dan tari modern atau dance dan sebelah kiri untuk paduan suara. Sedangkan teras sebelah kanan dekat pintu masuk untuk penampilan menyanyi solo atau band dan sebelah kirinya untuk hadroh.
Mataku menyusuri teras dekat pintu masuk ini, mungkin momen Muharram seperti ini tidak akan terulang dua kali. Perayaan ini memang diadakan setiap tahun, tetapi kita tidak bisa menjamin tahun depan masih bertemu Muharram dan jika bertemu maka akan dengan suasana yang berbeda karena keadaan kita akan selalu berubah.
Mataku terhenti pada Andra yang kini sedang menata peralatan hadroh bersama Vira. Aku bisa melihat mata Vira terus memperhatikan gerak gerik Andra, yang diperhatikan justru fokus menata peralatan hadroh sambil sesekali menjawab pertanyaan Vira.
"Sel, ini kemocengnya." Iffah menyerahkan kemoceng ke wajahku.
Aku tersadar dari lamunanku. "Jangan ke muka dong."
Iffah mulai membersihkan beberapa meja. "Jangan ngelamun, Seli. Istigfar."
"Astagfirullahaladzim."
__ADS_1
Ada sedikit rasa penasaran yang belum terjawab, kenapa Andra tanya aku suka sama dia atau nggak. Sebenarnya kalau dia tahu aku memang mengaguminya bukan kah tidak akan merubah apa pun karena dia sudah bersama Vira. Lagi pun rasa suka memang sebaiknya disimpan hingga setan pun tidak mengetahuinya agar tidak menimbulkan fitnah.
***
Ramai para santri, wali santri dan tamu yang lain berbondong-bondong dengan suka cita memasukin gerbang masjid besar ini, masjid yang mampu menampung ribuan orang. Terlihat perasaan gembira dari senyuman dan canda tawa yang mereka keluarkan sambil berfoto ria untuk mengabadikan momen. Sholawat yang dilantunkan oleh tim hadroh santri menambah kesan bahagia karena kami dapat merayakan tahun baru islam beramai-ramai di sini.
Aku yakin di antara mereka ada yang menutupi kesedihannya karena orang tua tidak bisa datang, orang tua sudah bersama Allah, atau penyebab lainnya karena tidak semua orang bahagia. Meski begitu, tugas kita hanya lah bersyukur atas apa yang Allah berikan, walau tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Allah tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya.
Acara akan dimulai 15 menit lagi. Aku celingukan mencari keluargaku di antara kerumunan sebanyak ini karena mereka bilang baru sampai di pesantren pagi ini jadi kami memutuskan bertemu di masjid saja.
Ponselku bergetar. Terlihat pesan dari kakak keduaku. Saat acara ramai begini aku dapat leluasa menggunakan ponsel karena tidak mungkin ada ustadzah yang akan menyita karena bisa saja ini ponsel orang tua. Hihi
Kak Wardah💜
Seli, kita di teras sebelah kiri deket pintu masuk masjid ya.
^^^Siyap Kak!^^^
Aku bergegas menuju lokasi yang diberitahu oleh kakakku sambil menarik tangan Faaz karena masjid ini sangat ramai. Terkejut saat aku tiba di sana. Ternyata keluargaku bersama keluarga Andra. Abi dan Umiku memang mengenal orang tua Andra sejak dulu, hanya saja aku baru mengenal Andra saat di pesantren. Maka dari itu, saat orang tua Andra datang ke sini terkadang aku diminta ikut dan begitu juga sebaliknya saat orang tuaku datang, aku diminta untuk mengajak Andra.
Aku dan Faaz langsung salim kepada Abi dan Umi dengan tidak lupa menyapa orang tua Andra karena kondisi yang ramai tidak memungkinkan untuk salim juga. Kami lesehan dengan alas tikar di teras masjid. Begitu juga dengan wali santri yang lain, betapa bahagianya bagi mereka yang dapat menikmati acara ini bersama keluarga. Alhamdulillah, aku masih bisa merasakan suasana ini.
"Faaz masih bandel, Sel?" tanya Mas Adam, kakak pertamaku.
Muharam kali ini keluargaku lengkap. Abi, Umi, Mas Adam beserta istri dan anaknya yang berusia 3 tahun, Kak Wardah beserta suami dan anaknya yang berusia 1 tahun datang untuk berkumpul bersama aku dan Faaz di sini.
__ADS_1
Aku mengangguk. "Udah mendingan, sih. Kan aku yang didik."
"Iya, deh. Kalau uang jajan kamu sama Faaz abis kabarin Mas aja, ya. Nanti dikirim."
Aku langsung merangkul Mas Adam. "Baik banget, deh."
"Kamu nggak ada job, Sel? Tumben nggak jadi panitia acara," tanya Kak Wardah yang sedang menggendong anaknya.
Dilihat dari pakaianku yang hanya menggunakan kemeja biasa berwarna coklat susu dengan jilbab warna senada dan rok hitam tanpa jas dan name-tag yang memang menandakan bukan seorang panitia.
"Nggak dong. Kan yang jadi panitia kelas 11 doang sekarang, kelas 12 tinggal santai aja, Kak."
Acara telah dimulai. Para pagar ayu dari kelas 11 yang menggunakan seragam PASKIBRA berdiri tegap dengan tangan kanan hormat berbaris di sepanjang pintu sampai mimbar atau arah kiblat, siap untuk menyambut kedatangan Syekh.
Syekh keluar dari mobilnya yang terparkir di halaman masjid. Lagu 'Oh Pondokku' yang dinyanyikan oleh tim paduan suara mengiringi Syekh dan keluarga beserta rekan-rekan memasuki masjid. Syekh jalan paling depan dengan setelan jas berwarna silver yang membuatnya terlihat sangat gagah dilengkapi sepatu pantofel juga kaca mata hitam dan peci hitam.
"Baik. Atur acara selanjutnya yaitu pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan sari tilawah yang akan dibacakan oleh santri kelas 12. Kepada Harsa Al-Hafidz dan Az-Zahra Maulida dipersilahkan." MC membacakan atur acara usai Syekh menempati tempat duduknya.
"Wah, Zahra jadi pembaca sari tilawah nggak cerita-cerita, nih," ucapku sambil melihat ke arah televisi yang sengaja diletakan di setiap sudut masjid yang menampilkan kegiatan acara di depan agar seluruhnya dapat melihat dengan jelas.
"Sabbaha lillahi ma fis-samawati wa ma fil-ard, wa huwal-'azizul-hakim."
"Ya ayyuhallazina amanu lima taquluna ma la taf'alun."
Mendengar Harsa melantunkan Surah As-Shaff ini mengingatkanku kepada seorang santri yang membaca ini di ruang administrasi. Apakah santri itu Harsa? Suaranya benar-benar sama. Aku jadi teringat do'aku pada hari itu bahwa aku menginginkan suami seperti dia. Tapi, jika dilihat dia benar-benar cocok dengan Zahra yang juga pintar dalam akademik dan keagamaan. Aku mundur saja kalau begitu, lagi pun aku kurang suka dengan sikap perfeksionisnya.
__ADS_1
"Seli," terdengar suara pria memanggil namaku.