BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Balasan itu ada


__ADS_3

Magrib kali ini aku sengaja akan melaksanakan salat berjama'ah di masjid karena aku tidak ada jadwal bertugas di asrama. Pengurus asrama yang bertugas biasanya melaksanakan salat berjama'ah di asrama masing-masing karena kami harus mengawasi asrama, khawatir ada maling atau pun santri yang bersembunyi di kamar karena tidak ingin mengikuti kegiatan tahfidz. Selain itu, kami juga memeriksa kebersihan setiap kamar dan menjaga di ruang manajemen asrama.


Aku pergi bersama Rina, teman semejaku saat kelas 10 yang kini bertugas di bagian takmir masjid. Saat ini aku sedang duduk di depan ruang takmir sambil melihat para santri yang berdatangan. Mereka membawa alat salat, plastik untuk sandal dan beberapa santri membawa botol air minum. Benar-benar mengingatkanku saat masih kelas 10 dan 11.


"Sel, udah wudhu?" Rina datang dari dalam takmir dan duduk di sebelahku.


"Udah."


"Oke deh. Yuk bantuin aku rapihin ade kelas. Udah mau azan nih," ajak Rina sambil menarik tanganku.


"Iya-iya." Aku mengikutinya menuju kamar mandi wanita untuk meneriaki adik kelas untuk mempercepat wudhunya karena azan akan segera dikumandangkan.


Wahid,


Itsnani,


Tsalatsah,


Saat Rina menghitung dan adik kelas mulai cepat masuk masjid, aku tidak sengaja melihat satu orang pria dan wanita tengah duduk berdua di kursi taman masjid. Jika dilihat dari punggung pria itu sepertinya itu Andra. Kebetulan pria itu menoleh dan benar dia adalah Andra. Lantas siapa wanita dengan kerudung berwarna merah cerah itu.


Vira?


Aku menoleh ke arah Rina. "Rin, aku duluan ke dalem ya." Aku pun langsung menuju shaf nisa setelah Rina mengangguk.


Komat telah dikumandangkan. Seluruh santri berdiri dan siap melaksanakan salat magrib berjama'ah setelah tadi beberapa orang bagian takmir merapikan barisan para santri.


Ketika imam mulai membaca Al-Fatihah aku masih sibuk memakai mukena. Jika mendengar suara imam ini, aku mengingat suara imam favoritku saat kelas 10. Suaranya sangat mirip. Tak ingin ketinggalan rakaa'at, aku segera memulai salatku.

__ADS_1


...***


...


Amiin Ya Rabbal Alamiin. Imam selesai membacakan do'a selepas salat magrib.


Sebagian santri langsung melaksanakan salat Ba'diyah magrib 2 rakaat dan yang lainnya ada yang mengobrol ria bersama teman-teman, ada yang tiduran karena merasa lelah usai beraktivitas hari ini ataupun mengantuk, dan ada pula yang sibuk melipat mukena.


"Mari sama-sama membaca do'a sore hari," ajak imam yang berdiri di mimbar.


Bismillahirrahmanirrahim.


اَللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ


Allāhumma bika amsainā, wa bika nahyā, wa bika namūtu, wa ilaikan nusyūr.


Abu Hurairah RA meriwayatkan doa Rasulullah SAW yang dibaca ketika sore hari tersebut sebagaimana dikutip oleh Imam An-Nawawi, Al-Adzkar.


"Oke. Seluruh santri dipersilahkan menempati kelompok tahfiznya masing-masing. Yang pertama kelas 8 di persilahkan." Santri kelas 8 langsung bubar dari barisan salat dan menempati tempat tahfiznya yang berada di bagian belakang shaf nisa dan begitu seterusnya.


Masjid tetap kondusif karena kelas 12 bagian takmir yang selalu mengatur para santri dengan baik walaupun santri di sini banyak. Mungkin sekitar 1500 santri yang kini tengah berada di dalam masjid besar nan megah yang terletak di dalam pesantrenku ini.


Santri kelas 12 duduk di bagian teras belakang masjid untuk tahfiz masing-masing, beberapa ada yang mengobrol atau membaca buku usai membaca Al-Qur'an.


"Eh, itu siapa dah? Kayaknya dari sebelum salat magrib mereka di situ mulu?" tanya salah satu teman seangkatanku saat melihat ke taman belakang masjid.


Seketika banyak yang melihat ke arah sana, begitu juga aku. Kulihat Andra dan Vira masih duduk di kursi taman yang membelakangi kami.

__ADS_1


"Itu yang cewek Vira, kan?"


"Iya. Vira itu."


"Ya bukan apa-apa kita mah. Mau pacaran sampe pagi juga terserah. Padahal mereka udah tau kalo pacaran itu dosa. Tapi, kenapa harus pacaran di masjid?"


"Bener. Kan jadi contoh buruk buat adik kelas di sini. Malu kan kita sebagai kelas 12, waktunya tahfiz malah pacaran. Astagfirullah."


"Itu cowoknya siapa? Kayak Andra, ya?"


"Iya kayaknya Andra itu."


"Sel, itu Andra, kan? Kok bisa berduaan sama Vira gitu?"


Aku hanya tersenyum getir. Bingung mau jawab bagaimana. Teman-teman seangkatanku mayoritas tahu bahwa aku memang dekat dengan Andra karena berteman sejak awal masuk sini sehingga pasti mereka bertanya padaku soal ini.


"Mungkin mereka lagi ada perlu," jawabku asal.


"Ya udahlah ya. Kita lanjutin kegiatan kita masing-masing aja."


Akhirnya mereka sudah tidak membicarakan Andra lagi. Aku muak mendengar perkataan teman-teman mengenai Andra kepadaku. Mereka selalu bertanya atau pun melaporkan padaku jika Andra berduaan dengan Vira. Sungguh, aku tidak tahu apa pun soal hubungan mereka.


Santri insyallah sudah paham bahwa pacaran adalah termasuk perbuatan yang dilarang oleh Allah. Namun, itulah manusia. Terkadang lalai karena sudah terbuai oleh rasa suka, terbuai oleh hawa *****.


Walaupun jika ada keamanan atau pun guru yang melihat santri rijal dan nisa sedang berduaan tanpa ada kepentingan akan langsung memperingatkan dan mengusir mereka, tetapi kembali lagi ke diri kita sendiri. Keamanan dan guru tidak ada setiap waktu dan bisa saja beralasan karena ada tugas, tetapi Allah Maha Mengetahui. Apa pun yang kita lakukan, akan ada balasannya.


Dalam Al-Qur'an disebutkan, "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (Q.S Al-Zalzalah: 7-8).

__ADS_1


__ADS_2