BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Salah ide


__ADS_3

"Siapa yang mau ikut aku belajar di balkon?" tanya Zahra dengan suara agak keras agar seisi kamar mendengar.


"Ngapain belajar pake di balkon segala. Banyak nyamuk kali, Ra." Aku mengambil buku paket, buku catatan serta alat tulis dari rak bukuku.


"Iya, Ra. Kan balkon gelap nggak ada lampunya," timpal Dilla.


Zahra mengambil ponsel dari kasurnya. "Kita belajarnya sambil liat video biar lebih paham. Tapi, ini kan videonya belum di download. Jadi, kita harus sambil cari sinyal."


Pesantrenku memang melarang untuk membawa alat komunikasi apa pun. Tetapi, mau bagaimana lagi, sekarang semuanya memerlukan internet. Anak baik dan rajin seperti Zahra yang jarang sekali kena hukuman pun membawa ponsel.


Belajar tidak bisa jika hanya mengandalkan buku atau pun penuturan guru, terkadang kita pun memerlukan referensi lain. Zahra bisa menjuarai berbagai perlombaan salah satunya karena ia juga mengikuti bimbingan belajar melalu aplikasi, karena siswa akan mengalami kesulitan jika hanya mengandalkan guru sebagai tempat bertanya, sedangkan guru tidak mungkin ada setiap saat.


Beberapa santri memang tetap membawa ponsel masuk pesantren dengan berbagai cara, apalagi santri kelas 12 yang hampir seluruhnya membawa karena jarang sekali guru memeriksa santri kelas 12. Bahkan di asramaku ini, kelas 12 memang dilegalkan membawa ponsel oleh ketua asrama karena untuk kepentingan santri madrasah ibtidaiyah dan wali santrinya.


"Ayok siapa yang mau ikut?" Zahra membuka pintu balkon.


"Aku deh, Ra." Aku menyusulnya ke arah balkon yang juga diikuti oleh Dilla.


Kami bertiga kini duduk menghadap pagar balkon yang tingginya hanya sedada. Pagar balkon ini terdapat lubang seperti ventilasi sehingga walaupun kami duduk, kami tetap bisa melihat luar balkon.


"Coba liat tadi soalnya. Tadi tetapan penurunan titik beku airnya 1,86°C, kan, Sel?" tanya Zahra kepadaku yang sedang membaca soal kimia di buku milik Zahra.


"Iya, Ra."


Suasana ini benar-benar membuat kami tidak nyaman. Lampu balkon yang mati sehingga kami gelap-gelapan dan hanya mengandalkan sinar ponsel. Nyamuk pun ikut andil mericuhkan kami. Tetapi memang inilah jalan yang harus kami tempuh untuk mendapatkan ilmu. Aku selalu mengingat perkataan Imam Syafi'i.


...Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.


...


..._Imam Syafi'i_


...


Saat kami sedang fokus menyimak penjelasan dari video di ponsel Zahra, tiba-tiba terdengar keributan yang bercampur dengan tawa cowok-cowok. Kami seketika melihat ke arah kamar yang bersebrangan dengan kamar kami melalui lubang ventilasi pagar balkon yang berada di hadapan kami.

__ADS_1


Kamar tersebut adalah kamar para pengurus rijal asrama ini. Terlihat jelas mereka kini sedang berusaha naik jendela sambil tertawa terbahak-bahak. Bahkan tak jarang salah satu dari mereka terus bersiul. Benar-benar kurang kerjaan padahal sudah kelas 12 seperti ini.


"Gila, lagi ngitip kita ya mereka." Dilla langsung menunduk agar dirinya tak terlihat dari lubang ventilasi.


"Ngumpet, Sel. " Zahra mengikuti Dilla yang hampir tiarap.


"Uhuy. Aku ada ide." Aku ikut menunduk sambil memakai bawahan mukena berwarna putihku yang tadi aku gunakan untuk mengusir nyamuk di kepalaku.


"Kamu mau ngapain, Sel?"


Suara cowok-cowok tadi mulai sepi, sepertinya mereka berpikir kami tidak akan muncul lagi. Kumunculkan wajahku di lubang ventilasi pagar balkon dan kusinari dengan senter ponselku secara tiba-tiba.


Seketika terdengar suara mereka berteriak. Mungkin terkejut melihat wajahku yang memang sedang berlumur masker berwarna putih ditambah bawahan mukena putih yg kupakai di kepalaku.


"Sel, kirain aku kamu mau ngapain. Kaget ya mereka tadi? Haha dasar." Dilla tertawa renyah.


"Mereka kaget doang, bukan takut. Tapi pasti aku bakal jadi bahan ejekan mereka nih abis ini. Memalukan diri sendiri aku," kataku sambil menepuk jidat.


"Eh, Seli kunti. Nggak takut kita mah," teriak salah satu dari mereka.


"Dasar tukang ngintip lu. Dah yuk ah lanjut." Aku membuka buku Zahra dan melihat soal nomor berapa yang belum dikerjakan.


...***


...


Baru saja aku ingin memejamkan mata usai berdo'a, tetapi pikiranku tiba-tiba teringat akan ponsel dan ingin memeriksa apakah ada pesan masuk. Benar-benar tidak bisa melepaskan pikiran dari ponsel, terkadang aku lebih sering bermain ponsel dari pada membaca Al-Qur'an. Astagfirullah.


Benar saja, ada satu pesan dari nomor tak bernama. Tanganku langsung mengeklik foto profil dari nomor itu. Terlihat pose seorang pria menggunakan pakaian serba hitam, mulai dari topi, kaos, celana, hanya sepatu saja yang berwarna putih. Dia adalah ...


Harsa?


Langsung saja aku buka pesan tersebut dan ternyata ia mengirim sebuah foto sebelum tulisan salamnya yang membuatku merutuki diriku sendiri.


"Arrghhhh! Kok dia bisa dapet foto aku sih? Tadi kan cowok-cowok di ventilasi doang. Ga mungkin bisa foto aku begini."

__ADS_1


Jariku langsung menari di atas key board ponselku. Kubalas pesannya dengan perasaan kesal.


^^^"Wa'allaikumsalam!!!!


^^^


^^^Foto siapa itu?"


^^^


Sudah jelas itu adalah fotoku. Foto yang diambil kira-kira setengah jam yang lalu saat aku berada di balkon tadi, aku yang mengenakan masker wajah berwarna putih dan juga bawahan mukena di kepala. Aku hanya berusaha menutupi aibku saja. Aku berusaha mengelak bahwa itu bukan aku.


Tringg. Aku langsung membuka balasan darinya.


0857xxxxxxxx


Jangan pura-pura amnesia. Gua udah di balkon kamar gua sebelum kalian bertiga belajar di balkon.


^^^Jadi, lu ada di balkon kamar lu?


^^^


^^^Pantes aja dapet foto guasedeket itu.


^^^


^^^ Jangan lupa dihapus ya.


^^^


^^^ Bye


^^^


Langsung saja kumatikan data seluler dan mulai terlelap setelah membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Fatihah dan do'a sebelum tidur. Tidak perduli Harsa akan menghapusnya foto itu atau tidak.

__ADS_1


...***


...


__ADS_2