BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Kabar Buruk


__ADS_3

Koridor lantai dua sudah dipenuhi oleh santri kelas dua belas berseragam sailor. Senin ini begitu cerah. Sinar dari pusat tata surya memasuki lubang-lubang ventilasi. Menembus jendela. Memberikan kecerahan ke seluruh sudut ruangan. Aku duduk di samping rak buku, membaca buku motivasi. Ponsel masih kugenggam, berniat membalas pesan Andra semalam. Namun, aku urungkan karena mengingat ucapan Andra di kantin dua tahun lalu, saat kami kelas sepuluh.


Malam itu jelas dia bilang bahwa dia dekat denganku hanya karena permintaan Umi Devi saja. Setelah kejadian malam itu, aku memang menjauh darinya tetapi tanpa rasa bersalah ia terus mendekatiku. Ia tidak tahu bahwa aku telah mendengar semua perkataannya malam itu. Tetap berteman dengannya dengan berpura-pura tidak tahu. Aku berusaha berpikir positif, tidak salah dia berteman denganku karena permintaan ibunya. Mungkin, dia hanya berusaha menjadi anak yang penurut. Hari itu aku berpikir tidak bisa menjauh begitu saja dari Andra karena bisa saja abi dan umi akan menanyakannya. Aku sebisa mungkin melupakan apa yang sudah aku dengar.


Sekarang aku sangat bingung. Jika aku tidak menghubungi Andra, aku tidak enak kepada Umi Devi, bahkan aku sudah berjanji untuk mencari tahu tentang Andra. Ah, ini membuatku sangat capek. Dengan berat hati aku menanyakan apakah dia benar merokok. Terserah jika dia tersinggung dengan pertanyaanku.


Kriinggg!


Pelajaran akan segera dimulai, aku segera kembali ke tempat dudukku. Melihat Aidha yang masih terlelap tidur.


Aku menyeringai. "Aidha, bangun!" Kutarik pipinya.


***


Siang ini matahari begitu terik. Tidak segan-segan memberikan sinarnya hingga membuat kulit gosong. Tubuh gerah ingin segera ke kamar, berganti pakaian dan bersih-bersih badan. Sepertinya masih cukup lama untuk sampai di kamar karena kini aku masih menunggu Aidha yang tidak tahu kapan kembali.


"Nyesel, deh, pulang bareng Aidha. Masa tiba-tiba dia ada ijtima sama organisasinya? Tau gitu aku pulang sama yang lain tadi. Kan Aidha bisa pulang sama temen seorganisasinya," ocehku yang duduk sendirian di tangga menuju lantai satu.


Koridor sudah sangat sepi, hanya tersisa para santri yang sedang piket kelas. Aku celingak celinguk seperti orang dungu. Ah, Aidha kamu tega sekali. Hari ini sangat panas dan yang parahnya perutku juga lapar.


"Lagi ngapain duduk sendirian di tangga?" tanya Ustadzah yang melalui tangga dan melihatku.


Aku tersenyum ramah. "Lagi nunggu temen, Ustadzah."


"Kalo sudah segera pulang. Jangan nunda-nunda makan siang, ya."


"Baik, Ustadzah," jawabku kemudian Ustadzah tersebut pergi.


Aku bersandar di tembok yang berada di sampingku. "Apa aku bilang aja ke Aidha kalo aku mau pulang? Ah, malu di situ banyak cowok. Kalo aku tiba-tiba pulang, nanti Aidha nyariin aku, gimana? Mana laper banget."


"Seli?"


Aku langsung menoleh ke sumber suara. Nampak Andra berdiri di belakangku sambil menggendong tas sekolahnya. Lalu, ia duduk di sampingku. Menyisakan sedikit ruang jika ada orang yang akan melewati tangga.


"Kenapa? tanyaku datar.

__ADS_1


"Tadi aku piket dan nggak sengaja liat kamu. Oh iya, kebetulan ketemu kamu di sini, jadi sekalian aku mau jawab pertanyaan kamu yang di chat tadi pagi."


Aku mengangguk. "Iya. Silahkan."


"Iya, Sel aku terima rokok dari temen lama aku di gerbang belakang."


Aku menelan ludah. Sudah siap dengan jawaban yang ia berikan dan menunggu penjelasan selanjutnya.


"Aku kepaksa terima rokok dari temen aku itu. Aku nggak ada pilihan lain, aku juga nyesel sekarang. Aku beneran takut kalo sampe dikeluarin, Sel."


Aku tersenyum miring. "Nyesel? Di akhir selalu ada penyesalan, sih. Tolong jangan hancurin harapan orang tua, Andra."


Andra hanya menatapku sendu. Terlihat ada sedikit rasa takut di matanya yang sipit itu. Aku dapat mendengar helaan napasnya berkali-kali.


"Tapi, kamu beneran ngerokok di pesantren?"


"Aku nggak ngerokok satu batang pun, Sel. Aku nggak ada niat buat ngerokok lagi."


Aku bingung dengan perkataannya. "Terus kenapa kamu terima rokok itu?"


"Kenapa harus rokok? Di pesantren bukannya dikit yang minat?"


Andra mengangguk. "Mungkin santri nisa jarang yang tau kalo sebenernya santri rijal banyak yang bakal ngerokok. Mereka bakal ngerokok kalo ada rokok di hadapan mereka, bisa jadi tidak merokok bukan karena taat peraturan atau menghindari resiko buruk rokok. Kayak santri kelas tujuh yang sengaja ngerokok supaya mereka dikeluarin dari sini, ya karena mereka masuk sini pun bukan keinginannya. Lagi pula rokok itu lumayan mahal, Sel. Apalagi dijual di tempat kayak gini, pasti harganya jauh lebih tinggi lagi."


Jeda beberapa detik, Andra kembali menjelaskan, "Dulu temen aku itu ngelola toko bareng David sampe mereka bisa biayain keperluan sendiri waktu SMP. Setelah David meninggal, toko yang emang punya ayah David itu ditutup sama beliau. Jadi, temen aku selalu bilang kalo aku penyebab kesulitan temen aku sekarang dan aku yang harus tanggung jawab."


Aku geleng-geleng kepala. "Kenapa dia bilang gitu? Karena kamu yang nyetir motor bareng David waktu itu sampe David meninggal? Jadi, dia bilang kamu penyebab meninggalnya David? Dan kamu percaya kata-kata dia?"


Andra hanya diam.


Aku yakin Andra sudah tahu bahwa meninggalnya David memang ketetapan Allah dan tidak bisa diubah. Tetapi, sebagai manusia, Andra pasti punya rasa bersalah.


"Maaf, Dra," ucapku setelah menyadari nada bicaraku meninggi padahal mungkin Andra sudah berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu memang ketetapan Allah. "Terus, rokoknya udah nggak di kamu, kan?"


"Nggak."

__ADS_1


Aku mengelus dada. "Alhamdulillah. Jadi, udah aman, kan?"


Andra tertawa kecil. "Semoga aja." Diam beberapa detik, lalu Andra melanjutkan, "Guru udah pada denger ada angkatan kita yang bawa rokok. Parahnya Dewan Guru minta ketua santri buat cari tau siapa orangnya. Kamu tau kan ketua santri itu temen aku sendiri? Dia sekamar sama aku, bahkan beberapa hari lalu dia udah tau kalo aku yang bawa rokok."


"Terus dia laporin ke Dewan Guru?"


"Setelah dia tau alesan aku, dia bingung harus laporin atau nggak. Tapi, setelah aku pikir-pikir, lebih baik dia tetep laporin," tuturnya. Kemudian, Andra menghela napas perlahan. "Jadi, aku nyuruh dia buat tetep laporin, walaupun temen sekamar yang lain nggak setuju kalo aku dilaporin."


Mataku membelalak. Lalu, menatapnya lekat-lekat. Bingung dengan yang ada dipikiran Andra. "Apa? Kamu udah siap kalo dikeluarin? Terus kamu nggak mikirin perasaan Umi Devi?"


Baru saja Andra akan membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara Aidha. "Seli, ayok pulang."


Aku dan Andra menoleh bersamaan ke sumber suara dan nampak Aidha berdiri di belakang kami sambil membawa tas dan mencangking sepatunya.


***


Ompreng makanku yang sudah berisi nasi dengan lauk sayur dan tahu hanya kupandangi sejak tadi. Rasa laparku terasa hilang begitu saja setelah mendengar tuturan Andra saat di tangga sekolah tadi. Aku menjadi sangat bingung apa yang harus aku katakan kepada Umi Devi. Aku yakin sampai sekarang Andra belum juga memberi kabar kepada ibunya itu karena dari kemarin Umi Devi terus menanyakan kabar Andra kepadaku.


Melihat Aidha yang sudah lahap memasukan makanan ke mulutnya, aku bergegas melahap makananku. Aku dan Aidha saja sudah terlambat sampai rumah makan, ditambah aku yang melamun, bisa-bisa makin lama sampai kamarnya.


"Tau nggak, sih, Sel? Tadi waktu aku ijtima, masa ketua aku bilang kita sebagai kakak kelas sebaiknya sering kasih edukasi ke adik-adik kelas biar jauhin rokok. Supaya nggak kejadian kayak angkatan kita lagi. Emangnya angkatan kita ada yang ngerokok lagi?"


Tanganku yang siap memasukan makanan berhenti. Aku menggigit bibir. Tahun lalu memang ada santri angkatan kami yang dikeluarkan karena merokok. Rupanya kabar bahwa ada angkatan kami yang merokok lagi semakin meluas.


Aku tersenyum getir. "Mungkin ada."


"Iya kabar-kabarnya, sih, sebentar lagi dia bakal disidang."


"Sidang? Kamu denger dari siapa, Dha?"


"Tadi temen-temen aku waktu ijtima pada bilang gitu. Katanya pada denger dari cowok-cowok. Tapi, belum tau kebenarannya juga, sih. Kamu tadi ngobrol sama Andra, dia nggak cerita?"


"Aku kebelet pipis, Dha. Udahan, yuk." Alasanku demi mengalihkan pembicaraan.


***

__ADS_1


__ADS_2