BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Pukul Sembilan


__ADS_3

“Mau dibeliin apa?”


Aku menoleh ke arahnya dengan wajah bingung. Dia malah menyunggingkan senyuman meledek.


“Saya kan mau ke kantin, ya sekalian aja. Kamu mau dibeliin apa buat buka puasa?” tanya Harsa lagi.


Aku menggeleng. “Nggak usah, ini kan saya juga mau ke kantin.”


“Udah, kamu tunggu di asrama aja. Kantin pasti rame banget sekarang, jadi nanti saya aja yang ke kantin. Kamu lebih baik sekarang mandi terus siap-siap buat ngawal santri buka puasa di rumah makan.”


Harsa pergi menuju kantin setelah aku menyetujui permintaannya dan memberitahu apa saja yang biasa kubeli untuk berbuka puasa. Di rumah makan memang sudah disediakan makanan untuk berbuka puasa beserta takjilnya, tetapi makanan dan minuman dari kantin akan menjadi pelengkapnya.


Tak sampai sepuluh menit, aku sudah selesai mandi lalu menjemur handuk di jemuran balkon. Tiba-tiba terdengar suara Zahra berteriak dari dalam kamar mandi. Tadi ia mandi di kamar mandi sebelahku.


“Ada apa, Zahra?” tanyaku yang berdiri di selasar kamar mandi.


“Ini air showernya mati, Sel. Huhu ... mana aku lagi keramas ini. Gimana dong?”


Aku mengembuskan napas lega. Ternyata Zahra berteriak hanya karena itu, aku sangat khawatir jika Zahra akan seperti waktu itu lagi karena tahu bahwa tadi aku mengobrol dengan Harsa di koridor tengah lantai satu.


“Sel,” rengeknya. “Ini aku jadinya gimana? Kamu masih di situ, kan?”


“Eh, iya masih. Ya udah kamu keramas pake air yang ada di ember aja. Kan shower kamar mandi yang itu emang sering tiba-tiba mati.”


“Kurang enak tau keramas nggak pakai shower. Itu di kamar mandi yang kamu pake tadi, showernya nyala, kan? Ya udah aku mau pindah kamar mandi aja.” Zahra membuka pintu kamar mandi dengan tubuh dibalut handuk.


“Seli, itu ditunggu Harsa di luar.”


Aku terkejut saat tiba-tiba Syilla datang dan memberitahu hal itu di hadapan Zahra. Aku melihat ke arah Zahra dengan takut-takut. Wajahnya memang agak nampak terkejut saat mendengar nama Harsa disebut tetapi setelah itu raut wajahnya kembali sepeti semula dan ia masuk ke kamar mandiku tadi.


“Seli, kamu abis dibeliin minuman dari kantin sama Harsa ya?” tanya Zahra dari dalam kamar mandi. “Minumannya lebih dari satu, nggak? Kalau lebih, aku mau dong. Lagian tadi siang aku udah minta beliin minuman ke Ustadz Zidan tapi kayaknya dia lupa.”


“Lupa dari mana? Itu jajanan se-plastik yang ada di meja punya kamu semua dari Ustadz Zidan. Nggak punya kamu semua deng, tadi Ustadz Zidan bilang ada buat anak kamar juga,” ungkap Syilla.


“Ih beneran? Kapan Ustadz Zidan ke sininya? Kok aku nggak tau?” Zahra memberondong pertanyaan kepada Syilla. Sepertinya ia mulai menyukai Ustadz Zidan sejak berkenalan dengan ayahnya Ustadz Zidan beberapa hari lalu di lobi hotel pesantren.


“Tadi pas kamu mandi Ustadz Zidan ke sini. Lagian mandinya lama banget. Ya udah deh Ustadznya nitip doang. Eh, Sel kamu ke luar gih udah ditungguin tuh.”


“Iya ini mau keluar.” Aku begegas menemui Harsa.


...***...


“Banyak banget, Sa.” Aku membuka kantung plastik berisi makanan dan minuman yang Harsa belikan dari kantin. “Syukron, Harsa.”


“Afwan.”


Jam tangan berwarna hijau mint yang melingkar di tanganku sudah menunjukan pukul 17.30 WIB. “Sa, udah waktunya ngawal buka puasa santri MI. Saya duluan, ya. Assalamuallaikum.” Aku langsung berdiri dan hendak pergi.


“Eh, tunggu. Bareng aja ke sananya. Saya juga kan jadwal ngawal hari ini.”


Aku mengangguk lalu meletakan makanan dari Harsa di kamar. Setelah itu, aku berjalan menuju rumah makan khusus santri MI dengan Harsa yang berjalan di belakangku. Sesekali Harsa memulai pembicaraan dan aku menjawab sewajarnya.

__ADS_1


Rumah makan dengan suasana riuh mampu memberi kehangatan bagi santri-santri di sini. Anak-anak duduk berkumpul dengan ompreng berisi nasi dengan lauk ayam kecap dan tahu di atas meja. Masih banyak pula santri yang mengantri untuk mengambil nasi berserta takjil di bagain depan rumah makan.


“Mau ngambil bukaan di rumah makan mana?” tanya Harsa yang berdiri di sebelahku.


“Di sini aja kali, ya. Tanggung bentar lagi udah mau buka kayaknya,” jawabku karena rumah makan bagi angkatan kami berada dekat asrama nisa Madrasah Aliyah, maka agak jauh dari sini.


Harsa mengangguk. “Oke.”


“Bro, nanti pimpin buka puasa, ya.” Yusuf menyerahkan mikrofon yang tersambung ke sound system. “Ane mau ke kamar mandi dulu, nih.”


Harsa meraih mikrofon dan menyalakannya. “Adek-adek para santri MI yang pinter-pinter dan sholeh sholehah, kita sebentar lagi akan membaca do’a berbuka puasa bersama-sama ya.”


“Untuk itu, semuanya wajib duduk di kursinya masing-masing. Itu yang masih lari-larian, ayok segera kembali ke tempat. Ayok-ayok, duduk yang rapi. Sebentar lagi kita baca do’a sama-sama.”


Para pengurus asrama mulai mengatur anak-anak yang masih berlari-larian dan membantu yang masih mengambil nasi dan takjil agar segera duduk di kursinya masing-masing.


Harsa kembali berbicara, “Kita hitung sama-sama dulu, ya ... . Enam! Lima! Empat! Tiga! Dua! Satu! ... . Ayok semuanya baca do’a bareng-bareng, ya. Bismillahirahmanirrahim. Allaahuma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin. Aamiin."


Semuanya meneguk air putih masing-masing. Dilanjut dengan menikmati takjil yang telah disediakan.


“Sel, ambilin buat saya sekalian, ya. Saya mau keliling periksa anak-anak, takut ada yang nggak makan.” Tanpa menunggu respon dariku, Harsa lansung pergi membelah kerumunan santri.


Aku menuangkan takjil ke dalam dua gelas dan membawanya ke salah satu meja yang kosong di belakang. Mencari sosok Harsa yang rupanya sedang menasehati seorang anak yang sepertinya tidak mau makan. Tak lama kemudian, Harsa menoleh ke arahku dan menyadari aku sedang melihat ke arahnya. Ia menghampiriku dan duduk di kursi menghadapku.


“Makasih, Sel.” Ia mulai menyantap takjil.


Aku mengangguk. “Gimana? Anak-anak semuanya udah pada mulai makan?”


Usai takjil berhasil kami habiskan, aku berniat pamitan untuk kembali ke asrama karena tugas kami mengawal sudah selesai. Lima orang bapak-bapak yang bertugas merapikan rumah makan dan mencuci ompreng pun sudah mulai mengerjakan tugasnya.


“Bentar, Sel.”


“Kenapa?”


“Kamu kenapa nggak pernah bilang kalau dari kelas sepuluh kamu naksir sama suara saya?’


Mataku membesar, terkejut dengan pertanyaan Harsa. Tahu dari mana dia soal itu? Astagfirullah, bikin malu saja.


“Naksir gimana? Sok tau, deh. Tau dari mana?”


“Dari Andra.”


Aku melempar tatapan terkejut. “Dari Andra? Dia bilang apa aja ke kamu?”


“Banyak.”


Aku menghela napas lalu pergi meninggalkan Harsa yang masih duduk di kursinya. Lalu, ia mengejarku dan berjalan di sisiku. “Sampai sekarang masih suka sama suara saya, kan?”


Aku menoleh dengan tatapan sinis dan mempercepat langkah kaki.


“Sel, nanti malem jam sembilan jangan lupa buka WA, ya,” teriaknya dengan suara agak keras. Untung saja halaman asrama sudah sepi sehingga tidak banyak yang mendengar.

__ADS_1


...***...


Aku menerima chat dari sebuah nomor dan kuyakini itu adalah nomor Adelia. Benar saja saat aku klik foto profilnya menampilkan foto perempuan putih dan cantik bernama Adelia Putri. Ia mengirim pesan untuk mengajakku berkenalan. Selepas itu, sesuai dugaanku, Adelia akan membicarakan tentang Andra kepadaku. Ia menceritakan bagaimana dirinya mengenal, menjadi pacar dan sampai akhirnya putus dengan Andra, laki-laki yang memiliki nama lengkap Zafar Candra Manaf. Entah apa tujuannya membahas itu padaku. Aku hanya membalas pesannya dengan jawaban sebaik-baiknya.


Setelah cukup lama berbincang-bincang melalui aplikasi Whatsapp dengannya, tibalah Adelia mengajukan sebuah pertanyaan padaku. Pertanyaan yang membuatku berpikir keras untuk menjawabnya.


Adelia: Sebagai sahabatnya Andra, kamu tau nggak dia sekarang lagi suka sama siapa?


Seli: Wah, kalo itu aku kurang tau, sih.


Adelia: Kata Vira, selama di pesantren Andra nggak pernah deket sama cwe kecuali kamu. Katanya pernah pacaran sama Vira tapi Andranya nggak suka beneran. Itu bener?


Seli: Itu Vira yang cerita  ke kamu?


Adelia: Iya. Vira kan udah nggak suka sama Andra sekarang .  Dia suka sama seseorang di organisasinya.


Seli: Oalah.


Adelia:  Terus gimana tu? Kamu sebagai sahabatnya pernah tau nggak Andra lagi suka sama siapa? Ternyata aku masih suka sama Andra. Kalo aku minta balikan sama Andra menurut kamu gimana?


Wajar Adelia bertanya padaku seperti itu karena yang dia tahu, aku adalah sahabatnya Andra. Sahabat yang tak memiliki perasaan apa pun pada Andra. Namun, dia salah. Kenyataannya aku memiliki perasaan itu kepada Andra.


Seli: Aku kurang tau, sih hehe. Setau aku dia nggak mau pacaran lagi.


Adelia: Aku bukan pengen pacaran kok, tapi aku pengen langsung menikah.


Seli: Menikah?


Adelia: Iya, orang tua aku minta aku segera menikah. Umur aku sekarang 19 dan Andra 20. Menurut aku cukup untuk menikah.


Seli: Maaf, yang aku tau dari Vira bukannya kamu mau lanjut kuliah ke Turki?


Adelia: Betul, Andra juga mau kuliah di Turki, kan? Makannya aku berharap bisa sama dia. Biar ada yang jagain aku waktu di sana.


Seli: Oh gitu. Kalo soal ini kamu bilang ke Andra langsung aja.


Adelia: Ok deh nanti aku bilang. Sebenernya nggak harus langsung menikah sih. Setidaknya komitmen biar orang tua aku nggak khawatir. Makasih Seli udah  mau dengerin curhatan aku.


Seli: Sama-sama.


Aku baru ingat bahwa usia Andra dua tahun lebih tua dari usia angkatan kami pada umumnya. Benar yang Adelia katakan tadi bahwa umur Andra saat ini memang 20 tahun. Andra pernah bercerita bahwa ia tidak naik kelas saat kenaikan kelas sembilan karena kenakalannya. Ditambah lagi dengan ia yang masuk SMA tetapi hanya bertahan satu bulan, ia keluar dan baru masuk pesantren ini di tahun berikutnya. Ya, seharusnya Andra adalah kakak kelasku. Meskipun begitu, itu terlalu dini bagi Andra dan Adelia untuk membangun rumah tangga, tetapi terserah mereka karena ini jalan hidupnya.


Pulang tarawih seperti ini harusnya aku tadarus, tetapi aku malah membuka ponsel. Maka, yang kudapati hanyalah hal yang menyakitkan. Teman-temanku sudah memulai tadarusnya sejak tadi. Segera aku membuka Al-Qur’an dan melanjutkan target bacaan. Targetnya satu hari satu juz, bisa juga dua juz atau lebih.


“Shodaqallahul azhim.” Aku menutup Al-Qur’an, melepas mukenah dan mengambil ponsel di atas kasur.


Notifikasi Whatsapp masuk dari Harsa. Pas banget sekarang pukul sembilan malam seperti yang tadi sore Harsa bilang. Mungkin ini yang dia maksud. Aku membuka pesan itu dan ternyata Harsa mengirim sebuah video. Ragu-ragu aku membuka video itu. Seketika aku terkesima dalam hitungan detik. Dalam video itu Harsa menyanyikan sebuah lagu yang memang sedang aku sukai belakangan ini. Ia memainkan gitarnya sambil membawakan lagu itu.


“Masyaallah.”


...***...

__ADS_1


__ADS_2