
"Eh kalian..." Syilla masuk kamar seraya teriak hingga penghuni kamar langsung menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa, Syill?" tanya Nisa
.
Syilla mengambil posisi duduk di kasurku dengan percaya dirinya padahal kasurku baru saja dirapikan. "Ada yang mau ke kantin nggak? Laper."
"Ih, dikirain ada apaan." Zahra melanjutkan membaca buku. Ia benar-benar rajin, hari minggu pagi seperti ini saja dia masih membaca buku di saat yang lain nonton drakor, main hp, jalan-jalan, jajan di kantin dan kegiatan lainya.
"Yuk lah ke kantin. Tadi Dilla sama Iffah udah duluan padahal aku mau nitip tadinya." Aku memasukan uang ke dalam saku, kemudian bersiap menggunakan jilbab instan berwarna hitam anti ribet, andalan santri karena tidak perlu menyesuaikan dengan warna baju.
"Nitip, Sel." Semuanya serempak menyahut.
"Aigoo. Apaan ini? Jadi pada nitip semua, jangan banyak-banyak lho. Kasian aku sama Syilla ribet bawanya."
"Aku juga mau nitip dong, mie ayam sama teh rosela 1 ya." Zahra menyerahkan uang 50 ribuan.
"Aku papeda, mie gulung, bakwan 3, sama es kelapa."
"Eh ribet ah, catet aja biar nggak lupa." Syilla menyerahkan selembar kertas dan pulpen.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu'allaikum. Ada Kak Seli?"
"Wa'allaikumsalam. Ada." Aku bergegas untuk membukakan pintu, sudah pasti ini Faaz.
"Kakak mau ke kantin nggak? Kalo iya, aku mau nitip dong," kata Faaz setelah wajahku muncul di balik pintu.
Haduh, ni anak nggak pas banget datengnya. Tau aja kalo aku mau ke kantin, batinku.
"Biasanya kamu seneng jalan-jalan ke kantinya. Kenapa nitip?"
"Iya soalnya aku lagi diajarin main basket sama Kak Harsa, dia kan atlet basket ya, Kak?"
"Hmmm."
"Ya udah jadinya aku nitip minuman apa aja deh, Kak. Sekalian beliin buat Kak Harsa juga, ya, Kak."
__ADS_1
"Eh tar dulu, sejak kapan kamu deket sama Harsa?"
"Dia kan pengurus di angkatan aku, nggak tau tiba-tiba Kak Harsa sering ngajak ngobrol aku. Aku juga sering main ke kamarnya minta cemilan. Aku duluan Kak, makasih, Dadahhh." Faaz melambaikan tangan dan pergi.
"Yuk, Sel. Aidha ikut kita juga soalnya rempong banget nih titipannya." Syilla muncul di belakangku setelah mengambil sandal di rak.
"Oke. Mau naik sepeda apa jalan, nih?" tanyaku sambil mengambil sandal dan menyusul Syilla dan Aidha yang sudah di depan kamar.
"Jalan aja, deh. Udah terlanjur nggak bawa kunci sepeda."
***
Berbagai macam alat tulis tersusun rapi di etalase sebelah meja kasir toko. Terdapat 5 rak panjang di bagian tengah dan 5 lemari es untuk es krim dan berbagai minuman. Bagian belakang sebelah kanan untuk alat kebersihan dan alat mandi, sedangkan sebelah kiri untuk macam-macam pakaian seperti seragam sekolah untuk MI, MTs dan MA, kemeja, jas, jilbab, juga terdapat seprai, selimut hingga sepatu dan sandal.
Ini benar-benar toserba karena di sini sangat lengkap, semua kebutuhan santri sudah disediakan di sini. Namun, santri MI sampai MA kelas 11 tidak bisa sembarang pergi ke toko atau kantin, mereka punya aturan jam tertentu kecuali hari minggu seperti ini, Sedangkan kelas 12 boleh kapan saja selagi toko buka. Hihi, enak juga jadi kelas 12.
Aku langsung menuju lemari es, mencari minuman untuk Faaz dan Harsa. Sedangkan Syilla dan Aidha tidak pergi ke toko, mereka langsung ke kantin yang letaknya bersebelahan dengan toko. Makanan titipan banyak maka kami harus bagi tugas agar cepat selesai. Karena aku tidak tahu Harsa suka minuman apa, jadi kubelikan saja Nutriboost, dia juga pernah membelikanku nutriboost, mungkin saja dia memang suka. Faaz kubelikan nutriboost juga biar sekalian.
"Faaz kan suka rasa jeruk, kalau Harsa rasa apa, ya?" ucapku pelan seraya membuka pintu lemari es.
"Oh jadi buat Harsa?"
Aku terkejut seraya menoleh dan menyadari Andra berada di sampingku. "Eh, Andra."
"Kenapa, Ndra?" tanyaku sambil mengambil nutriboost rasa jeruk dan apel.
"Nggak papa." Ia mengambil susu UHT ultra milk dan memasukannya ke dalam keranjangku.
"Buat siapa?"
Andra tersenyum. "Buat kamu biar cepet tinggi kayak aku. Ada yang mau dibelanja lagi nggak?" Ia mengambil keranjang yang aku pegang.
"Eh, sini aku aja, Ndra." Aku berusaha mengambil keranjang tersebut tetapi Andra menolaknya.
"Ada lagi, nggak?"
Aku menggeleng.
Andra langsung berlalu menuju meja kasir dan masuk antrian santri rijal. Kususul dia ke barisan rijal, mengapa juga dia harus mengantri untuk belanjaanku.
__ADS_1
"Andra, ngapain sih? Sini aku aja ih."
"Ada yang mau dibelanja lagi nggak? Silverqueen mau? Udah lama kan nggak makan coklat?"
Percakapan kami tanpa sengaja membuat adik kelas nisa melihat ke arah kami hingga mereka saling berbisik. Huh, sudah pasti mereka membicarakanku. Bukannya aku ge-er, tetapi Andra memang digemari adik kelas karena orangnya yang ramah, ganteng, putih, tinggi, berhidung mancung dan bermata sipit. Bisa dikatakan mirip oppa-oppa korea gitu.
"Nggak usah, bikin sakit gigi." Aku berbohong, sebenarnya aku selalu menggosok gigi usai makan coklat jadi aku hampir tidak pernah merasakan sakit gigi.
"Emmm... Ya udah dimakannya dikit-dikit aja itu pun kalau udah nggak sakit gigi." Andra meraih 1 batang silverqueen dari rak kasir dan meletakannya ke dalam keranjang. Andra benar-benar tidak menghiraukan adik kelas nisa yang sejak tadi memperhatikan kami.
Akhirnya aku pasrah, membiarkan Andra mengantri dan membawakan belanjaanku. Kini aku ke kantin untuk membeli Mie ayam dan bakso titipan anak kamar.
Andra menghampiriku. "Nih, Sel. Kuat kan bawa sendiri?"
"Aku bukan bayi kali, bawa ginian doang nggak kuat." Aku meraih kantong plastik yang Andra serahkan.
"Sip. Ya udah. Duluan, Sel."
"Eh, bentar. Ini uangnya tadi aku belum ngasih juga."
"Udah nggak usah."
"Eh... ." Belum sempat bicara, Andra sudah menjauh. "Ya udah. Makasih, Ndra."
"Sel, udah belum?" Aidha dan Syilla menghampiriku.
Aku mengambil pesananku dari abi penjaga mie ayam. "Udah, nih. Yuk balik."
Brukkk!
"Astagfirullah. Maaf Vira aku nggak liat sama sekali," ucapku setelah menyadari orang yang aku tabrak adalah Vira.
"Nggak papa, Sel." Dia tersenyum manis dan mengambil totbag berisi kotak seperti kado. Dilihat dari wajahnya Vira sedang bahagia.
"Oh oke deh. Btw, kamu mau kemana sendirian?"
"Cari Andra. Kata temennya, Andra lagi di kantin juga."
Sepertinya hadiah itu untuk Andra. Sebenarnya aku sedih karena begitu besar harapan Vira kepada Andra, sedangkan Andra bahkan tidak sama sekali menyukainya. Aku memang menyukai Andra, tapi aku juga tidak ingin melihat Vira kecewa.
__ADS_1
"Kalau gitu, aku duluan, ya, Vir." Aku melambaikan tangan dan bergegas menuju Aidha dan Syilla yang menungguku.
***