
“Yaudah, Sel. Nggak usah dipikirin dulu gitu dong, tar malah kepikiran bikin pusing.” Iffah pun meneguk es tehnya.
“Biasanya cowok ikhlas kali Sel bayarin cewek begitu,” sahut Najwa sambil mengunyah nasi di suapan terakhirnya.
Aku yang baru memakan setengah dari makan siangku hanya menghela napas perlahan. Aku menjadi tidak enak untuk makan karena aku masih punya hutang kepada laki-laki tadi yang membayarkan makananku dan teman-temanku.
“Abisin dulu nasinya, Sel. Abis itu kita ke asrama,” kata Zahra.
Zahra adalah salah satu murid dengan prestasi terbaik di angkatanku. Dia beberapa kali terpilih untuk mengikuti perlombaan di bidang akademik antar sekolah hingga tingkat nasional, bahkan tidak jarang ia memenangkan perlombaan tersebut. Kulitnya yang putih dengan mata bulat dan bulu mata lentik membuatnya sangat terlihat cantik. Zahra memang kerap menjadi incaran para santri rijal.
“Nggak mau diabisin deh, aku udah kenyang.”
“Terus mau kamu apain nasinya? Buang?”
Iffah menyodorkan nasi ke mulutku. “Aku tau kamu laper tapi nggak enakan karena ini masih utang, kan? Gampang itu mah, tar juga ketemu lagi ama tuh cowok.”
Mulutku meraih suapan dari Iffah. “Masalahnya aku kan nggak tau namanya jadi nggak bisa tanya kalian dia organisasi apa tau kelas apa.” Aku pun berusaha menghabiskan makananku bagaimana pun ini adalah rezeki yang tidak sepatutnya aku buang.
“Emang gimana sih ciri-ciri mukanya? Ganteng nggak?” tanya Zahra.
“Ganteng sih. Putih banget lagi dia, hampir seputih kamu, Ra. Nggak terlalu tinggi sih, sepantaran ama aku agak tinggi dikit. Terus ada tahi lalat kecil di pipinya,” tuturku.
“Dah lah yuk balik,” lanjutku seraya berdiri yang diikuti ketiga temanku.
Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di kasur. Berniat melesat ke alam mimpi karena tadi malam aku tidur terlalu larut. Namun, aku mengurungkan niatku saat menyadari barang-barangku belum rapih karena kemarin adalah hari pertamaku dan teman sekamarku menempati kamar ini.
“Tar malem jangan lupa ya, guys. Kita ada ijtima seluruh anggota,” kata Aidha mengingatkan sembari memasukan baju-bajunya ke lemari.
“Oke,” jawab seisi kamar bebarengan.
“Kira-kira ijtimanya mau bahas apa ya? Pembukaan kepengurusan asrama kan udah baru kemarin,” tanya Nisa-teman sekamarku yang berasal dari Sulawesi.
“Entah,” jawabku.
***
Seluruh anggota kepengurusan asrama sudah berkumpul di dalam ruangan khusus untuk ijtima. Kelas dua belas memang masanya untuk sibuk berorganisasi, menyiapkan ujian akhir dan ujian masuk perguruan tinggi bagi yang melanjutkan. Pesantren identik dengan asrama rijal dan nisa yang terpisah, begitu juga di pesantrenku ini. Tetapi, tidak denganku saat ini.
Santri MI rijal dan nisa tinggal dalam satu gedung asrama yang sama dan hanya berbeda blok. Blok A dan B dari lantai 1 sampai 6 untuk santri rijal dan blok C dan D untuk santri nisa. Di gedung asrama itulah sekarang aku tinggal, karena gedung ini berisi santri rijal dan nisa MI, maka pengurus pun ada rijal dan nisa di asrama ini.
Setelah MC membuka acara ijtima malam ini, ketua pengurus pun mulai memberikan motivasi dan arahan kepada para anggota yang kalau aku boleh jujur, aku sungguh mengantuk mendengarnya karena memang aku sedang kurang tidur.
“Di harapkan semuanya dapat bekerja sama dengan baik. Untuk pembagian tugas dan jadwal lainnya sudah saya tempet di mading kepengurusan, jangan lupa dilaksanakan dengan baik ya,” ucap Yusuf-ketua organisasi kepengurusan asrama MI.
Seperti hilang rasa malu, aku terkantuk-kantuk dengan mata setengah terpejam. Padahal kini aku sedang berada satu ruangan dengan santri rijal, sungguh harusnya aku bisa menyembunyikan rasa kantukku tetapi nyatanya tidak.
Seli, jangan ngantuk. Jangan buat malu diri kamu di depan cowok-cowok, batinku.
Aku menoleh kepada Najwa yang duduk tepat di sebelahku. “Jwa, pegang tanganku dong biar nggak ngantuk.”
Najwa pun langsung memijat tanganku dan kantukku mulai berkurang.
__ADS_1
Aku terkejut saat melihat ke arah barisan rijal yang berhadapan dengan kami kudapati sosok yang membantuku di kantin tadi siang. “Jwa, itu dia orangnya. Itu, yang tadi siang di kantin lho,” bisikku pada Najwa sambil kuarahkan daguku untuk menunjuk laki-laki itu.
“Yang mana? Harsa maksudnya?
“Oh, namanya Harsa?
“Yang pake baju coklat susu itu, kan? Iya itu Harsa namanya.”
“Ternyata sekarang dia satu organisasi dong sama aku? Malu deh kalo ketemu dia lagi. Tapi kalo nggak ketemu ntar aku nggak bayar-bayar utangku ke dia.”
“Udah abis ijtima ini langsung aja temuin terus bayar, beres deh. Tapi, kamu emang bawa uangnya? ”
Aku mengangguk. “Tadinya aku sama zahra mau ke toko abis ini buat beli alat kebersihan, makanya aku bawa uang deh ijtimanya.”
***
Sekitar beberapa menit kemudian, akhirnya ijtima pun ditutup. Seluruh pengurus mulai berhamburan ke luar ruangan untuk kembali ke kamarnya masing-masing. Aku celingukan mencari sosok Harsa di antara para pengurus rijal yang sedang berjalan di koridor.
“Nah, itu dia.” Aku langsung bergegas menghampirinya dan semoga saja aku tidak membuatnya malu di depan teman-temannya.
“Harsa, makasih.” Aku menyerahkan uang 40.000 kepadanya karena makanan yang dibayarkan Harsa tadi sejumlah segitu.
Dia menatapku bingung. “Ini apa, ya?”
“Yang tadi siang lho. Saya salah ngasih uang ke kamu, kan? Nih, maaf ya dan makasih banyak juga.”
“Seli, ayok. Katanya mau ke toko?” Zahra memanggilku dari kejauhan.
“Kamu nggak punya utang sama saya.”
“Eh, nggak punya utang, gimana? Jelas-jelas tadi siang kamu bayarin saya.”
Harsa membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkanku.
“Harsa, bentar.” Aku berlari mengejarnya.
Harsa berhenti dan menatap ke arahku sambil tersenyum setelah aku berada di hadapannya. “Saya udah ikhlas kok, jadi kamu nggak punya utang apa pun sama saya.”
“Eh, kok gitu?” Aku melihat dia bersiap untuk meninggalkaku lagi, dengan sigap aku berkata, “Oke. Kalau gitu saya beliin kamu minuman di toko ya sebagai gantinya.”
“Nah, boleh tu.” Harsa berjalan melewatiku.
“Oke, makasih ya,” ucapku dengan sedikit berteriak karena Harsa yang sudah mulai berjalan menjauh menuju blok A.
Aku langsung menemui Zahra dan mengajaknya ke toko. Kami membeli beberapa alat kebersihan untuk kamar kami. Tidak lupa, aku membeli 3 buah minuman nutriboost, satu untukku dan 2 botol untuk Harsa.
Toko ini memang menyediakan segala kebutuhan santri sehingga jika santri memerlukan sesuatu tidak perlu keluar pesantren karena semuanya sudah disediakan di sini. Dan memang seluruh santri tidak diperbolehkan keluar dari lingkungan pesantren kecuali ada izin khusus karena sakit parah atau hal mendesak lainnya.
Usai membayar di kasir, kami berjalan menuju asrama kami. Jalanan masih lumayan sepi karena santri kelas 7 sampai kelas 11 masih berada di masjid untuk melaksanakan kegiatan tahfidz seperti biasanya. Sedangkan untuk kelas 12 melaksanakan shalat berjama’ah di tempat organisasinya masing-masing. Agar lebih cepat sampai asrama, Zahra mengajakku untuk belok di pertigaan jalan sehingga kami akan melewati jalanan belakang asrama yang lebih dekat dengan toko.
Aku dan Zahra berbincang-bincang sepanjang jalan sambil menjinjing alat kebersihan yang baru saja kami beli. Memang sudah menjadi tradisi jika dua perempuan atau lebih sedang berjalan bersama pasti apa saja menjadi bahan obrolan tetapi hal ini juga untuk menutupi kesunyian di jalan yang kami lewati ini.
__ADS_1
“Asli, Ra. Ini jalanan lampunya pada kenapa si? Kok gelap banget?” Aku menyikut-nyikut lengan Zahra sambil menatap sekitar dengan wajah khawatirku karena aku merasakan aura-aura mistis karena saat di sekolah tadi pagi Aidha bercerita mengenai dirinya yang melihat hal ghaib.
Zahra hanya mengangguk dan menarik tanganku untuk berjalan lebih cepat. Aku semakin panik saja saat merasakan kakiku menginjak sesuatu yang berbentuk panjang, licin, kenyal dan menggeliat. Aku langsung berhenti dan mematung karena aku benar-benar panik ketika aku menduga bahwa yang aku injak tadi adalah seekor ular.
“Kamu kenapa, Sel?”
Tak ada pilihan lain, aku melihat ke arah kakiku yang beralas sandal jepit berwarna biru.
“Arrrrrgggghhhhhh!!! ULARRR!!” Aku berlari terbirit-birit yang diikuti oleh Zahra.
Brukkk!!
Kakiku tak dapat menopang keseimbangan tubuhku sehingga aku jatuh terduduk setelah menabrak punggung seseorang. Seluruh barang belanjaanku jatuh bertebaran keluar dari kantong plastiknya.
Zahra langsung menghampiriku yang kini sedang memasukan kembali barang-barangku. “Sel, kok bisa jatoh sih? Malu tau.”
Jalanan ini memang sedikit gelap karena entah kenapa lampu di sini sering kali mati. Santri-santri pun jarang melintasi jalan ini di malam hari karena selain gelap, jalanan belakang asrama ini dekat dengan kebun sehingga menambah aura-aura mistis menurut para santri.
Aku paham betul ucapan Zahra mengapa aku jatuh di tempat gelap dan sunyi seperti ini membuatnya malu, tidak lain karena aku jatuh setelah berlari terbirit-birit dan menabrak punggung seorang santri rijal. Tetapi mau bagaimana lagi, toh aku udah terlanjur jatuh begini.
“Aku udah terlanjur jatoh, Ra.”
“Ekhemm.”
Aku dan Zahra langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat jelas dia adalah Yusuf-ketua kepengurusan kami yang berada di antara Harsa dan Zafran. Sudah bisa dipastikan bahwa aku menabrak punggung Harsa karena yang berada dekat trotoar.
Sudah tanggung malu, aku langsung saja menyerahkan dua botol minuman nutriboost yang memang ingin kuberikan kepada Harsa sebagai tanda terimaksih mengenai kejadian di kantin tadi siang.
Alhamdulillah Harsa langsung menerima minuman itu dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih sehingga aku bisa langsung menarik lengan Zahra dan segera menghilang dari hadapan mereka. Namun, yang terjadi tidak sesuai dengan yang aku harapkan.
Innalillahi, sendalku putus. Ah, kan makin malu kalo begini ceritanya, batinku kesal.
Mereka semua termasuk Zahra menoleh ke kakiku. Mungkin mereka menyadari apa yang terjadi dengan sandalku ini.
“Sendal kamu putus, Sel. Nih pake sendal ane aja, di kamar juga ane punya dua.”
Aku kira yang menawarkan sandalnya itu adalah Harsa, tetapi nyatanya bukan. Dia adalah Zafran.
“Nggak perlu, Zafran. Udah deket asrama juga kok ini,” jawabku.
“Nggak papa kali, Sel. Pinjem punya Zafran aja dulu, takutnya besok kamu belum sempet ke toko buat beli sendal baru. Nggak mungkin kan kita balik ke toko sekarang karena pasti jam segini toko mulai rame karena santri bentar lagi pulang dari masjid,” kata Zahra yang sepertinya tidak memahami bahwa aku sedang malu dan ingin segera lenyap dari hadapan mereka.
“Coba lepas dulu sendalnya deh,” kata Harsa kepadaku.
Aku menuruti kata Harsa untuk melepas sandalku. “Mau ngapain?”
Harsa meraih sandalku. “Ini mah bukan putus, cuma copot doang.” Harsa menyerahkan sandalku setelah memperbaikinya. “Udah nih, Aman.”
Setelah memakai kembali sandalku, aku dan Zahra bergegas menuju asrama dan meninggalkan mereka dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih.
***
__ADS_1