BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Terkejut


__ADS_3

"Akhirnya sampe juga di rumah, udah nunggu-nunggu banget mau liburan gini," kataku seraya merebahkan tubuhku yang pegal-pegal ini di sofa.


Umi duduk di hadapanku seraya tersenyum. "Nanti malam setelah isya, kamu langsung siap-siap, ya. Pakai baju gamis kalau bisa."


Aku langsung menarik punggungku dari sandaran sofa. "Emangnya mau kemana, Mi?"


"Kita nggak kemana-mana, kok. Mereka yang ke sini."


Jantungku rasanya ingin melompat keluar. Aku panik bukan main, ini seperti cerita-cerita novel mengenai perjodohan yang sering kubaca. Semoga saja bukan.


Aku berusaha mengontrol napasku. "Mereka siapa, ya, Mi?" tanyaku lembut.


"Calon suamimu, Seli. Nggak mungkin, kan, kamu lupa?" Abi ikut menimbrung percakapan kami dan duduk di sebelah Umi.


"HA? SUAMI?" Aku langsung berdiri saking terkejutnya.


"Duduk dulu, Seli."


"Tar dulu, Umi. Ini calon suami siapa maksudnya? Sejak kapan Seli punya calon begini?" Aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku.


Abi menghela napas. "Seli, walaupun kamu baru lulus Madrasah Aliyah, nggak ada salahnya kan kalau kamu langsung menikah? Kan sudah kita bahas masalah ini beberapa minggu yang lalu dan ini solusi dari Abi dan Umi agar kamu tidak terus-terusan dikejar oleh pria yang seperti itu, Seli."


"Ayok, kamu istirahat dulu di kamar." Umi mengantarku ke kamar.


Usai Umi pergi aku duduk di depan meja cermin. Memandang wajahku sendiri. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi hal ini. Solusi yang orang tuaku berikan memang baik, tetapi aku belum siap untuk menikah.


Aku beranjak menuju tolilet untuk mandi dan mengambil wudhu setelah adzan maghrib sudah terdengar dari masjid dekat rumahku. Masjid penuh kenangan masa kecilku bersama teman-temanku yang terkadang membuatku ingin kembali ke masa itu.


Kini aku sudah memakai gamis berwarna mocca yang kuambil dari lemari karena pakaianku yang lain masih rapi di dalam koper karena aku belum sempat membereskannya. Aku memadukannya dengan jilbab segi empat yang berwarna senada dengan gamisku.


"Seli, ayok keluar, Sayang. Tamu kita udah datang," ucap Umi di depan pintu kamarku yang sengaja kukunci.


"Iya, Umi."

__ADS_1


Aku berjalan menuju ruang tamu bersama Umi. Aku terkejut saat melihat Ustadz Yahya dan Ustadzah Fathimah sedang duduk berbincang-bincang dengan Abi dan kakak-kakakku.


Saat aku sudah duduk, aku baru menyadari bahwa Harsa pun ada di sini. Duduk di sebelah Faaz lebih tepatnya. Kenapa bisa ada keluarga Harsa di sini?


Tanpa bertanya, Umi yang berada di sampingku sepertinya mengerti perasaanku. Umi langsung memberitahuku seraya berbisik pelan. "Anak bungsu Pak Yahya itu calon kamu, Sel."


Deg!


Aku refleks berdiri hingga membuat obrolan di ruang tamu ini terhenti. Semua orang menatapku heran.


"Seli, kenapa?" Umi menyentuh tanganku.


"AKU NGGAK MAU NIKAH SAMA HARSAAAAAAA."


Aku menatap plafon dengan hiasan bintang-bintang yang terbuat dari kertas emas, aku duduk dan melihat sekeliling yang ternyata aku berada di kamar asramaku. Suasana kamar masih gelap, teman-temanku pun masih terlelap.


"Alhamdulillah. Ternyata cuma mimpi. Aku bisa mimpi gini pasti karena kemaren sore bayangin menikah sama Harsa yang orangnya serba ribet itu. Aduh ngeri banget, sih. Tapi, kalo dia jodohku, aku bisa apa?"


Aku meraih ponselku yang berada di papan yang sengaja diletakan di antara tempat tidurku dan Dilla. Ternyata jam menunjukan pukul 02.50 WIB. Aku melepaskan selimut dan pergi ke toilet untuk mengambil wudhu, berniat melaksanakan salat sunnah Tahajud.


***


Bel istirahat berbunyi, ustadzah Ira langsung menutup penjelasannya dengan Hamdallah. Seisi kelas mulai ramai, ada yang langsung mengambil posisi merebahkan kepala di meja, lesehan di bagian belakang kelas, kolong meja, ada yang pergi ke toilet, ada pula yang ke koridor tengah untuk melaksanakan ijtima dan kegiatan-kegiatan lainnya.


"Seli, anterin aku ke ruang guru bahasa, yuk." Maryam menghampiriku sambil membawa kertas tugas seluruh anak kelas.


"Mau ngumpulin tugas yang tadi?"


"Iya. Tadi langsung pelajaran Ustadzah Ira jadi belum sempat ke sana."


"Oke. Yuk." Aku dan Maryam berjalan keluar kelas. "Eh, ruang guru bahasa di blok rijal, ya?"


"Heem. Nggak papa, kan?" Maryam tersenyum memohon.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Mau lewat mana?"


Seluruh ujung blok setiap lantai diisi oleh ruang guru dan ruang guru bahasa terletak di pojok lantai 2 blok rijal, kalau kami ingin menghindari melewati kelas rijal angkatan, maka kami harus turun ke lantai 1 melalui tangga nisa atau tangga tengah kemudian naik lagi melalui tangga rijal.


"Kalau lewat lantai 1 dulu, cape kayaknya. Males aku."


"Berarti kita langsung lewatin kelas rijal aja nih?"


Maryam mengangguk seraya tersenyum, kami pun langsung berjalan melewati kelas-kelas rijal. Lalu, pandangan kami terfokus ke salah satu kelas, mereka ribut sekali, tertawa terbahak-bahak. Aku dan Maryam sedikit melirik ke dalam, ternyata mereka sedang menonton video di sebuah laptop.


"Nonton apaan ya mereka?" tanyaku sambil tetap berjalan.


"Video apa gitu kali."


Kami keluar ruangan guru bahasa usai menyerahkan kertas ulangan harian tadi. Kami tidak sengaja berpapasan dengan Yusuf-ketua organisasi kepengurusan asrama MI yang memang berada di kelas yang tadi ramai sekali.


Angkatanku ini berjumlah sekitar 600 santri rijal dan nisa, sehingga dibagi menjadi 9 kelas rijal dan 9 kelas nisa. Satu kelas berisi sekitar 30-an santri dan kelas MIA atau kepanjangan dari Matematika dan Ilmu Alam memang paling diminati sehingga berjumlah 5 kelas MIA dan 4 kelas IIS atau Ilmu-Ilmu Sosial.


Yusuf menyapa aku dan Maryam dengan tersenyum ramah.


"Yusuf, bentar mau nanya."


Yusuf menoleh kepada kami. "Iya, tanya apa?"


Seharusnya aku tidak menanyakan ini, tetapi aku penasaran saja. "Kelas ente ribut banget tadi, ada apa emang?"


"Oh itu. Kita lagi pada nonton video drama pelajaran SKI anak nisa, kelas ente kan yang videonya paling bagus kata ustadznya? Nah ustadznya tadi kasih video itu ke kelas ane supaya kelas ane bisa contoh video kalian, soalnya kelas ane udah 2 minggu belum ada yang jadi videonya."


"Demi apa punya kelas ane?" tanyaku terkejut.


"Iya ih. Kok sampe ketawa-ketawa gitu sih nontonnya? Parah banget." Maryam ikut terkejut.


Yusuf malah tertawa. "Iya, makanya video kelas kalian paling bagus kan karena emang lucu juga."

__ADS_1


"Yaudah-yaudah. Makasih infonya." Aku langsung menarik tangan Maryam untuk mengajaknya kembali ke kelas.


***


__ADS_2