BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Minder


__ADS_3

Ramai teriakan gembira dari lapangan. Menyaksikan pertandingan-pertandingan, menguras keringat, melakukan hobi, menjadi penikmat olahraga. Banyak hal yang dapat dinikmati di lapangan sore hari. Suasananya menggembirakan. Membawa pikirin dan hati jauh lebih segar.


Otakku mulai meredamkan panasnya usai keluar dari basement dan menyaksikan keriangan di lapangan. Lapangan yang menjadi saksi bisu setiap kebahagiaan pemain sepak bola yang mencetak gol, pemain basket yang berhasil memasukan bola ke ring dan semua kebahagiaan para pemain atau penonton di lapangan ini.


Letak lapangan yang bersebelahan dengan gedung sekolah, dulu membuatku selalu ingin melihat ke jendela. Melihat Andra sedang latihan basket pada jam pelajaran karena memang untuk mempersiapkan mengikuti perlombaan. Pada saat aku mengikuti ekstrakurikuler di lab sekolah, terkadang aku melihat ke lapangan bakset, melihat Andra yang selalu latihan di sore hari. Tapi, sekarang tidak lagi. Aku tidak pernah melihat Andra lagi sejak malam itu.


"Katanya ujian pelajaran SKI banyak keluar dari buku LKS yang Ustadz Yahya kasih tau," ungkap Aidha membuatku mengalihkan pandangan dari lapangan.


Kami sedang berjalan menuju asrama. Hari ini kelasku mendapat ujian sesi ketiga, maka kami selesai sekitar pukul empat sore. Aku pulang bersama Aidha tanpa membawa tas, hanya satu buah buku yang akan diujiankan. Beginilah jika ujian, hanya membawa peralatan seperlunya.


"Yang punya LKS itu cuma kelas yang diajar Ustadz Yahya, ya? Kelas apa aja sih, yang diajar Ustadz Yahya?"


"Nggak tau, deh. Setau aku, Ustadznya ngajar SKI diangkatan kita cuma dua kelas, dan itu kelas cowok."


Aku mengetuk-etukan jari pada dagu, berpikir. "Coba aja kita tanya anak pengurus, siapa tau mereka diajar Ustadznya."


Santri yang baru selesai berolahraga, keluar dari pintu pagar lapangan. Aku dan Aidha memilih berhenti sejenak agar mereka bisa lewat terlebih dahulu. Sebagian dari mereka pasti terburu-buru untuk kembali asrama, kemudian berangkat ke masjid, kecuali santri kelas dua belas yang melaksanakan salat berjemaah di asrama.


Melihat suasana ini mengingatkan masa-masa kelas sepuluh, mengikuti ekstrakurikuler yang harus dikejar waktu. Selesai kegiatan langsung berlari jika sudah mepet waktu, kemudian mandi super cepat dan berlari lagi menuju masjid. Jika benar-benar melewati waktu yang telah dianjurkan, maka harus izin ke kamar pengurus asrama. Lalu, kakak kelas itu memberi kami waktu sekitar sepuluh menit untuk mandi, jika terlambat laporan, ya dihukum.


Pernah suatu hari, aku kembali ke asrama sepulang mengikuti kegiatan, ternyata ramai sekali di lantai dua. Ramai oleh santri yang baru pulang dari kegiatan sore itu. Kami diperintah membuat barisan, menunggu seluruh santri yang mengikuti kegiatan sore berkumpul. Setelah itu, diberikan peringatan-peringatan untuk kembali ke asrama sebelum jam 5.


Peringatan ala kakak kelas bukanlah peringatan biasa, peringatannya seperti disidang, bedanya ini sidang bersama-sama. Dimarah-marahi jika bersama teman, tidak terasa terlalu menyeramkan. Itulah salah satu yang membuat kami bertahan di pesantren. Jika tidak bisa menikmati setiap momennya, bisa-bisa minta pulang ke orang tua. Saran dariku, nikmatilah momen apa pun di sini sekalipun itu momen tidak menyenangkan, karena suatu saat kita akan merindukannya. Dan yang menyakitkan, kita hanya bisa merindukan, tidak bisa kembali ke masa-masa itu. Dengan begitu, kita bisa lebih bersyukur selama masa di pesantren atau sekolah.


"Anak-anak pengurus nggak diajar Ustadz Yahya tau, Sel. Inget nggak sih, yang video praktek SKI kelas kita ditonton sama anak kelasnya Yusuf?"


"Oh iya. Mereka gurunya sama kayak kita, ya. Bukan Ustadz Yahya."


Aidha menatapku dengan mata berbinar sambil menyentuh kedua bahuku. "Ustadz Yahya bapaknya Harsa, kan? Minta ke Harsa aja kalo gitu. Dia kan anak rajin, pasti punya bukunya."


Aku mengangguk. "Ide bagus. Gih kamu nanti malem pinjem LKS itu kalo ketemu dia."


Kami tiba di lantai satu asrama. Aidha duduk di anak tangga untuk melepas sepatu. "Yang pinjem ke Harsa kamu dong, Sel. Kan kamu yang deket sama dia. Kalo aku yang pinjem, mana mau dia pinjemin."


Aku menyusulnya melepas sepatu. "Yang deket sama dia tuh, Zahra, bukan aku. Terus kemaren ngapain Syilla waktu di kantin bilang gitu ke Harsa coba? Nanti kalo Zahra tau gimana? Jangan godain aku sama Harsa terus dong."


"Nah, ini yang jadi pertanyaan anak kamar. Zahra tuh naksir sama Harsa, ya?"


"Emang kalian nggak ada yang sadar apa? Nggak tau juga sih, aku nebak aja."


Zahra yang berkarakter anggun, membuatnya sulit ditebak perasaannya. Ia ramah kepada siapa pun, senyumannya selalu terpancar kepada lawan bicara. Tak ada yang mengetahui siapa pria yang dia sukai. Dia tidak pernah terlihat tersipu ketika berbicara dengan lawan jenis, tidak pernah bercerita siapa pria yang dia kagumi. Terkadang di sini, satu orang menyukai santri rijal, satu kamar bakal tahu.


"Tapi, anak kamar taunya kalo Harsa suka sama kamu, Sel. Makanya kita sering godain kamu. Kamu inget nggak, waktu Harsa nyamperin kamu di deket kantin terus dia bilang kalo kamu jadwal piketnya bareng dia? Yang kamu lagi ngobrol sama Andra, ada Vira juga, inget nggak?"


"Oh, yang Andra ngajakin aku ketemu ibunya? Inget. Kenapa?"

__ADS_1


"Iya, jadi waktu itu aku sama Dilla liat Harsa lagi sama Zafran. Terus, mereka denger apa yang kamu bahas sama Andra. Langsung deh dia muncul dan bilang kalian piket bareng. Parahnya, sewaktu aku liat jadwal, jadwal kamu bukan piket bareng Harsa."


Aku terkejut seraya menatap Aidha terheran-heran. "Jangan bohong, Dha. Waktu aku liat jadwal baru di mading, bener kok aku emang jadwalnya bareng Harsa."


Aidha menepuk pahaku pelan. "Kamu liatnya kapan? Besok-besoknya, kan? Aku liat di mading siang itu jadwal piket kamu bareng Yusuf, bukan Harsa."


Aku diam. Berusaha mencerna apa yang disampaikan Aidha. Apa iya Harsa suka sama aku? Tapi ciri-ciri yang Aidha kasih, belum valid. Ini baru dugaan sementara. Jangan merasa sok cantik deh, Sel. Cukup, jangan ke PD-an, batinku mengingatkan.


"Terus nih, Sel. Aku juga liat muka Harsa kalo ketemu kamu sumringah banget."


Aku bangkit dan meninggalkan Aidha sambil mencangking sepatu. "Itu mah tebakan kamu doang."


Aidha mengejarku. "Malem ini kamu harus jadi pinjem LKS itu ke Harsa. Titik! Demi nilai bagus, Sel."


Aku mengembuskan napas kasar mendengar ocehan Aidha.


***


Pasrah. Demi mendapatkan nilai bagus. Aku berniat meminjam LKS pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam untuk dipelajari satu malam ini bersama anak kamar. Memang tidak ada pilihan, materi pelajaran ini sangat banyak. Mustahil aku membaca seluruh tulisan di buku paket dalam satu malam. LKS itu katanya berisi contoh-contoh soal pilihan ganda yang biasanya keluar saat ujian. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk mempelajarinya.


Menunggu waktu yang tepat untuk berbicara kepada Harsa. Sebenarnya aku juga masih malu kepada Harsa dengan kejadian di kantin kemarin, ulah Syilla yang mengada-ada. Kalau Zahra tidak sedang menginap, pasti dia yang akan pinjam kepada Harsa, bukan aku seperti ini.


Aku berjalan mendekati Harsa yang sedang mengatur barisan salat anak-anak. Salat Isya berjemaah akan segera dimulai. Sambil menunggu ikamah dikumandangkan, aku sempatkan untuk menemui Harsa. "Harsa," panggilku.


Harsa menoleh. "Iya. Kenapa, Sel?"


"LKS pelajaran SKI? Ada. Tapi ... masih dipinjem Zahra."


Zahra? Zahra rupanya sudah pinjam, toh. Namun, karena dia masih bersama sahabatnya di asrama lain, maka aku tidak tahu. Memang sudah menjadi kebiasaan Zahra jika sedang ujian, ia memilih tinggal bersama sahabatnya. Walau tidak selalu, tetapi bisa dikatakan sering. Mungkin karena sahabatnya itu juga pintar dan berprestasi seperti Zahra. Jadi, mungkin jika bersamanya, Zahra bisa lebih fokus ujian.


"Bukannya kalian sekamar? Saya kira Zahra pinjem buat belajar bareng sekamar."


"Oh, itu ... Zahra lagi nginep di asrama lain. Ya udah kalo gitu, makasih." Aku balik badan dan kembali menuju barisan salat nisa.


"Seli, sebentar." Harsa mengejarku. "Katanya Zahra mau ngembaliin buku itu malem ini, tapi kalo dia lagi di asrama lain dan belum ngembaliin juga, abis Isya ini saya ke kamar abi. Kayaknya abi masih punya LKS itu. Eh, tapi ... pasti disimpen di ruangannya yang di sekolah, ya."


"Nggak usah, Harsa. Nggak usah ke abi ente segala. Nggak papa, kok, saya udah belajar dari buku paket." Aku mengembangkan senyuman, kemudian pergi.


***


Aku tiba di lantai satu usai mengawal kegiatan tahfidz. "Assalamualaikum," ucapku seraya masuk kamar masih memakai mukena.


Syilla menghampiri. "Gimana, Sel? Dipinjemin nggak?"


"Nggak."

__ADS_1


Iffah langsung menimbrung dan duduk lesehan di lantai yang sepertinya belum lama dipel. "Harsa nggak minjemin? Jahat banget, sih. Pinter-pinter tapi pelit."


"Iya. Ganteng-ganteng masa pelit." Dilla yang baru datang ikut menghujat Harsa.


"Bukan gitu. Bukan Harsa nggak mau kasih pinjem, tapi bukunya udah dipinjem Zahra," tuturku.


"Zahra?"


Aku mengangguk. Lalu, melepas mukena dan menggantungnya. Pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Setelah selesai, aku langsung meraih buku paket SKI di rak. "Udah, ayok belajar. Nanti malah kemaleman lagi."


Kami bersembilan membaca buku paket masing-masing. Seketika kamar yang tadinya ramai oleh obrolan, menjadi sunyi. Beberapa membaca buku dengan posisi tengkurep, ada pula yang menyadar di tembok pojok kamar demi mendapat kefokusan dalam belajar. Ada yang belajar di atas kasur hingga terkantuk-kantuk.


Tok! Tok! Tok!


"Asalamualaikum ... ada Seli?"


Aku yang kebetulan duduk di dekat pintu langsung menjawab, "Waalaikumsalam. Ada ..., sebentar."


Segera kuraih jilbab instan dan memakainya. Malam ini pakaianku lengan panjang sehingga saat keluar tidak perlu mamakai jaket atau semacamnya lagi.


"Kenapa, Harsa?" tanyaku setelah membuka pintu.


Senyuman terlihat dari wajahnya yang putih dan mulus. Tahi lalat di pipi dan dekat alis membuatnya terlihat lebih manis. Ia menyerahkan LKS yang berniat kupinjam tadi.


Aku meraih buku itu. "Ente mau kasih pinjem saya?"


"Ya. Tadi saya ke kamar abi dan Alhamdulillah, ada LKS itu di kamar abi."


"Ya ampun. Jadi ngerepotin, sampe ente ke sana segala. Makasih banyak, ya. Ente sendiri mau pake buku ini kapan? Atau udah hafal semuanya jadi nggak perlu belajar lagi?"


Harsa tertawa. Terlihat barisan giginya yang rapi dan putih. "Nggaklah, masa udah hafal semua. Besok kelas ente sesi ujiannya bareng kelas saya, kan? Sesi kedua?"


"Betul."


"Kalo gitu, ente balikin bukunya besok pagi aja. Sekitar jam delapan nggak papa."


"Waw berarti ente belajarnya sebentar doang, ya. Mantaplah, santri berprestasi," godaku.


"Seli, ngobrolnya jangan kelamaan. Nanti ada setan, lho." Syilla meneriakiku dari dalam kamar.


Tiba-tiba aku jadi mengingat perkataan Aidha tadi siang. Apa benar Harsa sengaja ganti jadwal piket aku supaya waktu itu aku nggak dipaksa Andra? Masa sih, cowok kayak Harsa suka sama aku? Aduh, minder banget rasanya. Tapi, kalau Harsa benar menyukaiku maka pasti aku akan kehilangan teman seperti Zahra.


"Saya pamit, ya. Asalamualaikum." Ia berbalik dan berjalan ke blok A.


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


***


__ADS_2