
Kabar yang tak enak didengar itu berusaha kusangkal. Semoga kabar mengenai persidangan Andra oleh dewan guru hanyalah gosip, bukanlah kebenaran. Bahkan percakapan kami kemarin belum selesai, sehingga masih banyak pertanyaan di kepalaku yang belum terjawab.
Aku gelisah seperti ini hanya karena memikirkan kasus Andra. Tapi, aku yakin teman seangkatan yang lain juga merasa sedih saat ada teman yang akan dikeluarkan. Begitu juga saat kami kelas sepuluh, di mana salah satu teman seangkatan kami dikeluarkan karena kasus yang sama, aula dipenuhi tangisan saat dia mengucapkan selamat tinggal. Bagaimana pun kami sudah seperti keluarga di sini. Segala aktivitas kami lakukan bersama. Melewati hukuman-hukuman bersama, berlari-lari karena disur'ah, mengantri makan dan mandi, semua momen itu tidak bisa dilepas begitu saja.
Notifikasi pesan dari Umi Devi masih kupandangi. Jari jemariku terasa kaku. Bingung harus menjawab apa pertanyaan dari ibunya Andra ini. Akhirnya aku memilih untuk menjawabnya nanti. Aku keluar kamar untuk mencari udara segar di sore hari ini.
"Zahra lagi ada di kamar nggak? Bisa tolong panggilin?"
Di depan kamar kudapati Harsa berdiri. Kamar pengurus asrama memang di lantai satu, sehingga memang umum jika santri rijal menemui langsung. Aku mengiyakan dengan mengangguk pelan. Kembali masuk ke kamar dan memberitahu Zahra bahwa ia dicari oleh Harsa. Selepas itu aku kembali ke luar.
"Sebentar lagi Zahra keluar," kataku. Kemudian, aku berjalan menuju kerumunan anak-anak yang sedang menonton televisi di koridor tengah lantai satu ini.
Menonton tontonan anak-anak memang terkadang membuat hati kembali ke masa-masa kecil. Selalu gembira. Hanya menangis karena persoalan kecil dan bisa kembali bahagia ketika sudah lupa. Sesederhana itu masa-masa yang terkadang dirindukan.
Sambil melihat televisi yang besar itu, pandanganku sesekali melipir ke arah Harsa dan Zahra yang sedang duduk di kursi depan perpustakaan. Aku segera berpura-pura melihat ke arah lain saat Harsa seperti akan menoleh ke arahku. Ya ampun, kenapa aku jadi penasaran sama apa yang mereka bahas? Nggak boleh begini.
Segera aku beranjak dan kembali ke kamar. Kembali meraih ponsel dan berniat membalas pesan dari Umi Devi.
Dddrrttt ... Dddrrttt ... .
"Assalamualaikum, Sel. Bisa minta tolong? Apa kamu lagi sibuk, ya?" Nada bicara Andra di seberang terdengar sedang gelisah dan terburu-buru.
"Iya, waalaikumsalam. Nggak sibuk. Kenapa, Andra?"
"Emm, seperti yang aku bilang kemarin di sekolah, aku bakal sidang sama Dewan Guru dan sidangnya malem ini, Sel. Bisa tolong bilangin Fatih, nggak? Dia lagi tanding sepak bola di lapangan asrama kamu, Sel. Tolong bilangin aku nggak bisa dateng ke situ sore ini."
Aku lemas saat mendengar Andra benar-benar akan disidang, bahkan sidangnya malam ini. Rupanya kabar itu benar adanya. "Iya nanti aku bilangin ke adik kamu. Boleh aku tanya sesuatu nggak?"
"Iya, Sel. Oh iya, aku minta tolong satu lagi. Aku belum bisa cerita ke ibu soal ini, aku nggak tau gimana cara ngomongnya. Ibu juga pasti nanya ke kamu terus, kan? Kamu jawab sebisa kamu aja, ya, Sel. Aku tau kamu bisa ngomong ke ibu tanpa bikin ibu panik. Tadi mau nanya apa, Sel?"
Aku mengusap kasar wajahku. "Kenapa kamu justru yang nyuruh temen kamu buat tetep laporin? Kamu sengaja pengen keluar?"
__ADS_1
Terdengar Andra tertawa kecil. Lalu ia menjawab, "Itu emang tugas dia sebagai ketua santri, Sel. Bahkan, dia udah dikasih amanah buat cari tau siapa pelakunya. Ini juga salah aku sendiri jadi aku harus tanggung jawab. Aku serahin semuanya ke Allah. Tolong do'ain semoga hasilnya baik, ya, Sel."
Tes ... .
Air mataku menetes walau berusaha kutahan. Aku memijat kening yang mulai terasa pening. Lalu, memejamkan mata berusaha mengatur napas dan menghentikan air mata. "Iya, Dra. Aamiin."
***
Fatih sedang asik menggocek bola di lapangan depan asrama. Timnya sedang bertanding dengan santri kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah. Ia terlihat sangat mirip dengan Andra. Walaupun masih kelas tujuh, postur tubuhnya sudah bisa dikatakan tinggi untuk anak seusianya. Wajah dan kulit putihnya pun mirip Andra.
Melihat kursi dekat lapangan kosong, aku berjalan mendekati kursi itu. Duduk sambil menyaksikan pertandingan sepak bola ini. Tim kelas tujuh menggunakan warna hijau sedangkan tim lawan berwarna merah muda.
"Permisi, boleh duduk di sini?"
Aku menoleh refleks. "Eh, Harsa. Iya boleh." Lalu, pandanganku kembali ke lapangan. Harsa pun mengikuti. Aku kira Harsa masih mengobrol dengan Zahra, ternyata sudah selesai.
"Afwan, Sel. Jilbab kamu kurang rapi, ada rambut yang keluar."
Tak lama kemudian, pertandingan selesai. Aku melambaikan tangan kepada Fatih saat ia melihat ke arahku. Tetapi, sepertinya dia tidak melihatku.
"Nanti juga mereka pada ke sini, kok. Nih, tas-tas mereka di sini." Harsa menunjuk tumpukan tas yang berada tak jauh dari kursi yang sedang kami tempati.
Melihat Harsa, aku baru menyadari mengapa Andra meminta tolong kepadaku untuk menyampaikan pesan pada Fatih? Mengapa tidak kepada teman yang cowok saja? Bukankah teman Andra juga banyak di asrama ini?
"Masih lancar salat Duha?" Suara Harsa mengalihkan fokusku dari lapangan.
"Masih."
Senyuman Harsa mengembang, terlihat dari ekor mataku. Aku tidak berani menoleh ke arahnya, hanya bisa melihat dengan lirikan sekilas.
Aku beranjak dari kursi dan menghampiri Fatih. Meninggalkan Harsa yang duduk sambil menatapku dari kejauhan. "Tih, katanya abang kamu nggak bisa dateng ke sini."
__ADS_1
"Yah. Terus Bang Andra nggak nitipin Qur'an terjemah perkata gitu, Kak? Punya aku ilang, nanti dihukum lagi, nih. Hukuman kemaren-kemaren aja belom kelar," gerutu Fatih setelah meneguk air minum dan menyiram rambutnya agar terasa segar.
"Ya udah pake punya kakak aja kalo gitu. Kakak ambil ke kamar dulu."
Tiga menit kemudian, aku sudah kembali dan menyerahkan Al-Qur'an terjemah perkata kepada Fatih.
"Makasih, Kak. Oh Iya, angkatan Kakak yang ngerokok siapa, Kak? Katanya mau disidang, ya?"
Astagfirullah, ternyata Fatih belum tahu bahwa itu adalah kakaknya sendiri. Bagaimana jika dia tahu kakaknya akan sidang? Fatih di pesantren ini belum satu tahun, ia belum terlalu betah jika dari yang kulihat. Bagaimana jika kakaknya akan dikeluarkan?
Aku menepuk bahu Fatih. "Cepetan balik ke asrama terus mandi, siap-siap ke masjid. Nanti kena hukuman lagi, lho."
***
Beban yang berada di bahuku sudah berkurang. Aku merasa jauh lebih baik setelah memberitahu Umi Devi apa yang terjadi dengan Andra. Aku sampaikan semuanya dengan kata-kata yang sudah kukemas dengan sebaik-baiknya agar Umi Devi tidak terlalu khawatir terhadap anak keduanya itu. Tidak sia-sia aku mempelajari psikologi.
Meskipun Umi Devi sempat menangis saat mendengar hal itu, tetapi setidaknya Umi Devi sudah mengetahui keadaan anaknya. Bagaimana pun seorang ibu berhak untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi oleh buah hatinya. Akan lebih menyakitkan jika tiba-tiba mendapat kabar anaknya telah dikeluarkan. Mau sedewasa apa pun seorang anak, tetap memerlukan do'a seorang ibu. Dengan do'a dari Umi Devi, Insyaallah Andra mendapatkan yang terbaik.
"Andra udah selesai belum, ya, sidangnya?" gumamku pelan seraya berdiri di dekat gerbang gedung Dewan Guru.
Aidha yang sudah jalan di depanku menoleh ke belakang. "Seli, ayok cepetan. Ngapain di situ?"
Sambil masih melihat ke arah ruangan sidang yang terdapat di lantai dua, aku berlari kecil menuju Aidha. "Tungguin, Dha."
Selesai kegiatan tahfidz dan salat Isya, Aidha mengajakku membeli camilan di toko. Sepulangnya, aku sengaja mengajak Aidha melewati gedung Dewan Guru. Kalau-kalau Andra selesai sidang, aku bisa langsung bertanya. Semoga hasilnya baik Ya Allah.
"Seli ... ."
Aku mendengar suara Andra memanggil namaku dari kejauhan.
***
__ADS_1