
Aku mengambil sedikit pelajaran dari kisah Mas Adam. Hari di mana aku dibawa ke ruangan gelap dan menyeramkan 3 tahun yang lalu. Sekeluargaku heboh mencariku kemana-mana, mereka pikir aku tenggelam di pantai. Umi sudah nangis saking khawatirnya.
Aku menemui keluargaku dalam keadaan mata yang masih sembab bekas menangis dan baju yang lusuh. Mereka langsung memberondongiku dengan berbagai pertanyaan setelah aku duduk dan minum agar tenang. Setelah itu, aku langsung menceritakan semuanya dan Mas Adam dengan jelas memberitahuku bahwa ia memang benar-benar tidak tahu bahwa kakak dari lelaki jahat itu yang bernama Nira, mencintai Mas Adam.
Wanita bernama Nira itu benar-benar pandai menutupi perasaan. Seluruh tingkah lakunya tidak sama sekali menunjukan bahwa ia menyukai kakakku. Bahkan, Mas Adam bilang bahwa teman dekat Nira pun menyangka Nira membenci Mas Adam karena selalu cuek dan tidak pernah ramah sama sekali. Tiba suatu hari di mana Mas Adam dekat dengan Nira karena mendapat bagian yang sama di tempat kerja. Sikap Nira tidak berubah, ia tidak pernah menanggapi obrolan Mas Adam.
Satu bulan kemudian Mas Adam bertemu Kak Intan, merasa cocok dan berniat untuk melamarnya. Setelah Mas Adam menikahi Kak Intan, Nira dikabarkan berhenti bekerja karena tidak kuat melihat Mas Adam dengan Kak Intan. Mas Adam baru mengetahui bahwa seseorang yang bahkan seperti membencinya ternyata menyimpan perasaan yang begitu besar.
"Seli, bisa tolong kasih pengumuman supaya anak-anak segara ke rumah makan?"
Aku mengangguk dan menyalakan microfon. "Bismillahirrahmanirrahim. Diberitahukan kepada seluruh santri madrasah ibtidaiyah agar segera melaksanakan makan sore di rumah makan. Sekian Walhamdulillahirabbil Alamin."
"Tadi mikirin apa, Sel? Sampe kertasnya penuh coretan pulpen gitu?"
Aku gelagapan, ketahuan melamun. "Mikirin kejadian masa lalu, Sa."
"Masa lalu jangan dipikirin. Cukup ambil hikmah dan lupakan. Jangan biarkan diri kita menghabiskan waktu untuk mengingat atau pun memikirkan hal yang sudah terjadi."
Harsa mengambil kertas yang sejak tadi aku corat-coret. "Masa lalu akan selalu jadi bagian dari diri kita. Nggak akan pernah bisa hilang. Diingat boleh, tapi jangan membuat kita abai apalagi berpikir berlebihan. Menurut saya, yang paling terpenting dari memikirkan masa lalu adalah mengambil hikmah dari setiap masa lalu itu."
"Iya, Sa. Alhamdulillah udah dapet hikmahnya."
Menurutku, seharusnya Kak Nira tidak mengabaikan hidupnya hanya karena cintanya yang begitu besar kepada Mas Adam. Meski realita hidup kita tak sesuai apa yang kita harapkan, bukan disesali, bukan ditangisi. Namun, kita ikhlaskan, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita.
Liburan kemarin, aku mendengar kabar dari Mas Adam bahwa Kak Nira sudah mulai bekerja bahkan sudah dinikahi oleh teman kerjanya. Semoga ia bisa bahagia dengan jodoh pilihan Allah.
***
__ADS_1
Harsa terlelap di kursinya. Jam piket kantor sudah berakhir, waktunya kami kembali ke kamar untuk mandi kemudian mengawal anak-anak di lantai atas. Menjelang magrib seperti ini tidak baik tidur, tetapi melihat Harsa yang baru tertidur dan sepertinya sejak tadi siang sangat mengantuk, aku jadi tidak tega membangunkannya.
"Kak, bisa tolong jaga kantor dulu sampai isya? Karena para guru mau mengadakan rapat malam ini." Ustadz Rizal menemuiku saat aku hendak beranjak dari kursi.
"Baik, Ustadz. Bisa."
"Oke. Terimakasih, Kak. Kakak salat di kantor saja, ya. Mukena ada di rak."
"Baik, Ustadz."
"Assalamuallaikum." Ustadz Rizal pergi meninggalkan kantor.
"Wa'alaikumsalam."
Aku ke toilet untuk mengambil air wudu. Berharap setelah aku selesai wudu, Harsa sudah terbangun. Laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dilarang salat berjemaah jika hanya berdua saja, maka aku berniat untuk salat sendiri.
Selesai wudu dan memakai mukena, ternyata Harsa belum juga bangun. Tidak baik tidur saat maghrib, maka aku berusaha membangunkannya.
Ia tidak bergerak, maka aku mengambil pulpen dan menyentuh tangannya dengan pulpen. "Harsa, udah magrib dari tadi."
Harsa terbangun, melihat sekitar dengan wajah bangun tidurnya. "Astagfirullah, saya ketiduran, ya."
Aku mengangguk. "Kita disuruh jaga kantor sampe isya karena guru-guru mau rapat."
"Berarti kita salat di sini, ya? Kalo gitu saya wudu dulu, kita salat berjamaah." Harsa berjalan menuju toilet.
"Eh, kita cuma berdua. Nggak boleh berjamaah. Bukan mahram."
__ADS_1
"Oh, iya. Kamu belum aku nikahin, ya," teriak Harsa dari dalam toilet.
"Astagfirullah. Harsa nyebelin banget. Kalo ada yang denger gimana coba."
Tok! Tok!
"Assalamuallaikum." Yusuf, ketua pengurus asrama masuk dengan menggandeng dua orang santri nisa yang sepertinya kelas 2 di tangan kanan dan kirinya.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Yusuf?"
"Ente sendirian di sini?" ucapnya sambil melihat sekeliling.
"Berdua," jawab Harsa sambil berjalan menghampiri kami.
"Boleh tolong jagain mereka, nggak? Mereka berantem terus di shaf salat. Tolong kasih hukuman juga biar mereka minta maaf dan nggak berantem lagi."
"Oke-oke." Aku meraih tangan dua anak ini untuk mengajaknya salat. "Eh bentar, bisa tolong panggilin siapa gitu? Soalnya saya berdua doang sama Harsa di sini."
"Aduh, kayaknya nggak bisa, Sel. Di atas lagi kekurangan pengurus, soalnya banyak yang lagi jadwal hafalan uji kompetensi di asrama lain. Kalian nggak berdua, kok. Itu ada bocil." Yusuf menunjuk dua santri kelas 2 tadi."
Harsa menggelar sajadah menghadap kiblat. "Ayok cepetan. Kita salat, Sel. Udah nggak berdua, kok. Jadi boleh berjamaah."
Yusuf tertawa meledek. "Bakal jadi calon makmun, ya, Sa. Kalo gitu, ane cabut dulu. Assalamuallaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aku menjadi sedikit canggung. Aku diam karena bingung.
__ADS_1
"Seli, ayok cepetan. Kita salat bareng sama anak-anak juga."
Aku mengangguk dan menggelar sajadah di belakang Harsa dengan dua santri yang cantik dan imut di sampingku.