BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Belum yakin


__ADS_3

Baju tunik berwarna mocca dengan kancing di bagian dada dan ikat pinggang kecil yang melingkar, juga celana baggy hitam sudah kukenakan. Setelah menyematkan jarum pentul di bagian leher jilbab, aku merapikan sedikit jilbab pashmina yang berwarna sama dengan bajuku ini. Dan siap.


Aku bergegas keluar kamar menuju ruang tamu sambil mencangking sling bag berwarna putih. Hari ini Mas Adam mengajak aku dan Faaz jalan-jalan ke pantai Pangandaran bersama istri dan anaknya. Kami berangkat usai pamitan kepada Abi dan Umi juga Kak Wardah.


"Ini hodie dari siapa, Faaz? tanyaku saat diperjalanan dan baru menyadari hodie yang dikenakan Faaz baru kulihat.


Faaz merapikan rambutnya sambil bergaya. "Dari Kak Harsa, dong."


Aku menganga. "Harsa?"


Faaz mengangguk.


"Kok dia bisa ngasih kamu hodie? Kamu minta-minta ke dia, ya? Jangan bikin malu Kakak, dong." Aku mencubit pelan Faaz berkali-kali.


"Nggak minta, kok," jawabnya sambil menghindar dari cubitanku. "Dia yang tiba-tiba ngasih, Kak. Kan dia emang baik, sama kayak Kak Andra. Pokoknya mereka dua-duanya baik banget ke aku." Faaz sumringah membayangkan kebaikan Harsa dan Andra.


Kak Intan-istri Mas Adam menanggapi percakapan kami. "Enak ya jadi Faaz kecipratan rezeki dari cowok-cowok yang suka sama Kak Seli."


"Kak Harsa sama Kak Andra suka sama Kak Seli?"


"Kak Intan ih," kataku kesal sedangkan Kak Intan hanya tertawa.


***


Kakiku menapaki butiran-butiran pasir. Angin membelai lembut permukaan kulitku, membawa kesejukan di seluruh tubuh. Ombak menyentuh berkali-kali kedua kakiku.


"Seli," panggil seseorang dari arah belakang.


Aku melihat seorang pria dengan kaos hitam dan celana putih dilengkapi kaca mata hitam yang dikenakannya tengah berjalan ke arahku bersama Faaz. Saat melihatnya aku langsung mengenalinya.


"Kok bisa ada di sini?" tanyaku heran setelah mereka berada di sampingku.

__ADS_1


Ia tak menjawab, hanya mengembuskan napas menikmati kesejukan pantai indah ini. Pantai ini selalu jadi pantai favorit untukku, ada kenangan tersendiri di dalamnya.


Kami bertiga kini duduk sambil menikmati es kelapa, aku merasa canggung kepadanya. Aku merasa canggung setelah aku menyadari bahwa aku menyukainya. Aku tak bisa selepas dulu saat mengobrol dengannya, bahkan kini aku seperti menghindarinya.


"Sel," panggilnya setelah kami selesai berfoto. Faaz meninggalkan kami menuju tempat Mas Adam untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. "Kamu pertama kali liat aku di mana?"


Aku memutar otak, mencoba mengingat pertama kali aku melihatnya. Pertama kali aku melihatnya memang di pesantren saat pemdaftaran, tetapi ada yang menjadi pertanyaanku selama ini. Apakah laki-laki yang kutemui 3 tahun lalu di pantai ini adalah dia? Seingatku nama laki-laki itu juga Andra.


"Di pesantren lah, kenapa emangnya?"


"Nggak, nggak papa."


"Di pantai ini."


Andra seketika menoleh dan menatapku dengan wajah terkejut. "Jadi, kamu inget?"


"Inget apa?"


"Aku dikasih tau Kak Intan kalo kalian mau ke sini."


Kak Intan adalah teman dekat kakak perempuannya Andra, wajar jika Andra dan Kak Intan cukup dekat.


Kami bertiga berjalan menuju Mas Adam dan Kak Intan, tiba-tiba aku mendengar samar-samar namaku dipanggil. Suara itu semakin lama semakin dekat. Aku menoleh dan melihat sosok Harsa berlari sambil memanggil-manggil namaku.


"Harsa? Ada apa? Kok kamu di sini juga?" tanyaku saat dia berhenti di hadapanku, kemudian dia menyerahkan sebuah buku uji kompetensi yang sepertinya milikku. "Ini buku saya?"


Harsa mengangguk. "Kebetulan saya dan keluarga saya sebelum pulang mampir ke sini dan tadi liat postingan Andra yang foto sama ente dan Faaz di pantai ini. Nih, bukunya." Harsa menyerahkan buku uji kompetensi milikku.


"Ya ampun sampe dibawain. Makasih banyak, ya." Aku menerima buku itu dan refleks membukanya. "Eh, ini tulisan ente?"


Harsa mengangguk.

__ADS_1


"Makasi lagi, ya. Maaf jadi ngerepotin sampe ditulisin ayat-ayat buat semester depan segala, mana bagus tulisannya."


Mendengar aku memuji tulisan Harsa, Andra langsung melirik ke arah buku yang kupegang saat ini. "Tulisan aku juga kata kamu bagus, kan, Sel? Seli emang suka muji orang, Sa. Biasalah."


Aku melirik sinis kepada Andra yang bicara tidak jelas. "Sok tau."


Harsa hanya tertawa ringan. "Kalo gitu, duluan, ya. Assalamuallaikum."


"Wa'allaikumsalam."


***


Aku membuka buku bersampul biru muda. Melihat tulisan Harsa di buku uji kompetensi hafalanku ini. Tulisan ayat Al-Qur'an yang sangat bagus dan rapi. Karena ayat yang ditugaskan untuk ditulis kemudian dihafalkan lumayan banyak, yang Harsa tuliskan ini sangat membantu. Aku hanya tinggal melanjutkannya sedikit lagi.


Sambil menulis ayat, aku terpikirkan akan jenjang pendidikanku selanjutnya. Aku sangat ingin masuk perguruan tinggi negri dengan jalur SNMPTN atau pun SBMPTN, tapi apa nilaiku cukup untuk memenuhi kriteria itu?


Kusudahi menulis dan mulai menggulir soal-soal untuk SBMPTN yang telah aku unduh. Kini kegiatan liburanku akan diisi dengan belajar mempersiapkan masuk perguruan tinggi, maklum anak kelas 12. Selain mempersiapkan ujian kelulusan, harus mempersiapkan masuk universitas bagi yang ingin melanjutkan.


Dddrrrttt!


Andra


Seli, aku mau ke turki abis lulus.


^^^Mo kuliah di turki?^^^


Insyaallah. Km sendiri jadinya ngambil dimana?


^^^Blm yakin.^^^


Aku termenung. Mengapa saat Andra bilang ia akan ke turki aku merasa sedih? Kenapa dia mau kuliah sejauh itu? Bisa jadi aku nggak akan ketemu dia lagi. Aku bakal kehilangan teman sebaik dia.

__ADS_1


Saat kami di pantai beberapa hari lalu, Mas Adam menanyakan kepada aku dan Andra ingin kuliah di mana. Di situ kami sama-sama belum memilki tujuan yang pasti. Kami sama-sama masih bimbang. Tetapi, hari ini Andra yakin akan mengambil kuliah di turki. Bagaimana dengan aku?


__ADS_2